
"Tunggu, saudara-saudara. Tenang!" Pekik Kaisar Xiao Manyue sambil merentangkan kedua tangannya ke depan.
"Tahan dulu!" Sambung Permaisuri Kim Rei.
Beberapa pendekar yang berlari terpaksa menghentikan langkahnya.
"Kenapa Yang Mulia menahan kami? Bukankah ini kesempatan kita membunuh gadis penyihir dan pemuda itu?" Protes seorang pendekar paling depan menunjuk keduanya.
Beberapa pendekar lainnya mengangguki, mereka tidak ingin kesempatan emas yang terpampang di depan mata terlewatkan.
"Enak saja kau bilang begitu, aku tidak mengenal gadis penyihir, bagaimana aku bisa menjadi suaminya kalau aku sendiri pun tidak mengenalinya" sanggah Jingga tidak menerima.
Mei Moshu menyeringai licik mendengarnya, ia diam-diam memperhatikan beberapa anggota keluarga sekte Bayangan Jingga yang sedang panik.
Wuzz!
Mei Moshu mencengkram leher seorang gadis lalu berkelebat di antara batang-batang bambu.
"Suamiku, kalau kau ingin menyelamatkan gadis ini, carilah aku di lembah Persik. Ha ha ha" ujarnya lalu menghilang bersama seorang gadis yang diketahui bernama Qianyuna.
"Brengsek! Kenapa harus Cucuku yang dia bawa?" Geram Qianzhou ingin mengejarnya namun ditahan oleh Qianli.
Jingga sendiri mengabaikan geramannya, ia masih menatap para pendekar yang menyeringai sinis padanya.
"Kalian semua lemah! Tidak pantas menjadi lawanku" Cemooh Jingga merendahkan para pendekar.
Belum sempat para pendekar membalas perkataan yang dilontarkan Jingga, pemuda yang mencemooh mereka telah hilang dari tempatnya.
Wuzz!
Jingga berkelebat meninggalkan area pemakaman hutan bambu merah dan langsung memasuki kamar mendiang adiknya. Ia mengambil pedang Langit lalu berkelebat kembali ke area pemakaman.
Para pendekar begitu berbinar melihat Jingga menggenggam pedang Langit. Namun mereka semua tidak ada yang berani bertindak karena menghormati keberadaan Kaisar Xiao Manyue dan Permaisuri Kim Rei.
"Maaf, Kaisar yang dimuliakan para pendekar. Apa kau tahu lokasi lembah Persik?" Tanya Jingga.
"Lembah Persik tidak jauh dari reruntuhan desa Maotoying, apa kau akan ke sana?" Jawab kaisar Xiao Manyue balik bertanya.
"Ya, aku ingin tahu alasan gadis penyihir itu memanggilku suami, sekaligus aku harus menyelamatkan Cucu Paman Qianzhou" jawab Jingga langsung berkelebat pergi meninggalkannya.
"Apakah dia seorang kultivator?" Gumam pikir kaisar baru menemukan seorang pendekar yang memiliki kecepatan di luar nalarnya.
"Yang Mulia, apakah kami boleh menyusul keduanya?" Tanya seorang pendekar.
__ADS_1
"Pergilah! Pastikan gadis penyihir telah mati dan pedang Langit dikembalikan kepadaku" jawab kaisar mengizinkannya.
Para pendekar lalu berbondong-bondong pergi meninggalkan area pemakaman hutan bambu merah.
"Tetua Qianli, aku ingin tahu siapa pemuda tadi? Aku sulit memindai lingkar tenaga dalamnya. Apakah dia seorang kultivator?" Tanya kaisar.
"Apakah Yang Mulia akan mempercayai ucapanku?" Tanya balik Qianli.
"Katakan saja" jawab kaisar.
Tetua Qianli langsung menceritakan kebenaran tentang Jingga, dalam setiap penuturannya, kaisar Xiao Manyue selalu mengerutkan keningnya sulit memahami apa yang diceritakan oleh tetua Qianli. Tidak ada bantahan sekalipun dari kaisar, ia terus saja mendengarkannya dengan seksama.
Belum selesai Qianli menceritakannya, di sampingnya permaisuri Kim Rei langsung memotongnya.
"Tidak perlu dilanjutkan, Tetua Qianli. Aku yakin gadis penyihir tadi juga berasal dari masa lalu. Kita harus menyusul mereka ke lembah Persik sebelum semuanya terlambat"
Kaisar Xiao Manyue mengangguk lalu meminta rombongannya untuk menyusul para pendekar ke lembah Persik. Sementara tetua Qianli hanya menunjuk delapan orang saja yang mengikuti rombongan kaisar.
Di posisi Jingga, ia terus berkelebat ke arah kota Luyan, namun ia lupa semuanya sudah jauh berubah dari masanya dahulu. Ia tersasar di dalam hutan sebelum mencapai kota Luyan.
"Sialan! Hutan apa ini?" Rutuknya kesal.
Jingga kesulitan mencari jalan keluar, ia terus saja berkelebat ke sana kemari di dalam hutan yang begitu lebat.
"Tahu begini, aku akan meminta para tetua sekte untuk menemaniku. Hem! Sudahlah" keluh Jingga lalu melompat turun ke tanah.
Jingga memutuskan untuk berjalan santai menelusuri kedalaman hutan. Hari demi hari terlewati, ia tidak menemukan hal apa pun di dalamnya, hanya hewan-hewan saja yang terkadang ditemukannya.
"Kenapa hutan ini begitu jauh?, apa aku terbelenggu dalam ruang ilusi?" Lontaran pertanyaan membisiki hatinya.
Ia mulai gelisah dalam kebosanannya berada di dalam hutan yang masih belum ditemukan ujungnya.
"Aaah!" Pekik teriakan Jingga di dalam hutan membuat para hewan berlarian menjauhinya.
Setelahnya, Jingga terduduk lesu pada batang pohon yang disandarinya.
"Kekuatan jiwa" gumamnya.
Ia teringat untuk mencoba kembali menemukan kekuatan jiwa yang bersemayam dalam tubuhnya.
"Semoga saja aku berhasil menemukannya" imbuhnya berharap.
Jingga bersila lalu menutup kedua matanya. Dalam posisi bermeditasi, ia mulai memfokuskan diri merasakan energi pada tubuhnya.
__ADS_1
Lambat laun Jingga mulai bisa merasakan adanya kekuatan yang berbeda dari energi iblisnya. Ia mulai bisa merasakan keberadaan lapisan energi yang sangat berbeda dari ketiga elemen api yang terus membaur bersama energi iblisnya.
Entah sudah berapa lama ia memfokuskan diri memindai kekuatannya. Pada akhirnya Jingga kembali membuka kedua matanya.
"Kekuatan jiwa yang sesungguhnya adalah keteguhan hati, semakin teguh kekuatan jiwa akan memancarkan kekuatannya" gumam Jingga mulai memahaminya.
Ia kembali bangkit dari meditasinya, tanpa disadarinya, kedua pupil matanya berubah menjadi merah. Mata iblisnya berfungsi kembali, ia sekarang bisa memindai jarak seribu kali lipat dari sebelumnya.
"Ha ha ha, akhirnya mata iblisku kembali berfungsi"
"Hem! Ternyata hutan ini memang luas" gumamnya setelah memindai area depannya.
"Langkah bayangan"
Wuzz!
Jingga berkelebat membentuk angin hitam menerobos cepat area hutan.
Sampai pada ujung tebing, Jingga kini bisa melihat keberadaan kota Luyan.
"Aku merindukan arak yang enak" gumamnya lalu melompati tebing dan kembali berkelebat ke arah ibukota luyan.
Sampai mendekati gerbang ibukota, Jingga menurunkan kecepatannya lalu berjalan santai ke arah gerbang untuk melaporkan diri pada penjaga.
"Halo, Tuan penjaga" sapa Jingga sambil tersenyum.
"Katakan dirimu dengan jelas dan tujuanmu memasuki kota Luyan" balas seorang penjaga berkumis tebal.
"Aku Tang Xie Jingga dari sekte Bayangan Jingga kota Lintang. Tujuanku hanya ingin memasuki kedai untuk mengobati kerinduanku pada arak enak kota Luyan, setelahnya aku akan kembali melanjutkan perjalananku ke perbatasan" beber Jingga.
"Apa kau bagian dari klan Tang?" Tanya penjaga menyelidik.
"Ha ha, bukan. Hanya kebetulan saja nama klan Tang tersemat di namaku. Tuan pasti bisa melihat aku bukan berasal dari benua Matahari ini" jawab Jingga dengan merentangkan kedua tangannya.
"Betul juga, kau terlihat asing. Masuklah! Jangan membuat keributan atau aku akan menangkapmu" sambung penjaga mengizinkannya.
Jingga mengangguk lalu berjalan kembali memasuki kota. Ia terlihat begitu kagum pada perubahan kota yang sekarang terlihat semakin padat penuh bangunan.
Beberapa langkah ia berjalan, akhirnya Jingga menemukan sebuah kedai yang dipenuhi oleh pengunjung. Ia langsung memasukinya dengan perasaan yang begitu gembira.
Seorang pelayan muda menghampirinya yang masih berdiri mencari tempat duduk.
"Selamat datang, Tuan muda. Kami punya hidangan spesial yang tidak mungkin bisa ditolak, ada ayam bakar tanpa kaki, bakmie rebus spesial, makanan laut, makanan darat dan makanan udara kami miliki dan pastinya sangat lezat" sapa seorang pelayan dengan sangat lugas menawarkan berbagai masakan.
__ADS_1
"Aku hanya ingin arak satu kendi besar dikocok menghadap matahari sambil mengucapkan salam pada iblis neraka dilanjutkan dengan membayangkan bercinta dengan seorang Putri" balas Jingga lalu duduk tak jauh dari pintu masuk.