
Setelah mengalami sedikit masalah dengan remaja klan Tang, Jingga akhirnya bisa menikmati araknya dengan santai, seperti biasanya ia terus mendengarkan setiap obrolan pengunjung restoran.
Sampai matahari terbenam, Jingga masih belum mendapatkan informasi terkait dengan kasus penculikan anak dan gadis remaja.
"Apa berita ini hanya ada di kalangan istana saja atau penduduk ibukota tidak ada yang mengetahuinya?" Tanya pikirnya.
"Sebaiknya aku kembali ke istana, besoknya baru ke lokasi terakhir penculikan" imbuhnya lalu keluar dari restoran.
Jingga berjalan dengan santai menikmati suasana kota Luyan yang ramai.
Baru beberapa langkah kakinya berjalan, Jingga terpaksa menghentikan langkahnya tatkala puluhan orang berlari ke arahnya.
"Kau pemuda asing, beraninya kau mempermalukan tuan muda klan Tang, sekarang ikutlah bersama kami atau kau akan mati mengenaskan di sini" ujar seorang pria paruh baya berpenampilan pendekar.
"Ya, ya, ya, aku ikut dengan kalian tapi pastikan arak di tempat kalian enak rasanya" sahut Jingga mengiyakan tawarannya.
Sesampainya di kediaman klan Tang, Jingga merasa seperti memasuki sebuah sekte yang memiliki area luas.
Memasuki sebuah aula klan yang lumayan besar, beberapa anggota klan nampak sedang membahas sesuatu.
"Tetua, kami berhasil membawa pemuda yang mencederai ketiga tuan muda" ucap pria paruh baya melaporkan.
Para tetua langsung melirik pemuda asing yang berdiri tenang memperhatikannya.
"Berlututlah" pinta pria paruh baya menekan bahu Jingga untuk berlutut, namun pemuda yang ditekannya begitu keras seperti batu. Ia kemudian mengalirkan energi spiritualnya untuk bisa membuat pemuda di depannya berlutut di depan para tetua klan Tang.
"Hem!" Deham Jingga tidak senang dengan perlakuan pria paruh baya di belakangnya.
Jingga berbalik ke belakang lalu sedikit mengeluarkan aura iblisnya.
Buk!
Pria paruh baya terpental ke tiang kayu lalu memuntahkan darah.
Sontak semua orang terkejut melirik pria paruh baya yang tiba-tiba terpental jatuh.
"Aura macam apa ini?, Aku tidak pernah tahu ada aura yang membuat seorang kultivator terlempar" gumam pria paruh baya sambil merasakan sakit pada seluruh tubuhnya.
"Aku bahkan bisa meledakkan kultivator hanya dengan auraku" balas Jingga di dalam pikiran pria paruh baya.
Pria paruh baya langsung menelan salivanya yang dipenuhi darah merasa ketakutan menatap pemuda asing yang menyeringai dingin kepadanya.
Jingga langsung berbalik menatap para tetua dan anggota klan lainnya.
"Katakanlah, apa yang kalian inginkan dariku?" Tanya Jingga menatap dingin semuanya.
__ADS_1
"Kau boleh pergi, kami tidak akan mempermasalahkannya" ujar seorang lelaki tua berambut putih tidak ingin membuat pemuda asing menambah masalah kepada anggota klannya.
"Kalian telah membuang waktuku, aku meminta kalian memberikanku kompensasi sebanyak sepuluh juta koin emas" ucap Jingga dengan menyeringai tajam.
"Kau jangan kurang ajar kepada kami pemuda asing" geram seorang pemuda menghampiri Jingga, namun tangannya ditahan oleh salah satu tetua.
"Tenanglah, kau jangan gegabah, kita belum mengetahui pemuda itu" ujar seorang tetua memperingatkannya.
Suasana di aula klan menjadi tegang beberapa waktu sampai seorang wanita cantik memasuki aula.
"Ada apa ini? Kenapa kalian terlihat begitu tegang?" Tanya wanita cantik lalu melirik pemuda pemuda asing yang membuat semua anggota klan begitu tegang.
"Tuan muda Jingga" ucapnya mengenali pemuda asing yang pernah menemuinya di ruang kerjanya.
"Halo Nyonya He" sapa Jingga yang juga mengenalnya.
"Suatu kebetulan bisa bertemu lagi denganmu, mari ikut ke kediamanku" ajak Nyonya He langsung menarik tangan pemuda asing meninggalkan aula.
Semua orang di aula klan menatap tidak percaya pada salah satu tetuanya begitu akrab dengan pemuda asing yang sebelumnya membuat mereka begitu cemas.
Baru saja beberapa langkah Jingga dan Nyonya He akan meninggalkan ruang aula, tiba-tiba seorang gadis yang entah dari mana datangnya langsung menghampirinya.
Plak!
Plak!
Lagi-lagi semua orang dibuat terperangah melihat salah seorang nona mudanya dengan berani menampar pemuda asing.
Jingga hanya tersenyum saja membiarkan dirinya terkena tamparan gadis yang memendam kekesalan padanya.
"Apakah kau sudah menebang beberapa pohon di hutan rimba atau kau telah membabat habis semuanya?" Tanya Jingga membisikinya.
Merah padam wajah si gadis langsung tersulut emosi mendengar bisikannya, ia langsung melayangkan pukulan ke arah Jingga.
Jingga langsung mengelaknya, namun naas, pukulan gadis itu melayang ke wajah Nyonya He.
Bugh!
"Aw!"
Jerit Nyonya He terkena pukulan yang dilayangkan si gadis.
Plak!
"Juan'er! Kau berani memukul bibimu sendiri" geram Nonya He langsung menamparnya.
__ADS_1
"Maaf, Bibi" balas Juan menyesalinya lalu pergi meninggalkan keduanya.
Di dalam kamar Nyonya He, Jingga duduk memperhatikan wanita yang sedang mengompres wajahnya yang lebam terkena pukulan keponakannya sendiri.
"Aku sudah mengetahui siapa dirimu, bisakah kau menceritakan tentang mendiang patriark klan kami" ujar Nyonya He langsung duduk berhadapan dengan Jingga.
"Siapa yang Nyonya maksud?" Tanya Jingga memastikan.
"Jenderal Tang Xie Zhang, bukankah kau cucu angkatnya?" Jawab Nyonya He balik bertanya.
Jingga langsung menceritakan semua yang bisa ia ceritakan kepada wanita yang terlihat begitu anggun dan berkharisma menatapnya dengan serius.
"Sudah larut malam Nyonya, aku harus kembali ke istana" ucap Jingga berpamitan.
"Menginaplah di sini, aku pastikan semua anggota klan akan menerima kehadiranmu"
"Maaf, Nyonya. Tapi aku pria baik-baik, aku tidak bisa tidur denganmu"
"Aku tidak memintamu tidur denganku, aku akan meminta pelayan mempersiapkan satu kamar untukmu"
"He he he, baiklah kalau begitu" kekeh Jingga salah memahami maksud Nyonya He.
"Oh iya Nyonya, apakah kau pernah mendengar tentang kasus penculikan anak dan gadis remaja yang akhir-akhir ini terjadi di wilayah kekaisaran Xiao?"
"Ya, aku mendengarnya dari obrolan pekerjaku, tapi itu tidak terjadi di kota Luyan, dari apa yang aku dengar, kasus itu terjadi di kerajaan Xin Yue dan Hetao yang merupakan kerajaan taklukan kekaisaran Xiao di wilayah barat" jawab Nyonya He setahunya.
"Pantas saja aku hanya mendengarnya di istana, terima kasih Nyonya He untuk informasinya" ucap Jingga.
"Untuk apa tuan muda Jingga menanyakannya?"
"Aku akan menyelidikinya untuk menghentikan pelakunya"
"Oh begitu, kau tunggulah, aku akan memanggil pelayan untuk mempersiapkan kamar untukmu"
Setelah beberapa saat menunggu, Jingga diantar seorang pelayan ke kamar yang disediakan untuknya.
Esok harinya Nyonya He secara pribadi mendatangi kamar Jingga.
Tok, Tok, Tok!
"Tuan muda Jingga" panggilnya di pintu luar.
Jingga seketika terbangun lalu menghampirinya dan membukakan pintu.
"Kenapa kau mengganggu tidurku?, apakah kau ingin tidur denganku?" Tanya Jingga yang masih belum tersadar lalu menutup kembali pintu kamarnya.
__ADS_1
"Tuan muda Jingga, ini aku Tang Xia He" balas Nyonya He terlihat begitu bingung dengan pemuda yang masih tertidur di siang hari.
Jingga kembali terbangun, dengan malasnya ia menghampiri Nyonya He yang masih menunggunya di luar pintu.