
Jingga menurunkan istrinya ketika melihat pangeran Xiao Mai menghampirinya.
"Ha ha ha, selamat saudaraku atas pernikahanmu dengan Nyonya Sashuang. Jenderal Lie Zhou menitipkan sesuatu untukmu" ucap pangeran Xiao Mai langsung memberikan sebuah kotak cukup besar dari cincin spasialnya.
Jingga menerimanya lalu memasukkannya ke dalam cincin spasialnya.
"Terima kasih, Pangeran" balas Jingga lalu membawa sang pangeran ke ruangan lain.
"Jingga, ada yang ingin aku sampaikan kepadamu" ucap pangeran Xiao Mai menggantungkan ucapannya.
Jingga memahami maksudnya, ia langsung menarik istrinya beberapa langkah.
"Istriku, sepertinya ada pembicaraan penting yang akan disampaikan oleh Pangen Xiao Mai. Apakah kau mau mengikuti kami atau kau kembali ke aula utama?" Tanya Jingga memberikan istrinya pilihan.
"Ya sudah, aku akan menemui Mei'er untuk meminta maaf. Kalian silakan lanjutkan" jawab Xian Hou lalu beranjak pergi meninggalkan keduanya.
"Pangeran, tutup matamu" pinta Jingga langsung membawanya ke alam jiwa.
Pangeran Xiao Mai melebarkan matanya melihat sebuah tempat yang begitu menyeramkan.
"Di mana kita berada?" Tanya pangeran Xiao Mai ingin tahu.
"Aku tidak ingin menjawabnya. Aku tahu kau akan membicarakan soal kekacauan yang disebabkan oleh bangsa iblis. Katakanlah informasi apa yang akan kau sampaikan?" Balas Jingga langsung bertanya pada intinya.
"Dua bulan lalu aku menyelinap ke perbukitan tidak jauh dari kampung Cerita Hati, di sana aku melihat ratusan iblis memasuki sebuah dimensi tak kasat mata. Aku merasa di sanalah pusat keberadaan bangsa iblis" ujar pangeran Xiao Mai menceritakannya.
"Hutan Hantu!" Ucap Jingga mengingat masa kecilnya pernah terjebak di dalamnya.
"Kau mengetahuinya?" Tanya pangeran memastikannya.
"Ya, aku bahkan mengetahui setiap inci dalamnya" jawab Jingga lalu menarik kembali pangeran Xiao Mai ke tempat semula.
"Sepertinya aku akan berbulan madu di hutan Hantu bersama istriku. Kau tunggulah kabar dariku dan satu lagi, sampaikan salamku untuk paman Lie Zhou" ucap Jingga lalu melangkah kembali ke aula utama istana.
"Sungguh pemuda yang misterius" gumam pangeran Xiao Mai langsung menyusulnya.
Dhuar! Dhuar!
Terdengar suara pertarungan dari halaman luar istana.
Tampak ribuan kultivator aliran hitam memaksakan diri untuk memasuki istana. Mereka dihadang oleh para pasukan penjaga gerbang dan ratusan kultivator kekaisaran yang bertugas mengamankan acara pernikahan.
Kaisar Fei Huang bersama para tamu undangan langsung keluar melihatnya.
"Biarkan kami masuk atau kekaisaran ini akan kami hancurkan" teriak seorang kultivator yang melayang di udara.
"Apa tujuan kalian memaksa masuk ke istanaku?" Tanya kaisar Fei Huang membalasnya.
"Ha ha ha, kami hanya ingin bersenang-senang menikmati arak yang kalian sediakan" jawab seorang kultivator tua dengan congkak.
Di dalam istana, Jingga begitu berbinar sorot matanya melihat ribuan kultivator yang menurutnya adalah makanan yang sangat lezat.
"Sayang, bolehkah aku makan?" Tanya Jingga meminta izin istrinya.
__ADS_1
"Makanlah sepuasmu, suamiku" jawab Xian Hou mengizinkannya.
Jingga berkelebat menghampiri kaisar Fei Huang yang berdiri bersama para tamu undangan.
"Kaisar, terima kasih kau membawakanku makanan" ucap Jingga langsung menghilang.
Kaisar Fei Huang mengerutkan keningnya tidak memahami maksud perkataan Jingga.
"Jianhuimie Yuzhou"
"Tarian pedang Asura"
"Iblis penghisap jiwa"
Jingga memadukan ketiganya untuk menikmati makan siangnya.
Wuzz!
Dhuar!
Dhuar!
Jingga seperti badai melesat cepat meledakkan setiap tubuh kultivator dengan pedangnya yang berputar menyilang lalu bersamaan auranya menghisap jiwa para kultivator.
Hanya beberapa menit saja, ia langsung berdiri di depan gerbang dengan raut wajah begitu puas.
Sepuluh kultivator yang tidak dibunuhnya terduduk sambil mengompol melihat pemuda yang terus saja memancarkan aura iblis.
Tekanan dari aura iblis membuat kesepuluh kultivator tidak bisa bergerak karena kuatnya tekanan.
Jingga menghampiri seorang kultivator paling muda di antara yang lainnya.
"Siapa namamu?" Tanya Jingga.
"Aku, aku Xiyi Qi. Tuan" jawab kultivator muda begitu gugup.
"Kau boleh pergi" ucap Jingga lalu menyegel jiwanya dan membiarkannya berlari pergi.
Jingga melirik kesembilan kultivator lainnya yang langsung mengajukan diri.
"Aku saja, Tuan. Keluargaku banyak" ucap seorang kultivator paruh baya.
"Kemarilah" pinta Jingga dengan mengurangi tekanan auranya.
Pria paruh baya begitu senang mendengarnya, ia dengan langkah cepat menghampiri Jingga.
"Keluargamu kan banyak, jadi berkurang satu tidaklah masalah" ucap Jingga langsung menghisap jiwanya.
Pria itu langsung mati dengan tubuh kering. Delapan kultivator lainnya langsung begidik merasakan kengerian melihat salah satu rekannya mati dengan begitu mengenaskan.
Tidak ada lagi yang berani berbicara, hingga salah seorang pemuda merasa yakin bisa lepas dari kematian mengacungkan jarinya.
Jingga langsung meliriknya dan menghampiri.
__ADS_1
"Siapa namamu?" Tanya Jingga.
"Aku Xiyi Ba, Tuan" jawabnya begitu lancar.
"Kenapa namamu mirip dengan pemuda tadi? Apa kalian bersaudara?" Tanya Jingga begitu heran.
"Bukan, Tuan. Itu nama pemberian dari sekte kami Xiyi Shuzhuang" jawabnya menjelaskan.
"Oh, begitu. Karena sudah ada yang mewakili sektemu. Jadi aku akan memakanmu" timpal Jingga langsung menghisapnya.
Tujuh kultivator lainnya langsung gemetar tubuhnya merasa putus asa setelah melihat pemuda terakhir mati.
"Kalian semua boleh pergi" ucap Jingga menghentikan tekanan auranya.
"Terima kasih, Tuan" ucap ketujuh kultivator langsung bersujud membenturkan keningnya.
Jingga menyeringai melihat ketujuhnya yang langsung berdiri untuk bersiap pergi.
"Tapi bohong" sambung Jingga langsung menghisap jiwa ketujuhnya.
"Xiyi Shuzhuang, aku baru mendengarnya. Sepertinya sekte yang baru dibentuk" gumam Jingga lalu menghilang.
"Kaisar, kalau ada lagi langsung panggil aku saja. Kau tidak perlu berteriak seperti tadi" bisik Jingga langsung melewatinya.
Kaisar Fei Huang melebarkan matanya, terkejut mendengar suara Jingga yang tiba-tiba membisikinya.
"Makhluk macam apa dirimu, Jingga!" Gumam batin kaisar Fei Huang begitu merinding dengan apa yang dilihatnya di luar gerbang.
Bukan hanya kaisar Fei Huang saja yang begitu ketakutan dengan sosok pemuda yang begitu mengerikan. Hampir semua tamu dibuat terperangah menyaksikan ribuan kultivator meledak dengan sangat mudahnya.
Mengetahui semua tamu terdiam karenanya, Jingga langsung berbalik ke halaman depan istana.
"Semua yang kalian lihat hanyalah ilusi untuk memeriahkan acara. Ribuan kultivator juga tidaklah nyata, sebenarnya hanya sedikit saja kultivator yang berbuat onar di gerbang. Kalian bisa melihatnya sendiri di luar gerbang. Hanya ada sembilan kultivator saja, jadi kalian tidak perlu terperangah melihatku." ujar Jingga merekayasa ucapannya.
Hampir semua orang mempercayai ucapannya, beberapa orang langsung berlari ke arah gerbang untuk memastikan ucapannya.
Hanya keluarga Jingga, dan keluarga ketiga kekaisaran yang tidak mempercayainya.
"Sayang, sudah puas makannya?" Tanya Xian Hou menghampirinya.
"Ya, rasanya gurih. Mungkin karena energi kegelapan yang mereka miliki. Tapi aku lebih ingin memakanmu istriku" jawab Jingga langsung memangku istrinya.
"Turunkan! Lihatlah, semua orang menatap kita" pinta Xian Hou begitu malu dilihat semua orang.
Jingga tidak mempedulikan ucapan istrinya, ia langsung berkelebat membawa istrinya memasuki kamar.
Semua tamu dibuat heran dengan tingkahnya yang terlihat kebelet ingin membelah duren.
Kaisar Junda dan keluarganya berpamitan kepada keluarga Jingga juga kepada Kaisar Fei Huang dan istrinya, dilanjutkan oleh pangeran Zhao Dang dan keluarganya dari kekaisaran Zhao ikut berpamitan.
"Adik Mei'er, mainlah ke istanaku" ucap Pangeran Zhao Dang menawarkannya.
"Terima kasih, Pangeran. Aku menghargainya. Tapi kau harus meminta izin kepada Kak Jingga" balas Qianmei menolaknya secara halus.
__ADS_1
"Oh, maafkan aku telah lancang mengganggumu" timpal pangeran Zhao Dang merasa takut berurusan dengan pemuda yang begitu mengerikan. Ia berlalu pergi bersama keluarganya.