Takdir Pedang Sang Iblis

Takdir Pedang Sang Iblis
Genderang Perang


__ADS_3


Dewa Matahari terlihat kecewa mendengar jawaban dari mantan istrinya. 


“Baiklah, jika itu jawabanmu, akan aku hancurkan seluruh alam dewa ini,” kata Dewa Matahari kembali mengalirkan energinya.


Kaisar Langit dan beberapa cultivator merasakan kepanikan yang luar biasa. Mereka tahu jika itu terjadi, akan menimbulkan banyak kerusakan dan kepunahan di alam dewa. Tidak ada cara lain untuk membujuk sang dewa selain kepada mantan istrinya. Mereka pun melayang turun dan berlutut di depan Xian Hou.


“Nona, aku mohon hentikan Taiyangshen!” pinta Kaisar memohon. 


“Nona, kami mohon!” sambung semua orang ikut memintanya.


Gamang hati Xian Hou mendengarnya. Ia sendiri mengetahui apa yang akan terjadi di alam dewa jika Taiyangshen melemparkan bola api. Bukan hanya semua makhluk yang berada di lokasi yang akan mati, bahkan ledakannya akan menyebar cepat ke hampir seluruh daratan alam dewa.


“Ba-baiklah, aku akan mencobanya,” kata Xian Hou menerima permintaan sang kaisar.


"Hentikan aksimu itu atau aku mati saja," ujar Xian Hou mulai memberi ancaman.


"Itu lebih baik. Setidaknya aku tidak melihat dirimu bersama pemuda iblis itu," balas Taiyangshen.


Xian Hou begitu kesal mendengarnya. Namun, ia tidak menyerah begitu saja. Pandangannya beralih ke arah Jingga. Ditatapnya sang suami dengan begitu dalam dan penuh perasaan. Setelahnya, ia kembali mendongakkan wajah ke arah Taiyangshen.


"Katakan kepadaku, apa yang kauinginkan agar kau mau menghentikannya?"


"Kembalilah menjadi istriku! Meskipun bekas iblis, aku masih mau menerima dirimu,"


“Dewa tak tahu malu! Dia yang minta, dia pula yang menghina,” rutuk Bai Niu tidak menerima kakaknya direndahkan.


Xian Hou menjadi dilema. Ia menatap Jingga dengan lekat. Namun, jingga seolah tidak lagi memedulikannya.


“Kak Jingga.” Bai Niu menatapnya sayu.


Jingga meliriknya dengan wajah datar tanpa ekspresi. Bai Niu pun terdiam tidak ingin mencampurinya. Sedangkan Qianmei yang berada di sisi kanan Jingga tidak bereaksi apa pun soal cinta segitiga kakaknya. Bahkan, dalam hatinya, ia ingin Xian Hou memilih untuk kembali menjadi istri Dewa Matahari. 


Setelah cukup lama memikirkannya, Xian Hou kembali mendongakkan wajah menatap Taiyangshen di atasnya.


“Baiklah, aku kembali padamu ... sekarang, tolong hentikan aksimu dan mari kita tinggalkan tempat ini!” ucap Xian Hou mengambil keputusan.


Taiyangshen tersenyum bahagia, lalu menarik kembali energinya. Matahari Tandingan mulai menyusut dengan sendirinya. Hal itu disyukuri oleh semua orang kecuali Jingga yang tidak memedulikannya. Ia memang sudah mengetahui hubungan keduanya sejak lama ketika bertemu dengan istri pertama Taiyangshen, yaitu Mei Moshu. Namun, ia tidak menduga istrinya akan memilih kembali menjadi istri Dewa Matahari daripada terus bersama dengannya.


Ekspresi Jingga mencerminkan kekecewaan yang tak terukir. Senyuman yang dulu menghiasi bibirnya, kini menghilang digantikan oleh ekspresi pahit dan penuh duka. Dalam tatapannya yang kosong, terpancar kehilangan dan keputusasaan yang menyayat hati.


Dalam kekecewaannya itu, Jingga merasa terkhianati dan terlupakan. Ia merenungkan masa-masa indah yang mereka habiskan bersama.


“Kak Hou’er,” ucap Bai Niu dengan mimik wajah kecewa mendengar keputusan yang diambil kakak iparnya.


“Maafkan aku, Niu’er,” balas Xian Hou lalu melayang terbang menghampiri Taiyangshen.

__ADS_1


Matahari Tandingan telah mengecil kemudian menghilang. Biarpun begitu, suhu udara masih saja panas. 


“Taiyangshen!” panggil Jingga.


Taiyangshen tidak meliriknya. Ia lebih memilih untuk memeluk dan mencium Xian Hou di depan semua orang. Jingga yang melihatnya mulai tersulut emosi.


“Ada pesan dari mantan istrimu, Mei Moshu,” ucap Jingga.


Taiyangshen melepaskan pagutan dari bibir merah Xian Hou lalu menatap Jingga dengan seringainya yang sinis.


“Katakanlah!” balas Taiyangshen.


“Istrimu memintaku untuk memberikan kematian yang indah padamu!” kata Jingga menyampaikan pesan.


“Ha-ha-ha, baiklah, aku akan memberikan kematian yang indah kepadamu,” timpal sang dewa matahari.


“Bodoh! apa kau tidak memahami perkataanku?”


“Kau yang bodoh! Apa mungkin kau bisa melakukannya?” 


Jingga menyeringai dingin lalu mengalihkan pandangan ke arah Xian Hou.


“Hou’er, terima kasih atas semua yang kauberikan untukku. Mulai hari ini, kau bukan lagi istriku, dan aku akan memutuskan ikatan hati denganmu. Beristirahatlah dengan tenang!” kata Jingga lalu mengedipkan mata iblis.


Duar!


“Aku tidak menduga kau berani melakukannya. Akan tetapi, aku kecewa karena kau masih juga tidak mengenalku dengan baik. Aku seorang peri suci yang tidak akan terpengaruh oleh kemampuan iblis sepertimu,” ucap Xian Hou merasa kesal sekaligus kecewa.


Jingga sedikit terkejut melihat Xian Hou tidak terpengaruh oleh kedipan iblis darinya. Meskipun begitu, ia tidak begitu merisaukannya. 


“Kau benar, aku masih belum mengenalmu dengan baik. Namun kau seorang peri suci yang kotor, kau membuat seorang wanita rela menggadaikan jiwanya menjadi seorang iblis karena kelakuanmu … kaulah iblis sesungguhnya!”


“Cukup, Jingga!” geram Xian Hou.


“Sayang, bunuh iblis itu!” imbuh Xian Hou meminta kepada Taiyangshen.


“Dengan senang hati, aku akan membuatnya menderita karena berani berbicara tak pantas kepadamu,” sahut Taiyangshen.


Suasana menjadi tegang, baik Taiyangshen maupun Jingga, sama-sama bertekad untuk saling membunuh. Begitupun dengan semua orang di sekelilingnya. Mereka tidak sabar menunggu perintah untuk menyerang. Taiyangshen melirik Kaisar lalu mengisyaratkan untuk naik menghadapnya. sang kaisar pun melayang menghampiri bersama para pejabatnya.


Di sisi lain, Jingga memanggil Jirex untuk mendekatinya. 


“Di pertempuran kali ini, jangan menyisakan satu pun musuh yang hidup,” ujar Jingga.


“Baik, Kak. Kita binasakan semuanya,” sahut Jirex penuh semangat.


“Kak, izinkan aku menghadapi Xian Hou,” pinta Qianmei.

__ADS_1


“Baik, jangan beri ampun mantan kakak iparmu itu!”


Qianmei menyeringai. Tampak kekejaman terpancar dari sorot matanya. Jiwa iblisnya membara. Baginya, bisa membunuh Xian Hou akan membuatnya memiliki kesempatan besar untuk menjadi istri sang penguasa iblis. Namun berbeda dengannya, Bai Niu menjadi pendiam. Dalam hatinya, ia tidak ingin Xian Hou mati. Baginya, Xian Hou tetaplah kakaknya.


“Naninu, apa kau  tidak ingin bertarung?” tanya Jingga.


Bai Niu yang termenung langsung terperanjat. Ia pun menatap Jingga dengan banyak hal yang dipikirkannya.


“A-aku ingin bertarung,” sahutnya.


“Jangan ada kegundahan di hatimu atau kau akan terbunuh dalam pertarungan.”


“Baik, Kak. Aku hanya kecewa pada Kak Hou’er.”


“Sudahlah, dia bukan lagi kakak iparmu.”


Bai Niu mengangguk pelan. Ia terpaksa harus mengubur semua kegundahan hatinya. Mereka pun bersiap dengan sepenuh hati, menunggu detik-detik pertarungan besar di alam Dewa.


Suasana di alam Dewa begitu mencekam, seakan-akan waktu berhenti sejenak. Angin berbisik di antara rerumputan hijau, memprediksi pertempuran yang akan segera pecah. Semuanya tampak terlihat tenang, tetapi energi yang tegang terasa begitu kuat di udara.


Dum, dum, dum!


Genderang perang ditabuh, dilanjutkan dengan bunyi terompet yang mengaum menembus cakrawala. Bunyinya yang menggelegar memenuhi udara, membangunkan semangat dan memperkuat tekad para prajurit dan semua orang yang memenuhi area pertempuran. Suara yang menggema dari dentuman bunyi menyampaikan pesan bahwa perang dimulai.


“Serang!” 


Terdengar teriakan perintah yang menggema di udara. Ribuan pasukan istana langit bergerak serentak diikuti oleh ribuan murid dari berbagai sekte dan klan. Begitu pun dengan ribuan beast monster yang bergerak serentak. Suara langkah kaki mereka yang teratur dan terdengar seperti gemuruh, mengirimkan pesan bahwa mereka siap untuk bertempur dengan segala yang mereka miliki.


Ratusan beast beruang hitam menderam keras, menunggu kedatangan ribuan beast monster dari berbagai ras yang melaju cepat ke arahnya.


Di langit, Dewa matahari bersama Xian Hou melayang cepat menjauhi area pertempuran. Keduanya sengaja membiarkan Jingga untuk menghadapi peperangan sebelum menghadapi keduanya.


“Kak, mereka pergi,” kata Qianmei memberi tahu.


“Biarkan saja. Aku sengaja memberikan waktu untuk keduanya bernostalgia sebelum menemui ajal,” balas Jingga sambil terus memindai kekuatan musuh di sekitarnya.


“Naninu, Memimu!”


“Iya, Kak.”


“Menghadapi para murid dan tetua sekte di wilayah timur dan barat merupakan lawan ideal untuk kalian berdua. Pilihlah! Biar aku yang memusnahkan para pasukan Istana Langit.”


“Aku wilayah timur,” ucap Bai Niu menentukan pilihannya dengan cepat.


“Baiklah, aku di wilayah barat,” timpal Qianmei.


Keduanya langsung berkelebat ke arah berlawanan. Jingga kemudian melirik Jirex yang tak jauh dari tempatnya berdiri.

__ADS_1


"Gadis cantik, selamat menikmati pesta," kata Jingga lalu menghilang.


__ADS_2