Takdir Pedang Sang Iblis

Takdir Pedang Sang Iblis
Pedang Petir Jianshandian


__ADS_3

Jingga terus berkelebat menuju penginapan, kali ini ia hanya menempuhnya beberapa menit saja.


"Sepertinya Dang Ding Dung akan selesai bermeditasi, sebaiknya aku minum arak dulu" ucapnya yang memperhatikan Du Dung masih menyerap inti jiwa, setelah menyimpan pedang, Jingga langsung keluar menuju restoran penginapan.


Sebelum sempat ia duduk di sebuah kursi, Jingga mengingat seorang gadis yang ditinggalkannya.


"Hem, merepotkan, aku sampai lupa telah meninggalkannya" gumamnya lalu berkelebat kembali ke hutan di atas danau Telaga.


"Kemana ia pergi?" Tanya batinnya, Jingga berputar-putar mencarinya bahkan kembali ke danau Telaga, selesai menelusuri sekitar danau, Jingga kembali menaiki tangga untuk mencarinya ke desa Chu.


Terlihat olehnya keberadaan Bai Niu bersama warga desa Chu.


"Syukurlah, ia masih hidup" gumamnya lalu melangkah menghampirinya.


Salah seorang warga desa yang melihatnya langsung berteriak.


"Lari!" Teriaknya lalu berlari meninggalkan beberapa orang yang sedang duduk bersama Bai Niu.


Sontak semua orang langsung melirik ke arah Jingga dan berlarian pergi meninggalkan seorang gadis yang kebingungan melihatnya.


"Tuan" panggil Bai Niu begitu melihat kedatangan Jingga. Ia langsung berlari memeluknya, Jingga menjadi salah tingkah dipeluk gadis yang baru dikenalnya lalu melepaskan diri dari pelukan Bai Niu.


"Tuan, apakah tuan mau membawaku bersama tuan?" Tanya Bai Niu berharap.


"Hem, aku hanya memastikan dirimu tidak lagi mencoba untuk bunuh diri, sekarang aku tenang, masyarakat desa bisa menerimamu" jawabnya lalu pergi meninggalkan Bai Niu yang masih terdiam.


"Aku harus mengikuti tuan kemana pun tuan pergi" gumamnya bertekad lalu berlari mengejar Jingga.


Jingga sebenarnya tidak tega meninggalkan Bai Niu sendirian, namun ia merasa aneh membawa gadis berusia enam belas tahun ikut bersamanya.


"Kenapa kau mengikutiku?, Kembalilah" tanya Jingga memintanya untuk kembali.


"Ikut tuan atau mati, hanya itu pilihanku" jawabnya memaksa.


"Apa kau tidak takut kepadaku?, Aku bukanlah manusia sepertimu" tanya Jingga mengatakan yang sebenarnya.


Bai Niu tidak merasa takut sama sekali, ia berpikir Jingga hanya menakutinya saja.


"Aku tidak takut kepadamu, aku hanya takut kau meninggalkanku" jawab Bai Niu semakin membuat Jingga tak berkutik menolaknya.


Keduanya lalu pergi ke penginapan dengan berjalan santai.


Di sepanjang perjalanan, Bai Niu terus saja berbicara, apa pun yang ditemuinya, ia akan mengomentarinya.


"Jadi tuan menginap di sini, tahu kah tuan, banyak kultivator hebat yang menginap di sini" ucapnya mengomentari setelah keduanya sampai di penginapan.


"Terus kalau aku menginap di sini kenapa? Masalah?" Tanya Jingga dengan kesal gadis yang mengikutinya banyak bicara.

__ADS_1


Bai Niu hanya tersipu malu dibuatnya sambil mengusap rambutnya yang panjang dengan senyumnya yang menampakkan kecantikannya.


"Gadis aneh, orang lagi kesal malah senyum-senyum" gumam Jingga lalu membawanya ke kamar.


Begitu Jingga membuka pintu, Bai Niu langsung selonong memasukinya, ia mematung menatap pemuda yang sedang bermeditasi.


Jingga mengelus dada merasa tenang melihat Bai Niu hanya diam mematung memperhatikan Du Dung yang masih bermeditasi.


"Tuan" ucap Bai Niu melirik Jingga yang langsung menempelkan jari di bibirnya untuk diam tidak mengganggu.


Bai Niu mengangguk lalu telungkup berhadapan dengan Du Dung.


Jingga memperhatikan raut wajahnya yang bersemu merah dengan dagu ditopang kedua jemari tangannya.


"Sepertinya dia menyukai Dang Ding Dung" gumamnya lalu tidur dengan posisi duduk tepat di bawah jendela.


Pagi harinya Du Dung membuka mata mengakhiri meditasinya, tatapannya tertuju kepada seorang gadis cantik yang sedang tidur di depannya.


Du Dung menampar pipinya sendiri memastikan ia tidak sedang bermimpi.


"Aw" ucapnya kesakitan, ia menyadari dirinya tidak bermimpi.


"Siapa gadis ini?, Apakah Jingga berubah menjadi seorang gadis?" Tanya batinnya terasa aneh.


Bai Niu bangun dari tidurnya, ia kemudian duduk menghadap Du Dung yang terus memperhatikannya.


"Begini kan bagus kelihatannya" ucap Jingga menyadarkan keduanya lalu saling menjauhi.


"Siapa dia?" Tanya keduanya berbarengan saling tunjuk.


Jingga tersenyum kepada keduanya lalu mengambil tangan kanan keduanya dan memposisikannya saling berjabatan.


"Perkenalkan aku Dang Ding Dung dari kota Yu Chen, aku adalah tuan muda dari klan Du runtuh" ucap Jingga menatap Bai Niu lalu beralih menatap Du Dung.


"Aku Uwiw Uwiw dari danau Telaga, aku gadis yang mencoba bunuh diri dua kali" ucap Jingga merasa ada yang kurang.


"Sebentar, kurang seusai dengan namanya, aku ganti saja" protes Jingga kepada dirinya sendiri.


Setelah mengulang memperkenalkan diri yang sama kepada Bai Niu, Jingga lalu memperkenalkan diri kepada Du dung.


"Aku Naninu dari danau Telaga, aku gadis yang mencoba bunuh diri dua kali namun gagal, kasihan, oh kasihan, aduh kasihan" ucap Jingga dengan puas.


Du Dung dan Bai Niu termenung saja dengan kelakuan Jingga.


Setelahnya Jingga mengambil pedang besar dan panjang lalu menunjukkannya kepada Du Dung.


"Apa kau mengetahui pedang panjang dan besar ini?" tanya Jingga.

__ADS_1


Du Dung langsung berdiri menghampirinya.


"Ini! ini adalah Jianshandian yang melegenda, pedang ini merupakan pedang energi petir, darimana kau mendapatkannya?" jawab Du Dung menjelaskannya dan diakhiri dengan sebuah pertanyaan.


"Aku mendapatkannya ketika membantai klan Chu" jawab Jingga seadanya.


"Hah! klan Chun ada di ibukota, bukan di sini" ucap Du Dung tidak mempercayainya.


Jingga menggelengkan kepala mendengar tanggapan Du Dung yang salah mendengarnya.


"Klan Chu bukan klan Chun ibumu yang pergi meninggalkanmu Dang Ding Dung" timpal Jingga membenarkan.


"Oh" balas Du Dung singkat sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Jingga dan Bai Niu menepuk kening menanggapinya.


"Kenapa kau harus membantai klan Chu?, apa masalahnya denganmu?" tanya Du Dung tidak mengerti.


"Kau tanyakan saja kepadanya" jawab Jingga melirik Bai Niu.


Bai Niu yang dilirik oleh kedua pria langsung menceritakan kisahnya.


"Kasihan sekali nasibmu, kau yang sabar menghadapinya" ucap Du Dung merasa iba.


"Ya, semua orang mengatakan itu kepadaku, kau orang ke dua puluh empat yang mengatakan sabar kepadaku" ucap Bai Niu menimpali.


Mendapat tanggapan seperti itu dari Bai Niu, membuat Du Dung hanya bisa mengerutkan bibirnya.


"Kau simpanlah pedang ini di cincin spasialmu" pinta Jingga lalu melemparkannya, dengan cepat Du Dung menangkapnya, namun siapa sangka pedang itu sangatlah berat, Du Dung yang menangkapnya langsung tersungkur jatuh ke lantai.


Dugh!


Sontak saja hal itu membuat Jingga dan Bai Niu tertawa karenanya.


Jingga lalu membantunya berdiri mengangkat pedang Jianshandian kemudian memasukkannya ke dalam cincin spasial.


Setelahnya keduanya pergi ke restoran penginapan, Jingga hanya meminum arak sambil mendengarkan obrolan para tamu lainnya.


"Kak Dang Ding Dung, kenapa kak Jingga tidak makan?" tanya Bai Niu merasa heran.


Du Dung yang sedang mengunyah makanan langsung tersedak mendengarnya.


"Namaku Du Dung, jangan kau panggil aku seperti itu, aku geli mendengarnya, Naninu" protes Du Dung.


"Terus, kenapa kakak memanggilku Naninu, aku juga geli mendengarnya, namaku Bai Niu" balas Bai Niu tidak mau kalah.


Keduanya terus memperdebatkan sesuatu yang tidak ada faedahnya hingga berakhir dengan Du Dung yang menyerah kalah.

__ADS_1


"Hahaha, kau harus tahu, wanita selalu benar dan pria akan selalu salah, itu rumusnya" ujar Jingga menanggapi kekalahan Du Dung dalam perdebatan.


__ADS_2