
Bulan sabit dan ribuan bintang berkilauan dipadu suasana alam yang begitu tenang membuat keempatnya larut dalam buaian malam yang menyelimutinya.
Keempatnya berbaring melingkar menatap langit malam, tidak ada yang bersuara, hanya hembusan napas yang terdengar dari keempatnya.
Tidak jauh dari keberadaan mereka, seorang lelaki tua yang begitu lusuh pakaiannya berjalan memakai tongkat menatap keempat pemuda di balik rimbunnya pepohonan. Lelaki tua itu merasa bahagia menatap salah satu dari keempatnya.
"Akhirnya penerus Raja Agung telah tiba" gumamnya lalu menghilang.
Jingga tersadar dari khayalannya lalu duduk menatap ke arah hutan di hadapannya.
"Energi ini sama sepertiku, apakah ada bangsa iblis di hutan sana?" Pikirnya bertanya-tanya.
Tanpa sepengetahuan ketiga temannya, Jingga berkelebat ke dalam hutan mencari sumber energi iblis yang ia rasakan.
Jingga memancarkan aura iblisnya memindai kedalaman hutan.
Para beast monster yang terpapar gelombang aura yang begitu menekan langsung berhamburan menjauhinya, tak terkecuali hewan biasa pun berlarian dan menjerit ketakutan.
Suasana hening itu berubah menjadi mencekam di dalam hutan. Burung-burung beterbangan menjauhi hutan dan para hewan saling bersahutan yang membuat siapa pun akan kesakitan mendengarnya.
Kakek lusuh menyeringai dengan kehadiran Jingga, ia langsung muncul tepat di hadapan Jingga.
Tanpa ada basa-basi, Kakek lusuh langsung menarik Jingga memasuki sebuah dimensi yang begitu gelap.
Pupil mata Jingga berubah menjadi api yang menyala ketika memasukinya, membuat dimensi yang gelap menjadi jelas terlihat olehnya.
"Di mana ini Kek?" Tanya Jingga penasaran dengan suasana yang terasa lebih mencekam dari alam jiwa miliknya.
Kakek lusuh tidak menjawabnya, ia melemparkan tongkatnya ke dalam api beku berwarna putih keperakan.
"Masuklah" pinta Kakek lusuh kepadanya.
"Kenapa aku harus masuk?" Tanya Jingga meminta alasan.
__ADS_1
"Ini adalah api semesta bagian terakhir penempaan tubuh" jawab Kakek lusuh.
"Bukankah aku sudah selesai melewati penempaan tubuh ketika berada di dimensi belenggu Yuangu Mowang dan di gunung Lanhua" gumam pikirnya.
Kakek lusuh tidak menanggapinya, ia langsung membentuk rantai energi dan mengikat tubuh Jingga seluruhnya, hanya bagian kepala yang tidak terikat rantai energi, setelahnya Kakek lusuh melemparkan jingga ke dalam api yang terlihat membeku seperti es.
Kakek lusuh langsung menarik kembali tongkatnya, api semesta langsung berhembus kencang membakar tubuh Jingga.
"Ah!" Jerit kesakitan Jingga terdengar begitu kencang, ia merasakan tubuhnya kembali meleleh seperti yang pernah ia alami, namun yang sekarang berkali-kali lipat rasa sakitnya, Jingga sampai mengeluarkan seluruh energi iblisnya melawan rasa sakit dari api suci yang terus menyeruak memasuki seluruh tubuhnya.
Beberapa waktu kemudian, Jingga bertransformasi menjadi iblis, tubuhnya berubah menjadi api yang menyala sepenuhnya dengan ukuran lima kali lebih besar dari tubuh manusianya.
"Bertahanlah" gumam Kakek lusuh melihat Jingga terus mengamuk berupaya melepaskan diri dari api semesta yang tanpa henti memasuki tubuhnya.
Hingga beberapa saat kemudian api semesta telah menyatu seluruhnya ke dalam tubuh Jingga, rasa sakit yang dialami jingga berubah menjadi rasa nyaman, energi api semesta bersatu dengan energi iblis membentuk perisai yang menyempurnakan energi dan tubuh iblisnya. Jingga kembali berubah ke tubuh asalnya.
Kakek lusuh langsung berlutut kepadanya.
"Selamat yang Mulia, sekarang yang Mulia telah memiliki tubuh iblis yang sempurna" ucapnya.
"Bangunlah, Kakek" pintanya.
"Terima kasih yang Mulia, hamba Yiban, kaki tangan Raja Agung Yuangu Mowang, hamba adalah roh api yang menunggu kedatangan yang Mulia selama ini. maafkan hamba yang tidak menjelaskan sebelumnya, semua ini sudah diatur oleh Raja Agung sejak ribuan tahun silam, sekarang tugas hamba sudah selesai" ujarnya lalu berubah menjadi serpihan api yang beterbangan.
Masih terdiam dengan ucapan kakek Yiban, tiba-tiba saja Jingga terlempar keluar dari dimensi lalu terjatuh dengan keras ke tanah di dalam hutan, Jingga langsung berdiri dengan pakaiannya yang kotor.
Jingga langsung mengganti pakaiannya lalu melayang terbang ke puncak pohon dan menepi menginjak sebuah ranting, dengan sengaja tangannya menyentuh batang pohon untuk menopang tubuhnya, namun apa yang terjadi berikutnya adalah pohon yang disentuh tangannya langsung berubah menjadi serbuk hitam.
Jingga merasa heran dengan pohon yang disentuhnya.
Dalam posisi melayang, Jingga kembali menyentuh pohon lainnya untuk mencari tahu sebabnya, dan kejadian serupa kembali terjadi, pohon yang disentuhnya berubah menjadi serbuk hitam, semakin penasaran dibuatnya, Jingga kembali menyentuh pohon lainnya, lagi-lagi setiap pohon yang disentuhnya berubah menjadi serbuk hitam.
Jingga begitu menyukai reaksinya, ia terus mengulanginya hingga hutan yang lebat menjadi botak bagian tengahnya karena terus disentuhnya.
__ADS_1
"Bahaya kalau tanganku sampai menyentuh teman-temanku" gumam Jingga kemudian memasuki alam jiwanya, ia mencari tahu tentang kekuatan api semesta yang telah berhasil bersatu dengan tubuhnya.
Setelah beberapa waktu mencarinya, Jingga akhirnya menemukan cara mengendalikan api semesta kemudian mempelajarinya.
Sebulan sudah Jingga di alam jiwanya mempelajari kekuatan api semesta. Setelah berhasil mempelajarinya, Jingga kembali ke alam nyata. Jingga menengadah menatap langit yang terlihat masih gelap, ia langsung berkelebat ke tempat ketiga temannya lalu tidur bersama ketiganya.
Sinar mentari pagi menyinari keempatnya yang begitu nyenyak dalam tidurnya. Senyum mengembang dari bibir keempatnya, dengan semangat membara, keempatnya kembali melanjutkan perjalanannya menuju ibukota kekaisaran Xiao.
Memasuki kembali sebuah rimba raya membuat keempatnya berada dalam keadaan waspada menghadapi rintangan apa pun di dalam area hutan yang penuh misteri.
Tepat pada bagian tengah hutan, Qianfan, Qianmei dan Bai Niu merasa heran dengan tumpukan serbuk hitam yang membukit, hanya Jingga seorang yang tidak merasa keheranan, namun demi tidak dicurigai oleh ketiganya, Jingga berpura-pura merasa heran dengan apa yang dilihatnya di tengah area hutan.
"Jingga, menurutmu apa yang terjadi dengan pepohonan yang berubah menjadi serbuk arang begini?" tanya Qianfan.
Jingga langsung mengelus dagunya yang tidak berjanggut memikirkan jawaban yang bisa diterima oleh Qianfan.
"Menurutku, ini semua ulah kultivator yang berlatih kesaktian tertentu dengan menggunakan pohon sebagai target serangannya. Kita saja yang belum mengetahui kesaktian seperti apa yang bisa menjadikan pohon menjadi serbuk arang" jawab Jingga cocoklogi.
"Sepertinya memang begitu" timpal Qianfan menyetujui nalar Jingga dalam menjawab pertanyaannya.
Di samping keduanya yang asyik mengobrol, kedua wanita cantik berlarian sambil menghambur-hamburkan serbuk arang yang membuat keduanya menjadi belepotan dan kotor pakaiannya.
"Adik Mei'er, bagaimana kalau kita mengotori wajah Kakak-Kakak kita?" bisik Bai Niu menawarkan idenya.
Qianmei langsung tersenyum mendengarnya lalu membalas bisikannya.
"Kita bersembunyi di balik gundukan serbuk arang, setelah keduanya dekat, baru kita baluri wajah keduanya dengan serbuk arang" ujar Qianmei membisikinya.
"Ayo" timpal Bai Niu langsung berjongkok di salah satu gundukan serbuk arang diikuti oleh Qianmei di belakangnya.
Jingga yang mendengar bisikan keduanya langsung membisiki Qianfan untuk menjahilinya.
Jingga dan Qianfan menyelinap memutari gundukan serbuk arang lalu melumuri wajah kedua wanita cantik yang terkejut dengan keberadaan Jingga dan Qianfan di belakangnya.
__ADS_1
Kedua wanita cantik langsung menggerutu tidak jelas karena kesal niatnya menjahili malah jadi korban jahil kedua pria. Keduanya lalu membalas melempari serbuk arang kepada Jingga dan Qianfan yang sengaja tidak melarikan diri.
Keempatnya lalu tertawa-tawa sambil berlarian saling kejar.