Takdir Pedang Sang Iblis

Takdir Pedang Sang Iblis
Tugas akhir Pendekar Gila


__ADS_3

Sesampainya di kaki gunung Lanhua, Jingga langsung menceburkan diri ke dalam air danau yang melingkar.


Panas dari tubuhnya menciptakan evaporasi yang menyebabkan air danau langsung habis hanya dalam beberapa menit saja.


Fenomena purnama darah mencapai puncaknya, membuat Jianhuimie Yuzhou terus bereaksi dengan memancarkan aura iblis yang terus menekan dinding segel formasi berlapis yang diciptakan oleh Yuangu Mowang, bahkan tekanan dari aura iblis membuat gunung Lanhua berguncang hebat.


Semakin lama, segel formasi terus mengalami keretakan menahan aura iblis yang tanpa henti memberikan tekanan yang semakin kuat setiap waktunya.


Kedua pendekar gila sudah siap menghadapi dampak fenomena purnama darah yang berada pada puncaknya.


"Nenek gila, sebelum kita punah, aku ingin mengatakan sesuatu padamu" ucap kakek gila yang terus melayang di atas puncak gunung Lanhua.


"Katakanlah" sahut nenek gila yang berada di bawah kaki gunung Lanhua, nenek gila begitu fokus menunggu momen untuk melakukan pekerjaan terakhirnya di gunung Lanhua.


"Terima kasih kau telah menjadi bagian perjalanan hidupku" ucap kakek gila begitu menusuk hati nenek gila yang mengetahui itu adalah kata-kata perpisahan darinya.


"Terima kasih kembali Tao'er" kata batinnya membalas ucapan kakek gila.


Setelah merasa waktunya sudah pas dengan perhitungannya, nenek gila langsung menciptakan sebuah perisai untuk menekan ledakan gunung yang bisa menyebabkan kehancuran yang meluas di sekitarnya.


"Kakek gila, sekarang!" Teriak nenek Yan Wei memberikan instruksi kepada kakek Kun Tao untuk membuka portal dimensi.


Kakek Kun Tao menggerakkan jarinya membentuk pola rumit untuk membuka portal dimensi dengan memanfaatkan artefak kuno peninggalan Yuangu Mowang.


Begitu portal terbuka, nenek Yan Wei langsung melemparkan tubuh Jingga memasuki portal dimensi yang langsung tertutup seketika.


"Ah!" Pekik teriakan Jingga yang terkejut dirinya terlempar jauh ke sebuah ruang yang begitu gelap dan sangat panas.


Ia tak dapat lagi menahan rasa panas di tubuhnya yang seperti meleleh terpontang-panting ke dalam area gelap dan langsung tidak sadarkan diri.


Kedua pendekar gila menghembuskan napas merasakan perasaan lega telah selesai melaksanakan tugas terakhirnya di alam fana.

__ADS_1


Tugas terakhir didapatkan keduanya seratus tahun yang lalu ketika keduanya menemukan artefak kuno peninggalan Yuangu Mowang.


Lalu keduanya memutuskan untuk mengakhiri petualangannya sebagai kultivator dan menjadi juru kunci di gunung Lanhua selama satu abad ini.


Getaran tanah langsung berhenti seketika, namun baru beberapa saat kedua pendekar gila merasakan ketenangan, hawa panas dari kedalaman gunung menyembur keluar.


Buzz!


Semburan hawa panas tanpa warna membuat kedua pendekar gila terkejut dan membuat kedua tubuhnya langsung berubah menjadi serpihan debu yang langsung melenyapkan keduanya tanpa sisa.


Semburan hawa panas juga menyebabkan gunung Lanhua yang tadinya dipenuhi oleh pepohonan dan tumbuhan menjadi tandus, menyisakan tanah dan bebatuan berwarna hitam pekat yang terus mengeluarkan asap.


Alam Iblis


Di waktu yang bersamaan, getaran juga terjadi pada gunung Yongheng, semakin lama getaran berubah menjadi guncangan hebat yang membuat gunung Yongheng akhirnya meledak dengan sendirinya.


Ribuan iblis yang melayang mengelilinganya langsung bersorak gembira tatkala sebuah pedang yang memiliki gagang di tengah dua bilahnya, atau seperti dua pedang dalam satu pegangan tangan.


Raja Iblis menjadi geram dibuatnya, ia tidak bisa melawannya karena kekuatan Jianhuimie Yuzhou begitu ditakutinya yang pada akhirnya Raja Iblis dijebloskan ke dalam penjara bawah tanah oleh Ratu Iblis di istana kerajaan iblis dan menjadikan Ratu Iblis sebagai pemimpin satu-satunya di alam iblis.


Masih di waktu yang sama, Raja Iblis Kuno Yuangu Mowang tersenyum bahagia memperhatikan apa yang terjadi di kerajaan iblis melalui pedang palsu ciptaannya, replika pedang Jianhuimie Yuzhou berhasil memisahkan Ratu Iblis dengan Raja Iblis.


Ratu Iblis adalah istri dari Yuangu Mowang sebelum akhirnya berkhianat menikah dengan seorang Jenderal Iblis yang diangkat menjadi Raja Iblis paska hilangnya Yuangu Mowang.


Setelah puas pada salah satu rencananya yang berjalan sempurna untuk membuat Raja dan Ratu iblis saling bertikai di masa depan. Yuangu Mowang langsung beralih ke pemuda yang akan menjadi penerusnya.


"Makhluk kecil bodoh, ciptakanlah neraka di tiga alam ha ha ha" ucapnya untuk yang terakhir kalinya.


Tidak ada lagi kekuatannya yang tersisa, Raja Iblis Kuno langsung musnah dari tempatnya terbelenggu selama ribuan tahun, kekuatan iblisnya telah sepenuhnya menjadi milik Jingga sang iblis.


Di puncak tertinggi gunung Himalaya, sang Petapa membuka matanya, ia menatap kejauhan memperhatikan Jingga yang masih tergeletak di samping pedangnya yang terus menyala menunggu tuannya tersadar kembali.

__ADS_1


"Siklus terus berputar, hilang satu, datang satu, takdir, takdir" ucapnya lalu menghilang dari tempatnya.


Esok harinya langit kembali normal, hujan deras membasahi seluruh area kota Lanhua.


Dinginnya hujan memberikan ketenangan pada semua orang yang dari kemarin begitu mengkhawatirkan akan terjadinya hal buruk yang akan menimpa umat manusia di alam fana.


Pagi ini, kekhawatiran semua orang telah sirna seiring guyuran hujan membawa keberkahan pada alam semesta.


Kehidupan pun kembali normal, setiap orang kembali pada aktifitasnya masing-masing, baik di alam fana, alam iblis maupun alam dewa.


Akan tetapi kebahagiaan yang dirasakan semua orang tidak dirasakan oleh dua pemuda yang kehilangan temannya.


"Niu'er, ayo kita ke kaki gunung Lanhua, sepertinya Jingga berada di sana" ajak Du Dung langsung menggendongnya, berlari ke arah kaki gunung Lanhua.


Dengan basah kuyup karena kehujanan, kedua pemuda itu terus mendekati kaki gunung Lanhua.


"Kak, apa yang terjadi di sini?, Kenapa semuanya menjadi tandus, gunung pun hanya menyisakan gundukkan tanah dan bebatuan yang berasap?" Tanya Bai Niu merasa keheranan dengan apa yang dilihatnya jauh berbeda dengan sebelumnya.


"Kakak juga tidak tahu, sebaiknya kita terus mencarinya" jawab Du Dung yang langsung menurunkannya.


"Kak Jingga" teriak Bai Niu sambil berkeliling di sekitar kaki gunung, begitupun dengan Du Dung yang juga berteriak memanggil temannya itu.


Sampai sore hari keduanya terus mencari Jingga, tidak ada satu pun sahutan yang mereka dengar sebagai balasan dari teriakan keduanya yang tanpa henti terus meneriakinya.


"Niu'er, sepertinya Jingga tidak berada di sini, ayo kita cari ke alun-alun kota, mungkin kita bisa menemukannya di sana" ajak Du Dung yang menyerah mencarinya di sekitar kaki gunung Lanhua.


Keduanya lalu pergi ke arah kota dan langsung menuju ke alun-alun kota Lanhua.


Kembali keduanya tidak menemukan keberadaan Jingga, suasana alun-alun kota masih begitu sepi karena turnamen pertandingan masih ditunda beberapa hari ke depan.


"Bagaimana Kak, kemana lagi kita harus mencarinya?" tanya Bai Niu terlihat begitu sedih.

__ADS_1


"Kita tidak perlu mencarinya lagi, Kakak yakin, Jingga pasti kembali bersama kita" jawab Du Dung menenangkannya.


__ADS_2