Takdir Pedang Sang Iblis

Takdir Pedang Sang Iblis
Terjebak Lorong Gua


__ADS_3

Jingga yang terus mengikuti Naray mulai merasa heran dengan kondisi lingkungan di sekitarnya. Tidak ada sesuatu yang begitu menyeramkan seperti yang dibayangkannya.


"Neng, apa masih lama?" Tanya Jingga yang mulai bosan.


"Tidak A, kalau kita terus jalan tanpa istirahat. Paling tiga hari sudah sampai di lembah. Kenapa memangnya A?" Jawab Naray balik bertanya.


"Tidak apa-apa, hanya ingin tahu saja" jawab Jingga sekenanya.


"Bilang saja kalau Aa lapar, kita cari kelinci atau apa saja yang bisa ditemukan untuk mengisi perut" kata Naray menebaknya.


"Neng, sok tahu. Tapi bolehlah, kita cari tempat yang nyaman buat beristirahat"


"Di mana pun akan terasa nyaman kalau bersama Aa"


"Hus! Neng masih kecil, tidak boleh berkata seperti itu"


"Aa kenapa? Wajar dong seorang gadis merasa terlindungi oleh seorang pria"


"Iya deh, terserah Neng saja. Tunggu di sini, aku mau cari hewan dulu"


Jingga berkelebat ke area lain di bawah kaki gunung, langkahnya terhenti ketika memasuki kawasan rawa yang dipenuhi tumbuhan eceng gondok.


"Tempat yang sempurna untuk menemukan ular" gumamnya.


Jingga membuat riak air untuk memancing kemunculan ular besar, lama ia menantikannya, ular-ular masih belum menampakkan diri. Ia berjalan ke tengah rawa.


Bluk!


Jingga terjerembab ke dalam lumpur, namun ia masih terus saja melangkah ke tengah rawa.


Semakin dalam lumpur menenggelamkannya, semakin berat kakinya melangkah. Sekarang hanya bagian kepalanya saja yang nampak di permukaan. Dengan begitu pelan, Jingga melangkahkan kakinya.


Tiba-tiba saja sesuatu yang licin bergerak mengenai kakinya.


Jingga menarik pedangnya dengan pelan, ia mengangkat kedua tangannya ke atas dengan menggenggam gagang pedang.


Tidak lagi dirasakan olehnya sesuatu yang bergerak di bawahnya, Jingga kembali melangkah dengan begitu sulit karena dipenuhi lumpur.


Sekarang sesuatu yang bergerak mencoba menggigitnya dari pinggang ke bawah. Jingga merabanya, ia begitu terkejut telapak tangannya menyentuh tonjolan tajam seperti duri yang besar.


"Apa ini? Apakah di sini ada naga?" Tanya pikirnya.


Jingga kembali menggenggam gagang pedang dengan kedua tangannya.


Trang!


Ujung pedang dihunuskannya ke bawah, riak air semakin bergelembong kencang. Jingga menarik kembali pedangnya dan kembali menghunuskannya dengan sekuat tenaga.


Sleb! Krak!


Pedang menacap kuat, Jingga kembali menariknya namun ia kesulitan tidak bisa melepaskan pedang. Beruntung, ia merasakan gigitan ular mengendur. Apesnya, pedang terlepas dari genggaman tangannya.

__ADS_1


Wuzz!


Seekor ular hitam bertubuh besar dan memiliki duri tajam di atas kepala keluar dari dalam lumpur dengan menggeliat, tampak pedang masih tertancap di atas kepalanya.



Ilustrasi Ular. sumber: Stuff&Thangs


Ular hitam itu terlihat begitu marah, ia menganga bersiap untuk menelan Jingga hidup-hidup.


"O ow! Besar sekali dirimu cacing jelek!" Kaget Jingga melihatnya.


Jingga terjebak di dalam lumpur, ia tidak bisa berlari menjauhinya. Dalam posisinya yang terkunci, Jingga menunggu rahang ular menariknya dari dalam lumpur.


"Ayo, Cacing. Gigit aku" ucap Jingga memintanya.


Hap!


Rahang ular melahapnya dan menariknya keluar dari lumpur. Jingga ditelan ke dalam tubuh ular.


Cairan lengket dari dalam tubuh ular menyelimutinya, tak lama kemudian ular hitam memuntahkan Jingga keluar dari tubuhnya.


Byur!


Jingga terlempar ke tengah rawa, ular hitam langsung melilitnya untuk membunuh Jingga sebelum melahapnya kembali.


Lilitan ular semakin kuat mencengkeram tubuh Jingga, dalam keadaan terlilit. Jingga menyeringai dingin merasa dipijiti tubuhnya.


"Hei cacing jelek, apa tidak bisa lebih kuat lagi melilitnya?" Ledek Jingga.


Seperti memahami apa yang dikatakan oleh Jingga, sang ular semakin menguatkan lilitannya berkali-kali lipat.


"Kemarilah cacing!" Ucap Jingga meminta.


Ular hitam mendekatkan kepalanya dengan sorot mata yang begitu tajam.


Dugh!


Jingga membenturkan kepalanya mengenai mulut ular, sontak saja sang ular menjadi semakin marah, ia mendesis keras terkena hantaman kepala Jingga.


Ular hitam langsung melepaskan lilitannya, ia lalu menelan kembali tubuh Jingga.


Buk!


Jingga terhisap ke dalam perut ular yang dipenuhi cairan berwarna hijau kehitaman. Tampak di dalamnya banyak tulang belulang dari berbagai hewan besar yang sudah hancur.


"Ternyata begini isi dalam perut ular" gumamnya.


Jingga memperhatikan dinding selaput yang menutupinya, ia lalu merobek paksa selaput ular.


Sreet!

__ADS_1


Selaput ular tersobek, namun Jingga harus terpontang panting di dalamnya karena ular hitam menggeliat kesakitan.


Jingga menopang dirinya pada sobekan, ia semakin melebarkannya. Cairan yang berada di perut ular merembes ke bagian lainnya. Ia kemudian melayangkan bogem mentah ke bagian lapisan dinding terluar.


Bugh! Bugh!


Lubang terbuka menganga dari bawah perut ular, tak lama kemudian, ular hitam tidak lagi bergerak. Jingga langsung merobek bagian luar kulit ular dan akhirnya ia bisa melihat area luar.


Dengan susah payah, Jingga merangkak keluar dari perut ular.


"Ini ular atau naga, besar sekali tubuhnya" ucap Jingga langsung berdiri di samping perut ular.


Jingga mengerutkan keningnya melihat telur ular tidak jauh darinya.


"Ternyata kau seorang Ibu, maafkan aku"


"Tapi aku minta dua telurmu ya buat dimasak" imbuhnya meminta izin.


Jingga mengambil dua butir telur sebesar kepala manusia dewasa lalu meletakkannya di kain bajunya.


Jingga sekarang berada di dalam gua yang lembap dan gelap. Ia lalu berjalan mengikuti alur lorong mencari jalan keluar.


"Kalau ular betina ini bertelur, berarti ada ular jantan yang membuahinya. Aku harus waspada" gumamnya sambil terus melangkah.


Cukup jauh Jingga berjalan menelusuri lorong, karena ia tidak tahu arah. Jingga mengikuti instingnya mengambil arah sesuai dengan langkah kakinya pergi.


Sampai pada pintu gua, Jingga kembali terkejut melihat dirinya yang begitu jauh dari lokasi terakhir di mana Naray berada. Ia melihat keberadaan para pendekar tak jauh darinya.


"Aku sudah sampai di lembah Anggrek Darah" ucapnya.


Lorong gua yang dilaluinya merupakan jalan pintas menuju lembah Anggrek Darah. Jingga terlihat begitu dilema, kembali ke dalam lorong beresiko bertemu dengan ular besar, melalui jalan hutan rendah harus menempuh waktu yang jauh lebih lama.


"Merepotkan!" Keluh Jingga.


Ia lalu kembali memasuki lorong yang gelap dengan menanggung konsekuensi yang akan ditemuinya di dalam lorong.


"Sialan! Aku lupa mencabut pedang dari kepala ular betina" keluhnya kembali. Ia baru mengingatnya.


Jauh langkah kakinya berjalan, Jingga merasa heran dengan jarak yang semakin jauh dari yang sebelumnya ia lalui.


"Aneh, harusnya aku sudah sampai di tempat ular betina bertelur" gumamnya heran.


Semakin heran karena Jingga tidak merasa ada cabang lorong yang dilaluinya, namun karena terlanjur. Jingga mengabaikan pikirannya. Ia terus melangkah menelusuri lorong.


Sampai juga ia berada di ujung lorong, Jingga malah semakin kesal melihatnya. Bukan kembali ke tempat ular betina, ia malah keluar area lain lorong gua. Sekarang Jingga bisa melihat keberadaan dusun Sukamati yang telah hancur menyisakan puing-puing rumah yang terbakar.


"Aaah!" Pekik teriakan Jingga di pintu gua.


Ia begitu geram merasa dipermainkan oleh lorong gua yang seperti labirin.


"Kucing kurap, buaya buntung, kadal buduk, iblis jelek, Nenek Sashuang. Eh maaf, itu istriku" lontaran umpatan diucapkannya dengan berteriak.

__ADS_1


__ADS_2