Takdir Pedang Sang Iblis

Takdir Pedang Sang Iblis
Gadis Bucin


__ADS_3

Setelah mengakui kekalahannya, Pangeran Qianfan mengulurkan tangannya untuk memberi selamat kepada Du Dung yang langsung membalas mengulurkan tangannya berjabatan dengan pangeran Qianfan.


Pangeran Qianfan kemudian mengangkat tangan kanan Du Dung untuk menunjukkannya kepada semua penonton yang terus bertepuk tangan akan keberhasilannya mengalahkan sang pangeran.


Namun rasa sakit akibat terkena pukulan tepat di bagian atas kepala Du Dung membuat penglihatannya kabur lalu jatuh tergeletak tidak sadarkan diri.


Pangeran Qianfan langsung meminta para pengawalnya membawa Du Dung menuju istana kekaisaran Fei untuk mendapatkan pengobatan.


Bai Niu langsung berlari menghampiri Du Dung yang dipandu para pengawal yang membawanya diikuti oleh Jingga di belakangnya.


Melihat kedua pemuda berlari ke arahnya, Pangeran Qianfan langsung menghentikannya.


"Kalian berdua siapa?" Tanya pangeran Qianfan ingin tahu.


"Kami temannya Dang Ding Dung" jawab Jingga yang membuat pangeran Qianfan yang mendengarnya langsung mengerutkan kening.


"Aku adiknya" seloroh Bai Niu dengan cepat mengalihkan pemikiran pangeran Qianfan.


Melihat raut wajah Jingga yang khawatir dan Bai Niu yang terus menangis, membuat pangeran Qianfan mempercayai keduanya.


"Baiklah, kalian berdua boleh ikut ke istana" ucap Pangeran lalu berjalan mengikuti para pengawal yang sudah lebih dulu berjalan.


Pangeran Qianfan menghentikan langkahnya setelah dua orang tabib menghampirinya untuk mengobati luka pada bahu dan lehernya yang didapatkannya setelah bertarung menghadapi Du Dung.


"Kalian berdua silakan ikuti para pengawal, nanti aku akan menyusul" pinta pangeran Qianfan.


Jingga dan Bai Niu mengangguk lalu mengikuti pengawal yang memandu Du Dung ke istana kekaisaran Fei.


"Besar sekali istana ini" puji kagum Bai Niu yang kedua bola matanya terus saja menatap kemegahan bangunan istana kekaisaran Fei.


Jingga dan Bai Niu merasa heran dengan para pengawal pangeran Qianfan berbelok ke arah sebuah bangunan sebelah kanan istana.


"Kak, kenapa kita tidak memasuki istana?" Tanya Bai Niu heran.


"Aku juga tidak tahu, sebaiknya kita terus mengikutinya saja" jawab Jingga yang dirinya sendiri juga heran.


Sesampainya di sebuah pelataran, seorang pengawal berlari memasukinya lalu tak lama kemudian pengawal keluar dan kembali memimpin jalan.


Jingga dan Bai Niu kembali merenggut, harapannya untuk bisa memasuki istana yang megah harus kandas, Jingga dan Bai Niu terus mengikuti pengawal sampai pada sebuah bangunan sederhana yang di dalamnya sudah ada seorang tabib tua dan dua orang yang lebih muda di belakangnya yang langsung mengambil alih memindahkan Du Dung dari tandu.


Setelah seorang pengawal berbicara dengan tabib tua, para pengawal yang memandu Du Dung kembali pergi.


Tabib tua memanggil Jingga dan Bai Niu memasuki sebuah ruangan dan meminta keduanya duduk menunggu, tak lama Du Dung dibawa oleh kedua murid tabib tua memasuki ruangan lainnya.

__ADS_1


Lama menunggu, Bai Niu menyikut Jingga yang terlelap dalam tidurnya.


"Kak, kenapa mereka tidak ada yang keluar?" Tanya Bai Niu tidak mengerti.


"Sebaiknya kau tidur saja Naninu" balas Jingga begitu malas membuka kedua matanya.


"Kakak ini tahunya hanya tidur saja" kesal Bai Niu yang langsung berdiri membuka sedikit tirai yang menutupi ruangan di dalamnya.


"Kemana mereka?, Kenapa hanya ada kakak Dang Ding Dung saja di situ?" gumamnya melihat Du Dung yang berbaring dengan balutan di kepalanya.


Tak lama pangeran Qianfan memasuki ruangan,


"Gadis kecil, kau sedang mengintip siapa?" Tanya pangeran Qianfan yang membuat wajah Bai Niu mendadak pucat mendengarnya lalu berbalik menunduk tidak berani menatapnya.


"A- aku hanya melihat kakakku saja" jawabnya tergagap dengan jantung yang berdetak cepat.


"Kenapa kau ketakutan seperti itu kepadaku?" Kembali pangeran Qianfan bertanya kepadanya, sang pangeran menaikkan dagu Bai Niu untuk menatapnya.


Mendapat tatapan yang begitu dekat dari seorang pangeran tampan membuat pori-pori kulit wajahnya meneteskan keringat yang membasahi wajahnya yang berubah semerah tomat.


Jingga yang dari tadi sudah membuka kedua matanya hanya menggeleng pelan melihat tingkah adiknya.


Pangeran Qianfan membasuh keringatnya dengan secarik kain yang membuat jantung Bai Niu semakin berdetak kencang sampai terdengar oleh sang pangeran yang selalu tersenyum padanya.


"Apakah ini mimpi?" Gumamnya pelan dengan sorot mata yang berbinar tidak mempercayainya.


"Aw" ringisnya merasakan sakit di keningnya.


"Berhentilah berkhayal, pangeran Qianfan sudah pergi" ucap Jingga menyadarkannya.


Bai Niu menatap Jingga dengan sorot mata yang begitu kesal karena menjitaknya langsung kembali ke modus khayalannya.


Jingga menariknya untuk kembali duduk di sebelahnya.


"Pangeran Qianfan mengundang kita makan malam di kediamannya" ungkap Jingga yang kembali membuat gadis kecil itu bertingkah aneh.


Bai Niu berputar-putar sambil berkhayal lalu mendekap erat seseorang yang baru keluar dari ruangan pembaringan.


"Nona, kau kenapa?" Tanya tabib tua yang terus didekapnya.


"Bai Niu menengadah menatap tabib tua yang tersenyum ke arahnya.


"Hah!" Jerit Bai Niu terkejut lalu bersembunyi di Punggung Jingga yang dari tadi hanya menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Bagaimana kondisi temanku sekarang?" Tanya Jingga ingin tahu.


"Tuan muda tenang saja, pangeran Qianfan memintaku memberikan pil raja untuk diminumkannya, mungkin sekitar dua hari ia akan pulih dan siuman" jawab tabib menenangkannya.


"Terima kasih, kalau begitu bolehkah kami masuk menemaninya?" Timpal Jingga meminta izin.


"Silakan" sahut tabib tua mengizinkannya.


Jingga langsung memasuki ruangan bersama Bai Niu yang terus menyembunyikan wajahnya di punggung Jingga.


Malam harinya Jingga dan Bai Niu pergi memenuhi undangan ke kediaman pangeran Qianfan yang lokasinya tidak jauh dari tempat Du Dung dirawat.


Bai Niu begitu gugup duduk bersama dengan keluarga kerajaan Shuijing, selama duduk Bai Niu terus menundukkan wajahnya tidak berani menatap pangeran Qianfan yang berada di seberang meja berhadapan dengannya langsung.


Seorang pria tua yang merupakan raja Shuijing menatap heran ke arah Jingga dan Bai Niu yang tidak mengambil sesuatu untuk dimakan.


"Kenapa kalian berdua tidak memakan sesuatu, apa ada menu yang kurang?" Tanya Raja kepada keduanya.


"Mohon maaf yang mulia, aku sedang tidak mengkonsumsi makanan tetapi adikku makannya sangat banyak, pasti ia akan menghabiskan semuanya, percayalah" jawab Jingga.


"Itu tidak benar yang mulia, aku tidak seperti itu" tampik Bai Niu memotongnya.


Semua orang di meja makan tertawa ringan menanggapinya.


"Kakak, kau memalukanku di depan calon mertuaku" ucap Bai Niu membisikinya.


Jingga kembali menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Bai Niu yang masih saja berkhayal.


Selesai acara makan malam, pangeran Qiantan mengajak keduanya berbincang di halaman belakang kediamannya.


"Kemungkinan saudara Du Dung tidak bisa mengikuti turnamen, aku harus memastikannya pulih sebagai tanggung jawabku, apakah ada saudara lainnya dari sekte Hiu Purba yang akan menggantikan posisinya dalam pertandingan?" Tanya pangeran Qianfan yang melihat keduanya bukan seorang kultivator.


"Kami hanya datang bertiga mewakili sekte Hiu Purba, sedangkan penggantinya adalah diriku" jawab Jingga mengetahui maksudnya.


"Apakah kau yakin?, turnamen ini memiliki resiko yang tidak ringan bahkan sangat fatal, aku tidak bermaksud meremehkan saudara Jingga, tetapi resiko yang akan dialami oleh bukan seorang kultivator sangatlah tinggi, aku bisa menegosiasikannya dengan pihak kekaisaran untuk menunda turnamen sampai saudara Du Dung pulih kembali" tanya pangeran Qianfan dengan menjelaskan.


"Pangeran tidak perlu khawatir akan itu, sebaiknya turnamen berjalan dengan normal tanpa harus ada penundaan, apa yang pangeran katakan hanya akan membuat semua orang meragukan kredibilitas pihak penyelenggara turnamen" jawab Jingga meyakinkannya.


"Baiklah kalau seperti itu, aku akan menyaksikan pertandindingan saudara Jingga, namun kau tidak harus memaksakan diri, kemenangan tidaklah penting, yang paling penting adalah keselamatan diri" timpal pangeran Qianfan mengingatkannya.


"Lalu kenapa adikmu selalu saja menatapku seperti itu?" Sambung pangeran Qianfan menggoda Bai Niu.


"Maafkan adikku yang sedang tidak waras ini pangeran" jawab Jingga menyindir Bai Niu yang mendadak panas mendengarnya lalu kenbali dingin setelah ditatap pangeran yang tersenyum ke arahnya.

__ADS_1


Jingga dalam hati terus menertawainya lalu melanjutkan perbincangan lainnya dengan pangeran Qianfan.


Setelahnya Jingga berpamitan untuk menemani Du Dung, ia menarik paksa tangan Bai Niu yang enggan meninggalkan halaman belakang kediaman pangeran Qianfan.


__ADS_2