Takdir Pedang Sang Iblis

Takdir Pedang Sang Iblis
Cinta Ditolak, Golok Bertindak


__ADS_3

Keduanya lalu duduk di antara para warga dengan senyum mengembang. Kasak-kusuk mulai terdengar dari mulut ke mulut para warga yang membicarakan keduanya.


"Bi Asih, kita pulang saja" ajak Jingga tidak nyaman berada di sana.


"Kamu duduk saja dengan tenang, biarkan kucing menggonggong" balas neng Asih.


"Mana ada kucing menggonggong, kucing tuh berkokok. Ayam baru menggonggong" timpal Jingga lalu menyilangkan kedua tangan di dada.


Pertunjukkan tari kembali dilanjutkan, Jingga terlihat begitu senang melihat para gadis meliuk-liuk gemulai dalam tariannya diiringi suara tabuhan gendang yang dimainkan oleh tangan ahli para pria yang duduk di pojokan panggung.


Beberapa pemuda terlihat berpakaian seorang saudagar menghampiri keduanya.


"Neng Asih" panggil seorang pemuda terlihat seumuran dengan neng Asih menarik bahu Jingga ke belakang.


Ia langsung duduk menggantikan posisi Jingga lalu menampilkan senyum terbaiknya, neng Asih yang melihatnya tidak tertarik sama sekali. Walaupun pemuda itu tampan dan terpandang di kampungnya, namun ia memiliki gigi yang terjebak pada posisi offside.


"Asep, aku sudah bilang padamu, jangan mendekatiku lagi. Kau hanya menginginkan tubuhku bukan diriku" balas neng Asih lalu berdiri dan menarik tangan Jingga untuk pergi menjauhinya.


Pemuda itu menjadi begitu geram melihat wanita idamannya selalu mencampakkan dirinya. Ia lalu memberikan kode kepada para pemuda untuk menghadang keduanya.


Neng Asih dan Jingga langsung menghentikan langkah melihat beberapa pemuda menghadangnya.


"Minggir atau kekasihku akan memukuli kalian semua" ucap neng Asih memintanya dengan ancaman.


"Ha ha ha" kelakar para pemuda setelah melihat Jingga yang yang berdiri di samping neng Asih.


Asep yang berjalan menghampirinya ikut tertawa, ia lalu memperhatikan pemuda yang lebih tinggi darinya dan lebih tampan. Sontak saja ia berhenti tertawa karena kalah fisik dari pemuda yang tampak begitu tenang pembawaannya.


"Jadilah tampan untuk mendapatkan hati wanita cantik" sindir Jingga.


"Huh!" Dengus Asep lalu melirik ke arah neng Asih.


"Neng Asih, aku sudah berusaha dengan cara halus mendekatimu, kau terus saja menolakku. Sekarang kau tiba-tiba saja membawa pemuda yang entah dari mana asalnya ke hadapanku. Sakit Asih, sakit!" Ujar Asep sambil menekan dadanya merasakan sakit di hati.


"Sungguh teganya dirimu, teganya, teganya hoo pada diriku" imbuhnya meresapi kesedihannya.


"Asep Patgulipat Prokprokprok. Terima kasih atas perasaanmu padaku selama ini, tapi kau sendiri mengetahui kalau cinta tidak bisa dipaksakan. Permisi Kang Asep" balas neng Asih lalu berjalan ke arah lain.


Jingga kembali meledeknya, ia mengusapi rambutnya ke belakang dengan gaya sok kecakepan.


Asep diam saja melihatnya, dalam hatinya ia memiliki niat busuk pada keduanya.


Tepat di depannya, para pemuda masih berdiri menghalangi langkah neng Asih dan Jingga, sedangkan Asep masih merenungkan diri karena cintanya tertolak ratusan kali. Ia lalu menguatkan tekad dalam hatinya.

__ADS_1


"Kalau aku tidak bisa mendapatkannya, tidak boleh ada orang lain yang mendapatkannya" gumam batinnya.


Asep lalu melirik Asih yang terlihat kesal tidak bisa pergi, Asep kembali menampilkan giginya yang offside.


"Asihku sayang, aku tidak akan mengganggumu lagi asalkan kau tidak bersama pemuda ini. Biarkan aku mengantarmu pulang untuk yang terakhir kalinya" ujar Asep memelas.


"Kang Asep mending pulang terus cuci muka, cuci kaki lalu tidur dengan nyenyak. Aku sudah ada Kang Jingga yang akan mengantarku pulang dan tidur memelukku sepanjang malam di kamarku" balas neng Asih.


Panas hati Asep, wajahnya berubah merah dengan kedua tangan mengepal keras setelah mendengar ucapan neng Asih. Akan tetapi ia tidak ingin merusak suasana kondusif warga kampung yang sedang menikmati pentas seni. Ia memaksakan diri tersenyum pada wanita pujaan hatinya.


"Cukup Asih, cukup!" Balas Asep yang begitu emosi mendengarnya.


"Tidak akan kubiarkan satu orang pun yang boleh memilikimu selain diriku, walaupun kau sudah ternoda oleh suamimu" imbuh Asep dengan geram.


Jingga yang mendengarnya begitu heran dengan ucapan Asep.


"Ternoda oleh suami?" Tanya pikir Jingga.


"Kang Jingga, ayo kita pulang!" Ajak neng Asih sambil melingkarkan tangan di lengan Jingga.


Gemetar tubuh Asep melihatnya, ia menjadi semakin emosi dibuatnya. Ia kemudian menggerakkan bola matanya, meminta para pemuda membuka jalan.


Para pemuda langsung menyingkir memberikan jalan kepada keduanya.


Asep lalu merencanakan sesuatu bersama para pemuda yang berjumlah empat orang.


Keempat temannya langsung mengangguk dengan seringai tajam menyetujui rencana Asep yang merupakan anak kepala kampung.


Jingga dan Asih berjalan santai menikmati suasana damai area perkampungan. Setelah keduanya memasuki jalan perkebunan, Asep dan teman-temannya menguntit dari belakang.


"Pastikan pemuda itu mati, untuk neng Asih aku akan membawanya ke rumahku" ucap Asep dengan pelan.


"Apa kau tidak takut dengan Abah Mamat yang merupakan jawara kampung ini?" Tanya temannya mengingatkan.


"Aku tidak peduli, menantunya saja bisa aku bunuh dengan mudah, apalagi hanya Abah Mamat yang seorang diri" jawab Asep sudah dibutakan oleh rasa benci.


"Cepatlah!" Pinta Asep.


Empat orang temannya langsung menyebar di kedua sisi kebun yang membelah jalan setapak.


Jingga dengan instingnya mengetahui keberadaan para pemuda yang berkelebat di area kebun kedua sisi jalan.


"Bi Asih, sepertinya mereka akan berbuat jahat kepada kita" kata Jingga memberitahunya.

__ADS_1


"Ha ha, Kakang tenang saja. Aku akan membuat mereka menderita" balas neng Asih yang merupakan seorang pendekar.


Jingga lalu memindainya, namun ia langsung menggaruk kepalanya karena melupakan kondisinya yang tidak memiliki energi apa pun.


Asih yang memperhatikannya merasa heran, namun ia mengalihkan perhatiannya, ia bersiap akan terjangan para pemuda yang mengintainya di balik pepohonan.


"Keluarlah, tanganku sudah gatal untuk memukuli kalian" pekik neng Asih dengan lantang di tengah perkebunan.


Empat pemuda berlompatan ke jalan dengan bergulingan di tanah. Keempatnya bermaksud menunjukkan kebolehannya kepada Jingga dan neng Asih.


Jingga yang melihatnya langsung tertawa geli, ia merasa lucu dengan tingkah keempat pemuda yang bergaya dengan memainkan sebilah golok pendek.


"Hei, kenapa kau tertawa? Apa kau pikir kami main-main denganmu?" Tegur salah satu pemuda berbadan tambun sambil mengacungkan goloknya.


"Bagaimana tidak lucu, kalian melompat bergulingan di tanah. Bukankah itu hanya mengotori pakaian kalian saja?" Balas Jingga masih terkekeh.


"Serang!" Teriak seorang pemuda berbadan tambun.


Dugh! Dugh! Dugh! Dugh!


Neng Asih dengan cepat menghadangnya dengan pukulan dan tendangannya yang tepat mengenai tubuh keempat pemuda.


"Lemah! Baru bisa pegang golok saja sudah sombong mau menyerang kekasihku" dengus neng Asih mengoloknya.


Keempat pemuda yang berjatuhan lalu kembali bangkit, mereka langsung menyerang neng Asih.


"Hiaat"


Dugh! Dugh!


"Wadaw!" Ringis kesakitan keempat pemuda yang kembali bergulingan di tanah setelah terkena pukulan dan tendangan neng Asih yang begitu mudahnya mengalahkan keempat pemuda.


"Pergilah! Bilang sama Kang Asep Patgulipat Prokprokprok untuk tidak menggangguku lagi" usir neng Asih lalu sekali lagi ia menendang keempatnya yang sedang meringis kesakitan.


Bugh! Bugh!


"Wadaw! Cukup Neng, cukup!" Pinta keempatnya memohon.


"Kang Jingga, ayo kita pulang!" Ajak neng Asih.


Jingga lalu berjalan melangkahi tubuh keempat pemuda yang tergeletak menghalangi jalannya.


Krak!

__ADS_1


"Aw! Tanganku!" Jerit histeris seorang pemuda yang terinjak tangannya.


Jingga dengan iseng menginjak tangan seorang pemuda, namun injakkannya malah meremukkan tangan pemuda yang masih tergeletak meringis kesakitan.


__ADS_2