
"Aku masih punya banyak koleksi arak dari berbagai wilayah di benua Matahari, kalau saudara Jingga mau, aku akan memberikannya kepadamu" tawar Pangeran Qianfan.
"Ha ha ha, itu tidak perlu karena aku punya banyak koleksi dari berbagai wilayah di alam semesta ini karena aku adalah cucu seorang pelaut" timpal Jingga tidak mau kalah memamerkannya.
"Oh iya Pangeran, harta kerajaanmu telah aku amankan, kau mungkin memerlukannya untuk membangun kembali kerajaanmu" imbuh Jingga langsung mengeluarkan ribuan cincin spasial dan meletakkan semuanya di meja.
Pangeran Qianfan lagi-lagi terperangah melihatnya.
"Saudara Jingga, bagaimana saudara bisa mendapatkan semua ini?" Tanya Pangeran Qianfan langsung memeriksa isi dari cincin spasial satu persatu.
"Aku mengambilnya dari para kultivator yang menghancurkan kerajaanmu, kau simpanlah semuanya, mau sampai kapan kau akan selesai memeriksa semuanya" jawab Jingga sambil menenggak araknya.
"Ini benar-benar mustahil, apakah kau seorang dewa saudara Jingga?" Tanya Pangeran begitu penasaran pada Jingga yang menurutnya penuh kejutan.
Jingga menggelengkan kepalanya sambil tersenyum lalu berkata
"aku bukanlah seorang dewa juga bukanlah seorang manusia, aku adalah aku"
Pangeran Qianfan harus kecewa mendengarnya, ia tidak memahami maksudnya.
"Langit sudah terang, aku harus tidur" ucap Jingga lalu membaringkan tubuhnya di bawah jendela.
"Siapa dirimu sebenarnya saudara Jingga?, Kau begitu penuh misteri, aku harus mengikutimu seumur hidupku" kata batin Pangeran Qianfan membulatkan niatnya.
Tak lama kedua wanita cantik terbangun dari tidurnya, Bai Niu langsung menghampiri Jingga yang tidak dilihatnya semalaman.
Pangeran Qianfan menahan tangannya lalu melarangnya untuk mengganggu Jingga yang baru tertidur.
Kediaman klan Chun
Du Zhia berteriak histeris mengetahui seluruh keluarga klan ibunya mati terbunuh, ia menyalahkankan pamannya Chun Chou yang telah membunuh semua anggota klan Chun.
Beruntung klan Chun masih ada seseorang yang menangisinya, hal berbeda terjadi pada keempat klan lainnya yang tidak ada satu pun yang selamat untuk menangisinya.
Pejabat kota Lanhua memutuskan untuk membakar kediaman keempat klan yang ditengarai terpapar gas beracun setelah sebelumnya para tabib kota didatangkan untuk menyelidiki kematian keempat klan bangsawan di kota Lanhua.
Kegemparan di kota Lanhua begitu memilukan sekaligus melegakan pihak-pihak yang selalu tertindas oleh keberadaan para bangsawan yang selama ini dianggap lebih berkuasa dari istana kekaisaran Fei.
__ADS_1
Istana Kekaisaran
Kaisar Fei Xing dan Pangeran Fei Huang benar-benar mengikuti apa yang dikatakan oleh Jingga, keduanya sedang menikmati teh di halaman kebun kekaisaran.
"Ayah, apakah kita harus mengembalikan pasukan tempur kekaisaran Xiao sekarang?" Tanya Pangeran Fei Huang sambil duduk selonjoran menikmati udara segar bersama ayahnya.
"Kita tunggu sampai kabar dari jalur rahasia gurun pasir sudah kita dapatkan dengan pasti" jawab Kaisar Fei Xing yang hari ini merasakan ketenangan setelah bertahun-tahun ia mengalami tekanan pikiran mengurusi pemerintahan.
Sore hari Jingga terbangun, kembali ia tidak melihat keberadaan ketiga temannya.
"Sepertinya sudah waktunya bagiku meninggalkan kekaisaran Fei, sesuai rencanaku, aku akan membawa Naninu ke hutan Bambu Merah, untuk Pangeran dan Putri dari Shuijing biarlah mereka sendiri yang memutuskan, aku sudah mengembalikan semua asetnya" pikir Jingga sambil melihat langit di jendela kamarnya.
"Tapi kenapa aku selalu merasa ada yang belum aku selesaikan di kekaisaran ini?" Imbuhnya mencari sesuatu yang belum ditemukannya.
"Ya sudahlah, besok pagi aku akan melanjutkan perjalananku" pikirnya memutuskan.
Terdengar suara langkah kaki dan obrolan dari ketiga temannya, Jingga mengubah dirinya menjadi bayangan karena tidak mau mendengar ocehan adiknya Bai Niu.
Bai Niu yang masuk pertama langsung mencari-cari keberadaan Jingga.
"Dasar kakak jelek, menyebalkan!" gerutunya dengan posisi berdecak pinggang.
"Awas saja kalau dia pulang, aku remas wajahnya" ancam Bai Niu.
"Sudah Kak, biarkan saja" ucap Putri Qianmei sambil merangkulnya.
Bai Niu menganggukan kepala namun dalam hatinya ia ingin memberikan pelajaran kepada Jingga.
Jingga tidak menampakkan dirinya, ia terus memperhatikan ketiganya sampai malam harinya Jingga keluar kamarnya dan berbaring di atas atap penginapan, menikmati keindahan langit malam yang bertabur bintang berkilauan.
Pikirannya melompat ke berbagai tempat yang pernah ia kunjungi.
"Ada waktunya aku akan kembali ke tanah kelahiranku di benua Majang, aku harap tidak ada lagi peperangan yang terjadi di sana" pikirnya mengenang masa kecilnya yang serba kesusahan karena harus berjibaku dengan suasana perang.
Pikirannya yang tiada batasan terus melompat ke sana kemari sampai ia mengingat pertemuannya dengan Du Dung di kota Yu Chen.
"Oh iya, putri tuan kota Jun, aku harus mencari kepastian tentangnya" gumam Jingga menjawab keresahan hatinya.
__ADS_1
Jingga langsung berkelebat ke istana kekaisaran Fei menemui kaisar Fei Xing.
"Sepertinya kaisar sudah tidur, tapi aku tidak bisa menunggu besok, nanti lupa lagi" gumamnya.
Jingga langsung memasuki kamar sang Kaisar, terlihat seorang kakek tua yang begitu nyenyak dalam tidurnya.
"Kaisar, bangunlah" bisik Jingga di telinganya.
Kaisar Fei Xing langsung terbangun mendengar bisikan dari suara pemuda yang dikenalinya.
"Ada apa nak Jingga menemuiku larut malam begini?" Tanya Kaisar.
"Maaf aku mengganggumu Kaisar, ada seorang gadis, putri dari tuan kota Jun di kota Yu Chen yang tidak aku temukan jasadnya, apakah Kaisar mengetahuinya?" Jawab jingga menanyakannya.
Kaisar yang baru terbangun langsung diam memikirkan kejadian yang sudah lama berlalu.
"Aku tidak begitu yakin apakah dia orangnya, tapi kita lihat saja, ayo kita pergi" ajak Kaisar yang langsung berjalan melewati Jingga.
Jingga mengikutinya dari belakang, Kaisar Fei Xing memasuki pintu rahasia di dalam kamarnya.
Beberapa kali berbelok di dalam lorong rahasia yang begitu berliku dan sangat panjang hingga menembus ke area perbukitan di belakang istana kekaisaran Fei.
Kaisar menghentikan langkahnya tepat di batas lereng bukit.
"Ada desa di balik bukit kedua, dia berada di sana selama ini" ungkap kaisar memberitahunya.
"Terima kasih Kaisar, sebaiknya kaisar kembali ke istana, biar aku yang akan menemuinya sendiri di desa itu" sahut jingga lalu terbang ke arah bukit yang ditunjuk.
Jingga bersandar di salah satu ranting sebuah pohon sampai menjelang pagi. ia mengamati warga desa yang baru memulai aktivitasnya, cukup lama ia mengamati namun gadis yang ditunggunya tidak kunjung menampakkan diri.
Jingga memutuskan untuk mencarinya langsung ke dalam desa tanpa gerbang. Ia berjalan santai menapaki setiap jengkal tanah berbatu di wilayah desa yang sangat sejuk dirasakannya.
Tak lama kemudian, Jingga melihat seorang wanita cantik keluar dari salah satu rumah tidak jauh dari tempatnya berdiri.
"Akhirnya ketemu juga, senang rasanya masih ada warga kota Yu Chen yang selamat" gumam Jingga langsung menghampirinya.
Seorang wanita berusia dua puluhan memperhatikan pria yang menghampirinya dengan begitu lekat. Bulir-bulir airmatanya jatuh tatkala ia mengenali pria yang semakin dekat menghampirinya.
__ADS_1
"Kak Jingga" ucapnya lalu berlari memeluk Jingga yang langsung membalas pelukannya.