Takdir Pedang Sang Iblis

Takdir Pedang Sang Iblis
Tontonan Membosankan


__ADS_3


Bai Niu mulai tidak sabar untuk melawannya. Begitu pun dengan Qianmei yang sejak tadi mempersiapkan diri pada pertarungannya.


“Kak Jingga,” panggil Bai Niu.


Jingga yang sedang mengamati para musuh langsung menutup mulut Bai Niu dengan telapak tangannya.


“Mereka ahli sihir. Aku akan memberikan kalian kemampuan sihir iblis untuk sementara waktu.” 


Bai Niu yang disumpal mulutnya sedikit berontak untuk melepaskan diri.


“Kak, kenapa hanya sementara?” protes Bai Niu menanyakannya.


“Memang hanya bisa sekali digunakan. Sihir yang akan meniru dan meningkatkannya lebih baik. Kalian gunakan setelah mereka semua mengeluarkan kemampuan sihirnya.”


“Aku paham, Kak.” Kata Qianmei memahaminya.


Jingga dan Qianmei langsung melirik Bai Niu yang masih memikirkannya. 


“Aku juga paham. Kenapa kalian menatapku seperti itu?” 


“Apa yang kamu pahami?” tanya Jingga mengujinya.


“Ya, seperti itu. Begitu pokoknya.” Jawab Bai Niu sekenanya.


Ia benar-benar tidak memahami maksud perkataan Jingga. Wajahnya tertunduk malu dilihat orang-orang di sekitarnya. Jingga langsung membelai pipinya. 


“Sudahlah, ada Memimu yang akan mendampingimu. Kau tidak perlu khawatir.”


Wajah Bai Niu merona dibuatnya, hal yang sudah lama tidak didapatkannya dari Jingga. 


“Aduh!” ringis Jingga langsung melepaskan tangannya di wajah sang adik.


Di sampingnya, Xian Hou memasang wajah garang menatapnya. Jemarinya masih mencubit kuat pinggang Jingga.


“Ma … maaf, Sayang.” Jingga merajuk meminta istrinya untuk melepaskan tangan.


“Huh!” dengus kesal Xian Hou langsung melepaskan tangannya.

__ADS_1


Sementara itu, lontaran energi tak kasat mata semakin gencar menyerang perisai iblis. Retakan demi retakan mulai terlihat di lapisan dinding perisai. Beberapa orang istana mulai merasakan cemas karenanya.  


“Memimu, Naninu. Ketika perisai hancur, kalian bergegaslah menyerang mereka,” ujar Jingga memberi aba-aba.


“Baik, Kak.” Sahut keduanya lalu bersiap menunggu instruksi Jingga.


KRAK! KRAK!


Benturan keras yang intens berhasil membuat lapisan perisai mengalami kerusakan. Lubang-lubang menganga mulai terlihat dari lapisan yang rusak.


"Sekarang!" Pekik Jingga memberi perintah.


WUZZ!


Bai Niu dan Qianmei melesak cepat menyerang musuh yang terus fokus melemparkan energi tak kasat mata ke arah perisai iblis di bawahnya.


DUAR! DUAR!


Serangan cepat dan mendadak yang dilancarkan oleh kedua gadis berhasil membuat musuh yang bersembunyi di balik awan terkejut dan berhenti melemparkan serangan energi.


“Halo, Sayang. Sepertinya kalian ingin menyusul teman-teman kalian yang mati mengenaskan di hutan ilusi ciptaan kalian. Sebelum kalian mati, alangkah baiknya kalian mengetahui siapa yang membunuh kalian. Perkenalkan, aku si cantik Bai Niu dan di sebelahku adalah seorang putri dari kerajaan yaitu Putri Qianmei.” Sapa Bai Niu memperkenalkan diri.


“Mei’er, waspadalah.” Kata Bai Niu mengingatkan.


“Baik, Kak.” Balas Qianmei lalu mengeluarkan pedang dari cincin spasialnya.


Di area bawah. Setelah kepergian Bai Niu dan Qianmei dalam menghadapi musuh. Jingga langsung melapisi perisai iblis dengan beberapa lapis agar bertahan dari gempuran energi tak kasat mata yang dilayangkan oleh para musuh di langit.


“Fan’er, sepertinya perjalanan ke istana harus tertunda. Kita tidak bisa melewatkan pertarungan seru di atas kita. Perintahkan rombongan istana untuk duduk santai menyaksikan pertarungan, aku akan menjamu kalian semua dengan arak terbaik,” kata Jingga lalu mengambil beberapa botol arak dari cincin spasialnya.


Satu per satu orang-orang dari istana kekaisaran Fei menangkap botol arak yang dilemparkan oleh Jingga. Mereka semua lalu duduk dengan kepala mendongak ke langit. Sedangkan Jingga tidak demikian, ia memilih merebahkan tubuhnya di atas puing-puing yang berserakan menjadi alas tubuhnya. Xian Hou sendiri langsung merapatkan tubuhnya di samping Jingga dan membenamkan kepalanya di dada sang suami.


Seorang komandan mendekati Jingga seraya membawa bungkusan berbahan kain di tangan kanannya.


“Tuan, ini penganan khas kekaisaran Fei. Mohon diterima,” ucapnya lalu menyerahkan bungkusan ke tangan Jingga.


Tanpa memikirkannya, Jingga langsung saja menerima bungkusan dari kain tersebut. Ia lalu membukanya.


“Apa ini?” tanya Jingga merasa heran melihat bentuknya.

__ADS_1


“Itu kue kacang tanah dibalut tepung udang dan diolah dengan rempah-rempah pilihan. Rasanya sangat gurih dan bumbunya akan membuat Tuan memakannya lagi dan lagi hingga tidak terasa sudah habis semuanya. Coba saja, pastinya Tuan akan menyukainya.” Jawab si komandan menjelaskannya.


Jingga yang mendengarkan penjelasannya hanya bisa mengedipkan mata berulang kali dan mengerucutkan bibirnya. Tanpa basa-basi lagi, ia langsung memakannya.


KRAUK! KRAUK!


“Enak! Ini cocok menjadi pendamping arak. Terima kasih, Tuan Komandan.” Kata Jingga setelah mencobanya.


Matanya berbinar dan mulutnya tidak berhenti mengunyah kue kacang yang diberikan oleh si komandan.


“Terima kasih kembali, Tuan. Kalau begitu, saya permisi.” Balas si komandan lalu pergi kembali ke barisannya.


Suasana pun tampak seperti sekumpulan penonton yang tengah asyik melihat peraduan layang-layang di udara. 


Kembali ke posisi Bai Niu dan Qianmei di balik awan. Keduanya tampak masih berdiam diri dengan pedang yang menjulur ke bawah. Pertarungan masih belum dimulai, para musuh yang berasal dari aliansi Es Utara pun masih berdiam diri mengelilingi kedua gadis. Namun, hal itu tidak berlangsung lama. Para kultivator dari aliansi Es Utara langsung membentuk lima formasi berbeda. 


“Mei’er, mereka akan membekukan udara. Alirkan energi spiritual ke seluruh tubuh,” 


“Baik, Kak.”


Qianmei langsung mengalirkan energi spiritualnya sesuai yang diminta oleh Bai Niu. Sedangkan Bai Niu sendiri langsung bertransformasi ke tubuh dewi Petir. Ia lalu menggenggam jemari Qianmei dan mengalirkan energi petir untuk memanaskan tubuh Qianmei.


“Ah!” ringis Qianmei merasakan panas di sekujur tubuhnya.


“Bertahanlah, Mei’er. Ini akan membantumu mengatasi suhu beku.” 


Qianmei mengangguk sambil meringis kesakitan. Ia terus bertahan dari rasa panas yang menerpanya.


Beberapa saat kemudian, kilatan-kilatan kecil keperakan menyeruak dari tubuh Qianmei. Laiknya seorang dewi Petir seperti Bai Niu. Qianmei terlihat sangat elegan dan memesona dengan tubuh yang teraliri kilatan petir. Keduanya menjadi begitu siap menghadapi upaya para kultivator aliansi Es Utara dengan formasi khasnya.


Benar saja, suhu udara berubah menjadi sangat dingin. Butiran-butiran es mulai terbentuk di udara lalu berjatuhan menjadi hujan es yang membekukan kota Luyan di bawahnya.


Kedua gadis masih tampak tenang seraya fokus mewaspadai serangan dari kubu aliansi Es Utara. Hingga beberapa waktu berlalu, tidak ada serangan fisik yang terjadi, hanya perubahan pola formasi yang terlihat dilakukan oleh kultivator aliansi Es Utara.


Jingga yang mengamatinya mulai merasa jenuh. Dengan mulutnya yang penuh dengan kue kacang dan sebotol arak yang tergenggam erat di tangannya. Ia merasa tontonannya sangat membosankan.


“Kenapa mereka hanya berputar-putar merubah formasi? Kasihan kedua adikku yang hanya bisa menunggunya,” gumam pikir Jingga mulai kesal sendiri.


“Jianhuimie Yuzhou,”

__ADS_1


Jingga mengeluarkan pedangnya lalu dengan kekuatan jiwanya, ia melesakkan pedangnya menyerang kultivator aliansi Es Utara yang masih disibukkan dengan pola formasi.


__ADS_2