Takdir Pedang Sang Iblis

Takdir Pedang Sang Iblis
Penjaga yang Terjebak


__ADS_3

"Nyonya terlalu berlebihan, itu hanyalah bualanku saja" balas Jingga dengan wajah polosnya.


"Anak muda sekarang, terlalu mudah dibodohi wanita cantik sepertiku" gumam pikirnya begitu senang targetnya memasuki perangkap.


Selir Mei Yang langsung melingkarkan kedua tangannya di leher Jingga dengan wajahnya yang begitu dekat.


"Nyonya tunggu dulu, kita buat ini menjadi menarik" imbuh Jingga langsung meniupnya, membuat selir Mei Yang tertidur.


Jingga teringat akan penjaga yang pernah memergokinya memasuki istana. Ia langsung berkelebat mencarinya.


"Tuan!" Panggil Jingga dengan lantang.


Penjaga dalam istana langsung menoleh ke arahnya lalu menghampiri pemuda asing yang tersenyum kepadanya.


"Kau jangan tersenyum padaku seperti itu, katakan ada apa kau memanggilku begitu keras?" Tanya penjaga tidak senang.


"Menurut tuan, apakah selir Mei Yank itu cantik?" Tanya Jingga balik bertanya.


"Apa maksudmu menanyakan itu padaku?" Penjaga melemparkan tanya dengan mengerutkan kening.


"Aku pernah melihat Nyonya Mei Yank mencuri-curi pandang memperhatikan tuan" jawab Jingga dengan ekspresi wajahnya terlihat serius.


Penjaga itu langsung menatap Jingga dengan serius juga, ia mempertanyakan benar tidaknya apa yang dikatakan pemuda asing itu.


"Apakah benar yang kau katakan itu?" Tanya penjaga terlihat serius.


"Ya, makanya aku mencari tuan, selir Mei Yang memintaku memanggil tuan untuk datang ke kamarnya sekarang" jawab Jingga terlihat lebih serius dengan ucapannya.


"Kau jangan membodohiku anak muda, aku bisa kehilangan pekerjaanku kalau kau menipuku" timpal penjaga masih tidak mempercayainya.


"Aku akan memberikan seribu koin emas untuk tuan kalau aku berbohong, lalu apa yang akan tuan berikan kepadaku kalau ternyata ucapanku benar?" Tantang Jingga meyakinkannya.


Penjaga itu langsung berbunga hatinya mempercayai pemuda asing itu.


"Baiklah kalau memang benar, kau boleh meminta apa pun dariku selama aku mampu menyanggupinya, bagaimana?" Jawab penjaga menyetujui tantangannya.


Jingga tersenyum senang lalu mengangguk dan mengantarnya ke kamar selir Mei Yang.


Di depan pintu kamar selir Mei Yang, penjaga itu tampak ragu namun setelah melihat Jingga begitu serius, ia memberanikan diri memasuki kamar selir Mei Yang.


Tak lupa Jingga langsung merubah wajah penjaga menyerupainya lalu Jingga berubah menjadi bayangan kemudian memasuki kamar selir Mei Yang dan membangunkan selir itu dari tidurnya.


Beberapa penjaga yang sudah bersiap untuk menyergap Jingga saling berbisik tak jauh dari kamar selir Mei Yang.


"Kenapa Nyonya begitu lama berteriak?, Apakah Nyonya menikmatinya dulu dengan pemuda asing itu lalu berteriak memanggil kita?" Lontaran pertanyaan dari penjaga yang sudah tidak sabar membisiki temannya begitu pelan.

__ADS_1


"Diamlah, aku yakin sebentar lagi Nyonya akan berteriak memanggil kita" jawab salah satunya.


Penjaga yang memasuki kamar selir Mei Yang begitu gemetar melihat sesuatu yang begitu mendebarkannya.


Selir Mei Yang menatapnya dengan penuh arti dengan mengayunkan satu jarinya dan juga kedipan mata yang membuat penjaga itu tak kuasa menahan diri lagi.


Hilang sudah keraguan di hati penjaga, tanpa ragu lagi penjaga itu langsung membuka semua pakaiannya lalu mendekap selir Mei Yang.


"Tolong!" Jerit selir Mei Yang langsung mundur kepojokan dan menutupi wajahnya.


"Penjaga, tolong!" Imbuh jeritnya memanggil penjaga yang sudah disiapkannya.


"Saya penjaga Nyonya" balas penjaga yang menjadi korban merasa terpanggil.


Plak!


"Bukan kamu pemuda jelek" timpal selir Mei Yang langsung menamparnya.


Jingga langsung merubah kembali wajah penjaga ke bentuk aslinya.


Para penjaga yang sudah bersiap langsung bergegas memasuki kamar dan meringkus penjaga yang tersentak tidak mengerti siapa yang telah menjebaknya.


"Kebanyakan makan micin nih selir, belajar lagi yang benar, iblis kok mau dijebak ha ha ha" kekeh Jingga langsung berkelebat meninggalkan kamar selir Mei Yang.


Ia langsung memasuki restoran tak jauh dari penginapan yang pernah ditempatinya.


Seorang gadis muda langsung menghampirinya yang telah duduk di salah satu kursi tidak jauh dari pintu masuk.


"Mau pesan apa, Tuan?" tanya pelayan dengan tersenyum lembut kepadanya.


"Arak satu kendi sedang dengan botol kecil dikocok tiga kali menghadap timur" jawab Jingga menjelaskan.


"Baik, Tuan. Lalu untuk makanannya kami punya menu spesial hari ini, kami punya hati beast monster kepiting dimasak dengan rempah-rempah pilihan dari kekaisaran Zhao, mungkin tuan tertarik untuk mencobanya" ujar pelayan menawarkan.


Jingga terkejut dengan apa yang ditawarkan oleh pelayan.


"Hah! sampai kepiting pun ada yang menjadi beast monster?, kenapa juga cuma dimasak hatinya?" tanya batinnya dengan heran.


"Tidak, Nona! Cukup seperti yang aku pesan, terima kasih" sahut Jingga menolaknya.


"Mohon menunggu sebentar" timpal pelayan lalu pergi meninggalkan Jingga.


Tiga pemuda dan dua orang gadis terlihat dari klan bangsawan memasuki restoran dengan gayanya yang congkak.


Kelimanya langsung berdiri dengan menyilangkan tangan di dada menatap Jingga yang sedang menunggu pelayan membawakan pesanannya

__ADS_1


"Kau orang asing, silakan cari meja kosong lainnya" pinta pemuda yang cukup tampan mengusirnya.


"Kenapa kau mengusirku?, Aku sudah di sini sejak tadi, kalian silakan cari meja kosong lainnya" Tanya Jingga menyahutinya.


"Hei tampan, kami tidak ingin membuat keributan denganmu, aku mewakili teman-temanku memintamu dengan baik-baik untuk mencari meja kosong lainnya" potong seorang gadis cukup cantik bergaun ungu memintanya.


"Baiklah, tapi kau harus menemaniku mencari meja kosong dan kita menikmati arak bersama, bagaimana cantik?" Balas Jingga mulai memprovokasinya.


"Hei apa maksudmu?" Tegur pemuda bertubuh tinggi dan gemuk itu langsung menarik kerah Jingga yang masih tenang menatapnya.


"Lepaskan tangan kotormu ini lemak berlebih" pinta Jingga menoel pelan tangannya.


"Aw!" jeritnya merasa tersengat ketika jari tangan Jingga menyentuhnya.


"Kenapa kau gendut?" tanya temannya yang berdagu lancip.


"Tidak apa-apa" jawab si gemuk tidak memberitahunya.


"Pemuda asing, kami sudah cukup sabar memintamu untuk pindah mencari meja kosong, kau kenapa begitu keras kepala tidak mau mengindahkan permintaan kami yang begitu mudah" ujar gadis satunya yang bergaun hijau lalu tersenyum lembut kepadanya.


"Baiklah, aku akan pindah ke meja lainnya" ucap Jingga lalu berdiri dan membelai lembut pipi si gadis bergaun hijau.


"Kurang ajar!" geram si gemuk lalu melayangkan pukulannya.


Jingga langsung menahan kepalan tangannya.


"Kenapa?, gerah ya?" tanya Jingga dengan raut wajah menyebalkan.


Pemuda cukup tampan tersulut emosi lalu melayangkan tendangannya.


Jingga hanya memiringkan tubuhnya menghindari tendangannya.


Bruk!


Ketiga pemuda langsung tersungkur ke lantai tanpa tahu kapan Jingga menjatuhkannya.


"Kalian tahu apa kesalahan kalian?" tanya Jingga kepada kelimanya.


"Kalian tidak boleh mengambil sesuatu yang sudah menjadi hak orang lain walaupun kalian memintanya dengan sopan, sekarang apakah aku yang pindah atau kalian yang mencari meja lainnya?" Ujar Jingga menanyakan.


"Baik, Kak. Biar kami saja yang mencari meja lainnya" jawab gadis bergaun ungu lalu membantu ketiga pemuda berdiri dan memapahnya mencari meja lainnya.


"Aku peringatkan kepadamu pemuda asing, kami adalah pemuda dari klan Tang yang begitu dihormati di seluruh kekaisaran Xiao, aku akan membalas perlakuanmu yang membuat kami malu" ujar pemuda berdagu lancip mengancamnya.


Jingga tersenyum menanggapinya lalu duduk kembali di kursinya.

__ADS_1


__ADS_2