
“Zin Lou, aku menyetujui permintaanmu. Namun, kau harus ingat satu hal. Sekali saja kau menyakiti adikku, aku akan membuatmu tersiksa tanpa adanya kematian,” kata Jingga dengan serius.
“Maka ikatlah jiwaku, Yang Mulia bisa langsung menghukumku jika aku menyakiti Xin’er.” Kembali Zin Lou mengatakannya dengan penuh keberanian.
Jingga tidak lagi ragu untuk menyerahkan Xinxin kepada pemuda yang mencintainya. Ia lalu menatap Xinxin dengan penuh perhatian mengisyaratkan kepada sang adik untuk tidak ragu menerima sang iblis muda.
“Baik, Kak. Aku menerimanya,” kata Xinxin yang semakin erat memeluk Jingga.
Para iblis dan beast monster bersorak untuk yang ketiga kalinya. Jingga lalu menikahkan ketiga pasangan iblis dan pesta meriah kembali digelar.
Setelah pesta pernikahan berakhir, Jingga kembali mengumpulkan semua pengikutnya. Di atas podium batu di alam jiwa. Ia berdiri dengan tatapan dingin menyapu semua iblis dan beast monster yang berdiri rapi di hadapannya.
“Sungguh menyenangkan di setiap kerumitan masalah yang kita hadapi diselingi dengan kegembiraan. Biarpun begitu, kita harus kembali fokus pada masalah yang akan kita hadapi bersama,” ujar Jingga mengawali pidatonya.
Ia kembali mengedarkan pandangannya menatap satu per satu pengikutnya yang begitu antusias mendengarkannya dengan penuh khidmat. Ia lalu melanjutkan pidatonya dengan sangat gamblang dan penuh wibawa.
Dalam pidatonya tersebut, ia memerintahkan kepada semua iblis yang menjadi pengikutnya untuk kembali ke alam iblis dan membagi banyak peran kepada para pengikutnya antara lain, Ratu Xin Li Wei didampingi suaminya To Tao kembali memimpin bangsa iblis di dalam istana. Nyonya Nuren, Feichang, dan Kuan Etou kembali melanjutkan trah klan Linghun Lieshou sebagai klan pemburu di alam iblis. Sementara itu, tetua divisi Elementalist Yuansu diserahkan kepada salah satu murid terbaik yang dipilih langsung oleh Kuan Etou sebagai penerus kepemimpinannya.
Lalu, Xinxin bersama suaminya Zin Lou beserta nona Chyou diberikan perintah untuk mendirikan sekte pengintai yang akan berpusat di kota Zhandao Shibing. Beberapa iblis lainnya pun mendapatkan peran yang strategis di bawah pengaturan Jingga. Tidak ada satu pun penolakan ataupun keberatan yang dilayangkan para iblis. Mereka semua menerima keputusan yang diberikan oleh pemimpin tertinggi di alam iblis tersebut.
Setelahnya, para iblis langsung bergegas meninggalkan alam jiwa untuk kembali ke alam iblis. Namun, Jingga tidak berhenti sampai di situ. Ia bersama adik dan para beast monster langsung mendiskusikan rencana keberangkatan ke alam dewa.
“Jingga, sepertinya kita tidak bisa serentak pergi bersama ke alam dewa, aku yakin pihak istana Langit sudah mengantisipasi kedatangan kita. Bagaimana kalau kita pergi bertahap untuk memantau situasinya?” kata Ratu Kalandiva memberikan ide.
“Ya, aku sangat setuju denganmu, Nyonya. Namun, di mana pun kita berada nanti, pastikan kita terus terhubung. Lalu, bagaimana dengan para kultivator alam dewa? Apakah mereka akan memburu kita juga?” kata Jingga disertai pertanyaan.
“Aku hanya mengetahui satu klan yang netral di alam dewa. Akan tetapi, untuk klan dan sekte lainnya, aku tidak mengetahui arah keberpihakan mereka semua.”
__ADS_1
“Klan mana yang kaumaksud?”
“Klan Kim, klan tertua di alam dewa. Mereka tidak pernah ikut campur masalah istana Langit. Biarpun begitu, akan sangat sulit menemukan keberadaan mereka. Untuk amannya, kita harus berbaur dan masuk ke dalam salah satu sekte yang bisa menyamarkan keberadaan kita.”
“Baiklah, aku memahaminya. Apa kau memiliki rekomendasi klan atau sekte mana yang bisa aku datangi?”
“Ha-ha. Kau mungkin akan terkejut mendengarnya. Di alam dewa ada sekte bernama sama seperti sekte di alam fana. Yaitu sekte Teratai Langit, salah satu sekte yang disegani namun tidak pernah mendapatkan prestasi apa pun di dunia kultivator alam dewa. Lokasinya berada di kota Zunjing benua Selatan.”
“Hem, cukup menarik. Aku akan ke sana. Lalu, Nyonya sendiri akan ke mana?”
“Aku sebenarnya ingin kembali ke Pegunungan Guaiwu yang menjadi pusat keberadaan beast monster alam dewa. Namun, kau sendiri tahu, aku menjadi buruan istana Langit. Apa kau memiliki ide untukku?”
“Ha-ha. Persembunyian terbaik adalah bersembunyi di tempat yang memburumu.”
“Ide yang sangat cemerlang. Aku akan ke kota terdekat dari istana Langit.”
“Baiklah, kita sepakati bersama.”
“Jingga, izinkan aku bersama para pengikutku untuk memasukinya dahulu. Kamu dan adik-adikmu bisa menyusul setelah lima helaan napas,” ujar Ratu Kalandiva memintanya.
“Baiklah, Nyonya. Silakan!” balas Jingga menyetujuinya.
Ratu Kalandiva dan puluhan beast monster yang didominasi oleh bangsa naga dan phoenix memasuki lubang portal secara bergantian. Setelah lima helaan napas, Jingga bersama adik-adiknya langsung memasuki portal dimensi.
Berbeda dengan biasanya, portal dimensi yang dimasuki Jingga beserta adiknya tidak begitu cepat menghisap. Hal itu berbanding lurus dengan lamanya waktu yang ditempuh sampai keluar dari lubang portal.
Cukup lama Jingga dan adiknya berada di dalam portal dimensi yang entah kapan menemui ujungnya, Bai Niu mulai merasa jenuh dan menampilkan gestur tidak nyaman.
“Bersabarlah, Naninu. Kita sedang memasuki dimensi lintas alam, cukup wajar kalau membutuhkan waktu yang sangat lama,” ujar Jingga menenangkan sang adik.
__ADS_1
“Kak, apa Kakak tidak curiga dengan Nyonya Kalandiva?” tanya Bai Niu.
“Aku seorang iblis, aku lebih bisa mengetahui maksud terselubung dari siapa pun. Kamu tenang saja, nyonya Kalandiva memang memiliki maksud lain. Namun, itu bukanlah masalah untuk kita,” jawab Jingga menjelaskan.
“Kak Niu’er harus tenang. Kak Jingga dan aku sudah dari lama mengetahuinya,” sambung Qianmei ikut menenangkan Bai Niu.
“Tapi firasatku mengatakan ada yang salah dengan portal dimensi yang kita masuki ini, apa kalian berdua tidak merasakannya?” ucap Bai Niu meneruskannya.
Jingga dan Qianmei mengerutkan kening. Keduanya sama sekali tidak menaruh curiga pada portal dimensi yang membawanya.
“Biar aku pindai ke mana dimensi ini membawa kita,” kata Jingga lalu menggunakan kemampuan penglihatannya.
“Ha-ha. Benar katamu, Naninu. Sepertinya kita diarahkan ke tempat terasing dari alam dewa,” imbuh Jingga setelah memindainya.
“Kak, apa masih lama kita berada di sini?” tanya Bai Niu.
“Sudah dekat, bersiaplah untuk berenang ke permukaan air!” jawab Jingga.
“Hah!” timpal kedua adiknya serentak.
Tak lama setelah perbincangan ketiganya, ujung portal mulai terlihat semakin membesar. Jingga menggenggam kedua tangan adiknya.
Bluk, bluk!
Jingga dan kedua adiknya keluar dari lubang portal dan berada di dasar air. Ketiganya lalu berenang naik ke permukaan. Sesampainya di atas permukaan air, Jingga dan kedua adiknya lalu menepi di atas tanah berwarna biru.
“Bagaimana bisa ujung portal dimensi berada di dasar danau?” gumam heran Bai Niu setelah memperhatikan air yang cukup luas di tengah hutan di sekitarnya.
“Entahlah, tapi kita harus bersiap mendapatkan sambutan dari makhluk setengah manusia,” kata Jingga yang melihat keberadaan makhluk-makhluk aneh yang berlarian ke arahnya.
__ADS_1
SIU! WUZZ!
Ratusan tombak beterbangan menyerang Jingga dan kedua adiknya. Namun, ketiganya tidak beranjak dari posisi sambil menangkis ratusan tombak dengan sangat cekatan. Tak lama kemudian, lebih dari seratus makhluk bertubuh manusia dan berkepala hewan mengepung ketiganya.