
Di atas kediaman Jenderal Lie Zhou, Jingga termenung melihat selir Mei Yang begitu marah pada dirinya.
"Dia akan terus membenciku seumur hidupnya, aku harus tahu apa alasannya" gumam Jingga langsung turun kembali ke kamar.
Jingga langsung menarik tubuh selir Mei Yang kembali memasuki kamar Jenderal Lie Zhou lalu memasang perisai.
"Nyonya, silakan kau lampiaskan kemarahmu sekarang, aku tidak akan menghindarinya" pinta Jingga.
Plak!
Plak!
Berkali-kali Jingga ditamparnya lalu dipukuli dan ditendangnya dengan sepuasnya oleh selir Mei Yang. Lama kelamaan selir Mei Yang menghentikannya lalu duduk menangis tersedu.
Jingga menjentikkan jarinya menumbuhkan kembali rambut selir Mei Yang seperti semula.
"Nyonya, katakanlah apa yang membuatmu begitu membenciku?" Jingga menanyakannya.
Selir Mei Yang menengadah menatap Jingga, ia menggelengkan kepalanya menolak mengatakan alasannya.
"Maafkan aku, tapi kau tidak perlu tahu masalahku, pergilah, aku tidak akan memperpanjangnya" ujar selir Mei Yang lalu berbalik keluar kamar.
Jingga tidak memaksanya, ia langsung melayang terbang ke atas awan.
Dalam posisinya yang melayang, Jingga tidak langsung terbang ke arah selatan. Ia teringat akan ketiga temannya di hutan Bambu Merah.
"Aku merindukan ketiga temanku" gumam Jingga langsung berbalik terbang ke arah kota Lintang.
Tepat berada di atas puncak gunung Juanmi, Jingga berdiri dengan kedua tangannya di belakang, ia terus memandangi area di bawahnya.
"Apa aku harus menemui mereka dan mengajaknya?" Tanya pikirnya merasa bimbang.
Jingga memindai area di bawahnya dengan mata iblis melihat perisai energi yang menutupi area Bambu Merah.
Tampak terlihat ketiga temannya sedang berlatih pedang dengan begitu tangkas dan cepat. Jingga tersenyum senang melihat peningkatan ketiga temannya.
"Ya sudah, sebaiknya aku menemui mereka, ikut atau tidaknya biar mereka yang memutuskan" gumamnya lalu melesat turun dengan menembus perisai energi yang dibuat oleh ayahnya Zhen Li.
Jingga langsung merubah dirinya menjadi bayangan dan melemparkan seberkas energi iblisnya.
Dhuar!
Kelima orang di bawahnya langsung berlompatan menghindari serangan dadakan.
Kelimanya begitu waspada memperhatikan sekelilingnya.
Jingga menyeringai memperhatikan kelimanya lalu dengan usilnya ia kembali menyerang kelimanya.
Trang!
__ADS_1
Kelima pedang langsung patah, namun tidak ada ketakutan yang ditunjukkan oleh kelimanya.
"Keluar kau pengecut!" Pekik Bai Niu begitu geram dengan serangan cepat yang tidak bisa dilihatnya.
Jingga langsung menarik rambut Bai Niu ke belakang.
"Aw!" Jerit Bai Niu.
Zhen Li dan Luo Xiang langsung menjatuhkan pedangnya lalu melangkah ke arah bale bambu.
"Ayah, Ibu" tanya Qianfan belum mengetahuinya.
"Anak nakal, keluarlah" pinta Zhen Li yang sudah mengetahui siapa yang menyerangnya.
Jingga yang sudah diketahui oleh Ayah dan Ibunya langsung menampakkan diri sambil menggaruk kepalanya berjalan ke arah bale bambu.
Bai Niu yang begitu marah langsung melompat ke punggung Jingga lalu meremas wajahnya.
"Dasar Kakak jelek!" Rutuknya lalu mengacak-acak rambut Jingga.
Qianfan dan Qianmei tersenyum melihatnya lalu menyusul menghampirinya.
"Apa kabarmu Kakak pertama?" Tanya Qianfan.
"Eh, kenapa kau memanggilku kakak?" Tanya Jingga merasa heran.
"Karena kami sudah menjadi anak dari Ayah dan Ibu" jawab Qianmei dan Qianfan berbarengan.
"Sama" jawab Bai Niu singkat.
"Ayah, Ibu, kenapa kalian bisa tahu aku yang menyerang?" Tanya Jingga menoleh ke arah kedua orangtuanya.
"Ha ha, mana ada musuh yang menarik rambut lawannya tanpa mencoba mencelakainya" jawab Zhen Li.
Jingga hanya cengengesan saja mendengarnya.
"Belum tiga tahun kau sudah kembali, sepertinya kau sudah tidak sanggup menahan rindu kepada Mei'er" ujar Luo Xiang menebaknya.
"Aku rindu kepada kalian semua" balas Jingga.
Qianmei yang mendengarnya sedikit kecewa dengan jawaban Jingga yang biasanya akan salah tingkah ketika disinggung soal dirinya.
Bai Niu juga merasakan perbedaan sikap Jingga yang sekarang.
"Kenapa kalian berdua menatapku seperti itu?, Kalau rindu bilang saja ha ha" tanya Jingga menggoda keduanya.
"Dih! Siapa juga yang merindukan orang jelek seperti kakak" timpal Bai Niu seperti biasanya.
Sementara Qianmei hanya tersenyum saja menanggapinya.
__ADS_1
"Aku akan mengambilkan teh dan penganan, permisi" ujar Qianmei berlalu ke arah bilik rumah.
Ada rasa tersentak di hati Jingga melihat sorot mata Qianmei yang memendam kekecewaan padanya.
Di dalam bilik rumah, Qianmei menangis sedih akan perubahan sikap Jingga yang sekarang, ia yang pemalu hanya bisa menyimpannya dalam hati.
Seharian Jingga menceritakan kisahnya selama berada di kekaisaran Xiao dan penyelamatan anak-anak di kerajaan Xin Yue. Yang lainnya pun menceritakan tentang pelatihan dan menjalankan misi yang diberikan oleh orangtuanya untuk menguatkan pondasi kultivasinya.
Malam harinya Jingga berkelebat kembali ke puncak gunung Juanmi, ia merenungkan perasaannya yang membuat hatinya begitu bimbang.
Pertemuannya dengan Ratu Peri Xian Hao membuat dirinya tidak memiliki perasaan apa pun kepada Qianmei. Namun Jingga selalu teringat akan perkataan Paman Chen Lau dan Bibinya Ning Rum di kampung Cerita Hati.
"Hati wanita itu lembut, jangan mencoba menyentuhnya jika kau tidak ingin memilikinya" ujar Chen Lau ketika menasihati Jingga di kebun miliknya.
Begitupun dengan Bibinya Ning Rum pernah berkata,
"Ada kalanya kamu harus merelakan apa yang paling kamu cintai hanya untuk menyelamatkan hati lainnya agar tidak membencimu seumur hidupnya, laki-laki itu harus punya pendirian dalam memutuskan sesuatu"
Jingga kembali menenggak araknya, Ia yang awalnya ingin seperti mendiang kakeknya tidak terikat akan suatu hubungan sekarang malah merasa bersalah telah memainkan hati wanita.
"Baiklah, besok pagi aku akan mengatakannya" ucapnya dengan menguatkan hati.
Esok harinya di bale bambu, Jingga dan semua keluarganya terlihat begitu intim dalam perbincangan. Suasana hangat kekeluargaan membuat hati mereka begitu bahagia.
"Ayah, Ibu. Kalian mungkin tahu kedatanganku memiliki maksud tertentu, di benua Matahari ini, ketiga kekaisaran dalam situasi genting menghadapi badai masalah, bahkan kekaisaran Zhao sedang mengalami peperangan yang masih berlangsung, tentunya kita sebagai pendekar harus memiliki kontribusi dalam menciptakan kedamaian di alam semesta. Jadi aku berniat untuk membawa adik-adikku dalam misi yang akan aku jalani ke depannya" beber Jingga menjelaskan maksudnya.
Zhen Li dan Luo Xiang tersenyum bangga mendengarnya.
"Ayah sangat bangga kepadamu, namun semuanya ayah kembalikan kepada adik-adikmu yang akan memutuskannya" balas Zhen Li melirik ketiganya.
"Aku ikut" timpal Bai Niu dengan cepat.
"Aku juga ikut" timpal Qianfan.
Hanya Qianmei yang belum menjawabnya, ia masih memendam kekecewaannya kepada Jingga.
"Mei'er, kau tidak perlu ragu, kalau kau masih ingin tinggal bersama kami, tentu Jingga tidak akan marah kepadamu" ujar Luo Xiang memahami perasaannya.
Jingga mengangguk menyetujui ucapan Ibunya.
"Aku bukannya tidak mau ikut, aku, aku mencintai kak Jingga" ucap Qianmei begitu terbata mengungkapkan perasaannya, ia memberanikan diri karena takut Jingga tidak pernah mengetahui perasaannya.
Semuanya melirik ke arah Jingga dengan harapan akan membalas perasaan Qianmei.
"Sebelumnya aku akan jujur kepada kalian bertiga. Aku bukanlah manusia seperti kalian, aku juga bukan seorang dewa seperti yang kalian duga, aku adalah seorang iblis" ujar Jingga membuat ketiganya terdiam.
Jingga melirik ke arah Qianmei.
"Untukmu Mei'er, bersamaku kau mungkin tidak akan memiliki keturunan, aku sendiri tidak ingin memiliki anak seorang iblis, aku minta maaf padamu, sebaiknya kau memilih pria lain untuk menjadi pasangan hidupmu" imbuh Jingga.
__ADS_1
"Dan kau, Naninu. kau tidak perlu terikat akan niatmu yang terus mengikutiku seumur hidupmu, kau berhak menentukan kebahagiaanmu sendiri, aku tidak akan mempermasalahkannya" sambung Jingga melirik Bai Niu.
Ketiganya begitu tersentak akan kejujuran Jingga yang mengatakan kebenarannya.