
Melihat kejujuran dari putra sahabatnya, Ketua Zhu Jun mempercayainya.
"Baiklah, aku percaya padamu" ucap tuan kota Zhu Jun lalu beralih menatap Jingga.
"Tapi kau jangan senang dulu, aku akan melepaskanmu setelah tahu identitasmu dan tujuanmu berada di kota Yu Chen" imbuhnya lalu meminta kedua bawahannya untuk melepaskannya.
Jingga menghembuskan nafas, merasakan lega bisa melepaskan beban masalahnya lalu mengepalkan kedua tangannya dan membungkukkan sedikit badannya berterima kasih kepada pemuda yang telah menolongnya.
"Sudahlah, jangan seperti itu, kalau boleh tahu siapa namamu?" ujar pemuda itu lalu bertanya.
"Aku Jingga dari kampung cerita hati kekaisaran Xiao, dan kamu sendiri kalau berkenan" jawab Jingga memintanya.
"Aku Du Dung dari sini" ujarnya sambil mengepalkan kedua tangan menjura ke arah Jingga.
"Aku Zhu Jun, tuan kota Yu Chen .." terpotong ucapannya.
"Yang bijaksana" sambung kedua pemuda serentak yang membuat ketiganya tertawa akrab.
"Sebagai permintaan maaf dari warga kota yang salah paham denganmu, aku sebagai tuan kota akan mentraktir kalian berdua makan malam, ayo masuk" ajak tuan kota lalu merangkul kedua pundak pemuda memasuki rumahnya.
"Xia'er, ayah punya tamu, tolong siapkan makanan yang enak buat tamu ayah" ucap tuan kota sedikit berteriak ke arah kamar anak gadisnya.
"Baik ayah" sahut anak gadisnya dari dalam kamar, tak lama kemudian seorang gadis berusia lima belas tahun bernama Zhu Xia keluar kamar dengan senyumannya yang terlihat anggun untuk gadis seusianya.
Du Dung terus menatapnya tanpa henti mengikuti kemana gadis itu berjalan, Jingga dan tuan kota malah memperhatikan mata Du Dung yang terus mengekor punggung gadis yang terus melangkah menuju arah belakang rumah.
Setelah gadis itu tidak terlihat, Du Dung lalu menoleh ke arah Jingga di sebelahnya, dan betapa terkejutnya Du Dung melihat kedua bola mata Jingga yang ukurannya memang besar dari lahir.
"Sialan!, Setelah melihat bidadari kenapa langsung melihat anak setan" gerutunya yang langsung berdiri menjauhi Jingga.
"Aku kira kau pemuda yang baik, tahunya setelah melihatku kau langsung mengeluarkan kata mutiara, kau yang sialan!" balas Jingga tak mau kalah.
"Ha ha ha ha" tawa tuan kota yang memperhatikan tingkah kedua pemuda yang menjadi tamunya.
Setelah sedikit lama menunggu, Zhu Xia kembali menghampiri ayahnya Zhu Jun, memberi tahunya bahwa makan malam sudah disajikan.
__ADS_1
"Ayo kita pindah ke bale bambu" ajak tuan kota.
"Bale bambu" ucap Jingga dengan spontan, tuan kota dan Du Dung menatapnya heran.
"Ada apa nak Jingga?" Tanya tuan kota khawatir ada sesuatu yang salah.
"Tidak apa apa tuan kota Jun" jawabnya lalu mengikuti tuan kota yang berjalan duluan.
"Adik Xia'er tidak ikut makan?" Tanya Du Dung kepada Zhu Xia, Jingga yang melihatnya langsung menarik tangan Du Dung untuk terus berjalan.
Setelah selesai ketiganya makan malam, tuan kota menawarkan Jingga untuk menginap di rumahnya namun Jingga menolaknya karena tidak nyaman dengan anak gadisnya tuan kota.
"Jingga, kau mau kemana?" Tanya Du Dung sambil berjalan ke arah rumahnya.
"Kemana pun kakiku melangkah" jawab Jingga seadanya.
"Bagaimana kalau kau menginap di rumahku, besok pagi baru kau bisa pergi, lagian sekarang sudah hampir larut" tawar Du Dung kepadanya.
Setelah memikirkan sejenak, Jingga menerima tawarannya.
Sesampainya di gerbang kecil bertuliskan sekte Hiu Purba, Jingga menoleh ke arah Du Dung yang mengetahui maksudnya.
"Nanti di dalam aku akan menceritakannya kepadamu" ucapnya lalu berjalan ke arah rumah cukup luas berbentuk panggung yang bawahnya terdapat kolam ikan.
Seorang pria paruh baya yang hanya memiliki satu tangan sedang berdiri menunggu anak lelakinya yang datang bersama pemuda asing.
Du Dung lalu memperkenalkan Jingga kepada ayahnya, setelah mengobrol sebentar dengan ayahnya, Du Dung membawa Jingga ke satu ruangan yang cukup besar.
"Dung'er, ayah lupa memberitahumu, kita mendapatkan undangan turnamen beladiri di ibukota kekaisaran Fei, kalau kau sudah siap untuk ikut bertanding, kau bisa berangkat minggu depan, acaranya dimulai tiga minggu dari sekarang" ucap Du Ho lalu memberikannya token undangan.
"Ayah, bolehkah aku membawa Jingga mengikuti turnamen?" Pinta Du Dung.
"Jingga tidak memiliki kultivasi, kalau jadi peserta ayah tidak izinkan, namun dia bisa menjadi asistenmu, itu pun kalau nak Jingga bersedia" jawab Du Ho melemparkan keputusan kepada Jingga.
Du Dung menatap Jingga, berharap teman barunya itu bersedia ikut bersamanya.
__ADS_1
Karena Du Dung pernah membantunya, Jingga pun menyetujuinya.
setelah Du Ho pergi, Jingga menagih Du Dung menceritakan tentang sekte Hiu Purba.
Klan Du merupakan salah satu klan bangsawan di kekaisaran Fei, klan Du memiliki tuan muda yang berprestasi dalam bidang keilmuan dan tata kelola yang akhirnya kaisar mengangkatnya menjadi sekretaris kekaisaran di usianya yang masih muda.
Banyak klan bangsawan lain yang begitu iri dengan klan Du, tapi ada satu klan yang diam diam memiliki niat busuk terhadap klan Du, khususnya Du Ho dengan memanfaatkan kecantikan seorang gadis dari klannya, rencana licik pun dijalankannya.
Gadis cantik itu selalu dekat dengan Du Ho, hingga akhirnya keduanya menikah.
Di tahun tahun berikutnya, kelicikan klan Chun mulai tercium oleh klan Du, banyak kejanggalan yang membuat kas kekaisaran merugi ditambah gaya hidup boros klan Chun dan puncaknya adalah fitnah yang dilakukan oleh istrinya sendiri Chun Ning.
Beruntung sang kaisar masih memaafkannya, Du Ho hanya dijatuhi hukuman potong sebelah tangan dan dikeluarkan dari istana, semua aset klan Du disita hingga klan Du jatuh miskin dan kembali menjadi rakyat biasa.
Tidak sampai disitu, beberapa klan yang memiliki dendam memanfaatkan momentum untuk menghabisi klan Du melalui pembunuh bayaran, hanya menyisakan Du Ho dan anak istrinya yang masih hidup supaya tidak menarik pihak istana.
Dengan alasan keamanan, Chun Ning istrinya meninggalkan Du Ho dan menikah dengan pemuda klan Zhing.
Karena kedekatannya dengan salah satu pangeran, Du Ho meminta perlindungan istana atas keselamatan kedua anaknya Du Dung dan Du Zhia.
Tidak ingin klan Du bangkit kembali, klan Chun memanfaatkan kedua anak Du Ho dalam masalah hak asuh, pihak istana akhirnya memutuskan membagi dua hak asuh yang mana Du Dung dibawa oleh Du Ho sedangkan Du Zhia dibawa ibunya Chun Ning.
"kau bercerita banyak tentang keluargamu, sedangkan aku ingin mendengar tentang sekte Hiu Purba masih belum kau ceritakan" protes Jingga yang sebenarnya tidak mau tahu soal urusan keluarga orang lain.
"kau sungguh tidak sabar, padahal berdirinya sekte terkait dengan masalah keluargaku" kilah Du Dung.
"kalau kau masih menceritakan keluargamu, aku akan menutup telinga dan tidur" ancam Jingga yang langsung membaringkan tubuhnya.
"baiklah, sekte Hiu Purba didirikan ayahku untuk melanjutkan hidup, namun dibatasi muridnya oleh pihak istana" ujar Du Dung singkat.
Jingga kembali duduk, sesuatu yang ingin didengarnya malah begitu singkat.
"kau ini, ceritakan kepadaku kenapa nama sekte harus Hiu Purba, kenapa juga murid sekte harus dibatasi dan yang terakhir kenapa kau tahu banyak soal itu?" tanya Jingga mulai kesal.
"itu karena klan Du begitu menghormati Dewi Xanti penjaga samudera, untuk lainnya aku tidak tahu dan kenapa dibatasi karena klan Chun tidak ingin klan Du kembali bangkit dan yang terakhir karena aku diceritakan oleh pamanku. Ya sudah kau boleh tidur" jawab Du Dung yang sebenarnya ingin menceritakan banyak hal kepada teman barunya.
__ADS_1