Takdir Pedang Sang Iblis

Takdir Pedang Sang Iblis
Pertarungan Seru


__ADS_3

Jingga berada di area luar kota Lintang di bagian belakang kota. Tidak ada penjagaan di area itu, Jingga berjalan santai memasukinya.


Beberapa langkah setelahnya, Jingga memasuki sebuah kedai untuk menikmati arak dan mendengarkan obrolan para pengunjung kedai dengan harapan mendapatkan informasi yang menarik hatinya.


Lama ia berada di dalam kedai, tidak ada satu pun informasi yang menarik hatinya, Jingga melanjutkan perjalanannya menelusuri setiap bagian kota.


"Sepertinya tidak ada sesuatu yang bisa membuatku tinggal lama di kota ini" gumamnya setelah seharian berjalan menelusuri kota.


Jingga melanjutkan langkahnya meninggalkan kota Lintang.


Berada pada gerbang kota, dua penjaga gerbang yang memperhatikan pemuda aneh langsung menghampirinya.


"Kau sepertinya orang asing, bagaimana kau bisa masuk kota ini?" Tanya penjaga menyelidikinya.


"Ya tinggal masuk saja, kenapa?, Tidak suka?" Balik tanya Jingga dengan raut wajah menyebalkan.


"Tangkap dia" titah penjaga kepada teman di sebelahnya.


Baru saja salah satu penjaga akan menangkapnya, keduanya langsung terkejut pemuda yang akan ditangkapnya sudah menghilang dari hadapannya.


Jingga langsung menghilang dari hadapan kedua penjaga lalu muncul di gerbang luar.


Jingga menoleh ke belakang, melihat kedua penjaga yang sedang garuk-garuk kepalanya.


"He he seru juga becandain penjaga" ucapnya lalu melanjutkan kembali perjalanannya.


Berada pada area perkebunan buah, Jingga tersenyum melihatnya, teringat akan mendiang kakeknya waktu masih di benua Majang.


Trang!


Trang!


Terdengar suara logam beradu tidak jauh dari posisinya berada.


"Ha ha ha, suara yang merdu" gumamnya lalu berkelebat ke sumber suara.


Tampak terlihat seorang gadis bergaun putih sedang bertarung dengan empat pria berpakaian biru tua yang mungkin berasal dari salah satu sekte.


Jingga langsung menaiki salah satu pohon di dekatnya lalu duduk dengan santai menyaksikan pertarungan sambil menikmati araknya.


Seorang gadis begitu tangkas memainkan jurus pedangnya melawan empat pria berpakaian biru tua.


"Kalian hanya membuang waktuku" ucap si gadis lalu dengan cepat memainkan pedangnya menebas ke empat pria secara bergilir, benturan suara logam dari bilah pedang begitu nyaring dengan percikan api yang membuat pertarungan kelimanya begitu seru dilihat.


Lama Jingga menyaksikan pertarungan yang berimbang dari kelima orang, beberapa saat kemudian terlihat puluhan kultivator berpakaian serupa melayang turun untuk membantu keempat pria yang masih bertarung.


"Wah, seru nih!" Gumam Jingga semakin bersemangat melihatnya.


Hampir tiga puluh kultivator bergabung dengan keempat pria menyerang seorang gadis yang terlihat begitu menikmati pertarungannya.


Tidak ada rasa gentar pada tatapan si gadis, ia malah tersenyum gembira menghadapi puluhan kultivator yang mengepungnya.


Pertarungan yang seharusnya bisa menyudutkan si gadis karena unggul jumlah, malah terlihat sama seperti sebelumnya.


Si gadis begitu lihai dan cermat dalam memainkan pedangnya yang selalu berhasil melukai lawannya.


"Gila! Ini baru seorang gadis pendekar" puji Jingga yang semakin semangat melihat pertarungan.

__ADS_1


Trang!


Pedang si gadis patah oleh salah satu pedang lawannya.


"Tunggu!" Teriak si gadis meminta waktu untuk memilih pedang dari cincin spasialnya.


"Ayo lanjutkan lagi" pintanya lalu kembali menyerang para kultivator yang memberikan jeda kepadanya.


Bugh!


Si gadis jatuh bergulingan terkena tendangan dari beberapa kultivator, tak lama ia bangkit lagi menghindari sebuah tebasan yang mengarah kepadanya.


Lamanya pertarungan membuat si gadis merasakan energi spiritualnya semakin berkurang.


"Aku harus mencari kesempatan untuk melarikan diri" batin si gadis masih terus memainkan pedangnya menyerang dan bertahan dari lawannya.


"Sekarang!" Ucapnya lalu melompat menebas leher lawannya yang lengah.


Puluhan pria itu langsung berhenti sejenak melihat salah satu temannya ambruk dengan kepala yang jatuh menggelinding. Si gadis langsung berkelebat meninggalkan area pertarungan.


"Kejar! Jangan biarkan dia lolos" teriak salah satu kultivator.


Tidak sampai jauh tertinggal, para kultivator langsung berkelebat mengejarnya.


Jingga merubah dirinya menjadi bayangan lalu terbang mengikuti arah lari para petarung.


Tak ingin si gadis lolos dari kejarannya, beberapa orang kultivator paling depan langsung menghantamnya dengan bola api yang melesat cepat mengenai tubuh si gadis.


Buk!


Buk!


Buk!


Para kultivator langsung mengelilinginya menutup jalan pelarian si gadis.


"Ha ha ha, mau lari kemana cantik?" Tanya seorang kultivator mengejeknya.


Si gadis berdiri kembali sambil mematikan api yang masih menyala di bagian atas punggungnya. Terlihat kulit punggungnya begitu putih kemerahan.


Para kultivator yang mengepungnya menelan saliva melihat kemulusan punggung si gadis.


"Kau mulus juga, Nona" ucap beberapa pria tidak tahan melihatnya.


"Heh, dasar otak mesum! Ayo kita lanjutkan pertarungan" ujar si gadis kembali menyerang para kultivator dengan pedangnya.


Berbeda dari pertarungan sebelumnya, si gadis terlihat kewalahan menahan gempuran para kultivator.


Beberapa bagian tubuhnya terluka oleh sabetan pedang lawannya, hampir di setiap tubuhnya ia tergores, menjadikan bajunya robek compang-camping, untungnya darah yang menetes dari kulitnya mampu menyamarkan kulit putihnya.


Ia masih belum menyerah melakukan serangan kepada puluhan kultivator lainnya sampai pada akhirnya ia terdiam menjatuhkan pedangnya setelah lebih dari lima pedang berhasil menusuk tubuhnya.


Para kultivator langsung menarik pedangnya dan membiarkan si gadis jatuh tergeletak tak berdaya dengan dipenuhi oleh darah yang terus mengalir keluar dari lukanya.


Para kultivator langsung melesat pergi meninggalkannya. Tapi apalah daya, mereka tidak mengetahui keberadaan jingga yang menyaksikan pertarungan.


Jingga melemparkan Jianhuimie Yuzhou ke arah kaki dari para kultivator yang berkelebat.

__ADS_1


Sret!


Sret!


Buk!


Buk!


"Ah" jerit para kultivator merasakan sakit di bagian bawah tubuhnya.


Semua kultivator terpotong kakinya lalu berjatuhan, tidak ada yang menyangka dengan apa yang terjadi kepada mereka.


Dua kultivator yang tidak terpotong kakinya langsung berhenti mendengarkan jeritan dari teman-temannya lalu keduanya menoleh ke arah teman-temannya yang tergeletak berjatuhan dengan rintihan yang begitu memilukan.


"Apa yang terjadi?" Tanya keduanya langsung merasakan panik.


"Larilah, cepat lari!" Teriak dari puluhan kultivator yang berharap keduanya bisa meloloskan diri dan memberitahu para tetua sekte.


Jingga langsung menarik kedua pria yang sengaja tidak akan dia bunuh lalu mengikat keduanya dengan rantai energi kemudian membuat keduanya tertidur.


Setelahnya Jingga berjalan pelan ke arah para kultivator yang berusaha merangkak dengan kedua tangannya. Ia menjentikkan jarinya menahan para kultivator yang terlihat menyedihkan.


"Kalian sedang apa?, Mau lari ya? Kok tidak pakai kaki, itu kakinya kenapa dilepas?" Tanya Jingga lalu berjongkok di tengah para kultivator.


"Eh, ada gadis juga, mau aku gendong?" Tawar Jingga.


"Cuih!" Gadis itu meludah lalu membuang muka.


"Jangan marah-marah, nanti cepat matinya, aku makan ya sayang" ucap Jingga lalu menghisap jiwanya.


Semua kultivator yang melihatnya langsung panik dengan apa yang dilakukan pemuda aneh kepada teman gadis seperguruannya.


"Kau, kau iblis" ucap seorang pria yang tidak berdaya melihat teman gadisnya berubah menjadi mayat kering.


"Stt! Jangan berisik, sekarang giliranmu" ucap Jingga melakukan hal sama kepadanya.


Beberapa kultivator yang masih hidup terus menggeliat berusaha melepaskan diri dari sesuatu yang menahan tubuhnya.


Jingga melihatnya begitu kasihan,


"Kenapa aku begitu kejam?" Tanya batinnya.


"Maafkan aku ya" ucapnya lalu menghisap semua jiwa kultivator.


Setelah selesai memakan jiwa para kultivator, Jingga langsung membangunkan kedua kultivator yang ia biarkan hidup.


"Bangunlah" ucap Jingga setelah menyentuh keduanya.


"Kau, siapa kau?" Tanya keduanya begitu ketakutan melihat pemuda yang mengikatnya.


"Aku bukan siapa-siapa, kalian bisa kembali pulang dengan membawa tiga puluh dua inti jiwa beast monster, ini sebagai kompensasi atas kematian teman-teman kalian" jawab Jingga lalu meletakkan puluhan inti jiwa beast monster di bawah kaki kedua pria yang masih terikat.


"Aku harap kalian berdua bisa meningkatkan ranah kultivasi kalian untuk membalaskan dendam" imbuhnya lalu melepaskan rantai energi yang mengikat keduanya.


Kedua pria itu langsung memasukkan puluhan inti jiwa beast monster lalu pergi berkelebat meninggalkan lokasi.


Jingga langsung menghampiri gadis yang sedang sekarat.

__ADS_1


"Syukurlah kau masih hidup, Nona" gumamnya lalu menyembuhkan luka si gadis dengan energi iblisnya dan memanggulnya lalu berkelebat pergi mencari tempat untuk merawatnya.


__ADS_2