Takdir Pedang Sang Iblis

Takdir Pedang Sang Iblis
Masalah Gaun


__ADS_3

Di area para gadis yang terus duduk sambil menutupi bagian berharganya, Jingga terlihat begitu kebingungan.


"Apa aku harus membeli pakaian dulu ke kota atau aku langsung memasukkannya ke alam jiwa, tapi kasihan juga melihatnya, mereka para gadis yang harus dijaga kehormatannya, baiklah aku akan membelikan pakaian untuk para gadis" pikirnya memutuskan.


Sama seperti anak-anak yang langsung ketakutan melihat Jingga, para gadis pun sama ketakutannya melihat pemuda asing yang berdiri terlihat kebingungan di depannya.


"Adik-adik tidak perlu takut, aku diperintahkan oleh Raja Daxiang dan Putri Daishu untuk menyelamatkan kalian, bisakah kalian membantuku, aku perlu tahu jumlah kalian semuanya" ujar Jingga menjelaskan.


Para gadis terus memperhatikannya dari ujung kepala sampai ujung kaki tidak mempercayainya, namun ada seorang gadis yang langsung percaya ketika pemuda di depannya menyebutkan nama Putri Daishu.


"Kak, maaf. Apakah Shu'er ada di istana?" Tanya seorang gadis yang berada di tengah.


"Ya, kenapa?" Jawab Jingga balik bertanya.


"Tidak apa-apa Kak, aku hanya bersyukur sepupuku tidak menjadi korban penculikan sepertiku" jawabnya.


Mendengarnya, Jingga langsung teringat pada gadis yang tertidur di alam jiwanya lalu memutuskan untuk menariknya keluar dari alam jiwanya.


"Putri Daishu, bangunlah" ucap Jingga membangunkannya.


Gadis cantik itu langsung membuka kedua matanya.


"Kak, di mana ini?" Tanya Daishu merasa asing dengan lokasinya.


"Shu'er!" Teriak seorang gadis langsung berdiri tanpa sadar ada seorang pemuda yang melihatnya.


Jingga langsung membalikkan diri merasa tidak pantas untuk melihatnya.


"Ling'er" balas Daishu lalu mendekapnya sambil menutupi tubuh saudarinya dengan gaunnya yang lebar.


"Daishu, bantu aku menghitung semua gadis, aku akan membawakan pakaian untuk semuanya" potong Jingga memintanya kepada Putri Daishu tanpa menolehnya.


"Baik, Kak" sahut Daishu mengerti lalu mulai menghitung para gadis remaja yang polos dimulai dari depannya.


"Semuanya tiga ratus delapan puluh satu, Kak" ujar Daishu setelah menghitung yang terakhir.


"Baiklah, kau tunggu di sini, aku tidak akan lama" timpal Jingga langsung menghilang.


Di luar gua, Jingga langsung membuat portal dimensi ke toko yang pernah dikunjunginya membeli gaun merah pengantin yang selalu diingatnya.


Berulang kali jingga mencobanya, namun portal dimensi tidak terbuka sama sekali.

__ADS_1


"Sialan! Merepotkan" rutuknya lalu kembali memasuki gua.


"Cepat sekali, Kak?" Tanya Putri Daishu melihat Jingga sudah kembali.


"Aku belum pergi sama sekali" jawab Jingga lalu melambaikan tangannya untuk menidurkan para gadis kemudian ia memasukkan semuanya ke alam jiwanya.


"Jirex, tolong juga untuk menjaga para gadis" pinta Jingga kepada monsternya yang langsung berderam membalasnya.


Jingga langsung melayang terbang ke atas gunung di mana ia pertama kali turun ke sebuah lembah.


Jingga terus berkelebat sampai kembali ke sebuah danau yang airnya tidak lagi berwarna warni, ia berhenti memandanginya, pikirannya tidak berada pada air danau yang dipandangi, Jingga mengingat Ratu Peri Xian Hou yang membuatnya jatuh hati.


Jingga tersenyum mengingat paras cantik gadis bersayap delapan itu lalu terbang dengan begitu pelan menyusuri danau, berharap Ratu Peri menariknya kembali ke alam suci, namun sampai di ujung danau, harapannya langsung pupus.


"Apa si cantik marah ya?" Tanya pikirnya.


Jingga terus memikirkannya sampai akhirnya ia memutuskan untuk meninggalkan danau lalu berkelebat secepatnya.


Memasuki kembali hutan di wilayah kerajaan Xin Yue, Jingga teringat akan prajurit kerajaan Xin Yue beserta pasukan kekaisaran Xiao yang tak sempat di carinya.


"Sialan! Aku selalu lupa pada satu hal, tapi selama berada di lembah iblis aku tidak menemukan keberadaan para pasukan, anggap saja mati he he" gumamnya lalu berkelebat kembali ke kerajaan Xin Yue.


Delapan iblis yang merupakan para komandan iblis melaporkan semua kejadiannya kepada Jenderal Iblis Jieru.


"Kalau benar yang kalian maksud itu Dewa Petir, ini pertanda buruk untuk kita semua bangsa iblis. Sebaiknya kita menundanya beberapa waktu sampai situasinya kembali tenang" ujar Jenderal Iblis Jieru menganalisisnya.


Tampak sang Jenderal begitu khawatir akan kegagalannya menjalankan misi, ia terus mondar mandir memikirkannya.


"Sepertinya rencana kita membangun aliansi iblis di alam fana tidak semudah yang dibayangkan. Mau tidak mau kita harus mencari metode lain, aku akan menyampaikannya kepada Ratu" ujar Jenderal Iblis Jieru lalu pergi ke istana Iblis.


Alam Fana


Jingga tidak langsung ke istana kerajaan Xin Yue, ia berada di bilik bambu lembah Sabit, ia masih bingung dengan para gadis remaja yang masih tertidur di alam jiwanya.


"Tidak mungkin aku membawa mereka dalam keadaan polos, lalu kalau aku membelinya, siapa yang akan memakaikannya?" Jingga terus memikirkan solusinya.


"Biar saja, ini kan bukan salahku" imbuhnya dengan menyeringai.


Jingga memutuskan untuk membeli pakaian, ia merasa hal itu adalah solusi yang menguntungkan kedua belah pihak. Tak lama ia langsung membuat portal dimensi menuju sebuah toko yang pernah dimasukinya membeli gaun merah pengantin.


Paman pedagang toko yang sedang meminum teh langsung tersedak melihat kemunculan tiba-tiba seorang pemuda yang masih dikenalinya.

__ADS_1


"Kau lagi" ucap pedagang sambil membersihkan pakaiannya yang terkena tumpahan air teh.


Tanpa mempedulikannya, Jingga langsung mengeluarkan sepuluh ribu koin emas.


"Ambilkan aku gaun sebanyak tiga ratus delapan puluh satu tanpa gaun merah, sekarang!" Pinta Jingga dengan tatapan dinginnya membuat Paman pedagang menelan salivanya.


Paman pedagang terdiam sejenak, ia menghitung stok gaun yang disimpannya. Merasa tidak cukup jumlahnya, ia langsung keluar tokonya memanggil beberapa pemilik toko lainnya untuk membawakan gaun sebanyak-banyaknya.


Beberapa lama menunggu, tujuh orang pedagang memasuki toko dengan membawakan gaun sebanyak lima puluhan per orang.


Jingga memperhatikan ketujuh pedagang sedang menghitung dan mengemasi gaun yang dipesannya.


"Ha ha ha bagus, tidak ada gaun berwarna merah" ucapnya begitu senang.


Jingga langsung menenggak araknya membiarkan para pedang meneruskan kesibukannya.


Tiba-tiba seorang gadis cantik berdiri di pintu toko menyipitkan matanya melihat pemuda yang begitu ia kenal, tatapannya berpindah ke arah para pedagang yang sibuk mengemas pakaian.


"Banyak sekali gaun wanita yang ia beli, untuk siapa semua ini?" gumam si gadis penuh tanya.


"Hei, Jingga jelek" teriak si gadis yang langsung membuat Jingga langsung meliriknya.


"Eh, Juan'er hutan rimba" sahut Jingga.


Mendengar sahutan Jingga membuat Juan langsung naik pitam, namun ia menahannya karena ingin tahu maksud Jingga memborong banyak gaun.


"Untuk apa kau membeli banyak gaun wanita?, tidakkah ini terlalu banyak?" Tanya Juan dengan heran.


"Untuk apa?, Untuk apa cinta tanpa kejujuran?, Untuk apa cinta tanpa pembuktian?, Tak ada artinya" jawab Jingga asal.


"Jawab yang benar, bajingan!" Pinta Juan yang sudah mengepalkan kedua tangannya begitu erat dengan sorot mata pembunuh.


"Aku memiliki tiga ratus delapan puluh satu gadis remaja yang polos sama sepertimu waktu itu, jadi aku akan membelikan semuanya gaun-gaun itu" jawab Jingga jujur.


"Apa?" Teriak Juan langsung melebarkan matanya tidak percaya dengan apa yang didengarnya.


"Kau jangan membohongiku Jingga jelek" imbuhnya masih tidak percaya.


"Terserah! Pastinya pemandangan alam begitu indah dengan sedikit pepohonan" balas Jingga mengejeknya.


"Kau! Bajingan!" Timpal Juan sudah memuncak emosinya. Ia langsung berlari menerkamnya dengan terus memukuli Jingga yang hanya tertawa geli membalasnya.

__ADS_1


__ADS_2