Takdir Pedang Sang Iblis

Takdir Pedang Sang Iblis
Ujian Kelayakan


__ADS_3

"Suatu kehormatan untukku bisa menjadi guru sihirmu, terima kasih, Yang Mulia" ucap kakek Wu Yao.


Jingga menatapnya dengan penuh hormat, ia tidak mempermasalahkan ucapan berlebih dari guru barunya yang akan mengajarinya ilmu sihir.


"Mari ikut Kakek ke dalam, maaf suasana rumah Kakek kurang menyeramkan. Semoga kalian kerasan tinggal di rumah yang sederhana ini" tuturnya begitu merendah mengajak kedua muridnya.


Jingga dan Xinxin memasuki rumah sederhana yang terbuat dari tulang belulang tubuh manusia dan monster dihiasi oleh berbagai kepala tengkorak membuatnya terlihat begitu unik.


"Kakek, kenapa rumahnya menjadi begitu bersih? Harusnya lebih banyak lagi darah yang menetes di atap dan berserakan di lantai" protes Xinxin kurang menyukainya.


Kakek Wu Yao menghempaskan napasnya mendengar perkataan muridnya.


"Kau tahu, Kakek sudah lama tidak lagi berurusan dengan semua itu, jadi wajar kalau semua koleksi Kakek berangsur menyusut seiring waktunya" kilah kakek Wu Yao.


"Jangan katakan Kakek juga berhenti membuat ramuan obat, aku selalu memastikan pengiriman darah untuk Kakek berjalan lancar sesuai jadwal"


"Ha ha ha, kau tenang saja Xin'er, justru itu yang menjadi kegiatan Kakek sehari-harinya"


"Oh iya, Kakek sudah menemukan formula khusus untuk menumbuhkan tubuh iblis yang rusak, ke depannya kita tidak perlu lagi ketergantungan dengan tubuh bangsa manusia sebagai pengganti" ujar kakek Wu Yao memberitahunya.


"Betulkah Kek? Tapi sayangnya, itu tidak bisa menyelamatkan keluargaku yang telah mati"


Kakek Wu Yao begitu terperangah mendengarnya, ia menatap Xinxin dengan lekat mempertanyakannya, Xinxin langsung melirik Jingga yang daritadi diam saja memperhatikan suasana rumah gurunya.


Mengetahui penyebab kematian keluarga Xinxin adalah Jingga, kakek Wu Yao tidak berkomentar apa pun. Ia langsung mengajak kedua muridnya ke dalam sebuah ruang kamar yang dipenuhi oleh potongan kepala berbagai jenis iblis yang dijadikannya sebagai obyek penguji ramuan yang diciptakannya.


"Yang Mulia, mohon tunggu sebentar, hamba akan mempersiapkan ramuan untuk membuat pondasi sihir" pinta kakek Wu Yao lalu menarik tangan Xinxin untuk membantunya.


Jingga mengangguk lalu bermeditasi di dalam kamar, kakek Wu Yao bersama dengan Xinxin pergi ke area lain di dalam rumah untuk membuatkan ramuan yang akan digunakan oleh Jingga dalam membuat pondasi sihir.


"Xin'er, pergilah ke pasar. Bawakan Kakek beberapa bahan untuk melengkapi ramuan" pinta kakek Wu Yao lalu memberikan catatan kepada muridnya.


"Baik, Kek" balas Xinxin lalu melesat terbang ke udara.


Tak lama kemudian Xinxin sudah kembali dari pasar, ia langsung menyerahkan berbagai bahan untuk melengkapi ramuan yang diminta kakek gurunya.


"Kau temanilah Yang Mulia, Kakek perlu waktu cukup lama untuk membuatnya"

__ADS_1


"Baik" balas Xinxin lalu berbalik pergi meninggalkannya.


Cukup lama kakek Wu Yao mempersiapkan ramuan, tanpa mengenal letih ia terus mengalirkan energinya ke sebuah tungku yang terus bergolak memasak ramuan.


Boom!


Sebuah pil hitam melayang ke udara, tampak segaris senyum merekah di bibir kakek Wu Yao. Ia berhasil membuat pil iblis Neraka.


Setelahnya ia memanggil Jingga dan Xinxin ke tempatnya berada.


"Hamba berhasil membuat pil iblis Neraka, sebelum Yang Mulia menelannya. Hamba akan membawa Yang Mulia ke suatu tempat untuk berlatih" ucapnya.


Kakek Wu Yao mengeluarkan sebuah artefak kuno yang berbentuk sebuah cermin dengan ukiran kepala iblis. Ia langsung mengalirkan energi ibilisnya ke dalam cermin.


Wuzz!


Cermin melayang ke udara dan menciptaan sebuah lubang dimensi ke suatu alam.


"Cepatlah, portal dimensi akan tertutup sebentar lagi" ucap kakek Wu Yao mengingatkannya.


Jingga pertama kalinya melihat keberadaan hutan yang begitu rimbun. Ia bahkan melihat keberadaan bulan dan bintang di langit.


"Kakek, apakah ini alam fana?" Tanya Jingga.


"Ya, tepatnya kita berada di benua Majang. Alam di benua ini sangat baik untuk berlatih sihir, sudah dari ribuan tahun silam, kami para iblis penyihir menjadikan tempat ini sebagai pusat pelatihan sihir, tidak ada kultivator alam fana yang tinggal di benua ini" ujar kakek Wu Yao menjelaskannya.


Jingga yang mendengarnya begitu terperangah, benua Majang merupakan tempat asalnya. Ia begitu senang bisa kembali ke tahan kelahirannya, walau tidak tahu tepatnya ia berada di wilayah mana. Sedangkan Xinxin merasa sesuatu yang janggal dari kakek gurunya, namun ia diam saja.


"Yang Mulia tampak begitu senang, apakah Yang Mulia berasal dari benua ini?" Tanya kakek Wu Yao.


Jingga tersenyum mendengar pertanyaan dari gurunya lalu menjawab,


"Betul, aku berasal dari benua ini. Tapi hanya beberapa tahun saja dari aku lahir sampai aku bertemu dengan seseorang yang membawaku ke benua Matahari hingga akhirnya aku bertemu dengan Yuangu Mowang yang menjadikanku seorang iblis"


"Oh iya Kek, kenapa energi iblis begitu pekat di sini?" Imbuhnya bertanya.


"Kami menciptakan aray ilusi iblis yang menutupi area hutan ini, menghilangkan jejak keberadaan kami dari bangsa dewa dan juga para pendekar yang melintasinya" jawab kakek Wu Yao.

__ADS_1


Jingga semakin penasaran dengan apa yang pernah ia ketahui dari kebiasan warga kampungnya yang selalu menyediakan semacam sesajen untuk menghormati arwah leluhurnya.


"Ya, apa yang kau pikirkan itu berkaitan dengan aktivitas para iblis penyihir, itu hanya suatu hubungan antara kami dan bangsa manusia untuk hidup berdampingan, sebetulnya kita bangsa iblis tidak mempedulikannya" celetuk kakek Wu Yao membaca pikirannya.


"Kau sungguh hebat, Kakek" puji Jingga.


Kakek Wu Yao langsung melesat masuk ke dalam hutan, Jingga dan Xinxin mengikutinya sampai berhenti di sebuah batu besar yang membelah aliran sungai. Kakek Wu Yao merapalkan mantra dan membuat pola di jemarinya.


Krak!


Batu terbelah dua menciptakan sebuah rongga, kakek Wu Yao dan kedua muridnya langsung memasukinya, tak lama kemudian rongga batu kembali menutup dengan sendirinya. Sekarang terlihat area dalam yang menyerupai sebuah ruangan besar yang memiliki sebuah mata air dan kolam berwarna merah.


"Yang Mulia, duduklah di atas lempengan batu hitam itu" pinta kakek Wu Yao.


Jingga mengangguk lalu berjalan ke arah lempengan batu hitam kemudian duduk bersila. Kakek Wu Yao memberikannya pil iblis Neraka yang langsung ditelan oleh Jingga.


Setelahnya, kakek Wu Yao langsung memasang perisai iblis untuk melindungi muridnya.


"Kakek, kenapa harus dilapisi perisai? Apa yang akan terjadi pada Kak Jingga?" Tanya Xinxin begitu heran.


"Yang Mulia merupakan iblis penguasa, ia akan memasuki alam lainnya untuk menguji kelayakannya sebagai seorang penguasa dengan menghadapi para penguasa lainnya. Semoga saja ia bisa melewatinya" jawab kakek Wu Yao.


Xinxin terkejut mendengarnya, apa yang menjadi kejanggalannya akhirnya terjawab oleh kakek gurunya.


"Pantas saja aku merasa heran, Kakek Guru sampai harus membawa Kak Jingga ke sini. Padahal berlatih sihir tidak harus meninggalkan alam iblis" ucapnya mulai memahami maksud kakek gurunya.


"Lalu apa yang terjadi kalau Kak Jingga tidak bisa melewati ujian penguasa?" Imbuh Xinxin bertanya.


"Yang Mulia akan mati" jawab kakek Wu Yao.


"Kakek!"


"Percayakan saja"


"Karena kau baru pertama kali memasuki alam fana, Kakek akan membawamu berburu siluman dan kalau kau mau, kita akan memburu manusia juga. Bagaimana?" Imbuh kakek Wu Yao menawarkannya.


"Baik, Kek" jawab Xinxin lalu menghilang keluar dari batu bersama kakek Wu Yao.

__ADS_1


__ADS_2