
Jingga yang becanda langsung berkelebat menangkap tubuh Naray lalu membawanya ke pondok kayu dan menciumnya dengan lembut selama beberapa detik lalu melepaskannya.
"Sudah, jangan marah lagi. Maafkan Aa yang tidak bisa menjadikan Neng lebih dari seorang adik, Aa sudah memiliki istri yang kejam" ucap Jingga sambil menunjukkan ketakutannya.
"Ha ha ha, ketahuan. Aa suami takut istri" kekeh Naray mulai menerimanya.
"Iya, istri Aa itu sangat kejam, Aa sangat takut kepadanya" sambung Jingga meyakinkannya.
"Sudah larut, ayo kita masuk" ajak Jingga lalu memangku adiknya memasuki rumah.
Namun, Jingga langsung menurunkannya di depan pintu. Dengan menggerakkan kedua alisnya, Jingga meminta adik barunya untuk masuk ke dalam rumah dan langsung menutup pintu.
Ia kembali ke pondok kayu untuk membuat banyak anak panah sampai menjelang pagi.
Paman Apiak keluar rumah di pagi buta, ia melihat Jingga yang sedang merapihkan anak panah.
"Jingga, kenapa tidak tidur?" Tegur paman Apiak menghampirinya.
"Eh, Paman. Tidak apa-apa, aku sudah membuat banyak anak panah untuk berlatih memanah hari ini" jawab Jingga menunjukkannya.
"Ikuti, Paman. Ada yang ingin Paman tunjukkan padamu" ajak paman Apiak membawanya ke suatu tempat yang selama ini dirahasiakannya.
Berada di tengah hutan, paman Apiak menarik sebuah tuas yang tersembunyi di akar pohon besar.
Tidak ada suara pintu yang terbuka, Jingga merasa heran sendiri. Paman Apiak lalu memutari pohon sebanyak lima belas kali. Setelahnya pemandangan berbeda terlihat di balik pohon.
"Dimensi ilusi" gumam Jingga yang memperhatikannya.
"Ayo kita masuk" ajak paman Apiak melangkahkan kakinya diikuti Jingga di belakangnya.
Tampak sebuah taman yang begitu indah terbentang luas di hadapannya, namun bukan itu yang ingin dilihat oleh Jingga. Ia terus saja mengikuti paman Apiak yang terus melangkah tanpa pernah menolehnya.
Cukup jauh keduanya berjalan, tiba-tiba saja paman Apiak mendorong pintu tak kasat mata di depannya. Suasana berbeda kembali terlihat, keduanya kembali melanjutkan langkah ke area lainnya.
Sampai lima belas kali suasana berbeda di setiap pintu masuk, paman Apiak akhirnya menghentikan langkah kakinya.
Terpampang di depannya, sebuah busur panah berwarna hitam dengan garis berwarna emas tertancap di antara dua batang logam pendek yang menopangnya.
"Paman tidak tahu, dirimu atau bukan, orang yang ditunjuk oleh pemilik busur panah sebagai penerusnya. Setelah bertemu denganmu, Paman melihat dirimu berbeda dengan pemuda yang pernah paman temui selama hidup Paman. Cobalah kau ambil busur itu!" Ujar paman Apiak memintanya.
"Baik, Paman. Tapi jangan kecewa apabila aku gagal mengambilnya" balas Jingga lalu menghampiri busur panah.
__ADS_1
Sebelum mencobanya, Jingga menoleh ke arah paman Apiak yang tersenyum simpul menanggapinya.
Jingga lalu menggenggam busur panah, namun tangannya seperti tertahan oleh energi yang keluar dari busur panah.
"Aaah!" Jerit Jingga merasakan sengatan energi yang menyeruak ke seluruh tubuhnya.
Dhuar!
Jingga terpental jauh ke belakang dan bergulingan di tanah. Ia gagal mengambil busur panah.
Tidak ada luka pada tubuhnya, namun ia terus bergetar merasakan guncangan energi yang tersisa pada tubuhnya.
Beberapa saat kemudian tubuhnya kembali normal, Jingga bangkit lalu menghampiri paman Apiak yang terus memperhatikannya.
"Maafkan aku, Paman" ucap Jingga memelas.
"Tidak apa-apa, kaubukan jodohnya, Paman keliru menilaimu" balas paman Apiak sedikit kecewa.
Berrr!
Dimensi ilusi bergetar hebat, paman Apiak tidak menduganya, tiba-tiba saja Jingga menghilang dari pandangannya
"Jingga!" Pekik paman Apiak begitu panik.
Pupil mata Jingga membesar, ia terkejut melihat sosok gadis yang sangat dikenalinya.
"Hou'er!" Ucap Jingga masih tidak percaya.
Ia lalu memeluk istrinya, namun tidak merasakan apa pun. Gadis yang ditemuinya adalah serpihan jiwa yang ditinggalkan oleh Xian Hou ketika menyimpan senjatanya.
"Selamat atas keberhasilanmu mendapatkan panah Dewi Bulan, pergunakanlah dengan bijak untuk membantu menyelamatkan alam fana dari kemusnahan perang bangsa iblis dan bangsa dewa dalam siklus 10000 tahun" ujar jiwa Xian Hou langsung berubah menjadi butiran kristal yang beterbangan.
"Dewi Bulan, ternyata istriku dulunya Dewi Bulan. Aku akan menginterogasinya nanti setelah kembali pulang" gumam Jingga yang begitu penasaran dengan kisah hidup istrinya.
Jingga kembali ke hadapan paman Apiak yang berkeringat dingin kehilangan dirinya.
...Alam Peri...
Xian Hou yang sedang duduk memperhatikan kedua adik iparnya yang selalu bermain di taman merasakan sentakan di hatinya.
"Panahku, siapa yang mendapatkan panah yang aku tinggalkan?" Tanya pikirnya.
__ADS_1
Ia semakin panik ketika menyadari tolakan energi dewa pada orang yang mendapatkan panah miliknya.
"Siapa pun yang mengambilnya, semoga tidak menyebabkan mala petaka di alam semesta" gumamnya menenangkan diri.
"Suamiku, kapan dirimu pulang? Aku sangat merindukanmu" imbuhnya mengingat Jingga.
...Alam Fana...
Jingga terus saja menepuk wajah paman Apiak yang kehilangan kesadarannya karena panik kehilangan dirinya.
"Pamaan!" Teriak Jingga mengejutkannya.
"Jingga, syukurlah dirimu baik-baik saja. Maafkan Paman yang begitu panik" ucap paman Apiak merasa lega.
"Jingga, panahnya hilang. Bagaimana ini?" Kembali paman Apiak dibuat cemas.
"Sudahlah, Paman. Yang penting kita keluar dulu dari alam ini" balas Jingga lalu mendorongnya.
Keduanya berlarian ke setiap pintu secara terbalik, setelah lima belas pintu dilewati, keduanya tiba-tiba saja keluar dari pohon besar.
"Paman, kenapa bersedih?" Tanya Jingga yang memperhatikan paman Apiak begitu murung setelah membawanya memasuki dimensi ilusi.
"Panah itu tanggung jawab Paman, tapi Paman gagal menjaganya" jawab paman Apiak lalu menggelengkan kepalanya pelan.
"Paman tidak perlu bersedih, panah itu ada padaku. Aku sudah bertemu dengan pemiliknya tadi. Aku pasti mengembalikan pada pemiliknya langsung di masa lalu" ucap Jingga dengan yakin.
Paman Apiak langsung mengerutkan keningnya tidak mengerti maksud ucapan Jingga.
"Ya sudahlah, walaupun Paman tidak memahami maksud ucapanmu, setidaknya Paman tahu panah itu ada bersamamu"
"Ayo kita pulang" ajak paman Apiak.
Beberapa langkah melintasi rumah warga kampung, Jingga merasakan ada kejanggalan, tidak ditemukan satupun warga kampung yang berada di luar rumah. Namun ia menampiknya sendiri, mungkin saja warga kampung sudah berada di kebun ataupun sedang beraktivitas di luar kampung.
Sampai beberapa ratus meter mendekati rumah, Jingga dan paman Apiak menemukan puluhan warga yang berkumpul mengerumuni rumah paman Apiak.
"Lihatlah! Itu mereka" teriak salah seorang pria menunjuk ke arah Jingga dan paman Apiak yang mempercepat langkahnya.
Empat orang perempuan keluar rumah lalu berlari menghampiri Jingga dan paman Apiak yang masih bingung dengan kondisinya.
Usut punya usut, ternyata keduanya tidak pulang selama tiga puluh hari dan dinyatakan hilang. Para warga terus mencarinya dan berusaha menenangkan keempat perempuan yang terus menangisi keduanya selama sebulan ini.
__ADS_1
Uniknya, para warga langsung merayakan kembalinya kedua pria dengan acara masak-masak dan berkumpul bersama.