
Tampak keduanya seperti anak kecil yang sedang berkelahi memperebutkan kembang gula, hilang sudah wibawa seorang pendekar keduanya, untungnya kedua pendekar beda jenis itu berkelahinya di dalam rumah yang kosong, sehingga tidak ada yang bisa melihatnya dengan jelas.
Naray yang daritadi terus memperhatikannya merasa heran, ia langsung melompat turun dari atas pohon dan berlari memasuki rumah yang dindingnya rusak akibat pertarungan Jingga versus dewi Serigala.
"Aa" ucapnya terkatup, pupil matanya membesar melihat kedua insan saling mencengkeram wajah.
Ia lalu menarik tangan Jingga dengan sekuatnya, Jingga yang tersadar langsung melepaskan cengkeramannya dari wajah dewi Serigala.
"Sialan kau pendekar brengsek!" Dengus dewi Serigala dengan napasnya yang terengah-engah dan rasa sakit di wajahnya.
Ia lalu bangkit berdiri menatap Jingga yang dirangkul oleh adiknya Naray.
"Aku akan membalas perbuatanmu, datanglah ke pulau Intan kalau kau punya nyali!" Ucapnya menantang.
"Tapi aku tidak mau lagi saling menjambak denganmu, aku bukan anak kecil. Itu sangat memalukan" balas Jingga.
"Heh! Aku hanya membela diri dari niat busukmu menodaiku" sergah dewi Serigala.
"Dih! Siapa juga yang mau menodai wanita jelek sepertimu, aku juga pilih-pilih kalau harus menodai wanita. Kau bukan tipeku. Maaf, tidak level" cemooh Jingga dengan ekspresi wajah sombong.
"Sombong kau! Lihat dulu wajahmu di cermin, baru bicara. Tampan tidak, sombong iya. Dasar jelek!" Balas dewi Serigala sambil menunjuk-nunjuk wajah Jingga.
"Bilang saja kalau dirimu ingin menjadi kekasihku, tapi sayangnya kau tidak layak sama sekali. Mending kau pulang terus obati wajahmu yang rusak itu lalu bercerminlah. Kau pasti menyadari dirimu jelek"
"Huh!" Dengus dewi Serigala lalu membuang muka dan berlalu pergi.
Naray yang menyaksikan pertengkaran keduanya hanya termenung saja, ia tidak bisa mencerna keributan keduanya.
"Jangan melamun, nanti kesambet" tegur Jingga menyadarkannya.
Keduanya lalu berkelebat meninggalkan bukit Gemilang dan kembali ke rumah Duma.
Beberapa saat kemudian, keduanya sampai di depan pintu rumah yang masih terkunci.
"A, apa Bibi Duma masih di bukit?" Tanya Naray.
"Sepertinya begitu, kita duduk di ayunan saja menunggunya" jawab Jingga lalu melangkah ke ayunan.
Tak lama, Duma datang dengan wajah yang cerah, ia lalu menghampiri Jingga dan Naray yang bergelantungan di ayunan.
"Ada apa denganmu, Bi?" Tanya Jingga heran.
"Terima kasih, Jingga. Aku sudah lama ingin memporak-porandakan klan Serigala pulau Intan. Kedatangan kalian membuat misiku selesai" jawab Duma penuh senyum.
"Apa Bibi seorang mata-mata ibukota seperti yang diutarakan oleh Gomgom codet itu?" Sambung tanya Jingga menebaknya.
"Kita bicarakan di dalam, Bibi akan menceritakan semuanya" ajak Duma tidak ingin penyamarannya terdengar oleh warga desa Lembayung.
__ADS_1
Jingga dan Naray langsung mengikutinya masuk ke dalam rumah.
Duma dengan serius membeberkan semuanya kepada Jingga, dalam ceritanya, Duma mengatakan kalau selama ini ia berusaha untuk menekan klan Serigala memburu langsung warga kampung di luar desa, walaupun masih tetap ada korban dari anak-anak kecil yang sebenarnya dijadikan tumbal pada setiap kedatangan dewi Serigala bernama Maylin yang aslinya berasal dari benua Matahari.
Bahkan duma harus menyebarkan berita palsu tentang para penyihir di desa Lembayung untuk menjauhi para pendekar kampung yang mungkin bentrok dengan anggota klan Serigala.
"Tunggu, kalau Maylin berasal dari benua Matahari, bagaimana dia bisa sampai ke pulau Emas ini?" Potong Jingga bertanya.
"Di pulau Intan ada pelabuhan, banyak kapal besar dari berbagai benua keluar masuk pelabuhan, dari pelayaran kapal dia datang. Tapi tidak ada yang tahu kapan kedatangannya" jawab Duma.
"Hem! Antar aku ke pelabuhan pulau Intan, aku akan pergi ke benua Matahari" pinta Jingga begitu bersemangat.
"Itu mudah saja, aku akan mengantar kalian berdua ke perbatasan ibukota. Dari sana kalian bisa melanjutkan perjalanan ke pulau Intan" balas Duma menyetujuinya.
"Apa di pelabuhan ada kapal yang menuju Tanah Para Dewa?" Kembali Jingga menanyakan.
"Ya, tentu ada. Bahkan lebih banyak daripada kapal ke benua Matahari" jawab Duma.
Jingga lalu melirik adiknya yang daritadi hanya mendengarkan keduanya.
"Aa, bolehkah aku mengikuti Aa ke benua Matahari?" Rajuk Naray.
"Tidak, waktu Aa di alam fana hanya tinggal beberapa bulan saja. Neng harus pulang ke Tanah Para Dewa, ada Biru yang harus Neng jaga" tolak Jingga.
"Baiklah" balas Naray pasrah.
"Jingga, kita bisa menghemat waktu dengan menaiki kuda. Ayo kita pergi" ucap Duma melemparkan tali ke arah Jingga.
"Neng, Aa belum bisa membawa kuda. Neng bisa?" Tanya Jingga yang membuat kedua perempuan terkekeh mendengarnya.
"Iya, ayo naik" jawab Naray langsung mengambil tali dan menaiki punggung kudua diikuti Jingga yang duduk di belakang adiknya.
Jingga memberi jarak agar tidak bersentuhan dengan adiknya.
"Jangan renggang begitu, A. Nanti jatuh" ucap Naray memintanya untuk mendekap.
"Maaf ya Neng, jadi enak" balas Jingga mendekapnya dari belakang.
"Jangan nakal ya, A. Ingat, aku ini adikmu" pinta Naray mengingatkannya.
Jingga seenaknya saja menggenggam sesuatu yang kenyal seperti balon.
"Aaa!" Jerit Naray terkejut.
Jingga lalu melepaskannya sambil tertawa terbahak-bahak.
Duma yang memperhatikan keduanya terseyum simpul sambil menggelengkan kepala. Ia lalu melajukan kudanya diikuti oleh Naray di belakangnya.
__ADS_1
Tuk tik tak tik tuk!
Kuda pun berlari cepat ke arah hutan meninggalkan desa Lembayung.
"Bibi Duma, berapa lama waktu ke ibukota?" Tanya Naray.
"Kurang lebih seminggu, tenang saja. Jalan yang kita lalui tidak seseram hutan Harimau, tapi bahaya akan selalu ada. Waspadalah!" Jawab Duma memberitahunya.
"Semoga banyak bahaya" sambung Jingga penuh harap.
Duma yang mendengarnya kembali menggelengkan kepala lalu semakin cepat melajukan kudanya memimpin jalan.
"Hiaa!" Pekik Naray menyusulnya.
Jingga semakin erat melingkarkan kedua lengannya di perut Naray karena laju kuda semakin kencang. Kali ini Naray merasa bahagia bisa didekap Jingga di sepanjang perjalanan.
Tak terasa, langit mulai gelap, matahari bersiap tenggelam dari peredarannya. Dua kuda masih melaju cepat di tengah hutan.
Tidak ada rintangan yang berarti di sepanjang perjalanannya. Kedua kuda terus melaju cepat melintasi hutan.
Tiba-tiba saja Duma memperlambat laju kudanya, Naray lalu memposisikan kuda di sampingnya.
"Masih cukup jauh keluar dari hutan, malam ini kita menginap di sini, besok pagi baru kita lanjutkan perjalanan" ujar Duma menyarankan.
Naray dan Jingga mengangguk, ketiganya lalu mencari lokasi yang nyaman untuk beristirahat. Setelah menemukannya, Jingga lalu berkelebat memburu hewan untuk mengisi perut.
Berada di atas pohon, Jingga langsung mengeluarkan busur panahnya yang tersimpan di kedua lengannya.
"Istriku, aku pinjam panahmu" gumam Jingga lalu mengecup busur panah layaknya mengecup bibir istrinya.
Ia lalu fokus memindai area di sekitarnya mencari keberadaan hewan buruan.
Setelah cukup lama ia memindai,tidak ada seekor hewan pun yang terlihat jangkauan matanya. Jingga langsung melompat dari satu pohon ke pohon lainnya.
Hinggap di satu batang pohon, Jingga melihat keberadaan lima ekor kambing dewasa sedang memakan rumput.
"Jarang-jarang, di dalam hutan ada kambing. Sungguh kebetulan yang tidak disangka" gumamnya begitu senang.
Jingga lalu membidiknya, ketika akan melepaskan anak panah, terdengar suara langkah pelan tidak jauh dari keberadaan lima ekor kambing yang masih belum menyadarinya.
Jingga lalu membelokkan arah target ke sumber suara yang terdengar, terlihat olehnya loreng harimau yang membias warna kulitnya di ilalang yang tinggi.
Siu!
Dhuar!
Seekor harimau meledak terkena anak panah yang dilepaskan oleh Jingga. Hal itu sangat mengejutkan Jingga, ia tidak menyangka hasilnya akan sangat mengerikan. Tubuh harimau langsung hancur berserakan memenuhi ilalang. Kambing-kambing pun berlarian kabur meninggalkan lokasi.
__ADS_1