
Jingga lalu duduk bermeditasi pada tumpukan potongan daging ikan aneh yang hancur olehnya. Namun, baru saja ia menutup matanya, dirinya keberadaan dua aura kultivator dewa melesak cepat ke arahnya. Dengan terpaksa, ia harus menunda meditasinya. Ia lalu berkamuflase menjadi ikan kecil dan langsung bersembunyi di antara bebatuan di dekatnya.
"Ikan-ikan ini terlihat seperti baru dihancurkan oleh seseorang. Biarpun begitu, aku tidak merasakan keberadaan siapa pun dalam radius yang sangat luas di sekitar daerah sini," ujar seorang pria tua terus memindai keberadaan seseorang di sekitarnya.
"Bisa jadi ikan-ikan ini meledak dengan sendirinya, Guru Chang," sambung seorang pemuda berusia sekitar 20-an meyakininya.
"Mungkin saja seperti itu, tapi tetap saja kita harus menyelidikinya, Zhoan'er," timpal pria tua.
"Kenapa harus menyelidikinya? Tujuan kita kemari untuk mencari artefak kuno dari Sanbuqu 9."
"Apa kau sudah lupa, Zhoan'er? Lihatlah dengan lebih teliti tumpukan mayat ikan-ikan aneh ini. Bukankah sama dengan yang tergambar di catatan kuno?"
"Hem! Betul juga, Guru Chang. Ikan-ikan aneh ini memang yang tergambar dari catatan kuno, …, apa mungkin artefak itu berada di sekitar kita?"
"Ya, itu maksudku. Kemungkinan besar artefaknya ada di sekitar kita. Ayo cari!"
"Baik, Guru."
“Bersihkan area sekitar dalam radius 50 kaki dari tumpukkan mayat ikan. Guru akan memindai seluruh sedimen laut, kemungkinan artefak itu tertimbun di dalamnya.”
Murid yang dipanggil Zhoan itu pun mengangguk lalu bergegas menjalankan perintah. Kedua tangannya direntangkan lalu bergerak gemulai seperti gerakan tari yang meliuk-liuk mengendalikan air dan beberapa saat kemudian, air yang keruh pun menjadi bersih seketika.
“Sudah, Guru,” kata Zhoan melaporkan.
Guru Chang mengangguk senang melihat kinerja sang murid yang telah membersihkan area pencarian artefak. Ia dan muridnya lalu memfokuskan diri mencari keberadaan artefak kuno dengan memindai dan mengarsir tiap jengkal sedimen laut. Jingga yang memperhatikannya pun tampak kagum akan keuletan keduanya.
“Siapa yang membuat catatan kuno tentang artefak dari dimensi lain?” tanya pikir Jingga mulai tertarik.
“Sepertinya masih banyak misteri yang belum terpecahkan. Biarkan saja, sebaiknya aku kembali ke kapal,” imbuhnya lalu berenang meninggalkan kedua kultivator.
Belum sampai jauh Jingga meninggalkan kedua kultivator, dirinya kembali merasakan kehadiran para kultivator lain yang menuju ke arah kedua kultivator yang sedang sibuk mencari artefak kuno.
“Wah, sepertinya akan terjadi drama. Aku tidak boleh melewatkannya,” seru Jingga yang berbalik arah untuk melihatnya.
Benar saja apa yang dipikirkan oleh Jingga. Delapan kultivator dewa yang terdiri dari dua wanita cantik dan enam pria berwajah garang langsung mengurung kedua kultivator yang terpaksa harus menghentikan pencariannya. Keduanya mendelik tajam para kultivator yang menyeringai sinis memperhatikan keduanya.
__ADS_1
“Apakah kami boleh membantu kalian?” ucap seorang pria berwajah simetris menawarkan diri.
“Huh! Apakah kalian datang hanya untuk mengantar nyawa?” cibir si pemuda membalasnya.
“Ha-ha-ha. Bocah sombong! Beraninya kau berkata seperti itu di hadapan sekte Aura Langit, ” kelakar salah seorang pria berkumis tebal sambil membusungkan dada.
Pemuda bernama Zhoan itu pun menyeringai lebar tidak memedulikan ucapan sang pria. Ia lalu berusaha memprovokasi para kultivator dengan sikap tak acuhnya.
Seorang wanita yang melihatnya tampak kesal. Ia mengepalkan kedua tangannya seraya mengembuskan napas sinis lalu berkata,
“Serahkan bocah ingusan itu kepada kami berdua."
Sang pemuda masih terlihat tenang menanggapi kesinisan sang wanita. Akan tetapi, ia secara diam-diam bersiap untuk memberikan serangan dadakan.
Tanpa menunggu lama, si pemuda melesak melayangkan bogem mentahnya tepat di perut kedua wanita yang tidak menyadari adanya serangan cepat.
WUZZ!
BAK, BUK!
Kedua wanita itu pun terpelanting jauh dari posisinya. Tak sampai di situ, si pemuda meneruskan serangannya ke arah keenam kultivator dengan memanfaatkan momentum kejut dari para kultivator yang tidak mewaspadainya.
WUZZ! DUAR!
“Si-sialan! Dia begitu cerdik,” rutuk seorang pria berkumis tebal yang terpelanting paling jauh.
Si pemuda kembali berdiri tenang di samping gurunya. Sesekali ia hanya menyunggingkan senyum mengejek para kultivator.
“Kalian sebaiknya pulang saja, kalau sudah hebat baru cari kami kembali,” ujar si pemuda sambil melingkarkan kedua tangan di dada.
Para kultivator yang baru saja bangkit berdiri begitu geram mendengar ejekan si pemuda. Tampak kemarahan terukir jelas di wajah para kultivator. Mereka pun saling mendekat dan bersiap untuk menyerang si pemuda yang terus menyeringai lebar mengejeknya.
Di tempat lainnya, Jingga yang memperhatikan pertarungan tak asyik dari para kultivator dewa mulai merasa suntuk.
“Kalian semua tidak lebih baik dari para prajurit istana Langit. Buang-buang waktuku saja, sangat mengecewakan!” keluh Jingga begitu kecewa.
Kesal karena tidak menghibur, Jingga lalu berkamuflase menjadi seekor ikan monster dan langsung bereaksi dengan menunjukkan taring tajam dan sorot mata membunuh. Kehadirannya yang tiba-tiba membuat para kultivator langsung mengalihkan pandangan ke arahnya.
__ADS_1
“Ikan ini memiliki aura iblis. Berhati-hatilah!” kata seorang pria bermata besar.
Kembali Jingga dibuat kesal mendengarnya. Ia melebarkan rahangnya menonjolkan bagian tajam dari taring ikan monster.
“Kalian masih saja banyak bicara. Baiklah, akan aku tunjukkan bagaimana menyerang yang efektif dan bernilai seni tinggi,” gumam Jingga lalu melesak menyerang para kultivator.
WUZZ! SRET! KREK, KREK!
Jingga yang berkamuflase menjadi ikan tidak memberikan kesempatan kepada kultivator untuk bereaksi sekalipun. Satu per satu kultivator mulai menjerit kesakitan tatkala tubuhnya jadi santapan empuk ikan monster yang mengoyaknya dengan brutal dan sangat cepat hingga menyisakan tubuh tidak utuh dari kedelapan kultivator alam dewa.
Kini, Jingga mengalihkan serangan kepada kedua kultivator yang terus mundur untuk menjaga jarak darinya.
"Hati-hati, Zhoan'er. Monster ini sangat berbahaya," ujar sang guru mengingatkannya.
"Baik, Guru. Ikan monster ini membuatku bersemangat," balas si pemuda lalu mengeluarkan pedangnya.
Jingga yang memperhatikan keduanya tidak lagi bersemangat untuk menyerang.
“Menghadapi keduanya hanya membuang waktuku saja, sebaiknya aku biarkan keduanya hidup,” pikir Jingga yang langsung berdiam diri menatap keduanya.
“Ikan busuk, kenapa kau tidak berani menyerang kami?” tanya si pemuda merasa heran melihat sorot mata ikan monster yang tak lagi tajam.
“Daging kalian tidak enak kalau langsung dimakan, pergilah!” balas Jingga mengusir keduanya.
“Ha-ha. Ternyata kau seorang kultivator,” timpal si pemuda.
“Terus, kamu mau apa?” tanya Jingga dengan malas.
“Tunjukkan dirimu kalau kau berani melawanku,” tantang si pemuda.
Jingga menggelengkan kepalanya. Ia lalu melirik tajam kakek tua yang berusaha memindainya.
“Kau tidak perlu memindaiku, Kakek Tua,” kata Jingga lalu menghilang pergi.
Sang kakek sedikit tersentak mendengarnya. Namun, bukan perkataan ikan monster yang membuatnya terdiam. Ia merasakan adanya energi asing dalam tubuh ikan monster yang berkaitan dengan artefak kuno yang dicarinya. Ia pun terdiam memikirkannya.
"Guru Chang!" panggil si pemuda.
__ADS_1
"Ikan itu memiliki energi dari Sanbuqu 9, kita harus menangkapnya," ujar si kakek tua tersadar dari lamunannya.