Takdir Pedang Sang Iblis

Takdir Pedang Sang Iblis
Sandiwara Neng Asih


__ADS_3

"Apa betul yang dikatakan oleh kepala kampung?" Tanya kakek Mamat dengan sorot mata yang tajam.


"Bohong, Abah. Yang terjadi sebenarnya adalah para pemuda menyerang kami di perkebunan" jawab neng Asih menyanggahnya.


"Ha ha ha, kau bisa berkelit, tapi kami punya banyak saksi, sebaiknya kalian berdua segera pergi meninggalkan kampung Selendangkasih. Kami tidak sudi tinggal bersama orang berkelakuan bejat seperti kalian" potong pak Agus mengusirnya.


Jingga begitu kesal mendengarnya, ia langsung melangkah maju ke arah kerumunan warga kampung.


"Tanpa diusir pun aku akan pergi dari kampung ini, tapi kau jangan sembarangan menuduh kami melakukan perbuatan kotor. Kalau sampai Bi Asih terusir dari kampung, aku akan membunuh kalian semua" ujar Jingga mengancamnya.


"Ha ha ha, kau anak muda berani mengancam kami. Memangnya siapa dirimu?" Kelakar tawa pak Agus menanggapi ucapannya Jingga.


"Siapa pun diriku itu tidak penting. Perlu kau tahu, aku paling benci ditertawakan" balas Jingga lalu berkelebat mengambil golok dari tangan pak Agus.


Sret!


Leher pak Agus menganga terkena tebasan goloknya sendiri. Walau tidak memiliki energi spiritual. Jingga memiliki kemampuan bertarung dengan menggunakan tenaga fisik murni ketika menjadi murid pendekar bayangan.


Bruk!


Tubuh pak Agus terjatuh ke tanah dan langsung mati seketika. Semua warga yang melihatnya begitu terperangah, mereka tidak melihat kapan Jingga menebas kepala kampung. Kejadiannya begitu cepat.


Jingga menjilati bilah golok yang dipenuhi darah dan menatap semua warga dengan tatapannya yang mengerikan.


"Majulah!" Tantang Jingga kepada semua orang di depannya.


Asep yang daritadi bergetar melihat ayahnya mati begitu mengenaskan langsung mengeluarkan goloknya dan menatap Jingga dengan tajam.


"Jingga, tolong hentikan!" Pinta kakek Mamat yang tidak mau ada korban berikutnya.


Jingga langsung berbalik ke arah rumah, namun Asep yang sudah dipenuhi amarah langsung berlari melayangkan goloknya menebas Jingga yang membelakanginya.


"Hiaat!" Teriak Asep melompat untuk menebaskan goloknya.


"Kakang!" Jerit neng Asih berlari ke arahnya.


Jingga yang begitu tenang tidak mempedulikan jeritan neng Asih yang ingin menolongnya. Ia langsung menggeser tubuhnya menyamping menghindari tebasan Asep yang tidak berhasil mengenainya.


Asep terhuyung ke depan, ia melihat neng Asih semakin mendekatinya. Asep lalu menebaskan golok ke arah kepala neng Asih, namun Jingga langsung memotong tangan Asep dengan sangat cepat.


Buk!


Tangan Asep yang sedang menggenggam golok langsung jatuh ke tanah.

__ADS_1


"Aah!" Ringis kesakitan Asep baru menyadari lengannya terputus.


Tidak ada satu orang pun yang melihat siapa yang memotong tangan Asep, bahkan Kakek Mamat yang berhadapan langsung dengan Asep tidak melihatnya.


Sret!


Jingga menyayat leher Asep yang masih menjerit kesakitan, tak berlangsung lama. Asep pun mati menyusul ayahnya.


Lagi-lagi tidak ada yang bisa melihatnya, semua orang terperangah dengan apa yang terjadi pada Asep yang langsung tidak bersuara.


Kakek Mamat yang merupakan jawara kampung begitu merinding melihat kematian Asep yang mengenaskan.


Neng Asih langsung memeluk Jingga, ia begitu khawatir dengan pemuda yang begitu disukainya.


"Kakang tidak apa-apa?" Tanya neng Asih.


Jingga menggeleng pelan menjawabnya, ia lalu menghampiri kakek Mamat yang daritadi terdiam, tampak tubuhnya masih bergetar.


"Kakek" panggil Jingga.


"Oh iya maaf. Kakek baru kali ini merasa ketakutan" sahut kakek Mamat mengatakannya.


Jingga dan neng Asih kembali berbalik menghadap para warga yang begitu hening tidak bersuara.


Kakek Mamat lalu berjalan menghampiri para warga yang diam mematung.


Tidak ada satu pun warga kampung yang berani berbicara, mereka semua langsung melirik keempat pemuda yang mengajaknya.


Keempatnya adalah Ucup Kobra, Udin Petot, Akew Gembrot dan Jorekalong yang menggigil ketakutan.


Kakek Mamat meminta keempatnya maju menghadapnya.


Sambil menunduk, keempat pemuda menghampiri kakek Mamat.


"Bicaralah!" Pinta kakek Mamat dengan tegas.


"Kami semua diminta oleh Asep untuk membunuh pemuda itu di perkebunan, karena digagalkan oleh Neng Asih. Asep melaporkan kejadian pada pak Agus dan mengatakan kalau kami memergoki Neng Asih berbuat mesum di perkebunan" ungkap Ucup menjelaskannya.


"Huu!" Cemooh para warga yang mendengar pengakuannya.


"Tenang semuanya, yang penting kita tahu akar masalahnya" pinta kakek Mamat menenangkan warga.


"Terima kasih kau telah jujur, sekarang bawalah jasad pak Agus dan anaknya ke rumahnya. Besok pagi kita akan menguburkan keduanya" ujar kakek Mamat lalu membubarkan kerumunan warga kampung.

__ADS_1


"Baik, Abah" balas keempat pemuda lalu menggotong jasad pak Agus dan Asep dengan tandu yang dibuatkan oleh kakek Mamat.


Suasana kembali hening, Jingga sekarang berada di tikar dalam rumah sambil merebahkan tubuhnya.


Tak lama kemudian, Asih keluar dari kamarnya dengan tatapan genit dan menggigit bibir menggoda pemuda yang sedang melamun memperhatikan langit-langit rumah.


"Kakang belum tidur? Bolehkah Asih temani Kakang?" Tanya Asih yang sengaja membuka sedikit kain bagian atas yang menampakkan sesuatu miliknya.


Jingga meliriknya dengan menyipitkan mata melihat wanita muda menghampirinya.


"Boleh, silakan Bi" sahut Jingga lalu duduk bersandar pada dinding bambu.


Neng Asih langsung saja duduk menyandarkan kepalanya di bahu Jingga. Tangannya yang nakal terus saja bergerak di tubuh Jingga.


"Bi Asih, maaf. Ini tidak baik, aku akan menyesal telah membunuh kedua pria karena menuduhku berbuat kotor kalau Bi Asih terus menggodaku seperti itu" ucap Jingga sambil menghempaskan tangan neng Asih.


Tidak menyerah, Neng Asih semakin melebarkan pakaiannya hingga tampak jelas terlihat sesuatu miliknya. Jingga langsung membuang muka ke arah lain.


Kesal karena ditolak oleh pemuda yang disukainya, Neng Asih lalu merobek pakaiannya sendiri.


"Abah, tolong!" Pekiknya dengan keras.


Kakek Mamat dan Rizal sontak saja terbangun, keduanya lalu berlari keluar kamar melihat Neng Asih yang duduk dipojokan sambil menangis.


Jingga yang pernah menghadapi situasi ini terlihat begitu tenang, ia masih duduk bersandar memperhatikan neng Asih yang sedang bersandiwara.


"Neng Asih, kau kenapa?" Tanya kakek Mamat penasaran.


"Hiks, hiks, hiks. Abah. Kang Jingga memperkosa Asih" jawabnya sambil menangis.


Kakek Mamat yang mengetahui anak perempuannya bersandiwara langsung berjongkok di hadapannya.


"Caramu kurang greget Neng. Harusnya lebih mendramatisir, sudahlah. Kembali ke kamarmu" balas kakek Mamat mengetahui sandiwaranya.


Asih lalu berdiri dan menghentakkan kakinya, dengan kesal ia langsung mendorong anaknya Rizal yang tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada ibunya.


"Sekali lagi Kakek meminta maaf padamu, maafkan putriku" ujarnya memohon maaf.


"Tidak apa-apa, sepertinya Kakek harus segera menemukan menantu baru" balas Jingga.


"Oh iya, Kek. Besok pagi aku akan pergi mencari portal dimensi. Apakah Kakek tahu di mana aku bisa menemukannya?" Imbuh Jingga menanyakan.


"Mungkin maksudmu artefak kuno para dewa. Kau bisa mencarinya di lembah Anggrek Darah, di sana terdapat peninggalan kerajaan Pratamta yang pernah dibangun oleh Penguasa Alam Semesta, dulu hampir semua wilayah Tanah Para Dewa berada di bawah kepemimpinan Ratu Kim Hafnium sampai dilanjutkan oleh putranya yang cantik" jawab kakek Mamat mengingatkannya pada masa kejayaan tanah kelahirannya.

__ADS_1


Jingga mengerutkan keningnya, ia merasa heran dengan ucapan kakek Mamat.


"Aku pernah mendengar kisah tentang Penguasa Alam Semesta, tapi aku heran dengan ucapan terakhir Kakek yang mengatakan putra cantik, kalau seorang putri cantik itu wajar. Apakah Kakek salah menyebutnya?" balas Jingga begitu heran mempertanyakannya.


__ADS_2