Takdir Pedang Sang Iblis

Takdir Pedang Sang Iblis
Pertarungan Alam Dewa II


__ADS_3


Setelah itu, Jingga merebahkan tubuhnya di hamparan rerumputan dan tak lupa juga, ia mengambil arak dari cincin spasial lalu menenggaknya.


Di kedua arah sisi tubuhnya, Bai Niu dan Qianmei masih sibuk dalam pertarungan. Deruan suara logam yang beradu, teriakan keras, dan rintihan pilu memenuhi udara. Begitu pun dengan suhu udara yang terus berubah-ubah seiring waktu tergantung elemen mana yang mendominasi di area pertarungan.


Matahari mulai terbenam di ufuk barat. Langit jingga yang seharusnya menenangkan setiap jiwa, kini menjadi saksi bisu tragedi kelam di alam dewa. 


"Suasana yang begitu damai diiringi dengan nyanyian indah dari kematian," ucap batin Jingga sambil terus menatap langit berwarna kuning di atasnya.


Suhu udara tiba-tiba saja menjadi sangat dingin. Seorang gadis bergaun putih melayang di udara dengan begitu anggunnya. Jingga tersenyum lembut memperhatikannya.


"Bukankah gadis itu yang pernah mengalahkan Naninu di kota Lieren Guojia?" gumam Jingga mengingatnya.


Jingga lalu berkomunikasi via alam pikir dengan Bai Niu.


"Naninu, ada teman lama yang mendatangimu. Sambutlah dia dengan baik!" 


Bai Niu sedikit terkejut mendengarnya sekaligus bersemangat. Ia lalu mendongakkan kepala melihat kedatangan seorang gadis yang dikenalnya.


"Dewi Es Bingji," gumamnya pelan.


"Aku harus cepat mengakhiri pertarungan ini," imbuhnya bertekad.


Bai Niu mempercepat ritme bertarungnya. Lawannya yang merupakan para jenderal dan komandan istana Langit mampu mengimbangi serangannya. Namun, kehadiran Dewi Es Bingji membuatnya ingin secepatnya menyudahi pertarungan yang tengah berlangsung.


Wuzz! Duar! Duar!


Ratusan kristal es berbentuk runcing meluncur deras ke arah Bai Niu yang menahannya dengan perisai pelindung.


"Turun kau, Dewi sialan!" teriak Bai Niu memintanya.


Dewi Es Bingji mengabaikannya, sang dewi kembali menyerang Bai Niu dengan melemparkan kristal es yang lebih besar dan lebih banyak dari sebelumnya.


Kesal karena diabaikan, Bai Niu meningkatkan kekuatan elemen petirnya lalu menyambar para jenderal di sekelilingnya.


Sengatan-sengatan dari aliran energi petir berhasil membuat para jenderal mundur beberapa langkah untuk menghindarinya. Setelah itu, Bai Niu melayang terbang menyerang Dewi Es Bingji dilanjutkan dengan ayunan pedang yang mengarah ke leher sang dewi. Akan tetapi, Dewi Es Bingji berhasil mengelak dan membalasnya dengan serangan kristal es. 


Tubuh Bai Niu seketika membeku. Tidak ingin melewatkan kesempatan, Dewi Es Bingji menarik pedang biru kemudian menebaskannya ke tubuh Bai Niu. 


Duar!


Bai Niu terpelanting ke arah jatuh ke bawah. Ia memuntahkan darah lalu kembali bangkit.

__ADS_1


Wuzz! Duar!


Dewi Es Bingji kembali melayangkan tebasan pedang ke arah Bai Niu yang sekali lagi harus terlempar jauh. Kali ini, para jenderal tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk membunuh Bai Niu. Mereka berkelebat dengan berbagai senjata yang siap untuk dihunuskan. Akan tetapi, Dewi Es Bingji tidak membiarkan para jenderal mengambil kesempatan darinya. Ia lalu melemparkan ratusan kristal ke arah para jenderal istana Langit.


Wuzz! Duar!


Ratusan kristal es berhasil mengenai para jenderal yang langsung membeku.


"Jangan mengganggu pertarunganku!" bentak Dewi Es Bingji lalu melayang rendah menghampiri Bai Niu yang masih terkapar di rerumputan.


Tap, tap.


Dewi Es Bingji mendarat tepat di samping tubuh Bai Niu. Ia menggenggam erat pedang dengan kedua tangannya, bersiap untuk menghunuskannya ke tubuh Bai Niu.


"Apa ada salam perpisahan untukku, Dewi Petir?" 


"Cih, kaukira akan bisa membunuhku?" Bai Niu meludahinya.


"Salam perpisahan yang manis. Selamat tinggal, Dewi," balas Dewi Es Bingji lalu menancapkan ujung pedang ke perut Bai Niu.


Krak!


Dewi Es Bingji terkejut mendapati pedangnya hancur berkeping-keping.


Sret!


"Ah!" jerit Dewi Es Bingji mendapati tubuhnya terbelah oleh tebasan cepat yang dilayangkan Bai Niu.


"Kau seharusnya fokus untuk membunuhku. Selamat tinggal," ucap Bai Niu setelah membunuhnya.


"Ha-ha-ha," tawa lantang seorang gadis di balik awan.


Bai Niu mendongak ke sumber suara. Ia begitu geram mendapati Dewi Es Bingji menggunakan bayangannya untuk bertarung.


"Dasar pengecut!" hardik Bai Niu.


"Dewi bodoh! Kau tidak bisa membedakan diriku yang sebenarnya," balas Dewi Es Bingji lalu menampakkan dirinya.


"Tubuhmu terluka parah, aku tidak ingin pertarunganku berakhir dengan cepat," imbuh sang dewi mengejeknya.


"Ha-ha. Kau yang bodoh! Jika diriku dalam kondisi prima, kau tidak mungkin bisa mengalahkanku," balas Bai Niu.


"Ha-ha-ha!" Dewi Es Bingji terpingkal mendengarnya.

__ADS_1


"Kau ini pura-pura lupa atau memang bodoh sejak lahir, sehingga tidak bisa mengingat kekalahanmu dulu di alam fana."


Bai Niu begitu geram mendengarnya. Ia menyadari dirinya tidak sekuat Dewi Es sewaktu di pertarungan pertama. Namun, dengan kemampuannya yang sekarang, ia tidak ingin kalah untuk kedua kalinya.


"Ini waktunya aku membuktikan kepada kak Jingga, apakah aku layak terus mendampinginya … tidak boleh lagi ada kekalahan. Menangkan atau mati dengan terhormat!" Bai Niu membulatkan tekad untuk bisa memenangkan pertarungannya.


"Dewi Es, perlu kau ketahui, kesempatanmu untuk membunuhku hanya di saat ini saja. Pikirkanlah!" kata Bai Niu membujuknya.


Dewi Es Bingji mempertimbangkannya. Tak lama kemudian, ia pun mengangguk.


"Benar juga katamu, misiku ke sini untuk membunuh kalian dan menjadi seorang penguasa di Istana Langit. Aku tidak boleh melewatkan kesempatan emas yang terbuka di depan mata. Baiklah, aku akan membunuhmu dengan cepat, meskipun aku tidak suka mengambilnya dengan begitu mudah. Ha-ha-ha."


Bai Niu tersenyum lebar. Tampak wajahnya begitu ceria. Rasa sakit di tubuhnya tidak lagi ia rasakan. Hanya memenangkan pertarungan yang kini ada di benaknya. Ia kemudian melayang terbang menghampiri Dewi Es Bingji.


"Aku selalu takjub melihat calon mayat tersenyum lebar," kata Dewi Es Bingji.


"Kau berbicara seolah kau bisa membunuhku. Buktikanlah!" balas Bai Niu lalu mengacungkan ujung pedang ke langit.


Ia menciptakan badai petir untuk mengiringinya dalam pertarungan. Dewi Es Bingji tidak mau kalah. Ia mengerahkan kemampuan esnya untuk membuat udara bersuhu dingin yang ekstrim.


Hujan es pun terjadi dengan begitu lebat. Jingga yang memperhatikan pertarungan Bai Niu begitu bersemangat.


"Untuk kali ini, aku tidak akan membantumu, Naninu. Berusahalah dengan kemampuanmu!" ujar Jingga kepada sang adik.


"Baik, Kak," balas Bai Niu melalui alam pikir.


Jingga berdiri di rerumputan yang basah karena air hujan. Ia pun mengalihkan perhatiannya ke arah pertarungan Qianmei yang masih berlangsung dengan sengit.


Menghadapi para cultivator berkultivasi tinggi dan berasal dari klan dan sekte besar di alam dewa, membuat Qianmei harus mengerahkan kemampuan terbaiknya. Bahkan, sampai saat ini pun, ia belum bisa membunuh satu cultivator yang dihadapinya.


Jingga sendiri tidak ingin membantu adiknya tersebut. Ia sengaja membiarkan Qianmei untuk menghadapinya sendirian. Hal itu sangat penting untuk peningkatan kemampuan Qianmei setelah mewarisi kekuatan dari seorang cultivator yang berasal dari semesta luar.


Suasana malam di alam dewa khususnya di tempat pertarungan tidaklah gelap gulita. Kilatan petir dan cahaya dari energi spiritual mampu menyinari alam dewa dengan cukup terang.. 


Jingga yang berdiri sendiri di luasnya hamparan rumput hijau mulai merasa tidak nyaman. 


“Kenapa tidak ada yang mau menyerangku? Padahal jumlah mereka sangat banyak,” pikir Jingga merasakan kebosanannya.


Tiba-tiba saja, matahari terbit di langit alam dewa. Semua orang menjadi bersemangat karena kemunculannya, terkecuali Jingga dan kedua adiknya yang belum mengetahui apa yang terjadi.


“Dewa Matahari datang!” pekik seorang jenderal bergema di udara.


“Huh! Huh! Huh!” Yel-yel dikumandangkan oleh para cultivator menyambut kedatangan sang dewa agung.

__ADS_1


__ADS_2