Takdir Pedang Sang Iblis

Takdir Pedang Sang Iblis
Pertarungan Iblis Pemburu


__ADS_3


"Baiklah. Kalian bisa langsung menjalankan misi ... aku akan langsung pergi ke benua Siwang Zhihong,"


"Xin'er, bantulah Nona Chyou dengan baik. Kau adalah penghubung sekte Mofa Gu dengan pasukanku yang berada di bawah kepemimpinan Nona Chyou." Ujar Jingga.


"Baik, Kak." Balas Xinxin.


"Untuk bisa berkomunikasi, aku akan mengikat jiwa kalian. Apa kalian bersedia?" Sambung Jingga.


"Bersedia!" Seru tegas kedua gadis iblis.


Jingga menempelkan kedua ujung jari telunjuknya ke dada Xinxin dan Nona Chyou. Ia menatap keduanya dengan tatapan genit karena merasakan sesuatu yang empuk lalu mengalirkan kekuatan jiwa untuk mengikat jiwa keduanya.


"Selesai ... jangan lupa memberi kabar kepadaku." Ucapnya lalu membuat portal dimensi yang langsung menuju ke benua Siwang Zhihong.


"Baik, Kak."


"Baik, Tuan."


Timpal keduanya bergantian. Jingga mengangguk pelan lalu melangkah memasuki lubang portal. Namun, tiba-tiba saja ia berhenti lalu menutupnya kembali. Jingga berbalik ke arah kedua gadis yang keheranan melihatnya.


"Nona Chyou, katamu klan Linghun Lieshou memburuku. Apakah kau tahu ke mana mereka memburuku?" Tanya Jingga baru mengingatnya.


"Kabar terakhir yang aku dengar, seorang gadis dari klan Linghun Lieshou sudah tiba di lembah Mofa Gu. Tapi aku tidak tahu dia sekarang berada di mana," jawab Nona Chyou.


Jingga mengernyitkan wajahnya mengingat kembali siapa gadis yang dimaksud oleh Nona Chyou,


"Apakah itu Feichang?" Gumam pikirnya menerka.


"Baiklah, aku akan ke rumah kakek guruku sekarang. Terima kasih, Nona." Balas Jingga lalu menghilang.


Wuzz!


Dengan langkah bayangan yang sekarang, Jingga berkelebat cepat ke rumah Kakek Wu Yao sama cepatnya dengan kemampuannya ketika ia terbang di udara. Tak lama kemudian, ia pun sampai di depan rumah kakek gurunya.


Ia lalu memindai isi rumah, namun tidak menemukan keberadaan kakek gurunya di dalam. Ia lalu kembali berkelebat ke lembah Mofa Gu.


Trang! Trang!


Dhuar! Dhuar!


Suasana di tengah empat kastil tampak kacau balau dipenuhi kobaran api hitam yang menyala. Seorang gadis dengan rantainya tampak begitu lihai terus menyerang keempat tetua sekte yang terus bertahan dengan kemampuan sihirnya.


Jingga yang baru sampai begitu terpana menyaksikan kemampuan bertarung sang gadis yang dikenalinya.


"Chang'er, betul juga kalau pemburuku adalah dirimu, tapi aku tidak menduga dengan kemampuan bertarungmu yang begitu pesat. Kau bahkan mampu mendominasi para tetua sihir," gumam Jingga memujinya.


Ia lalu melayang ke udara dan menepi di atap kastil Wushi Xuetu. Kakek Wu Yao mengetahui kedatangannya langsung melesak terbang menghampirinya.

__ADS_1


"Yang Mulia." Ucap Kakek Wu Yao mengepalkan kedua tangannya menjura.


"Duduklah di sebelahku, Kakek," pinta Jingga.


"Melihat banyaknya kobaran api hitam dan kerusakan di tengah empat kasih, apakah pertarungan dengannya sudah berlangsung lama?" Tanya Jingga menganalisisnya.


"Betul, Yang Mulia. Kemampuan bertarung gadis itu sangat tinggi, apalagi dengan rantai klan Linghun Lishou yang digenggamnya mampu membuat sihir kami tidak berguna," ungkap Kakek Wu Yao.


"Tapi, kultivasi Kakek dengan para Tetua jauh melebihinya. Kenapa kalian tidak bisa dengan mudah mengalahkannya?" Sambung tanya Jingga sedikit keheranan.


"Kami adalah iblis penyihir, bukan iblis petarung. Keunggulan kultivasi hanya mampu membuat kami bertahan, bukan mengalahkan." Beber Kakek Wu Yao menjelaskan.


Jingga menganggukkan kepala memahaminya. Ia kembali fokus menyaksikan pertarungan Feichang dengan empat tetua klan.


"Kakek, ke mana She Bai dan Lu She? Aku tidak melihatnya." Tanya Jingga mengingat kedua gadis cantik.


"Keduanya menyusulmu ke Zhandao Shibing." Jawab Kakek Wu Yao.


Di udara, Fei Chang berhasil menjatuhkan dua tetua sekte dari divisi Wushi Xuetu dan divisi elementalis Yuansu.


"Ha-ha-ha. Tinggal dua lagi!" Kekeh Feichang begitu gembira bisa mengalahkan dua tetua sekte.


Ia lalu menatap tajam dua tetua sekte yang semakin mewaspadainya.


"Ayo kita lanjutkan pertarungan!" Ajaknya lalu melesak cepat menyerang keduanya yang berdiri melayang berdampingan.


Wuzz!


Dhuar!


"Waktunya memusnahkan kalian semua," ucap Feichang lalu mengangkat sebelah tangannya dan menciptakan bola api hitam.


Kakek Wu Yao yang melihatnya menjadi sangat geram. Ia melirik Jingga, meminta persetujuan untuk menghentikan aksi gadis iblis yang akan menghancurkan keempat tetua sekte.


"Biar aku saja yang menghentikannya." Ucap Jingga sebelum Kakek Wu Yao sempat mengatakannya.


"Baik, Yang Mulia. Maafkan hamba." Sahut Kakek Wu Yao lalu meredakan amarahnya.


"Sebaiknya Kakek pergi memindahkan keempat tetua. Biarkan aku yang muda mengurus si gadis klan Linghun Lishou itu." Pinta Jingga dengan mengangkat sebelah alis matanya.


Kakek Wu Yao memahaminya lalu menghilang dari tempatnya. Setelah kakek gurunya pergi, Jingga langsung menarik tubuh Feichang yang masih terus membuat bola api besar di atas telapak tangannya.


Wuzz!


Feichang yang bersiap untuk melemparkan bola api hitamnya yang sudah seukuran sebuah kastil penyihir sangat terkejut merasakan tubuhnya tertarik energi yang memaksanya menggagalkan lemparan.


Bruk!


Jingga menangkap tubuh Feichang dan mendekapnya dengan erat lalu menjentikkan jari menyusutkan bola api yang melayang di udara.

__ADS_1


"Apa kau sedang mencariku, Chang'er?" Bisik Jingga di telinga si gadis.


"Pria imut!" Seru Feichang mengenali suaranya.


Ia lalu menolehkan wajahnya menatap Jingga yang hanya satu inci dari wajahnya. Jingga tersenyum lalu memagut bibir Feichang dengan lembut dan seketika melepaskannya karena sesuatu yang membuatnya tidak nyaman.


"Sialan! Kenapa taringmu begitu panjang?" Keluh Jingga tidak menyukainya.


"Ha-ha-ha." Kekeh Feichang lalu menjulurkan lidah panjangnya yang terlihat seperti lidah ular menyeruak memasuki bibir Jingga yang sedikit terbuka.


Jingga membiarkannya memasuki ke dalam mulutnya lalu menggigitnya dengan keras hingga putus dan langsung menelannya.


"Ah!" Jerit Feichang merasakan kesakitan setelah sebagian lidahnya terputus.


"Ha-ha-ha." Tawa Jingga begitu senang melihat si gadis meringis pilu.


Wajah pucat Feichang berubah kehitaman karena emosi yang memuncak naik ke ubun-ubunnya.


"Kau, kau harus kubunuh!" Geramnya.


Bukan rasa takut yang menghinggapi Jingga, ia malah tertarik dengan Feichang yang terlihat lebih mempesona ketika sedang marah. ia pun kembali menciumnya. Namun, kali ini Feichang menolaknya. Ia terus menjauhkan wajahnya dari sosoran Jingga.


Lagi asyik-asyiknya mengerjai Feichang, tiba-tiba saja suara keras terdengar.


"Suamiku, apa yang kamu lakukan?" Bentak Xian Hou di alam pikirnya.


Sontak saja, Jingga yang sedang kesetanan langsung menghentikan aksinya. Ia lupa kalau istrinya selalu mengawasi dirinya.


"Maaf, Sayang. Aku hanya memberi pelajaran kepada Feichang," sangkal Jingga sedikit gugup.


"Apakah ciuman merupakan sebuah pelajaran?" Sindir Xian Hou.


"I-iya, Sayang. Maaf! Eh, bukan." Balas Jingga tergagap menjawabnya.


Xian Hou langsung memutuskan komunikasi karena tidak ingin berdebat dengan suaminya. Jingga langsung termenung menyesalinya.


Di depannya, Feichang menjadi heran dengan perubahan raut wajah Jingga yang sebelumnya begitu buas, sekarang terlihat seperti anak kecil yang dimarahi ibunya.


"Apa yang terjadi dengannya?" Tanya pikir Feichang tidak memahaminya.


Akan tetapi, perubahan emosi Jingga membuat Feichang memiliki kesempatan untuk membunuhnya. Ia lalu memanjangkan kuku jarinya dan mengalirkan energi iblis ke dalamnya.


Tak lama kemudian, Feichang langsung menghunuskan kesepuluh kuku jarinya ke leher Jingga.


Trak!


Nahas, kesepuluh kuku jarinya langsung hancur menjadi debu ketika bersentuhan dengan kulit leher Jingga. Jingga masih terus melamun tanpa mempedulikan upaya Feichang yang ingin membunuhnya. Sorot matanya terlihat kosong.


Feichang melebarkan kedua matanya tidak percaya dengan upaya yang dilakukannya begitu sia-sia. Ia menatap kesepuluh jarinya yang mulai melepuh terkena energi api dari tubuh Jingga. Ia lalu mengalirkan energi iblisnya untuk meregenerasi kembali jari-jarinya.

__ADS_1


"Aah!" Jerit Feichang yang tidak bisa memulihkan kembali jari-jarinya yang berubah menjadi serpihan debu.


__ADS_2