
"sungguh perbincangan yang menarik, terima kasih atas semuanya, Nona" ucap Jingga lalu berdiri dengan mengepalkan kedua tangan dan sedikit membungkukkan badan.
"Sama-sama Tuan muda, daritadi aku menunggumu bertanya tapi kau tidak menanyakannya, sepertinya Tuan muda tidak tertarik denganku" balas gadis iblis menyinggungnya.
Jingga merasa bingung dengan ucapan si gadis, namun ia merasa tidak ada yang salah dengan dirinya selama berbincang dengan gadis iblis yang begitu ramah padanya.
"Mohon maafkan diriku yang tidak genius ini" timpal Jingga lalu berlalu pergi meninggalkannya.
"Kau begitu penuh peradatan, Tuan muda" sambung gadis iblis sambil memperhatikan punggung pemuda yang berjalan meninggalkannya.
Di luar, Jingga melanjutkan perjalanannya yang sempat tertunda karena pertemuannya dengan gadis iblis. Entah kenapa hatinya begitu gembira setelah pertemuannya.
"Dasar iblis buaya! Belum pernah dicincang peri cantik ya?" Rutuk Xian Hou merasakan hati suaminya.
Jleb!
Jingga langsung berhenti melangkah, ia merasa begitu cemas mendengar ocehan istrinya.
"Maaf, sayang. Ini hanya naluriku saja sebagai seorang pria" kilah Jingga dalam hatinya.
Xian Hou tidak menanggapinya, hal itu membuat Jingga semakin cemas.
"Sayang, bicaralah! Diammu seakan menghentikan napasku" pinta Jingga.
Tak ada jawaban sama sekali, Xian Hou kembali mengacuhkannya.
"Sayang, kau mau apa? Katakan saja, aku akan menurutinya" bujuk Jingga merayunya.
"Ambilkan bulan untukku" pinta Xian Hou yang akhirnya berbicara juga.
Jingga menggaruk-garuk kepalanya tidak tahu bagaimana cara menuruti permintaan mustahil istrinya.
"Istriku, kau tahu aku tidak mungkin bisa mengambilnya. Bisakah kau meminta yang wajar saja?" Balas Jingga memelas.
"Hem" dengus Xian Hou menanggapinya.
Makin pusing Jingga dibuatnya, ia kembali meneruskan perjalanannya menelusuri tengah kota sambil terus merayu istrinya.
Siu!
Dhuar!
Bola api meledak mengenai tubuhnya, Jingga yang sedang galau tidak bereaksi apa pun. Ia masih terus berjalan seakan tidak terjadi apa-apa.
Di udara, seorang pria tampak begitu heran melihat pemuda tidak merespon serangannya.
"Ada apa dengannya? Apakah dia menjadi gila setelah kalah dariku? Ha ha ha" kekeh pria dalam gumamannya.
Pria itu langsung turun menghampiri Jingga yang masih saja melamun.
"Iblis muda, aku tidak pernah berharap kau akan menjadi gila setelah pertarungan pertama kita. Ngomong-ngomong, di mana pelindungmu bersembunyi?" Ucap pria iblis mewaspadainya.
Sebelumnya, ia yang hampir berhasil membunuh Jingga harus terlempar jauh ke langit karena serangan dadakan dari Xian Hou.
__ADS_1
Jingga tidak menanggapinya, ia terus saja melangkahkan kakinya berjalan lurus dengan pandangannya yang kosong.
Dari arah belakangnya tampak gadis iblis menunjukkan batang hidungnya melihat Jingga dihampiri oleh pria iblis yang dikenalnya.
"Kaibo, kenapa kau menyerangnya?" Tegur gadis iblis menghampiri keduanya.
Pria iblis yang dipanggil Kaibo menolehkan kepala meliriknya.
"Xinxin, kenapa kau ada di sini? Apa hubunganmu dengannya?" Balas Kaibo balik bertanya.
"Dia adalah calon kekasihku, pergilah atau kau akan menjadi musuh keluargaku" jawab Xinxin mengancamnya.
"Ha ha ha, kau kira aku takut dengan keluargamu? Maaf saja, kau salah menilaiku" balas Kaibo terkekeh mendengarnya.
Xinxin menyeringai menatapnya, ia langsung mengangkat tangan membuat kode dari jemarinya, tak lama empat pengawalnya berkelebat mendekatinya.
"Bunuh pria ini!" Ucap Xinxin memberikan perintah.
Keempatnya mengangguk lalu mengeluarkan senjatanya dan langsung mengayunkan senjata menebas Kaibo.
Wuzz!
Kaibo sudah menghilang dari tempatnya, serangan keempat pengawal hanya mengenai udara kosong.
"Ha ha ha, keempat kecoamu itu hanya membuatku geli" ledek Kaibo yang sudah berdiri melayang di udara.
"Huh! Baru bisa menghindar saja sudah sombong" dengus Xinxin lalu merapalkan mantra memanipulasi udara di sekitarnya.
Seketika udara menjadi beku, tidak ada angin, tidak ada pergerakan dari apa pun kecuali si pemanipulasi udara yang bisa bebas bergerak.
Namun ada satu pemuda yang masih bisa bergerak bebas, ia adalah Jingga. Kekuatan api semesta membuat tubuh Jingga tidak terpengaruh oleh sihir dari Xinxin.
Jingga berbalik melihat pertarungan yang terjadi di belakangnya, bola matanya membesar, ia begitu kagum dengan sihir yang diperagakan oleh gadis iblis.
"Sihir yang hebat, aku harus memilikinya" gumam Jingga lalu bersiap menunggu momentum untuk menyerang keduanya.
Xinxin mengeluarkan dua belati yang bersinar biru kehitaman di bilahnya. Ia melesat ke udara lalu menebas tubuh Kaibo secara zigzag.
Sret! Sret! Sret!
Setelahnya Xinxin kembali mendarat di tanah dengan senyum yang puas dan yang terakhir ia menghentikan sihirnya.
Seketika udara kembali normal, Kaibo di udara tidak menyadari apa yang terjadi dengan tubuhnya. Ia masih terkekeh meledek gadis di bawahnya.
"Ayolah, jangan biarkan aku bermain dengan kecoa yang kau bawa" tantang Kaibo.
"Main saja sendiri, aku tidak bisa bermain dengan mayat terpotong ha ha" balas Xinxin lalu melingkarkan kedua tangannya di dada.
"Huh! Ya sudah, kalau begitu aku akan membunuh kalian semua. Bersiaplah!" Timpal Kaibo lalu mengangkat pedangnya.
Krek!
Buk!
__ADS_1
Kaibo melebarkan mata melihat tangannya terlepas dari tubuhnya, tidak hanya itu saja, semua bagian tubuhnya yang terpotong ikut berjatuhan menyusul kedua tangannya.
Buk! Buk!
"A- apa yang terjadi?" Tanya pikirnya begitu terkejut dan akhirnya kepalanya ikut jatuh ke tanah dengan keras.
Kaibo mati dengan tatapan tidak percaya dengan apa yang terjadi pada tubuhnya.
Jingga yang melihatnya lalu menarik jiwa pria iblis dan langsung memakannya.
"Ah! Kekuatanku bertambah, sungguh sebuah keberuntungan mendapatkannya tanpa harus bersusah payah bertarung" gumam Jingga begitu senang.
Jingga yang berniat untuk membunuh gadis iblis akhirnya harus mengurungkan niatnya, berkat sihir gadis iblis ia bisa mendapatkan jiwa pria iblis tanpa harus melalui pertarungan.
"Terima kasih, Nona" ucap Jingga melirik gadis yang berjalan menghampirinya.
"Kau curang, aku yang berhasil mengalahkannya, kau yang menghisap jiwanya" gerutu Xinxin.
Walau begitu, ia tetap senang melihat pemuda di depannya tersenyum lembut menatapnya.
"Maafkan aku yang mengikutimu daritadi" imbuh Xinxin.
"Tidak masalah, aku sudah mengetahuinya sejak keluar dari penginapan" balas Jingga.
"Oh iya, daritadi kau terlihat begitu murung, apa yang kau gelisahkan?" Tanya Xinxin ingin tahu.
"Tidak apa-apa, aku hanya bingung tidak tahu arah mau pergi ke mana" kelit Jingga mengalihkannya.
"Apakah benar begitu? Bagaimana kalau kau ikut ke kediaman klan Xuenong bersamaku?" Ajak Xinxin.
"Boleh, tapi sebelumnya aku ingin mengenalmu dulu. Maaf aku lupa bertanya namamu waktu di penginapan" ucap Jingga baru menyadarinya.
"Ha ha ha, kau bisa panggil aku Xinxin, aku Nona muda klan Xuenong" balas Xinxin lalu berjalan ke arah kediamannya.
Jingga merasa lucu mendengar nama klannya, namun ia harus menyembunyikannya untuk menghargai gadis iblis yang berjalan di sampingnya.
"Nona Xin, aku baru tahu di alam iblis setiap klan memiliki tugasnya sendiri. Lalu apa yang menjadi tugas klan Xuenong?" Tanya Jingga sambil terus berjalan memperhatikan bangunan-bangunan kuno.
Xinxin langsung meliriknya, namun ia sedikit kecewa karena Jingga tidak menatapnya.
"Kami hanyalah klan para petani, tidak ada yang istimewa dengan klan kami" jawabnya.
"Petani!" Gumam Jingga merasa heran.
"Tanaman apa yang kalian tanam? Pohon-pohon yang aku temui tidak ada satu pun yang memiliki daun" tanya Jingga tidak bisa menebaknya.
"Ha ha ha, kau lucu. Kami bukan petani tanaman seperti di alam fana" timpal Xinxin terkekeh.
Jingga cengengesan saja dengan ketidaktahuannya, ia menjadi serba salah ingin menanyakan lebih lanjut soal pertanian yang dimaksud oleh Xinxin.
"Baiklah, baiklah, kau begitu penasaran dengan pertanian klan Xuenong" ucap Xinxin sengaja menggantung ucapannya.
Jingga mengerutkan kening mendengarnya, ia langsung menarik tangan Xinxin lalu menatapnya dengan lekat.
__ADS_1