Takdir Pedang Sang Iblis

Takdir Pedang Sang Iblis
Matahari Tandingan


__ADS_3


Kini, semua arah mata angin dipenuhi oleh ribuan orang dari berbagai golongan.


Jingga yang memperhatikannya begitu takjub akan pengaruh keberadaan dirinya di alam dewa.


Ia pun merentangkan kedua tangannya dengan wajah yang terdongak ke atas dan kedua mata yang tertutup.  Dihirupnya udara dengan begitu dalam lalu dihembuskannya kembali secara perlahan. Setelah itu, ia kembali ke posisi semula.


Bai Niu dan Qianmei yang berada di kedua sisinya menatap penuh tanya.


“Tidakkah kalian menyadari, betapa terkenalnya aku di alam semesta ini? Sungguh, tidak sekalipun aku menduganya,” ucap Jingga mengungkapkan perasaannya.


Bai Niu dan Qianmei berkali-kali menganggukkan kepala. Keduanya lalu mengikuti apa yang sebelumnya dilakukan oleh Jingga. Setelah membuka mata, Bai Niu dan Qianmei berujar, “Tidakkah Kakak sadari, betapa bahagianya kami bisa mendampingi Kakak sampai ke tahap ini? Sungguh, tidak sekalipun kami menduganya.”


Jingga menepuk keningnya sendiri lalu merangkul keduanya. Pemandangan yang begitu kontras dengan keadaan yang seharusnya membuat ketiganya merasakan kecemasan.


Setelah itu, Jingga kembali menatap kubu para dewa yang berada di atasnya.


“Hei, apakah kalian akan terus seperti itu? Bisakah aku menanyakan satu hal?” ucap Jingga kepada para dewa di atasnya.


“Silakan, Iblis Muda!” Dewa Matahari mengizinkannya.


“Dengan banyaknya calon mayat di sekeliling kami, apakah kalian berniat untuk mengosongkan alam dewa dan menggantikannya dengan bangsa iblis? Kalau memang seperti itu, aku akan mempercepat kematian kalian, sehingga aku bisa memanggil para iblis untuk menempatinya,” kata Jingga menanyakan dengan sebuah kesimpulan.


Sontak saja, pertanyaan dari Jingga membuat semua mata terbelalak tidak mempercayainya. Mereka semua merasa geram dengan pertanyaan konyol yang dilayangkan olehnya.


“Konyol sekali pertanyaanmu, Iblis Muda,” kata Kaisar Langit berkomentar.


Dewa Matahari mengerutkan dahi. Ia tampak tidak suka melihat sang kaisar berkomentar tanpa izin darinya. 


“Apa kau ingin memimpin pertarungan ini?” tanya Dewa Matahari kepada Kaisar Langit.


Sang Kaisar sedikit gugup untuk menjawabnya, ia tahu tanpa kehadiran Dewa Matahari, tujuannya untuk membinasakan Jingga akan sia-sia belaka. Dengan terpaksa ia pun menurunkan ego dan bersikap lembut kepadanya.


“Maafkan aku, Dewa,” ucapnya lirih.


“Ha-ha-ha,” tawa keras Jingga melihat kejanggalan di atasnya.


“Apa yang kau tertawakan, Iblis Muda?” tegur Dewa Matahari.


“Kalian bangsa yang lucu. Aku pikir Kaisar Langit merupakan penguasa alam dewa. Ternyata dia malah tunduk pada seorang dewa yang gagal menjaga istri dan selingkuhannya,” jawab Jingga yang langsung membungkam mulutnya karena kelepasan mengatakannya.


Degh!


Xian Hou yang mengamatinya dari alam peri terkejut bukan main. Ternyata selama ini, Jingga telah mengetahui masa lalunya. Ia pun menangis histeris di alam peri.

__ADS_1


Bai Niu dan Qianmei saling melirik tidak memahami apa yang dikatakan oleh Jingga. Keduanya saling lirik lalu mengangkat bahu.


Sebaliknya, Dewa Matahari langsung pucat-pasi mendengarnya. Kejadian masa lampau yang tertutup rapat bisa terungkap oleh seorang iblis muda yang baru saja dilihatnya.


“Ba-bagaimana kau bisa mengetahui hal yang sudah terkubur sejak lama?” tanya Dewa Matahari begitu penasaran.


Nasi sudah menjadi bubur, Jingga tidak mungkin mengembalikan kata-katanya yang telah meluncur keluar dan didengarkan oleh banyak orang. Ia terdiam sejenak lalu menjawabnya, “Karena istrimu sekarang menjadi istriku.”


Degh!


Bagai meteor yang jatuh menghantam alam. Semua orang yang mendengarnya begitu terkejut dengan pernyataan yang dilontarkan oleh Jingga. Bagaimana bisa istri dari seorang dewa yang diagungkan oleh semua makhluk di alam dewa bisa menjadi istri dari seorang iblis yang menjadi buruan sealam dewa? Berbagai pertanyaan dan opini menyeruak di masing-masing benak semua orang.


Tidak terkecuali dengan Bai Niu dan Qianmei yang mendengarnya. Keduanya tampak begitu syok mengetahui fakta yang terungkap.


Keributan tak terhindarkan dari tiga mata arah angin. Hanya kubu beast monster saja yang tidak peduli akan hal itu. 


Melihat kondisi yang terjadi, Dewa Matahari pun tersulut emosi karena harus menanggung malu. Ia yang awalnya terlihat begitu berwibawa, kini berbalik 360 derajat. Ia hanya dianggap sebagai seorang lelaki yang gagal dalam hubungan percintaan. 


“Diam kalian semua!” teriak Dewa Matahari lalu meningkatkan suhu panas.


Tidak sedikit para pasukan istana langit yang terbakar oleh panasnya suhu udara yang diciptakan dari energi matahari yang menyeruak dari tubuh sang dewa matahari.


Para tetua sekte dan klan langsung membuat perisai pelindung untuk menjaga para murid dari panasnya suhu udara. Sedangkan para beast monster tidak begitu terpengaruh oleh panasnya udara, mereka memiliki daya tahan alami dari suhu ekstrim.


Setelahnya, suasana menjadi hening. Tidak ada satu pun yang berani bersuara. Mereka tahu resiko yang akan dihadapi ketika membuat sang dewa matahari murka.


Jingga tersenyum lalu berkata, “Enak saja kau masih memanggilnya istri. Dia itu istriku. Untuk apa kau ingin mengetahuinya?”


“Katakan saja di mana dia berada? Maka akan kuampuni dirimu.”


“Apa kau sedang bernegosiasi denganku? Lagian, aku tidak butuh ampunanmu. Huh!”


“Kau jangan menyulut kemarahanku atau aku musnahkan dirimu dan seluruh bangsa iblis.”


“Ha-ha. Kenapa kau begitu panik, Dewa Pecundang?”


“Aku tidak akan memintanya lagi, katakan atau kuhancurkan dirimu?”


“Apa kau memaksaku, Dewa Pecundang?”


“Kurang ajar! Kubunuh kau!” 


“Kau mau menghancurkanku atau membunuhku? Jangan plin-plan!”


“Ha!”

__ADS_1


Dewa Matahari tidak tahan lagi mendengar perkataan Jingga. Ia lalu mengangkat kedua tangannya ke atas langit. Sejurus kemudian, muncul bola api keemasan dari telapak tangannya yang terbuka. Bola api bersuhu sangat panas tersebut terus membesar dengan cepat.


Kaisar Langit gemetar melihatnya, ia tahu dampak dari lemparan bola api yang dikenal dengan sebutan matahari tandingan, bisa membuat setengah alam dewa terbakar habis. Ia lalu berlutut di depan dewa matahari.


“Taiyangshen, tolong hentikan! Matahari Tandingan bisa membakar setengah alam dewa,” pintanya dengan penuh harap.


Melihat Kaisar Langit sampai berlutut memohon, membuat semua cultivator mengikutinya. Namun, sang dewa tidak mengindahkannya. Ia terus memperbesar bola api hingga berukuran sebuah bukit yang sangat besar.


“Kalian berdua masuklah ke alam jiwa!” pinta Jingga pada kedua adiknya.


“Tidak, Kak. Aku butuh menguji ketahanan tubuhku,” sahut Qianmei menolaknya.


"Elemen api masih dapat kutahan, bolehkah aku tetap berada di sini?" sambung Bai Niu meminta izin.


"Ya sudah, tapi kalian harus saling menjaga," kata Jingga mengizinkannya.


"Baik, Kak," sahut keduanya serentak.


Setelahnya, Jingga mengalihkan pandangan ke arah Jirex yang berdiri tenang memperhatikan bola api di atasnya.


“Jirex!” panggil Jingga.


“Iya, Kak,” sahut Jirex lalu menolehnya.


“Apakah semua beasts monster bisa bertahan dari panas api bersuhu tinggi?” tanya Jingga ingin memastikan.


“Tentu bisa, Kak. Aku melatih mereka semua dari instruksi yang diberikan oleh Kak Zilla,” jawab Jirex meyakinkannya.


“Bagus. Sekarang bersiaplah!”


Jirex mengangguk lalu berjalan memberikan komando kepada para beasts beruang hitam untuk mempersiapkan diri.


Kini, semua makhluk dari empat penjuru mata angin berlutut meminta Dewa Matahari untuk menghentikan upayanya menyerang Jingga dengan Matahari Tandingan. Mereka tahu, hal itu akan berdampak sangat fatal bagi kehidupan di alam dewa.


Lagi-lagi, Dewa Matahari tidak bergeming dengan upaya para penghuni alam dewa. Ia terus saja memperbesar ukuran bola api hingga maksimal. 


Di sisi lain, Xian Hou yang terus menangis akhirnya memutuskan untuk keluar dari alam peri. Ia berniat untuk menghentikan perseteruan antara suaminya Jingga dengan mantan suaminya, Taiyangshen.


Setelah keluar dari alam peri, Xian Hou dikejutkan oleh Taiyangshen yang sedang menciptakan matahari tandingan. 


“Hentikan!” pekik lantang Xian Hou memintanya.


Mendengar suara gadis yang dikenalnya, membuat Taiyangshen akhirnya menghentikan aliran energinya.


“Akhirnya kau muncul juga, istriku. Katakan, kenapa kau meninggalkanku, dan kenapa kau bisa sampai menikah dengan seorang iblis?” Taiyangshen melontarkan pertanyaan.

__ADS_1


Xian Hou tidak langsung menjawabnya. Ia menunduk untuk menenangkan diri. Setelah merasa cukup nyaman, ia lalu mendongakkan kembali wajahnya.


“Tanyakan saja kepada dirimu, aku tidak peduli!” tegas Xian Hou menjawabnya


__ADS_2