
Jingga tidak langsung mendarat memasuki area pertarungan. Ia lebih memilih untuk hinggap di atas atap bangunan yang masih utuh dan langsung mengeluarkan araknya sambil menyaksikan pertarungan sengit antara murid-murid sekte Mofa Gu menghadapi gempuran pasukan istana Langit.
Sementara di alam dewa, beberapa dewa yang ditugaskan oleh Kaisar Langit kembali menghadap untuk melaporkan misi.
“Yang Mulia. Dewa Matahari Taiyangshen menolak untuk menghadapi iblis muda. Akan tetapi, sang dewa tidak sepenuhnya mengabaikan sosoknya. Dia ingin memastikan lawannya layak bertarung dengannya.” Beber seorang dewa yang menjadi pemimpin misi.
“Ha-ha-ha. Mungkin pamor iblis muda itu kurang mendapatkan perhatiannya. Biarkan saja, kita lihat nanti,” tanggap Kaisar Langit tidak begitu berharap akan bantuan dari dewa Matahari.
“Baik, Yang Mulia.” Sahut para dewa lalu meninggalkan istana.
Seorang dewa tua berambut kuning keemasan berjalan di bawah singgasana kaisar. Ia lalu menjura dengan mengepalkan kedua tangan.
“Yang Mulia, bagaimana dengan rencana kita untuk meminta bantuan kepada lima pilar semesta? Menurutku, kelima pilar merupakan pilihan yang tepat untuk mengantisipasi kekacauan di luar kendali kita.” Cetus sang dewa.
Kaisar Langit menatapnya serius sambil mengusap janggut. Tak lama kemudian, sang kaisar berdiri dari kursi kebesarannya.
“Rencana itu bersifat darurat dan kita terlihat bodoh juga naif apabila menjalankannya sekarang. Berhentilah mengkhawatirkan iblis muda itu!” tegasnya menolak rencana yang disampaikan oleh sang dewa.
Sang dewa pun menerima keputusan kaisar Langit untuk tidak melibatkan lima pilar semesta dalam menghadapi iblis muda yang tak lain adalah Jingga.
Tap, Tap!
Dua orang berpakaian zirah emas muncul secara tiba-tiba di depan kaisar Langit. Tampak keduanya ingin melaporkan situasi yang terjadi di alam fana.
“Langsung saja katakan apa yang akan kalian laporkan kepadaku.” Kata sang kaisar memintanya.
Kedua orang berpakaian zirah saling melirik lalu salah satunya maju dua langkah dan menekuk satu kakinya dalam posisi setengah berlutut.
“Yang Mulia. Terjadi perang besar di salah satu ibu kota kekaisaran di benua Matahari, tepatnya di kota Luyan. Hal itu dipicu oleh kemunculan bangsa iblis yang mengacaukan kekaisaran dan membuat para prajurit kekaisaran saling bunuh satu dengan yang lainnya. Beberapa sekte dan klan di kekaisaran ikut serta dalam peperangan yang terjadi,”
“Tahan dulu!” potong Kaisar Langit merasa janggal dengan laporan sang komandan.
__ADS_1
Sang komandan pun langsung terdiam mendengar suara tegas dari sang kaisar yang memotong laporannya.
“Bagaimana bangsa iblis bisa begitu bebas di alam fana? Apakah mereka mengkhianati perjanjian lintas alam?” tanya Kaisar Langit menyoal soal kemunculan bangsa iblis.
Seorang dewa lainnya yang berwajah tampan dan berwibawa berjalan ke hadapan sang kaisar.
“Maaf, Yang Mulia. Ketidakseimbangan alam yang disebabkan oleh fluktuasi energi di alam iblis membuat bangsa iblis memaksa membuka semua portal menuju alam fana untuk menyelamatkan diri. Menurutku, mereka terpaksa melanggar perjanjian lintas alam karena hal tersebut. Meskipun begitu, kita harus memaksa mereka kembali ke alam iblis. Laporan terakhir dari Panglima Tianfeng, lebih dari 60% badai api telah padam dan kondisi alam iblis berangsur membaik seiring waktunya.” Beber sang dewa menyampaikan.
Kaisar Langit mengangguk-anggukan kepala memahaminya.
“Terima kasih, dewa Pengetahuan.” Ucapnya lalu menoleh kembali ke arah dua komandan.
“Komandan, apa kau mengingkan tambahan pasukan tempur kita?” tanya Kaisar menerkanya.
Kedua komandan mengangguk dengan mimik wajah senang.
“Baiklah, aku izinkan kalian berdua membawa seribu pasukan tempur untuk memaksa bangsa iblis kembali ke alamnya. Kalau mereka menolaknya, musnahkan!”
“Terima kasih, Yang Mulia. Semoga Yang Mulia panjang umur.” Timpal kedua komandan serentak.
Murid-murid sekte Mofa Gu berhasil memukul mundur pasukan istana Langit yang menyerah karena banyaknya pasukan yang gugur dan terus menyusut jumlahnya.
“Kinerja yang baik, aku suka cara kalian membantai para pasukan istana langit. Ha-ha.” Kekeh Jingga melayang turun menghampiri para murid dan keempat tetua sekte.
“Hormat, Yang Mulia Jingga.” Sambut semua murid dan tetua langsung menjatuhkan diri dengan berlutut.
“Bangunlah, kalian semua!” kata Jingga lalu meminta keempat tetua mendekatinya.
“Tetua Kuan Etou, Da Bizi, Du Zui, dan Qingxie. Siapa saja di antara kalian berempat, aku ingin mendengar bagaimana kalian bisa sampai bentrok dengan pasukan istana Langit?”
Kuan Etou dari divisi alkemis iblis Wushi Xuetu meminta izin kepada ketiga tetua divisi lainnya untuk mewakili menceritakan semuanya kepada Jingga. Ketiganya pun mempersilakan Kuan Etou untuk menceritakannya.
“Yang Mulia, beberapa hari yang lalu kami mengendus keberadaan bangsa iblis di kota hancur ini.
__ADS_1
Para iblis memburu jiwa manusia yang tersisa di kota, namun, upaya para iblis harus terhenti tatkala ratusan prajurit kekaisaran bersama puluhan prajurit alam dewa datang untuk menyelamatkan warga kota. Kami pun menahan diri untuk menyerang para iblis yang bersembunyi di reruntuhan bangunan kota.
Dua hari berikutnya, pasukan dewa pergi meninggalkan kota. Hal itu dimanfaatkan bangsa iblis untuk menghisap jiwa pasukan kekaisaran dan mengambil alih tubuh para pasukan. Satu per satu dari mereka mulai membantai para pasukan yang tersisa dan menghisap jiwanya. Kami lalu bergegas untuk menyelamatkan sisa pasukan dari pembantaian bangsa iblis.
Beberapa waktu kemudian, lebih dari seribu pasukan kekaisaran datang untuk memusnahkan pasukan yang dirasuki iblis. Kami berinisiatif untuk meninggalkan kota.
Di luar kota, tepatnya di tempat kita berdiri sekarang, para pasukan dewa turun menyerang kami, dan pada akhirnya kami berhasil memukul mundur mereka sampai Yang Mulia datang menghampiri kami.” Beber Kuan Etou menjelaskannya dengan rinci.
Jingga menganggukkan kepala, memahami semuanya.
“Aku yakin, istana Langit akan menambah lebih banyak pasukan untuk mengejar kalian … untuk sekarang, kalian boleh meninggalkan kota Luyan dan memburu kembali para iblis di kota lainnya di benua Matahari ini. Masalah di sini biar aku saja yang menanganinya.” Kata Jingga.
“Baik, Yang Mulia. Kami pergi sekarang.” Balas Kuan Etou lalu mengajak semua anggota sekte Mofa Gu meninggalkan lokasi.
Jingga lalu berkelebat ke tengah kota untuk menyaksikan istri dan kedua adiknya yang tengah bertarung di dalam kota.
Suasana perang mulai berangsur mereda. Banyaknya mayat yang tergeletak di tengah reruntuhan bangunan, membuat suasana kota tampak sangat mencekam. Bau amis darah dan tubuh terbakar menghiasi kelamnya suasana perang yang berkecamuk.
Jingga yang sampai di tengah kota langsung menaiki sebuah bangunan yang setengah utuh di dekatnya. Ia dengan serius menyaksikan aksi nenek tua yang begitu lihai membantai para pasukan yang dirasuki iblis. Biarpun begitu, Jingga sedikit heran memperhatikan cara bertarung istrinya.
“Kenapa istriku terlihat sangat lembut memukul para iblis daripada memukulku?” pikir Jingga mencemburuinya.
Xian Hou yang tengah asyik bertarung mendengar keluhan suaminya. Ia pun semakin lembut dan gemulai menyerang para pasukan yang dihadapinya. Sontak saja hal itu membuat Jingga yang melihatnya langsung cemberut. Ia pun memutuskan untuk pergi ke arah barat kota Luyan.
WUZZ!
Sebuah tongkat melaju cepat ke arah Jingga yang baru saja melayang dari atap bangunan. Jingga langsung menangkapnya dengan sigap.
“Jangan pergi! Aku tidak ingin ditinggalkan lagi,” tegas Xian Hou melarangnya.
Jingga kembali mendaratkan kakinya di atas atap bangunan. Namun kali ini, ia tidak ingin melihat pertarungan istrinya. Ia lebih memilih membaringkan tubuhnya di atas atap sambil menenggak arak.
“Cepatlah! Sebentar lagi matahari akan terbit.” Balas Jingga yang pandangannya tertuju ke langit di atasnya.
__ADS_1
“Hem! Baik, kesayanganku. Aku akan mempercepatnya.” Timpal Xian Hou langsung merubah cara bertarungnya untuk mempersingkat waktu.