Takdir Pedang Sang Iblis

Takdir Pedang Sang Iblis
Jiuxing (Sembilan Bintang)


__ADS_3


"Kalian yang bertarung tidak akan kuanggap sebagai pengikutku." Kata Jingga sedikit mengancam.


Melihat Jingga yang tidak menyukai keributan kecil di antara keduanya, membuat Ratu Xin Li Wei langsung memasukkan kembali pedangnya. Para murid Wushi Xuetu pun serentak kembali ke posisinya. Sementara Kuan Etou sendiri tampak biasa saja tanpa mengkhawatirkan ancaman Jingga.


"Yang Mulia, bisakah aku masuk ke alam jiwa Yang Mulia? A-aku sudah tidak sanggup lagi." Rintih Qingxie tetua divisi elementalis Yuansu tidak lagi bisa menahan suhu panas yang membakar kulitnya.


Beberapa iblis lainnya pun mengangguk setuju dengannya. Bahkan Nona Chyou yang tidak banyak bicara, terlihat mulai kehabisan energi menahannya. Jingga sekilas meliriknya.


"Ha-ha-ha. Baiklah. Aku akan meminta Jirex dan Zilla untuk berhenti mengalirkan energinya. Tunggu sebentar," kata Jinggal lalu mengalihkan pandangannya ke arah dua gadis iblis yang masih terlihat baik-baik saja.


"Xin'er, Chang'er, ada lima gadis bertubuh polos di alam jiwaku, bisakah kalian memberikan gaun kepada kelimanya?"


"Baik, Kak." Sahut Xinxin menyanggupinya.


"Baik, Pria imut." Sambung Feichang dengan nada manja.


Setelahnya, Jingga langsung berkomunikasi dengan kedua adiknya yang masih saja mengalirkan energinya.


"Jirex, Zilla. Cukup!"


"Baik, Kak." Sahut keduanya lalu menghentikan aliran energinya.


Seketika, tubuh logam Jingga berangsur memudar dan kembali ke wujudnya semula. Ia lalu menarik Xinxin dan Feichang memasuki alam jiwanya terlebih dahulu.


"Ah!" jerit kelima gadis tatkala melihat kehadiran dua gadis iblis berwajah pucat di dekatnya.


Feichang menatap kelimanya dengan sorot mata yang tajam dan penuh intimidasi. Kelima gadis itu pun langsung berpelukan saling menguatkan.


"Dasar makhluk lemah!" cibir Feichang lalu menggunakan sihirnya melapisi tubuh para gadis bertubuh polos dengan gaun berwarna-warni.


Kelimanya terbelalak tidak percaya melihat tubuhnya sudah tertutupi gaun yang cukup indah. Kelimanya mulai memberanikan diri menatap lekat ke arah Feichang dan Xinxin.


Xinxin yang diam saja memperhatikan kelimanya mencoba untuk tersenyum dengan melebarkan bibirnya. Namun bukannya senyum lembut yang berhasil diperlihatkannya. Ia tampak begitu menyeramkan dengan dua taring yang keluar dari mulutnya. Sontak saja kelima gadis langsung menunduk ketakutan.


Mendapat reaksi ketakutan dari kelima gadis, membuat Xinxin kembali ke sikapnya yang dingin. Ia lalu menghubungi Jingga yang menunggu laporan darinya.


"Kak Jingga, sudah selesai!"


Begitu mendengar suara Xinxin, Jingga lalu secepatnya memasukkan para pengikutnya yang lain untuk memasuki alam jiwanya.


Kini Jingga sendirian menyaksikan badai api yang masih berkobar di bawahnya. Tidak ada hal lain selain api saja yang bisa dilihatnya. Ia lalu menyapukan pandangannya ke area terjauh dari posisinya. Namun hasilnya sama saja. Bahkan badai api tidak terlihat sedikitpun mengalami surut.


"Aneh, kenapa badai api tidak surut?" gumam pikirnya.


Jingga lalu melaju menyusuri badai api ke tempat terjauh meninggalkan area istana iblis yang terbakar dilahap si jago merah.

__ADS_1


Cukup lama Jingga melaju memperhatikan wilayah yang terbakar. Ia masih merasa heran dengan badai api yang stagnan. Namun ada hal yang luput dari perhatiannya. Langit alam iblis mengalami perubahan. Warna langit yang awalnya hitam pekat, kini berubah menjadi merah terang. Suhu panas dari badai api membuat lapisannya terus menipis.


Kondisi itu pun berdampak buruk pada alam fana. Suasana kacau balau semakin meluas di seluruh sendi kehidupan di alam fana. Bukan hanya di benua Matahari saja yang terjadi kekacauan besar, bahkan di benua Majang dan benua Inti Bumi mengalami kekacauan yang serupa.


Beruntungnya, Kaisar Langit begitu sigap memberikan perintah kepada bawahannya untuk membantu penduduk alam fana agar bisa bertahan dari kondisi alam yang mencekam. Ribuan prajurit langit bersama para kultivator alam dewa turun ke alam fana untuk menjalankan instruksi sang Kaisar.


Kembali ke alam iblis. Jingga mulai menyadari akan kondisi mengkhawatirkan di alam iblis apabila ia tidak bisa menghentikan kobaran api yang terus meluas ke hampir seluruh daratan alam iblis.


"Badai api harus segera dihentikan." Ujarnya setelah dirinya memperhatikan langit yang berguncang.


"Zilla! Aku butuh bantuanmu," panggilnya.


"Baik, Kak. Aku keluar sekarang." Sahut Zilla lalu meninggalkan alam jiwa.


"Badai api tidak akan padam, aku akan menyusutkan ketiga energi api milikku. Namun, lapisan energi api satunya berasal dari dirimu. Bisakah kau menyusutkannya juga?"


"Bisa Kak, tapi kobaran api sudah terlampau sangat besar dan luasannya di luar jangkauan kita. Ini akan membutuhkan waktu yang tidak sebentar," beber Zilla menjelaskannya.


"Apa kau memiliki cara lain untuk mempercepatnya?" tanya Jingga ingin tahu.


Zilla menyipitkan mata mengingat-ingat sesuatu dari alam pikirnya. Beberapa waktu kemudian, ia pun berhasil mengingatnya.


"Pagoda dewa Api. Ya, pagoda itu yang bisa mempercepat penyerapan energi api." Ujarnya penuh optimis.


Jingga sedikit kurang senang mendengarnya, itu karena ia harus menemui dewa Api.


"Jangan, Kak. Kakak seorang iblis. Dewa Api tidak akan mau meminjamkannya." Zilla melarangnya.


"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?"


"Biarkan saja, Kak. Kaisar Langit pasti akan memerintahkan para dewa untuk menyelidiki kejadian di alam iblis. Karena hal ini berdampak juga ke alam fana." Jawab Zilla memperkirakannya.


Jingga melebarkan matanya yang besar karena terkejut mendengarnya.


"Apa?" tanya Jingga sedikit membentak.


Zilla sedikit terkejut mendengarnya. Ia kemudian menjelaskannya,


"Ya, alam fana akan terdampak oleh fluktuasi energi besar yang terjadi di alam iblis. Lautan akan menyusut, dan seluruh benua akan mengalami berbagai kerusakan, dan juga berdampak pada kematian."


"Betulkah dampaknya begitu mengerikan?" kembali Jingga bertanya.


Ia sangat mengkhawatirkan semua orang yang dikenalnya. Pikirannya menerawang jauh pada keluarganya yang berada di alam fana.


"Itu betul, karena ketiga alam saling berkaitan. Bahkan alam dewa pun akan terkena dampaknya apabila kehancuran di alam fana sudah mencapai sepertiganya." Beber Zilla menjelaskan.


"Sialan! Ini semua tidak akan terjadi andai saja monster iblis senyap tidak keluar dari dalam tanah alam iblis." Rutuk Jingga menyalahkan para monster iblis senyap.

__ADS_1


"Kak, ada sesuatu yang mungkin saja ini benar adanya." Kata Zilla mengingat sesuatu yang berhubungan dengan kemunculan monster iblis senyap.


"Apa?" Jingga kembali dibuat khawatir oleh perkataan Zilla.


"Monster iblis senyap tidak muncul dengan sendirinya. Mereka pasti dikendalikan oleh seorang ratu iblis." Jawab Zilla begitu yakin.


Jingga sedikit lega mendengarnya. Namun, ia merasa Zilla hanya membual saja.


"Ha-ha-ha. Kau jangan becanda, Zilla. Nyonya Xin Li Wei tidak mungkin melakukannya."


"Bukan dia, Kak," sanggah Zilla dengan cepat.


"Lalu siapa yang kau maksud?" tanya Jingga yang sedikit tersentak disanggah oleh Zilla.


"Apa Kak Jingga tahu dari mana aku dan Jirex berasal?" Zilla mengajukan pertanyaan yang cukup sulit.


"Aku tidak tahu. Memangnya dari mana?" Jawab Jingga tanpa mau berpikir. Ia malah bertanya balik kepada Zilla.


"Alam semesta yang Kakak ketahui hanyalah salah satu Sanbuqu (trilogi alam) yang berada di lintas Jiuxing (sembilan bintang) yang beredar di galaksi luas. Aku dan Jirex berasal dari semesta lainnya."


"Lanjutkan!" pinta Jingga mulai tertarik dengan hal baru yang didengarnya.


"Aku mencurigai Ratu iblis Kreya dari Sanbuqu Lima yang mengendalikan monster iblis senyap." Ungkap Zilla meyakini perkiraannya.


"Tunggu, kaubilang sanbuqu Lima. Ada berapa banyak Sanbuqu di seluruh galaksi? Lalu apa nama sanbuqu yang kita tempati sekarang?" Lontar tanya kembali diajukan Jingga dengan sedikit kepintarannya.


"Seluruhnya ada sembilan, dan yang kita tempati sekarang adalah sanbuqu Nol. Yaitu sanbuqu yang ditempati oleh para kultivator." Jawab Zilla begitu lugas.


"Apakah delapan sanbuqu lainnya ditempati oleh kultivator juga?"


"Tidak. Sebenarnya hanya tiga semesta yang memiliki sanbuqu. Ketiganya adalah sanbuqu Nol, sanbuqu Lima, dan sanbuqu Sembilan. Sisanya bukanlah sanbuqu karena alam tunggal." Zilla menjelaskannya.


"Wow! Ini hebat. Petualanganku ternyata masih panjang. Ha-ha-ha." Kekeh Jingga begitu gembira.


Perbincangan keduanya masih terus berlanjut dengan penuh khidmat di atas badai api. Beberapa waktu kemudian, ucapan yang disampaikan oleh Zilla benar adanya. Lebih dari dua puluh dewa yang ditugaskan oleh Kaisar Langit mulai memasuki alam iblis. Aura keberadaannya dapat dirasakan Jingga dan Zilla walaupun begitu jauh jaraknya.


"Kak, mereka datang." Kata Zilla yang merasakan kehadiran para dewa.


"Biarkan saja, mereka tidak akan berani mendekati badai api. Ayo kita ke benua Heibiantan."


Zilla mengangguk, lalu keduanya melaju cepat ke arah benua yang dituju.


Catatan:


Sanbuqu \= Trilogi alam (fana, iblis, dan dewa)


Jiuxing \= Sembilan bintang (istilah lain solar system)

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2