
Kini, pertarungan keduanya berlangsung seimbang. Taiyangshen mulai menunjukkan kepiawaiannya dalam pertarungan tanpa senjata.
Bag, bug, bag, bug.
Jual beli serangan ditampilkan dengan cermat dan terampil oleh keduanya. Jingga dan Taiyangshen saling berputar, melontarkan pukulan bertubi-tubi dengan kecepatan tinggi dari pergerakan keduanya.
Tidak hanya pukulan tangan yang intens diperagakan keduanya. Serangan melalui tendangan pun kerap mereka peragakan dengan berbagai teknik yang menakjubkan.
Pertarungan keduanya sangat lincah dan cerdas, seolah keduanya sedang menari di atas medan tempur yang keras.
Jingga dan Taiyangshen saling menyerang dan bertahan, keduanya bergerak dengan kecepatan cahaya dan menggabungkan berbagai teknik bela diri yang mereka kuasai. Tendangan terukur, pukulan mematikan, dan gerakan akrobatik menjadi bagian dari pertarungan yang menegangkan ini.
Jingga memadukan jurus langkah bayangan dengan tarian pedang asura dalam pertarungannya kali ini. Bermodalkan dua jurus andalannya, membuat dirinya masih mendominasi pertarungan. Di sisi lain, Taiyangshen terus merubah metode serangan yang ia peragakan. Meskipun demikian, dirinya masih belum menemukan jurus yang bisa diandalkannya untuk mengimbangi gerakan dari Jingga. Beruntungnya, ia memiliki kecepatan yang dapat menghindari setiap serangan yang dilayangkan oleh sang iblis.
Suhu panas alam dewa semakin menyengat, di mana matahari terus meninggi di langit saat pertarungan ini berlanjut. Keduanya menunjukkan kekuatan fisik dan energi spiritual yang luar biasa seperti tanpa ada batasan dan terpengaruhi oleh sengatan suhu panas yang ekstrem. Aura keduanya memenuhi udara dan gelombang dari peraduan energi keduanya mengisi medan pertarungan.
“Pertarungan seperti ini akan membutuhkan waktu lama untuk menyelesaikannya. Aku ingin lebih dari ini,” kata Taiyangshen di sela pertarungan.
Jingga mengabaikan ucapan Taiyangshen.
“Hiat!” teriak Jingga melayangkan pukulan telak ke wajah Taiyangshen.
Tak ingin kalah, Taiyangshen membalasnya dengan melayangkan pukulan.
Dug!
Benturan kepalan dua tangan terhenti di udara.
Duar!
Ledakan keras dari benturan energi keduanya menciptakan gelombang kejut yang sangat besar. Gelombang energi yang dihasilkan dari keduanya menyeruak ke segala penjuru dan menggetarkan alam dewa.
“Lumayan,” ucap Jingga mendapati kepalan tangan lawannya merupakan bayangan semata.
Ia menyeringai dingin menatap Taiyangshen yang berdiri dalam jarak seratus tombak darinya.
“Apa sulitnya memujiku?” keluh Taiyangshen.
“Kau belum menunjukkan kehebatan apa pun kepadaku. Bahkan, kau harus menggunakan bayanganmu untuk melawanku. Aksi seorang pengecut!” balas Jingga menyindirnya.
“Terserah dirimu saja. Ayolah, waktunya kita serius!” Taiyangshen merentangkan tangan kanan lalu menarik pedangnya yang melesak terbang dari kejauhan.
__ADS_1
“Baik, aku ikuti kemauanmu.” Jingga mengeluarkan Jianhuimie Yuzhou.
Keduanya berdiri tegak di atas tanah kering kerontang dan dipenuhi dengan retakan. Gelombang aura keduanya memenuhi udara dengan tekanan yang sangat besar.
“Majulah!” pinta Jingga mempersilakan lawannya untuk menyerang.
Taiyangshen tersenyum sinis dengan tatapannya yang merendahkan lawan di hadapannya. Mendapati tanggapan yang merendahkan dirinya, Jingga mengambil kesimpulan untuk menyerangnya secara langsung.
“Langkah bayangan!”
Wuzz!
Jingga meluncur cepat membentuk kepulan asap hitam. Pedangnya berayun dengan kilatan yang memancarkan sinar keperakan yang tajam dan memotong udara dengan kekuatan yang dahsyat. Taiyangshen menyipitkan mata memfokuskan pandangannya ke arah pergerakan ayunan pedang. Genggaman pedangnya dieratkan. Ia siap menyongsong serangan yang datang secara cepat dengan kesigapan menangkis ayunan pedang.
Trang!
Kedua bilah pedang berbenturan, menghasilkan dentingan keras dan percikan bunga api yang menyambar udara.
“Kau masih saja fokus pada pedangku,” kata Jingga yang kaki kanannya menginjak kaki kiri dewa matahari. Ia lalu menekannya dengan keras.
“Ah!” jerit dewa matahari dengan melebarkan bola matanya.
Dug! Sret!
Trang, trang, trang!
Denting pedang yang berbenturan terdengar nyaring dan sangat memekakkan telinga. Gelombang energi dari kedua pedang membuat langit kembali bergemuruh dengan keras, dan setiap hentakan kaki keduanya semakin memperbesar retakan tanah.
Jingga terus bergerak dengan kecepatan yang semakin meningkat dari waktu ke waktu. Ayunan pedangnya begitu lentur dan terukur. Namun, Dewa Matahari tidak kalah, ia mampu membalas serangan Jingga dengan meningkatkan inti energi matahari dari dalam tubuhnya.
Pertarungan dewa terkuat melawan iblis terhebat menjadikan alam dewa sebagai saksi nyata pertarungan terbesar di jagat raya.
Tanpa terasa, waktu telah berganti malam. Pertarungan terlihat semakin sengit dengan intensitas yang terus meningkat.
Kuatnya pertahanan dari Taiyangshen membuat Jingga menukar elemen kekuatan dalam tubuhnya. Ia mengganti energi iblis dengan kekuatan jiwanya.
“Chuanguo Yinying!”
Kini, bukan hanya kecepatannya saja yang meningkat puluhan kali lipat. Kekuatannya pun meningkat lebih besar dari sebelumnya.
“Hiat!”
Trang, trang, trang!
__ADS_1
Ayunan pedang Jianhuimie Yuzhou menghantam keras bilah pedang matahari yang menangkisnya. Terlihat, Taiyangshen mulai kewalahan menahan gempuran yang dilayangkan oleh Jingga. Hal itu membuat tangan yang menggenggam erat pedang tak dapat ia rasakan.
“Aku bisa kalah kalau terus menahan gempurannya,” gumam Taiyangshen lalu membentuk tujuh bayangan dirinya dan memutari Jingga dengan sangat cepat.
Ketujuh bayangan dewa matahari menyerang Jingga dengan bersamaan.
Wuzz!
Boom!
Ledakan keras terjadi ketika tujuh bayangan dewa matahari menebaskan pedang ke tubuh Jingga. Namun, Jingga dengan mudah menghindarinya. Ia menghilang sebelum ketujuh ujung pedang mengenai tubuhnya.
“Ide yang sangat baik untuk mengulur waktu dan menghindari seranganku,” puji Jingga untuk pertama kalinya.
Taiyangshen melebarkan sudut bibir mendengarnya lalu menutup kedua matanya. Ia kemudian menggenggam pedang dengan kedua tangan dan ditempatkan erat di dada. cahaya keemasan menyeruak keluar mengelilingi tubuhnya. Namun, aura dewanya menyusut lalu menghilang di udara.
Hei’an Ranshao QI
Cahaya di sekeliling tubuhnya semakin terang dan sangat menyilaukan. Silau dari sinarnya membuat Jingga harus menyipitkan mata sambil memiringkan wajah.
“Kemampuan apa ini? Mataku tak bisa melihat,” keluh Jingga yang terpaksa harus menutup kedua matanya karena silau.
Wuzz!
Boom!
Taiyangshen berhasil memberikan kejutan dengan serangan kilatnya. Jingga terlempar jauh terkena serangan cepat tersebut. Belum sampai terjatuh menyentuh tanah, jingga kembali bangkit, namun ia masih tidak dapat membuka kedua matanya. Serangan cepat kembali dilayangkan oleh Taiyangshen yang tidak ingin memberi kesempatan Jingga untuk membalas serangannya.
Boom!
Kali ini Jingga bisa menghindarinya. Biarpun begitu, ia masih belum dapat membuka mata. Silau cahaya semakin menggelapkan pandangannya. Jingga berpindah-pindah tempat menghindari serangan Taiyangshen dengan nalurinya.
Ledakan demi ledakan terus terdengar dari serangan energi yang dilemparkan oleh Taiyangshen. Jingga terus menghindarinya dengan cepat. Namun, ia berkali-kali juga harus jatuh bangun terkena serangan brutal yang dilayangkan oleh Taiyangshen.
“Sialan, aku dipermainkan!” rutuk Jingga lalu memutar tubuhnya.
Longjuanfeng
Seperti gasing, tubuh Jingga berputar cepat membentuk angin beliung dengan kobaran api besar di sekelilingnya. Upayanya berhasil membuat Taiyangshen menghentikan serangannya. Namun, masalah besar harus kembali dihadapi oleh Jingga. Sang dewa matahari mengangkat pedangnya ke atas langit dengan kedua tangan yang menggenggam. Muncul bola energi yang berputar cepat dari ujung pedang.
Tidak ada serangan lanjutan dari Taiyangshen membuat Jingga menghentikan aksinya.
"Apa lagi yang dia lakukan?" gumam Jingga menerkanya.
__ADS_1
Ia masih tidak bisa membuka mata karena terhalang oleh cahaya dari tubuh Dewa Matahari yang sangat menyilaukan.