
Naray tidak mempedulikan apa pun yang ada di dalam istana, ia hanya mengikuti saja kemana pun Jingga membawanya.
"Aa, kenapa kita tidak menemukan keberadaan para pendekar ilmu hitam di jalur rahasia? Bukankah ini begitu aneh?" Lontar tanya Naray baru menyadarinya.
"Entahlah, mungkin mereka bertemu cacing besar atau siluman ayam di lorong" jawab Jingga tanpa meliriknya.
"Sepertinya ini kediaman sang raja" gumam Jingga memperhatikan pintu besar yang memiliki ukiran burung.
Jingga lalu mendorong pintu dengan sekuatnya, namun pintu yang didorongnya begitu kokoh tidak tergeser sedikitpun.
"Neng, minggir dulu!" Pinta Jingga lalu mundur beberapa langkah menjauhi pintu.
Siu!
"Hiaat!"
Bugh!
Jingga berlari lalu menendang pintu dengan begitu keras, namun hasilnya sama saja. Pintu tidak bergeser sedikitpun.
"Sialan! Andai saja aku memiliki energi iblisku, sudah aku hancurkan pintu besar itu" gerutu Jingga begitu kesal.
Naray yang mendengarnya merasa heran, ia baru mendengar adanya energi iblis yang disebutkan oleh Jingga.
"Aa, energi iblis itu apa?" Tanya Naray penasaran.
"Ha ha, sudahlah! Aku hanya membual saja" sergahnya yang tidak ingin mendapat banyak pertanyaan dari si gadis.
"Hem!" Deham Naray sedikit kecewa.
"Kita cari ruangan lainnya" sambung Jingga melangkah ke area lain di dalam istana.
Seperti sebelumnya, ia masih tidak bisa membuka pintu lalu beralih ke pintu lainnya, masih juga tidak bisa dibukanya. Jingga sampai berbaring di lantai istana karena kesal.
"A, sudahlah. Kita cari yang di komplek luar istana, siapa tahu kita menemukan sesuatu yang bisa kita ambil" saran Naray yang merasa kasihan melihatnya.
Jingga kembali bangkit dan membawa Naray ke area komplek luar istana. Di sana ia menemukan banyak kediaman yang berjajar rapi yang terbuat dari kayu-kayu berkualitas tinggi.
Krak!
Pintu terbuka lebar, kali ini Jingga merasa senang, ia lalu memasukinya bersama Naray.
Suasana kamar tampak sama seperti yang sering dilihatnya di istana kekaisaran benua Matahari.
"Neng, apakah Nenek Lakanti pernah bercerita tentang penghuni istana kerajaan ini?" Tanya Jingga ingin tahu.
"Hanya sedikit saja, A. Kata Eyang Guru, semua penghuni istana kerajaan adalah para dewa. Ada salah satu keluarga istana yang Eyang Guru kenal baik, dia adalah Nenek Dyah Laksmi yang merupakan salah satu adik angkat Penguasa Semesta. Itu saja yang pernah aku dengar" beber Naray menceritakannya.
__ADS_1
"Hem! Berarti pintu kediaman di dalam istana dalam kondisi tersegel energi spiritual para dewa" gumam Jingga menerkanya.
Jingga lalu keluar kamar, ia mengambil batu yang berada di taman luar lalu kembali memasuki komplek dalam istana.
"Aa, untuk apa membawa batu itu?" Tanya Naray heran.
Jingga tidak menjawabnya, ia lalu melemparkan sebuah batu ke arah pintu salah satu kediaman.
Dhuar!
Batu yang dilemparkannya meledak hancur terkena seberkas energi tak kasat mata.
"Ha ha ha, benar-benar masih ada energi spiritual di sini" kekeh Jingga begitu senang.
Ia lalu melirik Naray yang keheranan dengan apa yang dilihatnya.
"Secara normal, batu yang aku lempar harusnya terpental kembali ketika mengenai pintu. Kau melihatnya sendiri apa yang terjadi pada batu yang aku lempar tadi" ujar Jingga memberitahunya.
"Aa, apakah itu ilmu sihir?" Tanya Naray menerkanya.
"Sulit menjelaskannya, tapi bisa dikatakan seperti itu. Ayo kita periksa setiap kamar di komplek luar istana" jawab Jingga lalu berbalik pergi ke tempat sebelumnya.
Satu persatu kamar diperiksa oleh Jingga dan Naray, namun keduanya belum menemukan sesuatu apa pun yang berarti.
"Aneh, kenapa tidak ada barang berharga?" Tanya pikir Jingga setelah lebih dari dua puluh kamar yang diperiksanya dengan begitu cermat bersama Naray.
"Itu hanya cermin yang terbalik" jawab Jingga sekilas melihatnya.
Ia lalu duduk di pinggiran dipan kayu sambil memikirkan sesuatu, sedangkan Naray langsung mengambil cermin.
"Jangan dibalik" teriak Jingga menahannya.
Naray yang baru menyentuhnya langsung melepaskan pegangannya.
Jingga menghampirinya lalu mengambil cermin bulat untuk memindahkannya.
"Jangan sembarangan mengambil sesuatu yang kita belum tahu dampaknya, bisa saja cermin ini adalah portal dimensi ke suatu tempat" ujar Jingga lalu tidak sengaja ia membalikkannya.
Cahaya menyilaukan keluar dari cermin yang langsung menghisap Jingga dan Naray memasuki portal dimensi.
"Aah!" Jerit Naray yang terkejut dirinya tertarik memasuki gelombang cahaya yang begitu menyilaukannya.
Jingga mendekapnya begitu erat agar tidak terpisah darinya.
"Tutup matamu dan tenanglah" kata Jingga menenangkannya.
Lama keduanya di dalam gelombang cahaya. Naray yang tidak tahan akan sinar yang menerpanya langsung tidak sadarkan diri, Jingga masih terus mendekapnya walaupun dirinya sendiri mulai merasa pusing terhisap portal dimensi.
__ADS_1
Bugh!
Keduanya jatuh ke tanah dengan begitu keras. Untung saja Jingga masih kuat dalam kesadaran dirinya, ia memposisikan diri berada di bawah ketika terjatuh keluar dari lubang portal dimensi.
"Di mana ini?" Gumam Jingga memperhatikan suasana hutan yang begitu rimbun.
"Neng, bangun!" Ucap Jingga berusaha menyadarkannya.
Beberapa saat kemudian, kedua mata Naray terbuka, ia menatap Jingga yang begitu dekat wajahnya lalu kembali menutup matanya.
"Aduh, aduh!" Ringisnya merasakan sakit di telinganya yang dijewer oleh Jingga.
"Jangan nakal" ucap Jingga memelototinya.
Naray langsung beranjak bangun sambil merengek mengusapi satu telinganya yang begitu merah.
"Aku tidak mengenali hutan ini, kau tunggu di sini. Aku memanjat pohon dulu melihat kondisinya" imbuh Jingga lalu memanjat pohon.
Sampai di puncaknya, Jingga lalu berputar di dahan pohon melihat luasan hutan yang tidak terlihat ujungnya. Ia lalu turun kembali dari pohon.
Bugh!
Kedua kakinya mendarat dengan sempurna di hadapan Naray yang terus mendongak ke atas memperhatikannya.
"Aa, bagaimana?" Tanya Naray.
"Aku tidak melihat ujungnya yang berarti kita berada di rimba raya. Sekarang kita ikuti saja arah matahari terbenam. Ayo!" Jawab Jingga lalu menggenggam jemari tangan Naray dan mulai menelusuri hutan.
"Aa, aku lapar" rengek Naray sambil megusapi perutnya yang terus bersuara.
"Tahan dulu, sambil jalan kita coba mencari sesuatu yang bisa dimakan" balas Jingga terus membawanya melintasi hutan.
"Aa, capek" keluh Naray mulai merasakan lelah.
Jingga lalu berjongkok, Naray yang melihatnya langsung saja menaiki punggung Jingga.
"Neng, tidur saja. Nanti aku bangunkan kalau sudah menemukan makanan" ucap Jingga memintanya.
"Baik, A" balas Naray lalu menyandarkan kepalanya di bahu kanan Jingga.
"Mmuach" kecupan pipi dari gadis belia yang langsung menutup mata karena takut dimarahi oleh pemuda yang menggendongnya.
Jingga diam saja, ia masih terus melangkah sambil merasakan keberadaan hewan yang mungkin bisa diburunya untuk mengisi perut.
Cukup Jauh Jingga berjalan di kedalaman hutan rimba, tidak ada seekor pun binatang yang bisa diburunya, hanya burung-burung saja yang selalu ditemuinya di sepanjang perjalanan.
"Aku harus belajar memanah untuk bisa menembak burung-burung yang beterbangan di atas pohon" gumam Jingga sesekali mendongak ke atas melihat burung dari berbagai jenis seperti sedang meledeknya.
__ADS_1