Takdir Pedang Sang Iblis

Takdir Pedang Sang Iblis
Perang Pendekar 1


__ADS_3

Baru saja Jingga merebahkan tubuhnya, suara keributan terdengar jelas di telinganya.


"Masih siang kok sudah ramai begini" keluhnya.


Jingga beranjak bangun lalu berjalan ke arah pintu, dibukanya pintu kayu rumah sang nenek. Tampak terlihat olehnya para pendekar bersama warga hilir mudik berseliweran di depan rumah dengan menenteng senjata.


"Kirain sudah dimulai perangnya, tahunya masih dalam persiapan" gerutunya.


Jingga menutup pintu dan kembali merebahkan tubuhnya, sambil menatap langit-langit yang rapuh. Jingga melamunkan dirinya sendiri.


"Sembilan bulan di dunia tanpa energi spiritual, apa serunya?" Tanya pikirnya.


"Tapi tetap seru juga sih, selama ini aku terlalu mudah membantai musuhku di alam fana. Dengan kondisi seperti sekarang ini, pastinya lawan-lawanku memiliki kesempatan untuk menyerangku dan menunjukkan kemampuan terbaik mereka" imbuhnya.


Ia tersenyum lebar membayangkan pertarungan seru yang akan dilaluinya selama sembilan bulan berada di alam fana. Tak lama kemudian, ia terlelap tidur.


Hari berganti malam, suasana dusun Sukamati masih ramai oleh warga yang siaga menyambut serangan lima padepokan yang sudah diwanti-wanti oleh nenek Lakanti.


Jingga terbangun dari tidurnya, ia memperhatikan punggung seorang gadis di area dapur.


"Siapa dia? Apakah dia yang bernama Naray, murid nenek jelek?" Gumamnya.


Gadis itu membalikkan badan, ia menghampiri Jingga dengan membawakan teko air dan sepiring umbi rebus di atas nampan yang dipegangnya.


Jingga begitu terpana melihat kecantikan gadis yang begitu alami tanpa riasan yang biasa dipakai oleh gadis di benua Matahari.


Gadis yang masih berusia belia itu tersenyum lembut memperhatikannya.


"Aa sudah bangun? Naray diminta Guru untuk melayani Aa selama berada di rumah" ucap Naray.


"Kalau masih tidur, aku tidak akan bisa melihat kecantikanmu gadis kecil" balas Jingga sambil mengucek matanya yang sepet.


Wajah Naray berubah merah seperti tomat matang, ia tersenyum lebar mendengarnya.


Jingga yang melihat senyum menawan sang gadis langsung tertegun.


"Aku tidak boleh terpesona oleh kecantikan gadis lain, ingatlah istri cantik yang menungguku pulang" rutuk Jingga memarahi dirinya sendiri.


Naray membungkuk meletakkan teko, gelas dan sepiring umbi rebus di hadapan Jingga. Tanpa sengaja, Jingga langsung membuang muka setelah melihat sesuatu yang imut milik Naray terlihat jelas dari kain kebaya yang terbuka karena posisinya.


"Sialan! Sudah tahu aku jauh dari istriku. Dia malah memperlihatkan keindahannya, mana masih ranum begitu" gerutu Jingga tampak kesal.


Naray yang menyadarinya langsung menutupinya dengan sebelah tangannya, ia lalu duduk di depan Jingga dan dilanjutkan dengan menuangkan teh panas yang dibuatnya.


"Maaf, Aa. Aku tidak sempat menutupinya karena kedua tanganku sedang memegang nampan" ucapnya.


Wajahnya semakin merah karena malu sesuatu berharga miliknya telah terlihat oleh pemuda di depannya.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, rezeki untukku. Lain kali kau harus memakai selendang untuk menutupinya. Jadilah gadis yang memiliki martabat, jagalah dirimu sebaiknya sampai ada seorang pria yang akan menjagamu" balas Jingga menasehatinya.


"Baik, Aa. Silakan dinikmati umbi rebusnya" timpal Naray lalu menyodorkannya.


Jingga langsung saja melahapnya walau umbi rebus masih begitu panas. Naray sampai tertegun melihat Jingga yang tanpa sedikit pun merasa kepanasan memakannya.


"Pelan-Pelan, Aa. Nanti keselek" pinta Naray menyodorkan segelas teh panas.


Jingga mengambilnya lalu meminumnya dengan sekali teguk. Naray yang melihatnya kembali tertegun, bahkan ia sampai membelalakkan mata melihat Jingga meminun air teh panas langsung dari tekonya.


"Ah, enak!"


"Terima kasih, Neng"


"Sama-sama, Aa" balas Naray.


Keduanya lalu berbincang sambil menunggu peperangan yang akan terjadi. Banyak hal yang diceritakan oleh Jingga dalam petualangannya.


Lama keduanya berbincang, suasana dusun menjadi sunyi. Naray berkali-kali menutup mulutnya karena terus menguap dalam kantuk yang menyerangnya.


"Tidurlah, Neng. Jangan dipaksakan" pinta Jingga merasa kasihan melihat gadis di depannya yang begitu merah matanya.


Naray mengangguk, karena terlalu ngantuk dan masih lelah sehabis pulang dari kota Lebakwangi. Ia pun terbaring dan tidur di depan Jingga.


"Sepertinya karena terlalu banyak makan membuatku ingin menerkamnya. Sebaiknya aku keluar rumah menghindari khilaf" gumam Jingga yang terus memperhatikan seorang gadis cantik yang tidur berbaring di depannya.


Prok, prok, prok!


Jingga melirik suara tepukan tangan di teras rumah yang ditempati para pria yang duduk melingkar. Seorang pria melambaikan tangan memanggilnya. Jingga lalu berjalan menghampiri.


"Jingga, kemarilah!" Panggil pria paruh baya yang tak lain adalah pak Jentrang kepala dusun.


"Ya, Paman" sahut Jingga mendekatinya.


"Kenapa kau tidak memakai baju di tengah malam begini?" Tanya pak Jentrang.


"Tidak punya, Paman" jawab Jingga lalu duduk berkumpul bersama warga.


"Anjas, ambilkan pangsi (sejenis pakaian adat) untuk dipakainya" pinta pak Jentrang kepada seorang pemuda berusia belasan tahun.


"Baik, Ayah" sahut pemuda itu langsung berdiri memasuki rumah.


Tak lama, pemuda itu kembali dengan membawa sehelai baju pangsi lalu menyerahkannya kepada Jingga.


"Terima kasih" ucap Jingga yang diangguki oleh Anjas.


Jingga langsung memakainya beserta sebuah blangkon di kepalanya. Ia terlihat begitu tampan. Warga dusun menjadi kagum melihatnya.

__ADS_1


"Sudah larut malam, tidak ada serangan dari para pendekar ilmu hitam. Apakah Nyai Lakanti membohongi kita?" Celetuk seorang pria lalu menyeruput kopi.


"Ya, kita jadi harus begadang menunggunya" balas seorang pria lainnya.


"Betul, tapi kita harus tetap waspada menjaga dusun kita" sambung yang lainnya.


"Tidak, para pendekar sedang mengintai kita di balik pepohonan" potong Jingga membuat para warga langsung terdiam.


"Benarkah ucapanmu itu anak muda?" Tanya pria paruh baya kurang yakin.


"Betul, Paman" jawab Jingga.


Ia lalu berdiri di tengah kumpulan warga dan melirik ke arah pak Jentrang.


"Kepala Dusun. Izinkan aku memulainya" pinta Jingga.


"Baiklah, sementara kau menyerangnya, kami akan bersiap-siap. Berhati-hatilah!" Ucap pak Jentrang memberikannya izin.


Jingga langsung berkelebat di keheningan malam, para warga begitu terkejut melihat kecepatan Jingga yang di luar nalar mereka.


"Langkah bayangan"


Siu!


Sret! Sret!


Tebasan demi tebasan dilayangkan Jingga ke leher para pendekar yang bersembunyi di pepohonan. Tidak ada satu pun yang menyadari serangan dadakan dari seorang pemuda yang begitu cepat menebaskan pedangnya.


Bugh! Bugh!


Puluhan tubuh tak bernyawa berjatuhan satu persatu seperti suara jatuh buah kelapa.


Tong, tong, tong!


Pentungan dipukul oleh warga untuk memberitahu semua orang akan peperangan yang terjadi.


Ratusan pria warga dusun berhamburan dengan membawa berbagai senjata.


Ratusan pendekar ilmu hitam berdatangan dari berbagai arah berkelebat menyerang warga yang langsung membalasnya. Suara dentuman dari peraduan senjata semakin nyaring terdengar menandakan peperangan yang berkecamuk telah dimulai di dusun Sukamati.


Jingga yang berdiri di atas pohon terus memperhatikan gelombang serangan berdatangan dari berbagai arah.


"Luar biasa, untuk menghancurkan sebuah dusun. Mereka sampai mengerahkan ribuan pendekar" gumamnya.


Jingga tertarik pada pendekar yang berlompatan di atas bukit yang pernah ditempatinya.


"Sepertinya mereka adalah para pendekar yang memiliki kesaktian tinggi" imbuhnya.

__ADS_1


Jingga langsung melompat dari atas pohon menyerang puluhan pendekar yang baru saja menyentuh tanah di bawah kaki bukit.


__ADS_2