Takdir Pedang Sang Iblis

Takdir Pedang Sang Iblis
Alam Sutera


__ADS_3


Mereka berputar dengan menjulurkan senjata tajam berbahan kayu yang memiliki ujung runcing berwarna hitam.


“Mereka menggunakan racun ular, sepertinya manis,” kata Qianmei setelah mengamati.


“Iya, rasanya memang manis, tapi terasa pahit dan menyakitkan jika terkena Naninu,” balas Jingga yang langsung melirik Bai Niu.


“Kalian berdua orang yang aneh, mana ada racun yang enak?” timpal Bai Niu keheranan.


Dua orang makhluk aneh berjalan mendekati ketiganya dengan tombak yang diarahkan ke leher Jingga.


“Hei! Kenapa cuma aku saja yang kalian todong?” protes Jingga.


“Katakan! Kalian berasal dari mana?” tanya makhluk berkepala kucing hitam dengan tegas sambil menempelkan ujung tombak ke leher Jingga.


“Meoong,” jawab Jingga sekenanya.


“Kurang ajar!” geram makhluk berkepala kucing lalu menancapkan ujung tombak.


KRAK!


“Hah!” kaget pria aneh berkepala kucing mendapati tombaknya hancur.


Jingga meliriknya dengan raut wajah malas. Sedangkan kedua adiknya tampak sibuk menutupi mulut, berusaha menahan tawa yang akan meledak.


“Tuan-Tuan Setengah, di manakah kami berada sekarang?” tanya Jingga ingin tahu.


“Kalian ada di pinggir danau,” jawab makhluk berkepala ayam begitu polos.


“Ya ampun!” kesal Jingga sambil geleng-geleng kepala.


“Ha-ha-ha!”


Bai Niu dan Qianmei yang sedari tadi menahan tawa, pada akhirnya terpingkal-pingkal sambil berlutut. Sementara itu, makhluk-makhluk aneh yang mengelilingi ketiganya terbelalak heran dengan mulut yang menganga.


"Aku tanya sekali lagi, tempat apa ini?" Jingga menatap tajam kedua makhluk aneh di depannya.


"Kalian berada di Alam Sutera. Sekarang, kalian ikuti kami menemui Ratu!" jawab makhluk kepala kucing.

__ADS_1


"Alam Sutera? Nama yang aneh," gumam Jingga menanggapinya.


Terlepas dari nama yang asing di telinganya, Jingga bersama kedua adiknya berjalan mengikuti rombongan makhluk aneh memasuki ke dalam hutan yang suasananya sangat jauh berbeda dari alam fana maupun alam dewa.


Di sepanjang perjalanan yang dilalui, tak jarang, Jingga menemukan keberadaan peri-peri yang beterbangan di atasnya. Beberapa hewan kecil berbentuk aneh pun banyak berseliweran di antara pepohonan besar yang menjulang ke langit. Perasaan damai dan menenangkan terus mengiringi langkah ketiganya.


"Kak, apakah alam ini sebuah ilusi?" tanya Bai Niu yang matanya terus berputar memperhatikan keindahan alam di sekitarnya.


"Aku belum bisa memastikannya. Namun, di alam ini hanya memiliki energi murni. Berbanding terbalik dengan energi yang terpancar dari makhluk-makhluk aneh yang mendiaminya, terkecuali para peri cantik yang terus mengikuti kita," kata Jingga terus mengamati sekitarnya.


Sementara di samping keduanya, Qianmei tampak sedikit pucat. Ia merasakan keanehan dalam tubuhnya yang seolah menolak energi murni di sekitarnya.


"Memimu, kamu kenapa?" tanya Jingga memperhatikannya.


"Aku tidak tahu, Kak. Energi di sini membuatku mual," ucap Qianmei memberi tahu.


"Apa kamu bisa menahannya?" 


"Bisa, Kak."


Jingga melirik Bai Niu lalu memintanya untuk terus memperhatikan kondisi Qianmei.


Cukup lama mereka berjalan menelusuri hutan yang sangat luas. Tiba-tiba saja, para makhluk aneh menghentikan langkah di depan sebuah pohon yang sangat besar diameternya. Tak lama kemudian, sebuah lubang muncul dari kulit pohon dan terus membesar menciptakan portal menuju tempat terbuka di dalamnya. Para makhluk itu pun memasukinya diikuti Jingga dan kedua adiknya.


Tampak terlihat keberadaan sebuah kota yang sangat elok. Hampir semua bentuk bangunannya berbentuk bundar menyerupai jamur dengan berbagai corak berwarna-warni  yang menghiasinya. Di antara bangunan yang berdiri tersebut, ada satu bangunan paling besar yang sangat cantik di tengahnya.


"Sepertinya yang paling besar itu merupakan kediaman sang ratu. Aku penasaran, makhluk jenis apa yang menjadi ratu di alam ini," ucap Bai Niu menerka.


Beberapa langkah kemudian, makhluk-makhluk aneh yang berjalan membawa Jingga mulai berpencar ke segala arah dengan hanya menyisakan makhluk kepala kucing dan ayam yang masih berjalan lurus ke arah pintu bangunan besar lalu memasukinya.


Di dalamnya tampak puluhan makhluk dari berbagai jenis hewan terlihat begitu serius mendengarkan perkataan dari seorang gadis cantik bermahkota di kepala dan bertubuh ular berwarna hijau di setengah bagian tubuh bawahnya.


Makhluk berkepala kucing dan ayam menghentikan langkah lalu berlutut di hadapan sang gadis. 


"Hormat, Yang Mulia. Kami membawa ketiga orang yang tersesat di Danau Biru," ujar makhluk kepala kucing hitam melaporkan.


"Terima kasih, kalian berdua sudah melaporkan dan membawa mereka ke sini," balas sang gadis lalu melata mendekati ketiga orang tersebut.


"Kalian bertiga sangat unik, yang satu seorang iblis, satu lagi seorang dewi, dan kau …." Sang Gadis memindai Qianmei dari ujung kepala sampai ujung kaki.

__ADS_1


"Makhluk apa kau ini? Kenapa auramu begitu aneh?" Sang Gadis tidak bisa mengetahuinya.


"Ah, itu tidak penting. Karena kalian akan menjadi penghuni alam ini untuk selamanya. Ha-ha-ha," kekeh sang gadis lalu beralih ke arah Jingga dengan menjulurkan lidah panjang bercagak kemudian mengelus-elus lembut wajah pemuda di depannya.


"Nona, mengapa hanya dirimu sendiri yang berbeda dengan makhluk-makhluk lainnya?" tanya Jingga penasaran.


"Kau cukup tampan, aku menyukaimu," kata sang gadis mengabaikan pertanyaan pemuda di depannya.


"Dasar betina!" gerutu Jingga sedikit kesal dibuatnya.


"Namaku, Jinnie. Aku adalah Ratu Alam Sutera dan aku ucapkan, selamat datang di kerajaanku. Ha-ha!" imbuhnya.


Jingga dan kedua adiknya mendengus kesal. Perkataan Ratu Jinnie sangat memuakkan bagi ketiganya. Beberapa hela napas kemudian, Jingga melebarkan bibir mengingat suatu hal terkait makhluk-makhluk aneh yang mendiami alam Sutera.


"Aku baru ingat, kalian semua merupakan siluman dari alam fana. Tapi aku penasaran, bagaimana kalian semua bisa berada di sini? Bisakah, Nona menceritakannya?" Kata Jingga mempertanyakan.


"Tidak penting kalian mengetahuinya, kami semua hidup bahagia di alam ini. Kami tidak perlu lagi mengganggu manusia alam fana. Alam ini adalah surga bagi bangsa kami," ujar sang ratu menolak menceritakannya.


"Kau berbohong, Nona. Alam ini adalah penjara bagi bangsa siluman. Naluri kalian yang merupakan siluman tidak bisa membantahnya. Aku akan percaya jika yang mengatakannya adalah manusia alam fana. Ha-ha!" timpal Jingga.


Ratu Jinnie menatap Jingga dengan sorot mata yang tajam. Tampak kemarahan terukir dari raut wajahnya yang berubah merah dan wajah sedikit dimiringkan.


"Kau benar. Kehidupan seperti ini bukanlah yang kami inginkan, …, kami kehilangan jati diri kami sebagai siluman," ujarnya dengan nada dingin.


“Lalu, kenapa kalian tidak pergi meninggalkan alam ini?” 


“Huh!” dengus sang ratu, “entah sudah berapa ribu kali kami mencari jalan keluar dari alam ini. Akan tetapi, semuanya sia-sia belaka.”


“Aku keluar dari portal dimensi yang berada di dasar danau. Apa kalian tidak pernah mencoba menyelami danau?”


“Ha-ha-ha. Apa kau menganggap bangsa kami ini bodoh?”


“Ya, kalian bangsa yang bodoh. Kau sendiri aneh, dari tadi tidak pernah memahami inti dari setiap pertanyaanku. Bukankah itu kebodohan?”


Ratu Jinnie terkekeh lalu mendekatkan wajahnya nyaris bersentuhan dengan wajah Jingga.


“Aku akan mengaku bodoh jika saja kau bisa menemukan jalan keluar.” Ratu Jinnie memberikan tantangan.


“Kau tidak perlu menantangku, aku pasti akan mencarinya sendiri…. Dan maaf saja, aku tidak ingin berurusan dengan makhluk terlemah di semesta seperti kalian.” Jingga lalu mendorong wajah Ratu untuk menjauhinya.

__ADS_1


“Naninu, Memimu. Ayo kita tinggalkan tempat ini!” 


Jingga kemudian terbang bersama kedua adiknya mencari jalan keluar meninggalkan alam Sutera.


__ADS_2