Takdir Pedang Sang Iblis

Takdir Pedang Sang Iblis
Kekacauan Istana


__ADS_3


Pertarungan keduanya semakin sengit. Bai Niu terus menaikkan tempo serangan dengan kecepatannya yang mengagumkan. Tebasan demi tebasan terus dilayangkannya dengan sangat cepat dan terukur menyerang pria berwajah kotak yang tanpa sadar mulai terdesak mundur menahannya. Biarpun begitu, sang pria masih belum mau menunjukkan kekuatannya. Ia terus mengikuti pola serangan yang ditunjukkan oleh sang gadis yang terus menyerangnya.


“Kecepatan yang luar biasa, Nona. Tapi sangat disayangkan, pola seranganmu begitu mudah dibaca dan dipatahkan olehku. Apakah levelmu hanya sebatas ini saja?” puji pria berwajah kotak diselingi dengan cemoohan yang halus.


Bai Niu tidak mengindahkan ucapan sang pria. Ia tahu, semua yang diucapkan oleh si pria hanyalah provokasi yang akan merugikan dirinya.


“Apa di setiap pertarungan kau selalu bicara seperti itu, Tuan?” sindir Bai Niu.


“Ha-ha-ha. Kau sungguh menarik,” kekeh pria berwajah kotak.


Trang! Trang!


Benturan bilah logam terus terdengar di sepanjang pertarungan keduanya. Pria berwajah kotak terlihat masih bertahan tanpa adanya upaya untuk melakukan  serangan balasan. Jingga yang menontonnya sedikit tidak sabar untuk melihat kemampuan si pria berwajah kotak. 


Brrr! Brrr!


Tiba-tiba saja, ruang tahanan bergemuruh keras. Hal itu membuat pertarungan yang tengah berlangsung langsung berhenti seketika. Tampak si pria berwajah kotak merasa kesal dibuatnya.


"Ah! Ada apa ini?" kesalnya.


Bukan hanya si pria berwajah kotak saja yang kesal karena pertarungannya jadi terhenti. Bai Niu yang merasa di atas angin dalam pertarungan pun merasakannya. Namun, kekesalan keduanya tidak berlaku untuk seorang Jingga yang sedang berkamuflase. Ia merasakan fluktuasi energi yang cukup besar dari ruang utama Istana Langit.


“Memimu, apa yang terjadi?” tanya Jingga melalui alam pikir.


“Nyonya Naga membocorkan keberadaan kita, Kak. Tapi, memang ini yang aku harapkan. Ha-ha-ha,” jawab Qianmei terkekeh.


“Jadi, kau sedang bertarung sekarang?” tanya Jingga memastikan.


“Ha-ha-ha. Betul, Kak. Ayo ke sini! Mereka cukup merepotkan,” jawab Qianmei.


Jingga yang berkamuflase langsung menampakkan diri di depan pria berwajah kotak yang langsung terperangah melihatnya.


“Ka– kau siapa?” tanya gugup pria berwajah kotak tidak menduga akan kehadiran seorang pemuda di depannya.


Jingga menyeringai sinis menatap dingin si pria berwajah kotak lalu  mendekatinya. 

__ADS_1


“Kau tak pantas mengetahui siapa aku. Nikmatilah kematianmu, Tuan.” Jingga menyentuh kening pria berwajah kotak lalu meleburnya.


“Naninu, ayo kita nikmati pesta!” ajak Jingga langsung menarik tangan sang adik.


Tampak suasana di ruang utama istana begitu menegangkan di antara para dewa yang tengah mengepung seorang gadis. Qianmei yang selalu tersenyum tidak sedikit pun merasa terintimidasi oleh para dewa yang mengepungnya. 


Dalam ketegangan yang melingkupi ruang utama Istana Langit, waktu terasa melambat. Detik-detik berjalan perlahan, meninggalkan ruang bagi kekhawatiran dan spekulasi. Mata-mata yang saling menatap, siap untuk meluncurkan serangan atau menghindar saat bahaya mengancam. 


"Kalian terlihat menggemaskan, apakah aku semenakutkan itu, Tuan-Tuan sekalian?" sindir Qianmei di tengah kepungan para dewa.


"Ha-ha-ha-ha. Kau hanya gadis lemah. Apa yang  harus kami takuti darimu?" balas seorang dewa berjanggut emas.


Qianmei melebarkan senyuman menanggapinya. Ia mendelik ke arah Kaisar Langit yang begitu tegang memperhatikan pertarungan yang terjadi di aula istana.


"Aku baru tahu ternyata seorang kaisar sangatlah tampan dan berwibawa. Tetapi sangat disayangkan, kaisar begitu lemah. Tak layak mendampingiku," ujar Qianmei seraya menggelengkan kepala.


"Serang!" pekik seorang pria berpakaian zirah mengangkat tombak tinggi-tinggi lalu melemparkannya.


WUZZ!


Tombak berlapis baja melesak cepat ke arah Qianmei yang tengah berdiri. Qianmei tidak bergeming sekalipun dari tempatnya, ia menjulurkan jari telunjuknya ke arah ujung tombak yang terlihat sangat tajam dan kuat.


Tombak baja itu pun hancur seketika. Qianmei mengernyitkan wajah lalu tertawa terbahak-bahak.


"Hei, serangan macam apa ini?" cibirnya sambil menekan perut karena merasa lucu.


Beberapa dewa terperangah tak percaya melihatnya. Tombak baja dari seorang jenderal yang mampu menghancurkan gunung bisa hancur hanya sekali sentuh oleh jari seorang gadis.


"Si-siapa kau sebenarnya?" tanya sang jenderal yang melemparkan tombak.


Belum sempat Qianmei menjawabnya, Jingga dan Bai Niu muncul di depannya. Para dewa yang melihatnya kembali terperangah. 


"Bagaimana bisa gadis itu keluar dari ruang tahanan khusus?" Kaisar Langit menatap semua bawahannya meminta jawaban.


 "Lalu, siapa pemuda yang bersamanya?" sambung tanya seorang dewa berkalung tasbih.


"Ha-ha-ha. Aku senang melihat kalian berkumpul dengan ekspresi yang begitu tegang, ..., sepertinya akan lebih menarik ketika kalian tahu siapa yang sedang kalian hadapi. Hem ...." Jingga keluar dari tubuh pemuda yang dijadikannya inang.

__ADS_1


Aura iblisnya menyeruak mengintimidasi semua dewa yang berada di dekatnya. Gelombang auranya pun menggetarkan istana Langit dengan begitu keras. Di samping itu, ada beberapa dewa yang tidak dapat menahan tekanan dari aura iblis akhirnya bertumbangan dan memuntahkan darah, terutama para penjaga istana yang memiliki kultivasi rendah.


"Kau!" kata seorang cultivator tua yang masih mengingatnya.


"Hei, Pak Tua. Apa kau merindukan belaian tanganku?" balas Jingga.


"Kau sungguh mengejutkan, aku tidak sabar untuk membalas perlakuanmu di dimensi Alam Sutera."


WUZZ! 


"Ah!" jerit sang cultivator merasakan sakit di wajahnya. 


"Kau sangat menggemaskan, Kakek Tua," kata Jingga lalu menepuk pipi sang cultivator.


PLAK! DUAR!


Setelahnya, Jingga kembali mengedarkan pandangannya ke arah para dewa yang mulai ragu untuk menyerangnya.


"Jangan menunjukkan ketakutan di depanku atau aku tidak akan membiarkan kalian mendapatkan kesempatan untuk mengeluarkan kemampuan terbaik kalian," kata Jingga dengan intonasi suara yang datar.


Tampak pucat pasi wajah para dewa yang mendengarnya. Biarpun begitu, tidak ada satu pun di antara mereka yang berani membantahnya. Kebencian mulai menyelimuti jiwa para dewa melihat sosok pemuda iblis yang selalu meremehkannya. 


Beberapa saat kemudian, seorang dewa muda lumayan tampan yang mengenakan pakaian mewah yang merupakan seorang anak bangsawan dari salah satu klan terpandang di alam dewa melangkah santai dengan penuh percaya diri dan tatapan yang begitu angkuh.


Senyuman sombong terukir di wajahnya, mengisyaratkan keyakinan diri yang pasti. Ia merasa tidak tergoyahkan oleh reputasi penguasa alam iblis yang terkenal  di alam dewa bahkan di alam semesta.


“Aura iblis yang kautunjukkan sangatlah kuat dan mampu mengintimidasi kami semua. Meskipun begitu, kau bukanlah lawan yang harus ditakuti oleh bangsa dewa,” ujar si dewa muda.


Dalam gerakannya yang gemulai, dewa muda itu mengibaskan jubahnya dengan gaya yang mencolok, seolah-olah ingin menunjukkan superioritasnya di hadapan semua orang khususnya Kaisar Langit. Mata yang memancarkan kilatan keangkuhan memandang rendah pada diri Jingga, seakan meremehkan lawannya yang berdiri dengan ekspresi datar di depannya.


Bai Niu dan Qianmei terlihat kesal melihat tingkah dewa muda itu. Namun, keduanya masih berusaha untuk tetap tenang. Di sisi lain, Jingga masih berdiam diri membiarkan dewa muda terus berceloteh dengan keangkuhannya. 


Sikap angkuh si dewa muda itu menciptakan atmosfer ketegangan di antara para dewa. Mereka menerka-nerka sesuatu yang buruk akan dialami oleh dewa muda itu. 


“Kau sangat pandai berbicara, Tuan Muda. Akan tetapi, dari banyaknya perkataan yang kautebar, tidak satu pun aku mendengar ajakan pertarungan. Kau hanya seorang pembual belaka,” kata Jingga menyindirnya.


SRING! 

__ADS_1


Pedang panjang bercahaya keemasan keluar dari cincin spasial dewa muda. Ia terkekeh keras mendengar perkataan Jingga yang menanggapinya.


“Ayo, Iblis Muda. Aku menantangmu!” 


__ADS_2