Takdir Pedang Sang Iblis

Takdir Pedang Sang Iblis
Monster Laut


__ADS_3


Hari demi hari telah dilalui dalam pelayaran menuju benua Intibumi. Tidak ada suatu kendala yang menghambat laju kapal dalam pelayaran. 


Angin berembus kencang kala senja terukir rona jingga yang menghiasi langit di atas samudera. Seorang pemuda berpakaian biru gelap berdiri tegak di ujung haluan kapal yang membelah lautan. Kedua bola matanya tidak bergerak di tengah sklera. Tatapannya terus fokus pada ujung garis lautan di depannya. 


Tiba-tiba saja kelopak matanya terkatup. Sang pemuda itu pun berbalik badan meninggalkan haluan. Ia tersenyum kepada seorang nenek yang menunggunya di ambang pintu.


“Sayang, bolehkah aku kembali ke alam peri?” pinta Xian Hou tiba-tiba.


Jingga tidak membalasnya, ia langsung meraih kedua pipi istrinya yang dingin. 


“Kenapa wajahmu begitu pucat?” tanya Jingga.


“Aku terlalu lama berada di alam fana. Energi murni yang kuhisap di alam ini tidak cukup untuk membuatku bertahan lebih lama lagi,” ungkap Xian Hou.


“Jangan menundanya, cepatlah kembali! Aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi kepada dirimu,” kata Jingga memintanya.


Xian Hou tersenyum lembut lalu mengangguk. Tak lama kemudian, ia pun menghilang dari pandangan Jingga.


“Semoga aku tidak bosan berada lama dalam pelayaran kali ini,” gumamnya lalu melangkah memasuki kamar.


Tanpa terasa, sudah lebih dari sebulan waktu yang ditempuh dalam pelayaran. Kejenuhan, kemalasan, kekakuan, dan rasa suntuk menghinggapi semua orang yang berada di kapal. Namun, semangat para punggawa (prajurit dan kru kapal) tidak pernah luntur. Begitu pun dengan sang Jenderal yang tampak berseri memandangi alam yang bersahabat dengan pelayarannya. Ia lalu pergi ke geladak untuk menghampiri Jingga dan keluarganya.


TOK, TOK!


Bai Niu yang mendengarnya langsung melangkah ke depan pintu lalu membukanya.


“Selamat malam, Nona,” sapa Jenderal Qing.


Bai Niu sedikit terperangah melihat kedatangan sang Jenderal yang begitu ramah menyapanya. Ia pun tersenyum membalasnya lalu berkata,


“Selamat malam juga, Jenderal. Silakan masuk! Kak Jingga sudah menunggu.”


“Terima kasih, Nona.” Jenderal Qing langsung melangkah masuk ke dalam kamar.


“Sepertinya pelayaran kita akan lebih cepat dari perkiraan sebelumnya. Semesta mendukung kita,” ujar Jenderal Qing lalu tersenyum lebar.


“Semesta memang mendukung pelayaran kita, tetapi di bawah laut ada sesuatu yang sedang mengintai,” balas Jingga lalu melemparkan seguci arak yang langsung ditangkap oleh Jenderal Qing.


Glek, glek!


“Ah, arak yang enak. Rasanya seperti yang pernah aku dapatkan dari mendiang Jenderal Lie Zhou,” ujar Jenderal Qing mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


“Betul, Kaisar Xiao memberikannya kepadaku,” balas Jingga.


“Apa Jenderal sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi serangan makhluk laut?” tanya Jingga kembali menyinggungnya.


“Sejujurnya, aku sudah tahu hal ini akan terjadi. Aku hanya tidak ingin terlihat panik menyikapinya.” Jenderal Qing kembali menenggak arak.


Meskipun berusaha untuk bersikap tenang, kecemasan masih terlihat jelas terukir di wajah sang Jenderal. Ia pun mengakalinya dengan terus menenggak arak sampai habis tidak bersisa.


“Bisakah aku memintanya lagi?” 


Jingga kembali melemparkan arak yang langsung ditangkap dan ditenggak cepat oleh Jenderal Qing.


“Menyembunyikan ketakutan bukanlah jalan kesatria. Kita hadapi bersama!” tegas Jingga lalu mendorong sang Jenderal keluar kamar.


“Kau benar, Anak Muda. Tapi, bukan masalah ini yang membuatku cemas, aku bahkan sudah siap menghadapi kematianku di samudra ini,” kata Jenderal Qing sambil terus menenggak arak dan berjalan ke arah haluan kapal.


“Lalu apa yang membebani pikiranmu, Jenderal?’ tanya Jingga ingin mengetahuinya.


Jenderal Qing berhenti melangkah kemudian membalikkan badan menatap Jingga dengan serius.


“Aku berhasil menyelamatkan banyak nyawa tapi aku gagal menyelamatkan keluargaku sendiri,” ungkapnya.


Kembali Jingga tersentak mendengarnya. Rasa penyesalan kembali menghunus sanubarinya. Ia pun terdiam tidak mampu menimpali perkataan sang Jenderal.


“Kau tidak perlu merasa iba kepadaku, biarlah ini menjadi jalan takdirku. Kau masih memiliki kedua adik dan nenekmu. Jagalah mereka!” imbuh sang Jenderal memintanya.


Jingga tersenyum menimpalinya lalu berjalan sampai di tepian haluan dan melingkarkan kedua tangan di dada.


“Anak Muda, di mana nenekmu?” tanya Jenderal Qing baru mengingatnya.


“Nenekku sudah meninggal dari aku kecil,” jawab Jingga cepat.


“Bukan! Yang kumaksud Nenek yang bersamamu.” Jenderal Qing mengerutkan dahi menatap Jingga dengan serius.


“Oh, dia bukan nenekku, dia itu istriku,” kata Jingga memberitahunya.


Jenderal Qing membelalakkan mata sulit memercayainya. Ia tidak habis pikir bagaimana seorang pemuda bisa memiliki seorang istri yang lebih layak menjadi neneknya.


“Kau jangan bercanda, Anak Muda,” kata Jenderal Qing tidak memercayainya.


“Kita lanjutkan nanti saja perbincangan kita. Tamu kita sangat banyak dan pastinya akan membuat kita sibuk menghadapinya,” balas Jingga langsung melompat ke atas dinding kayu kapal di depannya.


“Bersiaplah, Jenderal!” imbuhnya.

__ADS_1


Jenderal Qing langsung berlari ke arah buritan kapal dan memberitahu semua prajuritnya untuk bersiap.


TENG! TENG! TENG!


Lonceng kapal dibunyikan memberi tanda kepada prajurit untuk bersiap siaga pada pertarungan jarak dekat menghadapi lawan yang belum menunjukkan diri. Tak lama kemudian, lebih dari 200 prajurit dengan berbagai senjata telah berbaris di depan geladak kapal.


GROAR! TRAAK! WUZZ!


Deru suara aneh terdengar saling bersahutan dari makhluk berwarna hitam dan bersirip di punggungnya berlompatan menaiki kapal. 


“Ikannya kenapa begitu jelek?” gumam Jingga setelah memperhatikannya.


“Jianhuimie Yuzhou.”


“Tarian pedang Asura.”


WUZZ!


Jingga melompat dan melayang di atas permukaan laut lalu menari-nari menebaskan pedangnya membelah makhluk aneh bersirip yang melompat keluar dari kedalaman air laut.


SRET! SRET!


Tidak ada kesulitan yang berarti bagi Jingga dalam membantai makhluk tersebut. Namun, lama kelamaan ia mulai merasa heran melihat makhluk yang tidak ada habisnya terus melompat ke permukaan.


“Sialan! Banyak sekali makhluk aneh ini,” kesal Jingga yang terus menebaskan pedangnya.


“Kakak!” pekik Bai Niu yang tidak kalah sibuk menebaskan pedangnya membantai para makhluk bersirip dari geladak kapal bersama Qianmei.


Jingga langsung menoleh ke arahnya dan terkejut melihat kapal yang sepenuhnya telah tertutupi oleh makhluk bersirip.


“Teruskan saja, aku sedang sibuk,” teriak Jingga membalasnya.


Bai Niu tampak kesal mendengarnya. Ia lalu meminta Qianmei untuk menghampiri Jingga yang bertarung di atas air.


SRET! SRET! SRET!


“Kak Jingga, semua prajurit tewas dimakan ikan,” kata Qianmei sambil menebaskan pedangnya membelah para makhluk bersirip di sekitarnya.


Jingga sedikit terkejut mendengarnya. Ia yang disibukkan oleh makhluk bersirip yang terus keluar melompat dari kedalaman laut langsung melesak ke kapal untuk melihatnya.


“Di mana Jenderal Qing?” tanya Jingga kepada Bai Niu.


“Aku tidak tahu, Kak. Semua yang aku lihat hanya belahan tubuh dari ikan-ikan aneh ini,” jawab Bai Niu.

__ADS_1


Jingga lalu memindai area kapal mencari keberadaan Jenderal Qing yang tidak nampak batang hidungnya.


__ADS_2