
Jingga kembali memasuki kamar adiknya sambil tersenyum bahagia. Qianfan mengerutkan kening memperhatikannya.
"Kak, ada hubungan apa dengan Naninu masa kini?" Tanya Qianfan.
"Ha ha, kau mau tahu saja. Aku tidak punya hubungan khusus dengannya, karena dia terlalu tua untuk menjadi kekasihku" kekeh Jingga menjawabnya.
Ia lalu duduk bersandar di kursi dengan menjulurkan kedua kakinya di atas meja.
"Hem! Aku tahu Kakak berbohong, awas saja kalau Kakak merayu cicitku nanti" balas Qianfan mengetahuinya.
"Benarkah? Di mana Cicitmu sekarang?" Tanya Jingga begitu antusias mendengarnya.
"Tuh kan! Aku menyesal mengatakannya, jangan sampai cicitku menjadi pesaing Nenek buyutnya" balas Qianfan merujuk pada adiknya Qianmei.
Keduanya lalu tertawa bersama. Jingga tiba-tiba saja menghentikan tawanya, ia menatap serius adiknya yang masih tertawa.
"Apakah Cicitmu secantik Mei'er?" Tanya Jingga.
Kedua pupil Qianfan langsung melebar membalas tatapan Jingga yang begitu serius.
"Sama cantiknya, tapi aku jadi khawatir pada nasib Cicit-cicitku" jawab Qianfan.
"Aku akan menghantui Kakak kalau berani menyakiti salah satu Cicitku" ancam Qianfan.
"Hem! Kau punya berapa Cicit?" Sambung tanya Jingga.
"Lumayan banyak, ada tiga puluh Cicit. 22 jagoan dan sisanya gadis" jawab Qianfan dengan bangganya.
Sekarang Jingga yang terbelalak mendengarnya, matanya yang besar menjadi semakin besar.
"Awas jatuh matamu, Kak!" Ejek Qianfan.
***
Tiada hari tanpa perbincangan di antara keduanya, sampai tidak terasa sudah sepuluh hari Jingga menemani adiknya.
Selama itu juga tidak ada kebosanan yang menghinggapinya, itu karena Qianfan banyak menceritakan tentang usahanya mendirikan sekte yang dinamainya dengan menyematkan nama kakaknya, Jingga hingga tumbuh besar dan sangat disegani oleh para pendekar di dunia persilatan.
Namun dalam sepuluh hari itu juga, kondisi fisik Qianfan semakin buruk. Ia menolak mengkonsumsi obat, keinginannya untuk menyusul mendiang istrinya begitu kuat.
***
Menjelang sore hari di hari kesebelas Jingga menemani adiknya, terdengar sayup-sayup suara keributan di luar kediaman sepuh sekte.
"Baru kali ini aku mendengar suara keramaian di luar, aku akan melihatnya" ucap Jingga lalu berdiri dari kursinya.
Qianfan yang kondisinya semakin melemah hanya bisa mengedipkan matanya mengizinkan Jingga keluar dari kamarnya.
Di luar pintu kediaman sepuh, terlihat tetua Qianli sedang berdebat dengan beberapa pendekar dari sekte lain yang tak kalah tinggi intonasi suaranya.
"Apa yang mereka ributkan?" Tanya pikir Jingga lalu menghampirinya.
Sesampainya di ambang pintu, Jingga terkejut melihat ribuan pendekar dari berbagai sekte sudah memenuhi hutan bambu merah.
__ADS_1
Beberapa pendekar langsung mengarahkan pandangannya pada sosok Jingga yang berdiri di ambang pintu.
"Apakah mereka para pendekar yang sama dengan yang aku lihat beberapa hari yang lalu?" Gumam pikir Jingga terus memperhatikan semua orang di depannya.
Keributan yang semakin keras membuat Jingga begitu geram karena bisa mengganggu ketenangan adiknya.
Jingga melangkah mendekati tetua Qianli, ia menatap tajam para pendekar yang terus memprovokasi tetua Qianli.
"Aku tidak peduli apa yang kalian semua ributkan, namun aku meminta kalian semua untuk pergi meninggalkan hutan bambu merah ini. Pergilah para bedebah!" Ujar Jingga dengan lantang.
Sontak saja semua orang terdiam, mereka tidak menyangka pada pemuda yang berani bersuara lantang mengusirnya.
"Ha ha ha, siapa kau berani mengusir ka-" ucapnya terputus.
Bugh!
Pendekar paruh baya tersungkur jatuh dan mati seketika.
Tanpa diketahui oleh semua orang, Jingga mengambil jantung pendekar paruh baya yang tidak bisa menyelesaikan ucapannya.
Semua mata tertuju pada tangan kanan Jingga yang menggenggam seonggak jantung yang berasal dari pendekar paruh baya yang tersungkur ke tanah.
Sontak saja semua pendekar merinding ngeri melihatnya, bahkan mereka tidak bisa melihat kapan pemuda yang menatap dingin para pendekar itu melakukannya.
Di depan semua orang, Jingga langsung memasukkan jantung ke dalam mulutnya lalu menelannya dengan sekali tenggak.
"Jantung yang enak" ucap Jingga sambil mengusapi mulutnya yang kotor terkena darah.
"Apa kalian semua akan tetap berdiri sampai jantung kalian semua aku makan atau pergi meninggalkan hutan bambu merah?" Imbuh Jingga memberikannya pilihan.
"Kau hanya seorang diri, sehebat apa pun dirimu tidak akan mampu menghadapi ribuan pendekar yang kami bawa" ujar seorang pendekar tua begitu percaya diri bisa mengalahkan Jingga.
Jingga menyeringai dingin lalu melangkah menghampiri pendekar tua. Beberapa pendekar langsung mundur menjauhinya hingga sekarang hanya menyisakan pendekar tua yang masih tidak beranjak dari tempatnya.
"Sepuluh kawan yang kompak lebih berguna dari sejuta kawan yang egois. Lihatlah semua kawan-kawanmu yang memilih menjauhimu" ujar Jingga.
Pendekar tua langsung menoleh ke belakang, ia begitu geram melihat semua kawannya menjauhi dirinya.
Krak!
Belum sempat pendekar tua itu membalikkan kepalanya. Jingga mencengkram leher pendekar tua hingga hancur tulangnya, ia lalu memasukkan tangannya mengambil jantung pendekar tua lalu menariknya keluar dan langsung memakannya.
Beberapa pendekar yang melihatnya langsung memuntahkan isi perut karena merasa jijik dan ngilu.
"Aku beri waktu tiga hitungan jariku, kalau kalian masih tidak pergi, aku akan memakan semua jantung kalian"
"Tiga"
"Dua"
Belum selesai Jingga menghitungnya, semua pendekar akhirnya kabur berlarian dengan tunggang-langgang.
Beberapa saat kemudian, suasana hutan bambu merah menjadi hening. Namun mata para tetua sekte begitu terbelalak melihat ratusan tubuh murid sekte Bayangan Jingga tergeletak tak bernyawa.
__ADS_1
Jingga yang melihatnya ikut merasa murka seperti para tetua sekte, ia memutuskan untuk membersihkan diri dan kembali ke kamar adiknya.
"Ka- Kakak. A- apa yang" ucap Qianfan terbata.
Jingga menempelkan ujung jarinya di bibir Qianfan menahan adiknya untuk tidak banyak berkata.
"Fokuslah pada dirimu sampai semua Cicitmu kembali pulang. Kau harus terus bertahan" kata Jingga lalu mengambil semangkuk bubur dan menyuapinya.
Tok, tok, tok!
"Masuk saja, Paman" kata Jingga.
Tetua Qianli masuk bersama keempat adiknya dengan langkah yang begitu pelan agar tidak mengganggu kakeknya Qianfan.
"Saudara Jingga, bolehkah kami meminta bantuanmu untuk membalaskan kematian seratus lebih murid sekte" pinta tetua Qianli begitu pelan.
Qianfan yang masih bisa mendengar jelas begitu tersentak, butiran air mata langsung membasahi wajahnya.
Jingga yang memahami perasaan adiknya langsung meletakkan mangkuk di atas meja dan mengajak tetua Qianli meninggalkan kamar. Jingga terus melangkah sampai ke ruang aula sekte dan menduduki salah satu kursi.
"Aku kecewa pada kalian semua, seharusnya kalian memintaku keluar kamar baru mengatakan maksudnya" ucap Jingga.
"Maafkan aku, aku salah" balas tetua Qianli.
"Baik, aku memaafkan kalian. Untuk permintaanmu yang tadi itu aku tidak bisa mengabulkannya dan aku tidak akan meninggalkan adikku sendiri" timpal Jingga lalu berlalu pergi meninggalkan para tetua sekte.
Di dalam kamar adiknya, Jingga mengambil mangkuk bubur lalu menyuapi kembali Qianfan.
Tuk, tuk, tuk!
Terlihat oleh Jingga telunjuk tangan kiri Qianfan terus mengetuk kayu.
"Apa maksudmu, Fan'er?" Tanya Jingga tidak memahaminya.
"Ji- jian, Jiantian" jawab Qianfan dengan begitu susah payah menyebutkannya.
"Jiantian? Berarti pedang Langit" gumam Jingga setelah memikirkan ucapan adiknya.
Ia langsung meraba kayu di bawah pembaringan adiknya dan kemudian menggesernya.
Trak!
Terlihat olehnya sebuah pedang sepanjang dua meter yang terbungkus kain putih bercorak. Jingga melirik adiknya meminta izin. Qianfan mengedipkan kedua matanya mengizinkan Jingga mengambilnya.
Setelah mendapatkan izin dari adiknya, Jingga lalu mengangkat pedang yang beratnya melebihi dua ekor gajah. Beruntung Jingga bertubuh iblis, ia tidak mengalami masalah pada beban pedang yang diambilnya dari dipan pembaringan sang adik.
Sring!
Jingga menariknya dengan cepat, terlihat keindahan bilah pedang yang memiliki energi spiritual di dalamnya.
"Pedang yang sangat indah" pujinya sambil terus memperhatikan setiap bagian dari pedang.
"Sayangnya aku tidak bisa membuka cincin spasial milikku untuk memasukkannya" imbuhnya lalu memasukkan kembali pedang ke dalam sarungnya.
__ADS_1
Qianfan menarik kain pakaian Jingga di depannya, ia memintanya untuk duduk di dekatnya, lalu ia menggerakkan jemarinya membentuk huruf yang dieja oleh Jingga.