
Trang! Trang! Trang!
Bai Niu terus menahan serangan pedang yang mengarah ke tubuhnya. Jianshandian yang digenggamnya dengan erat menjadi tameng bagi dirinya. Pertarungan yang dihadapinya bukan lagi untuk mengalahkan musuh, kini berganti tujuan untuk tidak cepat menghadapi kematian.
Bai Niu terus berputar-putar menghindari serangan yang datang. Sialnya, tidak ada kesempatan untuknya melakukan serangan balik. Kondisi fisiknya semakin lemah, gerakannya pun terus melambat dalam menghindari serangan. Dalam satu momen, puluhan dewa bersama para tetua sekte berhasil mengurungnya lalu menusukkan pedang dan tombak ke tubuh Bai Niu.
Sret! Sret!
“Ah!” ringis Bai Niu menahan sakit di sekujur tubuhnya kemudian jatuh terduduk.
Jianshandian yang digenggamnya terlepas lalu diambil oleh seorang gadis bersuhu dingin yang kemudian menempelkan ujung pedang di leher Bai Niu.
Puluhan dewa dan tetua sekte yang berhasil menghunuskan senjata yang menyerangnya langsung membentuk formasi lingkaran memutari keduanya. Mereka menghentikan pertarungan yang berhasil dimenangkan.
“Dewi Petir. Kami semua mengagumi kegigihanmu dalam bertarung! Apakah ada sesuatu yang ingin kaukatakan untuk terakhir kalinya?” ujar Dewi Es Bingji yang akan mengeksekusinya.
Bai Niu menatapnya sayu. Ia tahu, kali ini merupakan akhir dari petualangannya. Dalam benaknya hanya satu nama yang ia ingat.
“Katakan kepada kakakku, aku mencintainya,” ucap Bai Niu lalu menutup kedua mata.
Slash!
Dewi Es Bingji memenggal kepala Bai Niu menggunakan Jianshandian. Setelahnya, ia mengangkat Jianshandian ke langit sebagai tanda kemenangan.
Para tetua, dewa, dan ratusan murid mengikuti Dewi Es Bingji dengan mengangkat senjata untuk merayakan kemenangan. Mereka terlihat sangat puas dan penuh kegembiraan.
Degh!
Ikatan jiwa dengan Bai Niu terputus. Jingga melebarkan mata lalu memindai ke wilayah timur.
“Naninu!” lirihnya pelan.
Ia kemudian menghilang lalu muncul di dekat tubuh Bai Niu. Kemudian ia mengambil kepala yang tergeletak tak jauh dari tubuh Bai Niu dan langsung menyambungkannya kembali di leher sang adik.
Kematian Bai Niu membawa derita yang mendalam baginya. Matanya terpaku pada sosok sang adik yang terbaring tanpa nyawa di depannya. Hatinya teriris oleh kehilangan yang dalam, seolah-olah ujung pedang menusuk langsung ke dalam jiwanya.
Bai Niu bukan hanya seorang adik, tetapi juga sebagai teman, sahabat, dan kekasih hati yang selalu setia menemani perjalanan hidupnya. Dengan mata yang berkaca-kaca dan hati yang penuh duka, Jingga mengangkat kepala dan memandangi semua orang yang sedang merayakan kematian adiknya. Ia bangkit berdiri lalu menarik tubuh gadis yang menggenggam pedang Jianshandian.
Wuzz!
Dicekiknya leher si gadis yang merupakan seorang dewi es dengan begitu erat sampai kedua matanya menyembul.
“Kau melupakan siapa kakak dari gadis yang kau penggal,” kata Jingga lalu meremukkan lehernya.
Krak!
Dewi Es Bingji mati seketika dengan leher yang hancur dan terkulai tanpa tulang di dalamnya. Para dewa dan tetua sekte menghentikan perayaan lalu berkelebat memutari Jingga.
“Kalian merayakan kematian dari seorang gadis yang sangat berharga untukku, …, bukankah itu juga menjadi perayaan terakhir kalian?" Jingga mengeluarkan pedangnya bersiap untuk membabat habis musuh di sekelilingnya.
"Gabungkan kekuatan!" kata seorang dewa menyerukan.
Para dewa dan tetua sekte menciptakan kilatan energi spiritual lalu menggabungkannya membentuk gumpalan energi yang terus membesar.
Melihat hal itu, Jingga langsung menutup kedua matanya. Ia merencanakan satu hal untuk membalas kematian Bai Niu dengan balasan yang setimpal.
__ADS_1
“Naninu, akan kupenggal kepala semua orang untukmu,” gumam Jingga bertekad.
Setelah gumpalan energi spiritual terbentuk sempurna. Para dewa lalu melemparkannya ke tengah.
Wuzz!
“Chuanguo Yinying!”
Slash! Bug! Bug! Bug!
Duar!
Ledakan keras terjadi dari benturan gumpalan energi dengan tubuh Jingga. Namun, sebelum benturan itu terjadi, kepala dari para dewa, cultivator, dan semua murid sekte terlebih dulu jatuh menggelinding di rerumputan. Mereka semua mati dengan tubuh tanpa kepala.
Prok, prok, prok.
“Menakjubkan!” puji Taiyangshen yang menyaksikan aksi Jingga di atas langit.
Jingga tidak menanggapinya. Ia terus menunduk menatap sayu sang adik yang sudah tidak bernyawa di dekatnya. Xian Hou terkejut melihat tubuh gadis yang tergeletak di depan mantan suaminya. Ia pun melayang turun lalu memeluk tubuh Bai Niu.
“Niu’er, maafkan aku!” isak Xian Hou tersedu menangisi kematian Bai Niu.
Wuzz!
Seberkas energi melesak cepat menyerang Xian Hou yang langsung terpental jatuh bergulingan di rerumputan. Taiyangshen terkejut tidak menduganya, ia lalu turun membantu Xian Hou bangkit.
“Iblis Betina, beraninya kau menyakiti istriku!” geram Taiyangshen kepada Qianmei yang baru menampakkan dirinya.
“Katakan kepada istrimu, dia tidak layak menyentuh kakakku!” ketus Qianmei yang kemudian berlutut di depan tubuh Bai Niu.
“Gadis tengik, kupastikan kau akan mati mengenaskan,” balas Taiyangshen mengancamnya.
“Dewa lemah, kau tidak akan pernah bisa menyentuh adikku,” bisik Jingga lalu melepaskannya.
Taiyangshen membalikkan badan, namun ia tidak melihat keberadaan Jingga. Ia pun berbalik kembali dan melihat posisi Jingga masih sama seperti yang ia lihat sebelumnya.
“Sialan! Kenapa aku tidak dapat merasakannya?” rutuk Taiyangshen merasa heran.
“Karena kau lemah,” balas Jingga di alam pikir Taiyangshen.
“Bajingan! Bagaimana mungkin kau bisa menembus alam pikirku?” kesal Taiyangshen terkejut mendengar suara Jingga di alam pikirnya.
“Bodoh!” Jingga mengejeknya.
“Kau!”
Taiyangshen begitu geram terus diprovokasi oleh Jingga. Saking kesalnya, ia tanpa sadar melempar tubuh Xian Hou yang tengah bersandar di dadanya.
“Ah!” jerit Xian Hou tidak menduga dirinya akan dilempar oleh Taiyangshen.
Xian Hou kembali bangkit lalu menatap dingin Taiyangshen yang panik melihat istrinya marah.
“Kau! Kenapa kau melemparku?” tegur Xian Hou sambil melotot.
“A-aku tidak sengaja,” kilah Taiyangshen lalu menghampiri Xian Hou.
“Dewa kok takut sama istri,” ejek Jingga.
__ADS_1
“Ah, sialan kau!” teriak Taiyangshen di depan Xian Hou.
“Apa maksudmu mengatakan itu kepadaku?” tanya Xian Hou semakin geram dengan tingkah suaminya.
Di atas langit, Kaisar Langit bersama para pejabatnya merasa heran melihat tingkah Taiyangshen yang malah ribut dengan istrinya.
“Aku tidak bisa membayangkan apa yang terjadi di dalam istana ketika keduanya menjadi kaisar dan ratu istana,” celetuk seorang pejabat sambil menggelengkan kepala.
“Kuharap dia gagal,” sambung pejabat tua.
Kaisar Langit menoleh ke arah pejabat tua dengan tatapan tajam.
“Kalau dia gagal, kita pun akan mati. Berhentilah mengoceh!” tegur Kaisar mengingatkannya.
“Ma-maaf, Yang Mulia,” sahut pejabat tua lalu menundukkan wajah.
Di bawahnya, Jirex datang bersama beasts beruang hitam dengan langkah tegap setelah berhasil membinasakan ribuan beasts monster alam dewa. Pandangan Jirex tertuju ke arah Bai Niu yang terbaring di atas rumput. Ia lalu bergegas mendekatinya.
“Kak Naninu,” panggil Jirex lalu mengangkat kepala Bai Niu.
“Kakak kenapa bisa mati? Bukankah Kakak petarung hebat?” tanya Jirex terus menatap wajah Bai Niu.
"Kak Jingga," panggil Jirex menginginkan sesuatu.
"Simpan kembali kepala kakakmu itu," pinta Jingga tidak suka melihatnya.
"Tadinya mau aku makan," ucap Jirex lalu meletakkannya kembali.
"Heh! Apa kau juga ingin memakanku ketika aku mati?" tanya Qianmei sambil berdecak pinggang.
Jirex mengamati tubuh Qianmei dari atas sampai bawah. Ia lalu menggelengkan kepala tidak tertarik dengannya.
"Kenapa kau menggeleng begitu?"
"Aku tidak suka."
"Apa karena aku jelek?"
"Sudah cukup! Kalian semua masuklah ke alam jiwa!" potong Jingga melerai keduanya.
"Baik, Kak," sahut Jirex lalu memasuki alam jiwa bersama para beasts monster.
"Kak, aku ingin menghadapi Xian Hou," ucap Qianmei memintanya.
Jingga mengangguk menyetujuinya lalu menarik tubuh Bai Niu ke alam jiwa. Setelah itu, Jingga dan Qianmei menatap Taiyangshen yang masih berusaha membujuk Xian Hou untuk memaafkannya.
"Lelaki tetaplah lelaki, sehebat apa pun dia, tetap saja akan luluh dari seorang wanita yang dicintainya," ujar Qianmei.
Jingga menolehnya dengan senyum yang terukir sempurna.
"Aku takut gemuk, Kak," kata Qianmei mengungkapkan.
Jingga mengernyitkan dahi, tidak memahami maksud perkataan Qianmei.
"Kenapa harus takut?" tanya Jingga penasaran.
Qianmei mendengus pelan lalu berkata, "senyum Kakak terlalu manis untukku."
__ADS_1
"Jangan gombal, lihatlah ke depan! Si dewa bodoh bersama selingkuhannya terus memperhatikan kita."
Qianmei mengangkat wajahnya lalu memperhatikan Xian Hou yang menatapnya sinis.