
Malam hari di Istana Langit. Tampak seorang pemuda begitu tenang memandangi bintang-bintang yang berkilauan dan cahaya bulan purnama yang memancar menerangi langit, memperlihatkan keindahan istana yang menjulang tinggi di tengah kegelapan.
Di taman istana, bunga-bunga mekar dengan keharuman yang semerbak, menciptakan aroma yang memikat hati. Air mancur besar berkilauan, menari dengan lembut di bawah cahaya bulan, menghadirkan suara gemericik yang menenangkan jiwa. Pohon-pohon yang tinggi dan rimbun menyajikan bayang-bayang yang menarik, menciptakan tempat persembunyian bagi kehidupan malam yang berkeliaran.
Tidak ada suara dari ketiga insan yang tengah dimabukkan oleh keindahan malam di Istana Langit hingga datanglah seorang prajurit berbadan gempal beridiri tegak di tengah mereka.
"Nyonya diminta Kaisar untuk menghadap," ujarnya lalu berbalik pergi.
Suara tegas seorang prajurit membuat ketiganya tersadar dari lamunan.
"Tidak sopan," gerutu Qianmei tidak suka melihat sikap prajurit yang langsung pergi tanpa pamit.
Ratu Kalandiva melirik Jingga meminta pendapat. Jingga yang dilirik pun tersenyum ringan lalu berkata, “Nyonya tidak perlu meminta pendapat dariku, silakan saja temui Kaisar. Kami akan menunggu Nyonya di sini.”
“Terima kasih, Yang Mulia,” balas Ratu Kalandiva yang kemudian berkelebat ke arah istana.
Setelah kepergian sang ratu, Jingga menyeringai sinis menatap gedung istana yang begitu megah.
“Memimu, amati apa yang dibicarakan oleh Kaisar, terutama Nyonya Kalandiva. Aku akan mencari keberadaan Naninu,” ujar Jingga.
“Baik, Kak. Tapi, bagaimana caranya aku bisa masuk ke dalam istana?” Qianmei memindai ruang dalam istana yang dilindungi oleh lapisan perisai dewa.
“Kau pernah menjadi seorang putri istana. Aku serahkan caranya kepadamu,” jawab Jingga.
“Ba-baiklah, akan aku pikirkan caranya,” timpal Qianmei.
Jingga tersenyum lalu menghilang dari tempatnya. Sementara Qianmei hanya bisa menggaruk-garuk kepala memikirkan cara memasuki gedung istana Langit. Akan tetapi, ia tidak perlu terlalu pusing memikirkannya. Tidak jauh dari tempatnya, beberapa tamu dari berbagai sekte keluar dari kediamannya.
“Hem, sudah kutemukan caranya,” gumam Qianmei yang langsung melayang ke arah para tamu.
Tap, tap.
“Salam, Para Tetua. Aku Ming Na, adik dari Ratu Kalandiva. Bolehkah aku bergabung bersama kalian untuk menyusul kakakku?” ujar Qianmei sedikit membungkuk.
Beberapa tetua sekte sedikit terkesima melihat kedatangannya. Mereka baru pertama kali melihat keberadaan seorang gadis cantik yang mengaku sebagai adik dari seorang ratu beast monster.
“Betulkah? Kenapa aku baru melihatmu?” tanya seorang tetua menyelidik.
“Tetua akan tahu ketika bertemu dengan kakakku,” jawab Qianmei seraya tersenyum lembut.
“Ah, sudahlah. Kita akan mengetahuinya di dalam istana,” timpal seorang pria paruh baya tidak ingin membuang-buang waktu.
“Terima kasih, Tetua,” balas Qianmei langsung bergabung dengan rombongan sekte.
Di area lain istana Langit, Jingga masih mencari keberadaan adiknya Bai Niu. Ia berkamuflase menjadi objek apa pun untuk berpindah-pindah dari satu lokasi ke lokasi lainnya.
“Sialan! Istana ini begitu rumit. Di mana mereka menahan adikku?” keluh Jingga yang masih belum menemukan keberadaan adiknya.
“Ha-ha-ha. Bodoh! Aku pindai saja semuanya dari atas,” imbuhnya baru tersadar.
Tanpa menundanya lagi, Jingga langsung melayang cepat ke langit. Namun, baru saja satu hela napas ia melayang. Tiba-tiba saja, ia berhenti secara mendadak.
__ADS_1
“Banyak betul perisainya. Apa aku semenakutkan itu ataukah mereka yang penakut?” Jingga lalu mengamati kekuatan energi dari setiap lapisan perisai.
Namun ia tidak ingin menghancurkannya, karena akan menarik perhatian para dewa.
“Sepertinya di sini cukup untuk memindai seluruh area istana Langit.” Jingga lalu menggunakan mata iblisnya memindai seluruh area istana Langit.
"Ha-ha-ha. Ruang tahanan berada di bawah dapur istana. Naninu, aku datang!"
Wuzz!
Jingga melesat cepat ke arah dapur istana. Kembali, ia berkamuflase untuk menyembunyikan diri. Tidak ada halangan berarti yang ditemuinya ketika menyusup ke dalam area dapur.
"Di mana pintunya?" Jingga berputar-putar mencari akses masuk ke ruang tahanan.
Krak!
Lemari kayu bergeser, dua orang penjaga keluar dari balik lemari. Melihatnya, Jingga langsung berkelebat ke balik lemari kayu dan memasuki ruang tahanan setelah beberapa langkah menuruni anak tangga.
Kedua matanya bersinar menerangi lorong gelap ruang bawah tanah. Jingga terus memindai area di sekitarnya. Terlihat olehnya, banyak tahanan yang memiliki kultivasi cukup tinggi sedang bermeditasi di balik sekat dinding tebal.
"Banyak sekali tahanan istana!" seru Jingga sambil terus melangkah.
Beberapa langkah kemudian, Jingga menghentikan langkah lalu menyeringai dingin.
"Sudah lama aku tidak makan," gumamnya sambil memeletkan lidah dan mata yang mengerjap.
"Jerat penghisap jiwa!"
Satu per satu jiwa tahanan diserapnya. Tidak ada satu pun dari para tahanan yang sempat memberikan perlawanan. Itu karena para tahanan tidak bisa mengerahkan energi spiritualnya di dalam ruang yang terlapisi perisai energi.
Jingga begitu asyik menikmati santapannya, hingga ketika dia menarik jiwa seorang cultivator yang berada di ranah Emperor Berlian. Seberkas energi tak kasat mata menyerang ke arahnya. Namun dengan sigap, Jingga meredamnya.
"Hei, Bocah Tua. Kau lumayan juga!" Jingga memujinya.
Wuzz!
Tiba-tiba, seorang kakek berpenampilan lusuh sudah berdiri di depan Jingga. Kedua matanya tampak melebar memperhatikan seorang pemuda yang tampak begitu rendah tingkat kultivasinya.
"Ti—tidak mungkin. Kau pemuda lemah, bagaimana bisa menghindari seranganku?" ujarnya tidak percaya.
Jingga mendengus pelan lalu mengerucutkan bibir menanggapinya.
"Apa aku harus bilang wow gitu? Memuakkan!"
Jingga mencekik leher si kakek tua dilanjutkan dengan menghisap jiwanya.
"Ah! Lumayan," ucap Jingga lalu melebur tubuh si kakek tua.
Setelahnya, ia kembali melangkahkan kaki seraya menghisap jiwa para tahanan. Entah sudah berapa banyak jiwa para tahanan yang dihisapnya, Jingga masih belum merasa puas.
"Kenapa aku masih belum menemukan adikku?" Jingga merasa mulai kesal karena belum menemukan keberadaan sang adik. Ia lalu mengedarkan pandangannya segala penjuru ruang tahanan.
"Sudah habis semua aku makan. Apakah ada ruangan lain yang tersembunyi di sekitar sini?"
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, lebih dari sepuluh cultivator memasuki ruang tahanan dan langsung memeriksa setiap ruang yang dilewatinya. Kosongnya ruang tahanan membuat mereka mulai panik. Dengan tergesa-gesa, mereka mulai membuka semua ruang tahanan dan tidak menemukan satu pun keberadaan para tahanan.
"Mereka kabur, ayo kita laporkan kepada Kaisar!" ujar seorang pria paruh baya mengajak kawan-kawannya untuk kembali melaporkan.
"Kalian kembalilah, aku harus memastikan gadis iblis itu masih berada di tempatnya," balas seorang pria berwajah kotak.
"Kau harus berhati-hati. Kita tidak tahu apa yang terjadi di sini," timpal seorang pria bermulut lebar.
"Kau tidak perlu khawatir, aku bisa merasakan energi apa pun di area sini."
Jingga yang mendengarnya begitu senang. Ia lalu berkamuflase menjadi udara tak kasat mata dan mulai mengikuti seorang cultivator. Berada di sudut dinding lorong, sang cultivator berhenti lalu merapalkan mantra.
Krak!
Muncul lubang portal berbentuk pintu yang bersinar. Sang cultivator memasukinya lalu menutup kembali lubang portal. Sekarang, terlihat area tersembunyi di balik ruang tahanan.
"Kak Jingga," gumam Bai Niu merasakan kehadiran sang kakak di dekatnya.
Ia lalu membuka kedua matanya. Namun, yang ia lihat bukanlah Jingga. Tetapi, seorang cultivator yang biasa datang memeriksa keadaan dirinya.
"Cih, kau lagi," kesal Bai Niu lalu kembali menutup kedua matanya.
Sang cultivator tersenyum lebar lalu berjongkol dan membelai pipi Bai Niu. Seketika, Bai Niu melayangkan tamparan keras. Akan tetapi, sang cultivator telah lebih dahulu menahannya.
"Hidupmu tinggal dua hari lagi. Tidak bisakah kau memberiku kenangan indah? Aku pastikan kau akan merasa puas setelah melayaniku," ujarnya dengan tatapan tak senonoh.
Mendengar ucapan pelecehan dari pria berwajah kotak membuat tubuh Bai Niu memancarkan energi petir yang berkilatan.
"Kurang ajar! Kubunuh kau, Brengsek!" murka Bai Niu lalu menyerangnya dengan sambaran petir.
DUAR! DUAR! DUAR!
Kilatan petir terus menyambar pria berwajah kotak. Namun, serangan Bai Niu tidak berdampak sama sekali. Pria berwajah kotak hanya melambai-lambaikan tangan menangkisnya.
"Seranganmu hanya menggelitikku, Nona," ucapnya sambil terus menangkis kilatan yang mengarah ke tubuhnya.
"Kembalikan pedangku lalu hadapi aku dengan layak," pinta Bai Niu.
"Baiklah, tapi kalau aku menang, kau harus melayaniku. Bagaimana?" tantang pria wajah kotak.
"Hem, aku akan melayanimu, Brengsek! Cepatlah!" balas Bai Niu menerima tantangan.
Pria wajah kotak lalu mengambil pedang besar milik Bai Niu dari cincin spasial dan langsung melemparkannya.
Bai Niu tersenyum lebar setelah menangkap pedang miliknya.
"Senyummu sangat manis, Nona. Pantas saja iblis itu menyukaimu," ujar pria wajah kotak lalu menarik pedang besar dari sarungnya, "tapi hari ini kau jadi milikku."
Wuzz!
Trang! Trang!
Dua bilah logam berbenturan, menciptakan percikan api yang menyala-nyala. Kilatan petir dari tubuh Bai Niu semakin membesar tatkala kedua matanya berubah menjadi hitam seluruhnya.
__ADS_1