Takdir Pedang Sang Iblis

Takdir Pedang Sang Iblis
Xuis Versus Omeng


__ADS_3

Jingga terus berkelebat dari satu pohon ke pohon lainnya sampai ia melihat keberadaan orang-orang yang berlalu lalang di pemukiman yang menjadi pusat transit para pendatang dari berbagai wilayah.


Tap, tap!


Jingga menghentikan langkahnya, ia melihat beberapa kedai yang berderet di sepanjang jalan lalu memasuki salah satunya.


"Selamat datang di pulau Intan, Tuan muda" sambut seorang pelayan menghampirinya.


"Apa di sini menjual arak?" Tanya Jingga.


"Ya, kami menjual banyak arak dari berbagai daerah. Yang terbaik adalah arak dari benua Matahari, apa Tuan muda ingin mencobanya?" Jawab pelayan menawarkannya.


"Bagus, aku sangat merindukannya. Bawakan satu kendi besar untukku" pinta Jingga.


"Kendi besar sangat mahal, Tuan. Harganya 10 tael emas" timpal pelayan.


Jingga tidak mempedulikan harganya, ia langsung saja merogoh kantongnya dan menyerahkan keping emas sebanyak yang diminta oleh pelayan. Ia lalu mencari tempat duduk disalah satu meja kosong dan memilih sebuah bangku di mana banyak para pengunjung yang berasal dari benua Matahari sedang menikmati arak.


"Permisi! Boleh aku duduk di sini?" Ucap Jingga.


"Silakan" sahut seorang pria berusia sekitar tiga puluhan mengizinkannya.


"Kau terlihat bukan penduduk sini, darimana kau berasal?" Tanya pria itu setelah memperhatikannya.


"Aku dari Tanah Para Dewa di seberang pulau Emas" jawab Jingga.


Keduanya lalu berbincang hangat saling memperkenalkan diri dan menceritakan berbagai hal.


Tak lama, pelayan datang dengan membawa kendi besar dan meletakkannya di atas meja.


"Sebagai salam perkenalan, kita nikmati arak bersama" ucap Jingga lalu menuangkannya pada mangkuk kecil.


Semua pria langsung mengangkat mangkuk dan bersulang padanya. Mereka semua langsung akrab dengan Jingga dan mulai menceritakan kisah perjalanan mereka dari berbagai kota di benua Matahari.


Dari berbagai cerita yang dituturkan para pria, Jingga tertarik pada cerita tentang kekaisaran Xiao di benua Matahari. Ia terus saja menyimak dengan seksama cerita yang disampaikan oleh pria bernama Chen Tong yang duduk di sampingnya.


"Maaf, Tuan Tong. Apa yang sebenarnya terjadi di seluruh wilayah benua Matahari?" Tanya Jingga di sela obrolan.


"Menurut riwayat, beberapa ratus tahun yang lalu terjadi peperangan besar lintas alam, kehancuran terparah terjadi di alam dewa, sedangkan di alam fana kehancuran paling mengerikan terjadi di benua Matahari dan benua Intibumi" ujarnya meneruskan cerita yang didapatkannya dari para leluhur.


"Apakah itu terkait dengan perang para dewa dengan bangsa iblis?" Sambung tanya Jingga.


"Betul, namun masih menjadi perdebatan para leluhur karena pada waktu perang terjadi, bangsa dewa dan bangsa iblis tidak saling bertikai. Aneh bukan?"


Jingga berpikir keras untuk bisa memahaminya, akan tetapi ia tidak menemukan garis besar pada hal terakhir yang begitu janggal.


"Ha ha ha, jangan terlalu serius. Perangnya sudah lama berlalu" potong pria yang tengah mabuk menyambung percakapan Jingga dengan Chen Tong.


"Ya, aku hanya heran saja apa penyebab terjadinya perang tersebut, lalu apa yang menjadi tujuan dari perang itu?" Timpal Jingga melontarkan kembali pertanyaan.


"Entahlah, terlalu banyak versi yang aku terima dari para leluhur. Jadi sampai sekarang tidak ada seorang pun yang mengetahui kebenarannya. Kalau kau penasaran, kau bisa tanyakan langsung pada Ratu Xiao" ujar Chen Tong.


"Apakah Ratu bisa aku temui?" Tanya Jingga.


"Bisa saja, tapi kau perlu token untuk memasuki istana kekaisaran Xiao" jawabnya lalu mendekatkan bibirnya di telinga Jingga.


"Klan Tang memiliki akses langsung memasuki istana, kau bisa memintanya mengantarmu ke sana, tapi itu tidaklah mudah" imbuh Chen Tong membisikinya.


"Terima kasih, aku akan mencobanya" balas Jingga lalu berpamitan.


Di luar kedai, Jingga melihat orang-orang berlarian ke satu arah yang sama.

__ADS_1


"Paman, apa yang terjadi?" Tanya Jingga sambil ikut berlari bersama orang-orang.


"Ada pertarungan dua hewan buas dan dua perempuan cantik, salah satunya Dewi Serigala" jawab pria paruh baya semakin mempercepat larinya.


"Hem! Aku tahu siapa yang bertarung" gumam Jingga.


Wuzz!


Jingga melesat cepat melewati warga yang sedang berlarian.


Sesampainya di area pertarungan yang dikerubungi oleh warga. Jingga melihat harimau putih sedang bertarung dengan serigala abu. Tampak pertarungan keduanya begitu sengit.


Tidak jauh dari pertarungan kedua hewan buas. Seorang gadis tampak begitu kewalahan menghadapi seorang wanita yang terlihat sangat mendominasi.


"Ayo Neng, kamu pasti bisa" teriak Jingga menyemangati adiknya.


Naray yang sedang kewalahan menoleh ke arah Jingga. Bukannya semangat, Naray malah sengaja mengendurkan pertahanannya dari serangan brutal dewi Serigala.


Bugh!


"Aah!" Jerit Naray terlempar.


Pukulan keras dilayangkan dewi Serigala tepat mengenai wajah Naray yang langsung terlempar menabrak sebuah bangunan.


Dewi Serigala berkelebat kembali memukulnya, Namun Jingga dengan cepat menarik tubuh adiknya yang tergeletak di tanah.


"Hei, cukup!" Ucap Jingga sambil menahan kepalan tangan dewi Serigala.


"Apa Nyonya mau bertarung denganku?" Imbuh Jingga menantangnya.


Dewi Serigala langsung menarik kembali tangannya, ia mendengus kesal pada Jingga yang menghalanginya.


"Langkahi dulu mayatku, Nyonya" balas Jingga.


"Ha ha, baiklah! Kalau kau menang, kau boleh melakukan apa pun padaku tapi kalau aku yang menang, kau harus jadi kekasihku" ujar dewi Serigala mengajaknya bertaruh.


"Kau sudah tua, Nyonya. Tapi baiklah aku menyetujuinya" balas Jingga.


Bugh!


"Aaah!" Ringis dewi Serigala terpental jauh.


Tanpa aba-aba Jingga dengan cepat langsung memberikannya pukulan, ia lalu berkelebat menarik kaki dewi Serigala yang bergulingan di tanah kemudian melemparkannya jauh menabrak pepohonan.


Bugh! Bugh!


Gedebuk!


Dewi Serigala tersungkur jatuh dengan memuntahkan seteguk darah. Jingga kembali berkelebat menghampirinya.


"Kau curang" dengus dewi Serigala dengan kesal tidak diberi kesempatan untuk melawan.


Dewi Serigala mencoba bangkit berdiri, Jingga langsung mencekik lehernya.


"Menyerahlah, Nyonya" ucap Jingga.


Dewi Serigala menatapnya dengan dingin dan pada akhirnya ia mengangguk pasrah mengakui kekalahannya.


Jingga melepaskannya lalu berkelebat ke arah adiknya.


"Neng, tidak apa-apa?" Tanya Jingga merangkulnya.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, A. Aa kenapa lama? Seharian aku menunggu Aa" jawab Naray balik bertanya.


Jingga tersenyum menjawabnya, ia lalu menggendong Naray dan berjalan ke arah lain melihat pertarungan dua hewan buas yang masih berlangsung.


"Omeng, habisi dia!" Teriak Naray dengan lantang.


"Omeng!" Ucap Jingga merasa lucu dengan nama harimau putih.


"Iya, A. Aku memberikan nama padanya" timpal Naray.


"Xuis! Habisi si kucing kurap" teriak dewi Serigala tidak mau kalah dari Naray.


Kedua hewan buas semakin intens melancarkan serangannya, pertarungan keduanya pun menjadi semakin sengit. Semua orang yang menyaksikan saling bertaruh mendukung jagoannya.


Tampak suasana menjadi sangat ramai. Dari kejauhan, sebuah kapal cukup besar tiba di pelabuhan, ratusan orang keluar kapal dan langsung berkumpul menyaksikan pertarungan dari kedua hewan buas.


Lagi seru-serunya Jingga mengamati pertarungan, seorang pedagang melewatinya.


"Kacang, kacang" suara lantang seorang pedagang yang sedang memanggul dagangannya menawarkan pada setiap orang yang dilewatinya.


Tidak hanya pedagang kacang saja yang memutari penonton, beberapa pedagang buah-buahan dan penganan juga ikut menawarkan dagangannya.


"A, aku mau jagung rebus" celetuk Naray memintanya.


"Bang! Sini kau!" Teriak Jingga sambil melambaikan tangan pada pedagang jagung rebus.


Tak lama, pedagang jagung menghampirinya dengan wajah senang dipenuhi peluh keringat.


"Berapaan, Bang?" Tanya Jingga.


"Murah, Bang. Satu tael perunggu perbijinya" jawab pedagang.


"Satu keping emas dapat berapa, Bang?"


"Semuanya"


"Aku borong semuanya"


"Wah! Terima kasih, Bang!"


"Laris manis!" Teriak penjual jagung begitu gembira.


Beberapa pedagang yang mendengarnya langsung berjalan cepat menghampiri Jingga. Mereka semua meminta Jingga untuk memborong dagangannya juga.


"Waduh! Baiklah, bagikan semua dagangan kalian pada penonton. Aku borong semuanya" ucap Jingga tidak mau ambil pusing.


Kembali ke pertarungan dua hewan buas.


Omeng tanpa kenal lelah terus menyerang Xuis dengan cakarannya yang tajam, terlihat kemampuan bertarung Omeng sangat brutal. Ia memaksa Xuis terus bertahan tanpa memiliki celah untuk melakukan serangan balik.


Dewi Serigala mulai cemas melihatnya, serigala miliknya bukanlah hewan yang bertarung secara satu lawan satu.


"Haoom!"


Omeng berhasil melumpuhkan Xuis dengan cengkeraman taringnya yang menggigit leher dan menekannya dengan kuat.


Xuis masih terus bertahan walaupun tubuhnya tertindih oleh Omeng, baginya kematian lebih baik daripada mengakui kekalahan.


Melihat situasi pertarungan, Jingga melirik ke arah dewi Serigala yang terlihat gugup di sampingnya.


"Nyonya, kita cukupkan saja pertarungan keduanya, sebelum pedagang lainnya berdatangan. Uangku tinggal sedikit" ucap Jingga dengan alasan ekonomi.

__ADS_1


__ADS_2