
"Kakak harus tanggung jawab, aku tidak mau tahu, kembalikan wajah cantikku, hiks!" Rengeknya terus menangis.
"Bilang saja kau ingin memelukku terus" balas Jingga lalu memutar posisinya, sekarang Bai Niu ada di bawahnya.
Bai Niu tersenyum melihatnya. Jingga malah memijit hidungnya lalu berjalan duduk di sebuah kursi kayu menatap sayu Bai Niu yang belum tahu tentang kematian Du Dung.
"Kak, ada apa?, Apa Kakak tidak suka pada kelakuanku tadi?" Tanya Bai Niu.
"Bukan itu, hanya teringat Dang Ding Dung saja" jawab Jingga lalu berdiri menatap keluar dari jendela kamar.
"Tumben Kakak mengingatnya, semoga saja Kakak Dang Ding Dung masih hidup" sambung Bai Niu berharap.
"Dang Ding Dung sudah tiada, Kaisar Fei Xing mengeksekusi mati atas kesalahan yang tidak pernah dia lakukan" ucap Jingga larut dalam kesedihannya.
"Kakak!" Jerit Bai Niu tidak mempercayainya.
"Kakak bohong, tidak mungkin Kakak Dang Ding Dung mati, dia masih hidup" ucap Bai Niu semakin keras tangisannya.
Jingga berbalik lalu memeluknya,
"Aku pasti akan membalaskan kematiannya, percayalah" ucap Jingga semakin erat mendekap Bai Niu yang terus menangisinya.
Hampir semalaman Bai Niu menangis sampai ia tertidur dalam dekapan Jingga yang selalu membiarkan Bai Niu menuntaskan emosinya.
Esoknya Bai Niu terbangun, entah ada angin apa, Jingga yang menunggunya terbangun langsung menyuapi Bai Niu makan bubur yang diambilnya dari dapur penginapan.
Diperlakukan seperti itu, membuat Bai Niu begitu terharu.
"Aku akan merubahmu seperti kemarin, ada informasi salah satu klan bangsawan mencari seorang wanita untuk merawat patriarknya, itu jalan untukmu bisa memasukinya, apakah kau bisa melakukannya?" Ujar Jingga memintanya setelah selesai menyuapinya.
"Untuk apa, Kak?" Tanya Bai Niu ingin tahu.
"Untuk mengumpulkan informasi juga aku ingin tahu klan mana saja yang terlibat dalam kematian Dang Ding Dung" jawab Jingga menjelaskan.
"Baik Kak, aku siap melakukannya, tapi kalau wajahku jelek, aku khawatir tidak diterima sebagai perawat" ucap Bai Niu menyetujuinya.
Jingga lalu mengusap wajahnya, Bai Niu langsung berlari ke arah cermin.
"Kak, apa ini tidak terlalu cantik?" Tanya Bai Niu terus mengusap pipinya.
"Apa kau mau seperti kemarin?" Tanya balik Jingga.
"Tidak Kak, begini saja, aku suka" jawabnya dengan cepat.
"Kau pasti tahu maksudku, buatlah konflik kalau informasi sulit didapatkan" imbuh Jingga menyeringai menatapnya.
Bai Niu langsung tersenyum mengerti maksud kakaknya Jingga.
"Kak, lalu bagaimana kita berkomunikasi?" Tanya Bai Niu.
Jingga langsung menyentuh keningnya.
"Melalui pikiranmu" jawab Jingga lalu menghilang.
Istana kekaisaran Fei
Kaisar Fei Xing bersama Pangeran Fei Huang sedang berdiskusi di ruang rahasia kekaisaran Fei.
"Ayah, aku masih penasaran dengan informasi yang Ayah sampaikan kemarin, dari mana Ayah mendapatkannya?" Tanya Fei Huang.
__ADS_1
"Itu tidaklah penting, kita akan mengetahuinya setelah Panglima Xue Liang kembali, ayah memintamu kemari karena tidak ada lagi yang bisa ayah percaya di istana ini, ayah ingin kau pergi menemui sahabat ayah, Kaisar Xiao Jinai, berikan surat ini kepadanya" ujar Kaisar Fei Xing lalu memberikannya sepucuk surat resmi kekaisaran.
"Baik Ayah" sahut Pangeran Fei Huang lalu bergegas pergi melaksanakan tugasnya.
Kediaman klan Ming
Bai Niu bersama belasan wanita lainnya sedang mengantre dalam seleksi pemilihan perawat, ia terus menunduk selama menunggu giliran.
"Selanjutnya" panggil seorang wanita paruh baya.
Bai Niu langsung menghampirinya.
"Siapa namamu dan berasal dari mana?" Tanya wanita paruh baya.
"Aku Bai Qui dari danau Telaga" jawabnya.
"Jauh sekali tempatmu, kau sampai datang ke ibukota, apa tujuanmu datang ke ibukota?" Kembali wanita paruh baya mengajukan pertanyaan.
"Aku sudah beberapa hari berada di sini untuk mencari pekerjaan. Sebelumnya aku sudah melamar ke beberapa penginapan dan restoran, namun tidak ada yang menerimaku, aku mendengar dari temanku kalau di sini membutuhkan seorang perawat, jadi aku mencobanya" jawab Bai Niu menjelaskannya.
"Baiklah, kau bisa menunggu hasilnya setelah kami mendiskusikannya" ucap wanita paruh baya.
Tak menunggu lama, seorang pemuda membisiki wanita paruh baya untuk menerimanya.
"Bai Qui" panggilnya.
"Iya Nyonya" sahut Bai Niu lalu menghampirinya.
"Selamat, kami sudah memutuskan memilihmu" ucapnya menerima.
"Terima kasih Nyonya" balas Bai Niu lalu memasuki ke area dalam kediaman klan Ming.
"Ya bagus, sepertinya ada pemuda yang menyukaimu, kau bisa memanfaatkannya" sahut Jingga membalasnya.
"Baik Kak" timpal Bai Niu.
Jingga sedang berada di gurun pasir saat ini, ia menyelinap masuk ke jalur rahasia lalu membunuh satu kultivator dan menyamar sebagai salah satu murid.
"Di sini banyak makanan, sambil menyelam makan ikan hehe" gumamnya terkekeh.
"Hei kau, jangan senyum-senyum seperti orang gila, kemari kau" bentak seorang pria botak memanggilnya.
Jingga langsung menghampirinya dengan wajah seperti ketakutan.
"Cepat kau pindahkan kotak yang di sana" pintanya sambil menunjuk kotak berisi senjata.
"Baik" jawab Jingga singkat. Ia kemudian memanggul kotak berisi senjata.
"Kau akan menjadi cemilanku botak!" Gumamnya ketika melewatinya.
"Hei, apa katamu?" tegur si botak sambil memelototkan matanya.
Jingga berpura-pura ketakutan menatapnya,
"aku hanya bilang mengangkut kotak" jawabnya dengan cepat.
Si botak melambaikan tangannya meminta Jingga pergi.
Jingga membawa kotak senjata ke gudang penyimpanan senjata, melihat tumpukan senjata membuatnya tersenyum simpul.
__ADS_1
"Aku akan menukar isinya dengan bebatuan" kata pikirnya.
Jingga menjentikkan jarinya memindahkan isi kotak lalu memasukkan bebatuan ke dalamnya.
"Sekarang si botak harus ku santap he he" imbuhnya lalu kembali ke arah si botak yang jadi mandor para murid.
"Hei, kenapa kau ke sini?" tanya si botak menegurnya.
"kepalamu lucu" jawab Jingga lalu menghisap jiwanya dan kemudian menghancurkan tubuhnya.
Sudah lebih tiga ratus kultivator yang dimakan Jingga secara acak di jalur rahasia, ia terus berubah-ubah menjadi para kultivator yang dibunuhnya.
Hal itu sulit dideteksi oleh para tetua yang memiliki ribuan murid yang tersebar di jalur rahasia.
Jingga masih mencari targetnya yang akan ia makan, namun langkahnya dihentikan oleh seorang gadis yang tidak menyukai keberadaannya.
Plak!
Jingga terkejut seorang gadis menamparnya tanpa tahu kesalahannya.
"Hei apa maksudmu menamparku?" tanya Jingga tidak senang.
"Aku tidak suka melihatmu, sudah lemah, jelek, hidup lagi!" jawabnya mencemooh.
"Nona, kau itu cantik, tamparanmu begitu lembut membelai pipiku, tampar lagi, aku menyukainya" ucap Jingga menggodanya.
"Cih! kau pria paling tidak tahu diri, mungkin ibumu menyesal telah melahirkanmu ha ha ha" ejeknya semakin menjadi-jadi.
Jingga mengusap lembut pipinya,
"kulitmu begitu halus" puji Jingga sambil mengedipkan sebelah matanya.
Gadis itu langsung mundur menjauhinya lalu menggosok pipinya dengan secarik kain yang dibawanya.
"Kau tahu aku bisa gatal-gatal karenamu" ucap si gadis semakin kesal.
"Salahmu sendiri, aku belai kau hanya diam, apakah kau menyukaiku?" ucap Jingga.
"Kau!" geram si gadis langsung menyerang Jingga.
"Eit, tidak kena" ledek Jingga terus menghindarinya.
Kesal di kerjai oleh Jingga, si gadis mengeluarkan energi spiritualnya yang menyebabkan tembok jalur rahasia bergetar.
Plak!
si gadis ditampar oleh tetua yang tiba-tiba sudah berada di sana.
"Kenapa kau menggunakan energimu?, kau tahu apa akibatnya?, jalur ini bisa runtuh karenamu" tegur tetua begitu geram dengan si gadis.
"Maaf guru" ucap si gadis memohon.
Tetua yang dipanggil guru itu langsung melirik Jingga yang hanya diam menyaksikan si gadis dimarahi olehnya.
"Hei kau, aku akan melaporkanmu kepada gurumu" ancamnya, lalu tetua itu pergi menghilang meninggalkan si gadis dan Jingga yang masih berada di sana.
Si gadis tidak terima dirinya dimarahi oleh gurunya karena Jingga, ia langsung menghampiri Jingga untuk menamparnya.
Jingga tidak menunggu sampai si gadis mendekatinya, ia langsung menariknya lalu menghisap jiwa si gadis.
__ADS_1
"Lumayan juga, hari ini cukup dulu, besok aku kembali lagi untuk makan he he he" ucapnya setelah menghisap seorang gadis kultivator.