Takdir Pedang Sang Iblis

Takdir Pedang Sang Iblis
Dewi Es Bingji


__ADS_3

Kematian Jenderal Ba Lin Dong, hilangnya Komandan Po Ching dan kaburnya semua tahanan membuat internal kerajaan Kandao sedang kacau.


Raja Bei Eyu terlihat pusing dengan situasi yang terjadi, ia tidak menyangka Jenderal kepercayaannya bisa tewas oleh Komandannya sendiri.


Polemik yang terjadi membuat strategi matang dari aliansi Bintang Selatan menjadi sedikit runyam. Gagalnya invasi beast monster ke wilayah kekaisaran Xiao menjadi penyebab utama.


Beberapa komandan kekaisaran Xiao yang memantau wilayah netral langsung berbalik melaporkan kondisi terbaru paska badai petir yang membuat ribuan beast monster mati di dalam badai.


Kekaisaran Xiao


Jenderal Lie Zhou yang mendapatkan laporan dari komandannya terlihat begitu bahagia, kegagalan beast monster yang akan memasuki wilayah kekaisaran Xiao membuat dirinya mengingat keponakannya Jingga.


"Anak itu selalu membuatku kagum" gumamnya lalu melangkah memasuki istana untuk melaporkan semuanya.


Kaisar Xiao Jinai dan Kaisar Xiao Junda langsung mengambil keputusan mengirim ribuan pasukan tempur untuk membantu kekaisaran Zhao dari peperangan yang terjadi.


Beberapa hari berikutnya Jingga dan keempat adiknya berada di kota Lieren Guojia ibukota kerajaan Kandao.


Berbeda dengan banyak kota di kekaisaran Fei dan kekaisaran Xiao. Kota Lieren Guojia tidak memiliki pusat keramaian tempat berlalu lalang penduduk kota seperti alun-alun, pasar dan pertokoan. Namun penginapan, paviliun lelang dan alkemis masih bisa ditemukan di kota Lieren Guojia.


"Kota yang unik" gumam Qianfan memperhatikan sekitarnya.


"Kak Jingga, apa tidak sebaiknya kita mencari penginapan untuk beristirahat?" Tanya Du Zhia yang diangguki kedua gadis lainnya.


"Ya, daritadi aku mencarinya, akan tetapi kalian sendiri bisa lihat semua bangunan di sini terlihat sama, aku tidak tahu yang mana penginapan, tidak ada bedanya" jawab Jingga menjelaskan.


"Oh, iya juga" balas Du Zhia memperhatikan sekitarnya.


"Kita tidak akan tahu kalau tidak bertanya, kalian tunggu di sini, aku akan menanyakannya kepada orangtua di sana" timpal Qianfan lalu menghampiri pria tua yang sedang menyapu halaman rumah.


"Permisi, Tuan. Apakah tuan tahu di mana penginapan yang bisa aku kunjungi di kota ini?" Tanya Qianfan dengan sopan.


Pria tua langsung menghentikan kegiatannya, ia memperhatikan Qianfan dari atas sampai bawah.


"Sepertinya tuan muda dari jauh, kebetulan rumah yang sedang saya bersihkan adalah sebuah penginapan, mari saya antar" jawab pria tua menyambutnya.


"Terima kasih, Tuan. Saya akan memanggil teman-teman saya dulu, permisi" timpal Qianfan lalu berbalik ke arah Jingga dan ketiga gadis yang menunggunya.


Berada di dalam sebuah penginapan yang begitu asri dengan banyak pepohonan dan memiliki kolam ikan, membuat kelimanya begitu merasakan suasana damai.


Pria tua mengantar kelimanya ke ruang pemilik penginapan.


Seorang wanita cantik bergaun sutra putih menyambut kelimanya dengan senyuman lembut.


"Selamat datang di penginapan Alam Surgawi di kota Lieren Guojia, saya Xin Nuan senang menyambut kedatangan tuan muda dan nona sekalian" sapanya menyambut kelima pemuda asing.

__ADS_1


"Terima kasih, Nyonya. Kami kebetulan melewati kota ini dalam perjalanan kami, jadi kami akan beristirahat beberapa hari di penginapan ini sebelum kami melanjutkan perjalanan" balas Jingga.


"Baiklah, langsung saja pada intinya, harga terendah untuk semalam adalah tiga ratus ribu keping emas dan tertinggi adalah satu juta keping emas" ujar pemilik penginapan menjelaskan.


Ketiga gadis begitu terkejut mendengarkan harga yang harus dibayar untuk semalam menginap.


"Mahal sekali, ini namanya pemerasan" gumam Du Zhia menanggapinya.


"Baik. Kami pesan yang termahal untuk dua malam" ucap Qianfan lalu menyerahkan dua juta keping emas.


"Kakak" tukas Qianmei menggelengkan kepalanya.


Qianfan hanya tersenyum saja membalas penolakan adiknya Qianmei.


"Pelayan, tolong antarkan kelima pemuda ke paviliun puncak" pinta Xin Nuan setelah memasukkan semua koin emas ke dalam cincin spasialnya.


"Baik, Nyonya" sahut pria tua lalu membawa kelimanya ke area sebuah bukit yang begitu indah dengan taman bunga yang tersebar di sekelilingnya.


Kelimanya menaiki anak tangga yang lumayan panjang sambil menikmati suasana alam yang begitu memanjakan mata.


Tak lama kelimanya sampai di area datar atas bukit. Tampak terlihat ada dua rumah yang bersebrangan posisinya, pria tua langsung mempersilakan kelimanya untuk memasuki sebuah rumah yang memiliki bale bambu di pinggirannya.


"Harga tidak berbohong, ini penginapan terindah yang pernah aku temui" ucap Jingga yang langsung berlalu ke arah bale bambu kesukaannya.


"Kalian jangan terkejut begitu, sepertinya rumah ini khusus dipakai untuk berkultivasi, bagaimana kalau kita berkultivasi sekarang?" Ucap Qianfan menawarkannya.


"Betul juga, ayo kita mulai" ajak Qianmei lalu mencari posisi duduk untuk bermeditasi, ia mengeluarkan beberapa inti jiwa pemberian Jingga diikuti oleh Qianfan kakaknya.


Sedangkan Bai Niu tidak berniat untuk berkultivasi, ia memberikan puluhan inti jiwanya kepada Du Zhia.


"Kau berkultivasilah, aku akan menemani Kak Jingga di luar" pinta Bai Niu lalu pergi keluar menemui Jingga.


Du Zhia mengangguk lalu memulai kultivasinya menyerap sumberdaya yang diberikan oleh Bai Niu.


Jingga yang sedang menenggak araknya sambil bersandar di tiang bambu mengernyitkan keningnya merasakan energi aneh dari kejauhan.


"Energi apa ini?, Kenapa begitu dingin?" Tanya pikirnya.


Bai Niu yang menghampirinya terlihat heran dengan raut wajah kakaknya.


"Kak Jingga, ada apa?" Tanya Bai Niu yang langsung duduk bersandar di tubuh Jingga.


Belum sempat Jingga menjawabnya, hawa dingin menusuk tulang menerpa keduanya.


Jingga langsung membuat perisai menutupi rumah agar ketiga adiknya tidak terganggu meditasinya.

__ADS_1


Wuzz!


Ribuan bilah es berbentuk kerucut datang dari arah langit menyerang keduanya.


Jingga memancarkan api semesta untuk menghancurkan ribuan panah es di udara.


Tampak seorang gadis cantik berambut putih melesat menghampirinya.


"Api apa yang kau gunakan untuk menghancurkan seranganku?" Tanya gadis dengan aura dingin yang begitu pekat.


"Api panas" jawab Jingga sekenanya.


"Huh!, Sudah jelek, bukan jawab yang benar, malah berbohong" dengus gadis yang masih melayang itu terlihat begitu kesal. Ia menekan keduanya dengan aura yang sangat dingin.


Tubuh Bai Niu langsung bereaksi memancarkan arus petir menghangatkan badannya.


"Ha ha ha, ternyata aku tidak sendirian di sini, senang bisa mengenalmu dewi Petir, aku adalah dewi Es Bingjing" ujarnya mengenalkan diri.


"Maaf, tapi aku bukanlah seorang dewi" balas Bai Niu tidak menyukai kehadirannya.


Tanpa diduga, dewi Es Bingji langsung melilit tubuh Bai Niu dengan rantai esnya lalu melemparkan Bai Niu ke bawah bukit.


"Wanita memang makhluk yang sulit dipahami, kesalnya padaku, yang diserang adikku" gumam Jingga melihatnya.


Dhuar!


Terdengar suara keras dari jatuhnya Bai Niu di bawah bukit.


Dewi Es Bingji langsung melesat turun dengan menembakkan ribuan panah es ke bawah.


Wuzz!


Sret!


Sret!


Ribuan panas es membekukan banyak pepohonan di bawah bukit.


Namun Bai Niu sudah melayang di udara dengan pedang Jianshandian di genggamnya, pupil matanya berkilat, sorot pandangannya begitu tajam memperhatikan dewi Es Bingji yang melayang menghampirinya.


Kedua dewi bersiap akan pertarungannya, dewi Es Bingji dengan rantai esnya akan menghadapi dewi Petir Bai Niu dengan pedang Jianshandiannya.


Jingga yang menyaksikan keduanya begitu senang.


"Pertarungan dua dewi cantik yang sayang untuk dilewatkan, semoga Naninu bisa memenangkannya" gumam Jingga begitu antusias melihatnya.

__ADS_1


__ADS_2