Takdir Pedang Sang Iblis

Takdir Pedang Sang Iblis
Sebuah Misi


__ADS_3

Pagi hari keduanya terbangun, hari itu pertama kalinya keduanya tidur dalam satu dipan yang sama.


Perasaan aneh menjalari keduanya, Bai Niu melupakan kekecewaan tidak ikut merasakan sesuatu yang dipikirkannya, ia terus memeluk Jingga seperti lem dengan daya rekat yang kuat.


"Sampai kapan kau akan terus memelukku seperti ini?" Tanya Jingga merasa risih lalu melepaskan pelukan Bai Niu yang begitu erat.


"Kakak hanya ingin enaknya saja, sudah begitu langsung kembali ke sikapnya yang acuh" dengus Bai Niu begitu kesal.


"Aku hanya tidur di sampingmu, aku tidak melakukan hal aneh padamu" balas Jingga.


"Tapi kenapa kakak tidak berpakaian?"


"Aku hanya merasa gerah, itu saja"


"Terus siapa yang menyingkap gaunku?, Apa menurut Kakak, ada orang lain yang masuk kamar?"


"Aku tidak tahu" jawab jingga lalu selonong pergi ke kamar kecil. Bai Niu mengikutinya dari belakang.


"Kau mau apa?, Kenapa mengikutiku?" Tegur Jingga berbalik ke arahnya.


"Aku mau mandi, kenapa?, Tidak boleh?" Balik tanya Bai Niu dengan tatapan tidak enak dipandang.


"Ya sudah, kau duluan saja" jawab Jingga pasrah lalu melewatinya dan menjatuhkan dirinya ke dipan sambil menggerutu tidak jelas.


Bai Niu tersenyum puas lalu memasuki kamar kecil membersihkan diri.


Setelah selesai keduanya membersihkan diri, Jingga dan Bai Niu turun ke lantai dasar penginapan.


Terdengar dari luar suara keramaian dari penduduk kota yang mengerumuni mayat kelompok aliran hitam tanpa nama tidak jauh dari penginapan.


Jingga tersenyum karena suasana kembali seperti dulu, tidak ada lagi masyarakat yang menyembunyikan diri karena ketakutan berada di luar.


"Kak, mau kemana?" Tanya Bai Niu yang sudah duduk di salah satu meja.


"Kau tunggulah, aku akan memesan makanan untukmu" jawab Jingga berlalu menghampiri pelayan yang ditemuinya kemarin.


Pelayan itu kembali merinding melihat Jingga menghampirinya.


"Kau masih saja takut kepadaku, kau panggilkan pelayan lainnya untuk membawakan makanan kepada wanita di sana" pinta Jingga menunjuk Bai Niu yang duduk sambil terus memperhatikannya.


Pelayan itu langsung memanggil pelayan lainnya, setelahnya ia kembali melihat Jingga dengan rasa takut yang tidak bisa ia hilangkan.


"Aku akan menanyakan kepadamu, apakah kau tahu kehancuran kota Yu Chen, ceritakan semuanya kepadaku" ucap Jingga menatapnya begitu tajam.

__ADS_1


Pelayan itu dengan terbata-bata menceritakan kejadian lima tahun yang lalu, ia mengatakan ada lebih dari tiga ratus orang yang menyebut dirinya sebagai bangsawan dari ibukota yang mampir beristirahat di kota De Shenshi. Lima puluh orang menginap di penginapan yang ditempati Jingga, sisanya terbagi ke penginapan lainnya, namun tidak ada satu prajurit pun yang ikut bersama rombongan itu.


Jingga terdiam merenungkan apa yang diceritakan oleh pelayan kepadanya.


"Bangsawan, berarti mereka adalah salah satu atau beberapa klan yang berada di ibukota, kenapa mereka harus membantai warga kota yang tidak ada kaitannya dengan mereka?" Pikir Jingga semakin merasa keheranan dengan apa yang terjadi.


"Oh iya, sejak kapan kelompok aliran hitam melakukan aksinya?" Imbuhnya bertanya.


Pelayan melirik ke berbagai arah, memastikan tidak ada yang memperhatikannya lalu ia berbisik kepada Jingga.


"Sejak empat tahun lalu, mereka adalah kelompok yang dipersiapkan oleh para bangsawan untuk mengkudeta kekaisaran" bisiknya lalu pergi meninggalkan Jingga.


Jingga kembali ke arah Bai Niu yang sedang asyik menyantap makanannya.


"Naninu, apa kau mau mengunjungi danau Telaga?" Tanya Jingga setelah Bai Niu selesai makan.


"Tidak usah, aku benci tempat itu" jawabnya ketus.


"Ya sudah, kita langsung kembali ke ibukota" timpal Jingga.


Keduanya terbang menyusuri area menuju ibukota kekaisaran Fei di kota Lanhua.


Tidak ada keanehan di area lainnya yang terus dipindai oleh Jingga sampai pada area gurun pasir Jingga menghentikan laju terbangnya.


"Kak, ada apa?" Tanya Bai Niu heran menatap Jingga seperti melihat sesuatu yang menarik hatinya.


Berada dalam ruang bawah pasir gurun, Jingga merubah dirinya menjadi bayangan.


"Banyak makanan di sini" gumamnya melihat para kultivator berlalu-lalang di sekitarnya. Jingga berjalan pelan menelusuri ruang rahasia di dalam pasir.


Sampai pada area yang begitu luas, Jingga menyeringai memperhatikan ribuan kultivator sedang berlatih beladiri.


"Yummy, aku bisa makan sepuasnya di sini" ucapnya dengan mata berbinar cerah, lidah yang menjulur dengan saliva yang jatuh menetes.


"Tidak, tidak, aku tidak boleh memakannya sebelum tahu siapa di balik semua ini" gumamnya mengacuhkan makanannya.


Jingga beralih ke area lainnya untuk mencari para kultivator yang lebih tinggi ranah kultivasinya.


Beberapa langkah setelahnya, tampak terlihat olehnya keberadaan para kultivator yang disinyalir sebagai pimpinan dari ribuan kultivator yang sedang berlatih beladiri.


"Tingkatkanlah kultivasi kalian setinggi-tingginya, buatlah aku puas ha ha ha" ucapnya dengan pupil mata berubah merah seperti darah.


Jingga langsung menghilang kembali menemui Bai Niu di atas awan.

__ADS_1


Para kuktivator yang sedang bermeditasi membuka matanya merasakan aura iblis yang belum diketahuinya.


"Apakah kalian merasakan aura aneh?" Tanya salah satu kultivator berjanggut panjang menatap yang lainnya.


"Ya, kami merasakannya" jawab kultivator lainnya.


"Sebaiknya kita mencarinya sekarang sebelum hal buruk merusak tujuan kita" ujar kultivator berjanggut panjang yang diangguki kultivator lainnya.


Setelah membuka perisai, Jingga langsung terbang dengan kecepatan tinggi ke kota Lanhua.


Keduanya berhenti di pinggir danau Lanhua yang begitu luas, danau itu adalah gunung Lanhua yang meledak dan menyebabkan terbentuknya kawah besar di bawahnya, turunnya hujan menjadikannya sebuah danau yang sangat luas dan terlihat begitu indah.


Bai Niu begitu takjub dengan perubahan alam yang ia saksikan sebelum dan sesudahnya ia lihat dari apa yang terjadi di tempat yang ia pijak.


Sama seperti beberapa tahun yang lalu, Bai Niu berlarian di sekitarnya.


Jingga duduk di bawah pohon yang sama ia tempati waktu bersama Du Dung. Sekarang pohonnya sudah tumbuh begitu tinggi, namun pemandangannya sekarang yang berubah.


Dalam posisi meditasi, Jingga memasuki alam jiwanya.


Bai Niu yang merasa capek setelah berlarian, kembali menghampiri Jingga.


"Aw" jeritnya merasakan panas berada dua langkah dari Jingga, Bai Niu langsung duduk tiga langkah dari posisi Jingga yang sedang bermeditasi.


Tak lama, Jingga membuka kembali matanya, ia melihat Bai Niu yang sedang cemberut menatapnya.


"Naninu, kau kenapa cemberut begitu?" tanya Jingga heran dengan wanita di depannya.


Bai Niu hanya memalingkan mukanya tidak mau menjawab pertanyaan Jingga.


"Ayo kita jalan ke ibukota" ajak Jingga langsung meraih tangannya untuk berdiri.


"gendong" pinta Bai Niu dengan manja.


"kau sudah besar Naninu, aku tidak nyaman sesuatu menyentuh punggungku" ucap Jingga menolaknya.


Bai Niu tidak mempedulikan ucapannya, ia langsung melompat ke punggung Jingga yang membuat Jingga terpaksa harus menahan kedua kaki Bai Niu yang melingkar di pinggangnya.


"Sial!" gumam Jingga mengeluh tapi menikmatinya juga.


"Kak, bukankah kita sedang dikejar klan Lin?" tanya Bai Niu yang wajahnya begitu dekat di samping wajah Jingga.


"ha ha ha, mereka hanya mengenalmu bukan diriku" jawab Jingga yang waktu membunuh tuan muda klan Lin, penampilannya masih berantakan.

__ADS_1


"Kakak menyebalkan, lalu aku bagaimana?" tanya Bai Niu mulai khawatir.


"Kau tenang saja, aku punya cara untuk itu" jawab Jingga dengan pikirannya yang iseng.


__ADS_2