Takdir Pedang Sang Iblis

Takdir Pedang Sang Iblis
Linghun Lieshou


__ADS_3

Setelah kepergian ibunya, Feichang kembali melirik Jingga yang memeletkan lidahnya seperti menantang Feichang untuk mengulanginya lagi.


"Kau mengejekku atau menantangku untuk menciummu lagi?" Tanya Feichang langsung mendekatkan wajahnya.


Jingga meniupi wajah Feichang sehingga gadis iblis itu langsung tertidur, dengan sedikit gerakan Jingga langsung melepaskan diri dari ikatannya.


Setelahnya Jingga langsung mengikat Feichang dan menggantungnya di pengait yang tergantung di atasnya.


Jingga kemudian membuat perisai iblis untuk menutupi aksinya di dalam kamar si gadis.


"Jirex, kemarilah!" Panggil Jingga.


Tak lama Jirex langsung muncul di hadapannya dengan tersenyum aneh.


"Ha ha ha" tawa Jingga melihat gadis di depannya terlihat begitu aneh.


Jirex yang ditertawakan langsung merengut bibirnya merasa tidak senang.


"Kakak, ada apa kau memanggilku?" Tanya Jirex yang tidak melihat adanya beast monster di sekitarnya.


"Gadis kecil di belakangmu telah mempermainkanku, aku ingin kau balas mempermainkannya. Terserah kau mau apakan dia, yang jelas jangan sampai membunuhnya" ujar Jingga langsung berbaring di atas dipan sambil meminum arak.


Jirex tampak bingung dengan perkataan Jingga, ia langsung membalikan badan memperhatikan gadis iblis yang tergantung di depannya.


Jirex yang hanya tahu bertarung dan makan saja hanya bisa terdiam, ia kemudian berjongkok dan menoel hidung si gadis.


"Namanya Feichang" ucap Jingga memberitahunya.


Jirex menganggukkan kepala menanggapinya, Jingga yang melihat tanggapan Jirex yang berbeda langsung tersenyum. Ia kembali melanjutkan minumnya.


Feichang yang disentuh oleh Jirex langsung membuka kedua matanya yang seketika melebar menatap seorang gadis tanpa ekspresi di depannya.


"Siapa kau?" Tanya Feichang.


"Aku Feichang. Kamu?" Jawab Jirex salah paham dengan apa yang dimaksud oleh Jingga.


Jingga yang mendengarnya langsung tersedak lalu beranjak duduk.


"Hei, itu namaku" kata Feichang memprotesnya.


Buk!


"Aw! Kenapa kau memukulku?" Tanya Feichang kesal.


Buk!

__ADS_1


"Aw! Hentikan gadis sialan!" Rutuk Feichang mulai emosi dibuatnya.


Sret!


"Ha!" Jerit Feichang melihat tangannya terlepas.


Jirex memotongnya dengan kuku tangannya yang tajam, ia langsung mengunyah tangan Feichang dengan begitu santainya.


Sret!


"Ha!" Kembali Feichang menjerit, sekarang kedua tangannya telah lepas dari tubuhnya.


Jirex kembali melahapnya dengan begitu santai di depan si pemilik tangan.


Feichang langsung mengalirkan energi iblisnya untuk menyembuhkan kedua tangannya, namun ia terkejut kedua tangannya tidak lagi tumbuh.


"Toloong!" Teriak Feichang meminta tolong kepada keluarganya.


Berkali-kali ia berteriak, tidak ada satu pun keluarganya yang datang membantunya.


Sret!


Kaki kanan Feichang terlepas dari tubuhnya, ia berteriak sejadi-jadinya merasakan sakit di bagian kakinya.


"Ampuni aku Nona, tolong jangan memakanku lagi" ucap Feichang memelas setelah ketiga bagian tubuhnya habis dimakan oleh Jirex.


Jirex langsung berbalik dan kembali ke alam jiwa.


"Kau, kau pria imut. Bagaimana bisa kau lepas dari rantai keluarga Linghun Lieshou kami? Iblis macam apa dirimu?" Tanya Feichang tampak kaget melihat pemuda yang berjongkok di depannya.


Jingga menatapnya heran, lalu menggenggam rantai yang menurutnya tidak ada beda dengan rantai lainnya.


"Apa istimewanya rantai ini?" Gumam Jingga langsung menghancurkan rantai dari genggaman tangannya.


Jingga kembali menatap gadis di depannya yang begitu menyedihkan.


"Aku bisa membuatmu tetap hidup asalkan kau mau menceritakan semua yang kau ketahui kepadaku" ucap Jingga ingin mendengar tentang alam iblis dari gadis yang sangat menyedihkan.


"Aku tidak tahu apa maksudmu, katakan bagian mana yang ingin kau ketahui" balas Feichang yang merasa bingung harus menceritakan yang mana.


Jingga langsung menyentuh kening Feichang dengan ujung jarinya, menstranfer ingatan Feichang agar lebih cepat mengetahui semuanya.


"Menyedihkan sekali dirimu Nona kecil, sebaiknya kau tidur saja dengan nyenyak" ucap Jingga lalu mengalirkan api semestanya untuk melebur tubuh Feichang, namun Jingga membatalkannya setelah melihat mata Feichang terlihat sama dengan seseorang yang pernah ditemuinya.


Jingga langsung menyegelnya lalu melemparkan Feichang ke alam jiwanya.

__ADS_1


"Jirex, jauhkan gadis ini dari kedua adikku" pinta Jingga.


"Baik, Kakak" balas Jirex langsung menangkapnya dan membawa tubuh Feichang ke area jiwa kultivator terbelenggu.


"Mei'er, apakah kau merasakan ada sesuatu yang melewati kita?" Tanya Bai Niu setelah merasakan adanya sesuatu yang melewatinya dari atas.


"Iya, aku merasakannya. Sepertinya Kak Jingga melemparkan sesuatu untuk Jirex, nanti kita tanyakan kepada Jirex setelah kita selesai berkultivasi" jawab Qianmei menebaknya.


"Baiklah, ayo kita lanjutkan meditasi kita. Aku ingin membuat Kak Jingga kembali terpana melihat terobosan kultivasi kita" timpal Bai Niu kembali menutup matanya diikuti oleh Qianmei.


Di luar, Jingga langsung merubah dirinya menjadi Feichang dan berjalan keluar kamar.


"Chang'er, sudah mainnya?" Tanya sang ibu yang melihatnya keluar kamar.


"Sudah Bu, tapi maaf. Mainanku sudah aku bakar" jawab Jingga yang menyamar jadi Feichang lalu menundukan wajahnya seolah sedang menyesali perbuatannya.


"Tidak apa-apa, nanti Ibu bawakan mainan baru yang lebih imut dari pemuda tadi. Kemarilah gadis Ibu!" Jawab ibunya lalu melambaikan tangan meminta Feichang menghampirinya.


Jingga langsung melangkah mendekatinya yang disambut oleh kedua tangan sang Ibu yang mengusapi kepalanya dengan lembut.


"Ibu, apa maksud dari Linghun Lieshou?" Tanya Jingga yang begitu penasaran karena di dalam ingatan Feichang, ia tidak memahami maksudnya.


"Kenapa kau menanyakan sesuatu yang sudah turun menurun diwariskan kepada keluarga kita?" Tanya balik si ibu merasa heran.


"Tidak apa-apa, aku hanya ingin mendengar cerita awalnya saja dari Ibu" jawab Feichang.


"Baiklah, Ibu akan menceritakannya menurut apa yang Ibu ketahui. Dulu Kakek sepuh kita adalah salah satu kaki tangan Yang Mulia Agung Yuangu Mowang, karena kesetiaan dan kehebatannya yang selalu berhasil melaksanakan tugas memburu siapa pun yang menjadi target buruannya. Yang Mulia Agung menganugerahi keluarga kita sebagai klan pemburu di alam iblis ini selama ribuan tahun, bahkan sekarang di era kepemimpinan sang Ratu. Kita masih menjadi keluarga pemburu yang dikenal sebagai Linghun Lieshou" ujar sang ibu bernama Nuren menceritakannya.


Jingga mengangguk memahaminya, ia kembali teringat dengan sosok seorang kakek lusuh yang menempanya dengan api semesta. Kebetulan namanya sama dengan beast naga api hitam yang telah ia bunuh di hutan Hantu.


"Ibu, apakah Kakek sepuh yang Ibu maksud adalah Kakek Yiban?" Tanya Jingga memastikannya.


"Betul, siapa lagi kalau bukan Kakek Yiban. Syukur kau masih mengingatnya. Sekarang kembalilah ke kamarmu, Ibu akan kembali setelah menjalankan misi membantai klan Ye Gui di benua hitam Heibiantan" jawab ibu Nuren sekaligus memintanya untuk kembali ke kamar.


Feichang langsung kembali memasuki kamarnya, ia kembali membuat perisai iblis di kamar.


"Jirex, lemparkan kembali gadis itu" pinta Jingga.


Tak lama, Feichang keluar dari alam jiwa. Jingga langsung menangkap tubuhnya.


"Chang'er, maafkan aku yang sebelumnya tidak mengetahui dirimu adalah keturunan dari kakek Yiban. Aku akan membiarkanmu hidup, tapi maafkan aku. Aku tidak bisa menyembuhkanmu" ucap Jingga sedikit menyesal.


"Siapa kau sebenarnya pria imut? Kenapa kau bisa mengenali Kakek uyutku? Apakah Kakek uyutku masih hidup? Lalu di mana Kakek Uyutku berada sekarang?" Tanya Feichang.


Jingga tidak menjawab rentetan pertanyaan dari Feichang, ia malah teringat akan adiknya Bai Niu yang sama seperti gadis di pangkuannya.

__ADS_1


"Kenapa kau diam saja menatapku seperti itu? Apa kau menyukaiku, pria imut? Lalu kenapa kau membiarkan gadis aneh itu menyiksaku tadi?" Kembali Feichang bertanya.


"Sepertinya aku harus meminta Jirex memakan mulutmu yang bawel itu" balas Jingga menanggapinya.


__ADS_2