
Jingga terus saja menatap istrinya, seperti tidak rela meninggalkannya. Xian Hou yang melihatnya langsung menutup kembali portal dimensi.
Setelah portal dimensi tidak lagi terlihat di depannya, Jingga langsung melirik sekitarnya. Tampak gubuk nenek Sashuang jauh lebih bagus dari yang pernah ia bangun bersama adiknya Qianfan.
Ia memindai ke dalamnya melihat kedua adiknya Qianmei dan Bai Niu yang sedang bercengkrama di dalam gubuk.
Jingga lalu melangkah memasukinya.
"Naninu, Mei'er!" Panggilnya begitu merindukan dua gadis yang begitu disayanginya.
Kedua gadis langsung berlari memeluknya.
"Kak Jingga ke mana saja setahun ini?" Tanya Qianmei di sebelah kanannya.
Jingga mengerutkan keningnya mendengar waktu setahun yang telah ia lewati bersama istrinya Xian Hou.
"Aku, maaf aku sulit untuk menceritakannya sekarang. Di mana Fan'er dan Zhia'er?" Jawab Jingga balik bertanya.
"Keduanya ada di bale bambu" jawab Qianmei begitu merindukan kakaknya.
"Kakak belum tahu ya, keduanya sekarang telah resmi menjalin hubungan kekasih" potong Bai Niu memberitahunya.
"Oh, seperti itu! Baguslah. Apa saja yang terjadi selama setahun ini?" Timpal Jingga kembali bertanya.
"Banyak, Kak. Bahkan kota Yanjing menjadi pusat pertarungan ribuan kultivator di seluruh wilayah aliansi Bintang Selatan" jawab Bai Niu.
Jingga mengerutkan keningnya merasa terkejut dengan apa yang dikatakan oleh adiknya Bai Niu. Ia begitu penasaran akan ceritanya.
"Cobalah ceritakan semuanya kepadaku!" Pinta Jingga langsung menarik kedua adiknya untuk duduk bersamanya.
Bai Niu lalu menceritakannya. Berawal dari pertarungan Jingga dengan nenek Sashuang yang membuat para kultivator berdatangan untuk mencari tahu apa yang terjadi karena merasakan lonjakkan energi di hutan luar kota Yanjing.
Setelah itu terjadi keanehan yang belum pernah terjadi di alam fana, yaitu hilangnya energi spiritual, baik energi alam ataupun energi milik kultivator.
Menurut kabar dari banyak orang, hampir semua kultivator yang melayang terbang di udara berjatuhan karena tidak adanya energi spiritual dan para kultivator yang terjatuh banyak yang langsung mati karena tidak bisa membuat perisai untuk melindungi tubuhnya.
Beruntung yang masih biss selamat karena terjatuh ke dalam air, baik yang di danau maupun yang terjatuh di sungai, namun tidak ada yang menceritakan kultivator yang terjatuh di lautan.
Itu adalah fenomena langka yang baru pertama kali terjadi di alam fana. Sejak saat itu banyak kultivator terus berdatangan ke kota Yanjing.
"Bukankah itu berkah untuk ketiga kekaisaran di benua Matahari ini?" Potong Jingga mengaitkannya.
"Betul Kak, aliansi Bintang Selatan tidak lagi menyerang ketiga kekaisaran sejak kejadian itu tapi beberapa bulan lalu kami mendengar kabar terjadi kekacauan di tiga kekaisaran" ujar Bai Niu mengabarkannya.
__ADS_1
Jingga dibuat bingung dengan apa yang dikatakan adiknya.
"Lanjutkan!" Pinta Jingga ingin mendengarnya dengan jelas.
"Maaf, Kak. Sedikit yang aku dengar mengatakan banyak bermunculan sekte aliran hitam yang berkultivasi iblis di tiga kekaisaran, namun aku tidak mengetahui kekacauan apa yang terjadi di sana" jawab Bai Niu yang hanya mengetahui sedikit kabar penting selama setahun ini.
"Kultivasi iblis! Apa maksudnya?" Tanya pikir Jingga begitu heran.
"Ya sudah, kita ke bale bambu sekarang" ajak Jingga kembali berdiri lalu melangkah ke arah belakang gubuk nenek Sashuang.
Terlihat kedua adiknya sedang duduk berpelukan dalam memadu kasih di bale bambu.
"Hem!" Deham Jingga mengagetkan keduanya yang langsung memisahkan diri dari pelukannya.
"Kak Jingga!" Ucap keduanya terkejut melihat kakaknya yang muncul kembali setelah hilang selama setahun.
Keduanya lalu turun dari bale bambu menunggu Jingga menghampirinya.
"Tidakkah kalian berdua ingin memelukku?" Tanya Jingga merentangkan kedua tangannya.
"Maaf, Kak. Aku sudah memiliki kekasih untukku peluk" jawab Qianfan langsung merangkul Du Zhia yang berdiri di sebelahnya.
Jingga tertawa melihat keduanya yang terlihat begitu serasi. Ia lalu merangkul kedua adiknya.
Jingga langsung melepaskan rangkulan kedua tangannya yang menempel di bahu kedua adiknya.
Wajahnya begitu pucat karena takut kemarahan istrinya.
Du Zhia merasa heran dengan perubahan wajah Jingga seperti ketakutan.
"Kak Jingga, kau tidak apa-apa?" Tanya Du Zhia ingin tahu.
"Ha ha ha, aku baik-baik saja. Oh iya, selamat buat kalian berdua. Sepertinya aku akan membawa kalian kembali ke hutan Bambu Merah untuk meresmikannya" jawab Jingga berubah kembali raut wajahnya.
"Pria aneh" gumam Du Zhia menanggapi perubahan kakaknya yang begitu cepat.
"Tentu, aku pun sudah merencanakannya, tapi belum kesampaian karena harus menunggumu" balas Qianfan lalu kembali duduk di bale bambu.
"Kak Jingga, aku merasa kau menyembunyikan sesuatu dari kami, bolehkah kami mengetahuinya " imbuh Qianfan melihat ada perubahan pada diri Jingga.
"Aku takut kalian terkejut mengetahuinya, terutama kedua adikku Naninu dan Mei'er" ucap Jingga merasa ragu mengatakannya.
"Tidak masalah untukku apa pun yang akan dikatakan Kakak kepadaku" sosor Bai Niu menanggapinya.
__ADS_1
"Ya, aku pun sama dengan Niu'er" sambung Qianmei.
Jingga langsung melirik keempat adiknya secara bergantian.
"Aku, aku sebenarnya menikah dengan Nenek Sashuang" ucap Jingga langsung menundukkan wajahnya.
Pucat sudah wajah keempat adiknya seperti tersambar petir mendengar pengakuan kakaknya Jingga.
Qianfan yang cepat mengendalikan diri langsung menanyakannya kembali.
"Kak Jingga, benarkah ucapanmu itu?"
Jingga mengangguk pelan menjawabnya, ia masih tidak berani menunjukkan wajahnya.
Bai Niu langsung mengangkat wajah Jingga dan menatapnya dengan lekat, tidak ada kebohongan di mata kakaknya.
"Kak Jingga, percaya padaku. Kakak itu sebenarnya sangat tampan. Aku mengatakan Kakak jelek karena berbeda dengan kami yang berasal dari benua Matahari" ucap Bai Niu masih memegangi wajah Jingga di depannya.
Ketiga adiknya mengangguk membenarkan ucapan Bai Niu.
"Sejujurnya, aku sudah jatuh hati ketika pertama kali bertemu dengan Kakak di danau Telaga, Kakak berbeda dengan semua pria yang pernah aku temui. Dari situ aku mengikrarkan diri untuk terus mengikuti Kakak. Kenapa Kakak harus menikah dengan Nenek Sashuang yang jalan pun sudah tidak tegak lagi, apa alasan Kakak untuk itu?" lontaran pertanyaan diajukan adiknya Bai Niu.
"Karena aku mencintainya" jawab Jingga tanpa ragu sedikit pun.
Bai Niu terduduk lemas mendengar jawaban kakaknya. Ia begitu tidak habis pikir dengan apa yang terjadi dengan kakaknya Jingga. Ia langsung tersedu dalam tangisnya.
Begitu pun dengan Qianmei yang langsung menangis mendengarkan ucapan Jingga yang terlihat jujur.
Jingga langsung mengusap air mata yang mengalir di pipi kedua adiknya lalu memeluk keduanya dengan erat.
"Aku akan selalu menyayangi kalian, janganlah bersedih karena diriku. Bukankah kita bebas pada siapa hati kita berlabuh? Apakah aku salah mencintai seseorang yang kalian anggap tidak layak untuk dicintai?" Ujar Jingga sambil terus mendekap kedua adiknya.
Setelah melepaskan pelukannya, Bai Niu dan Qianmei tersenyum lembut kepadanya.
"Kakak tidak salah, hanya aku saja yang tidak beruntung memiliki hati Kakak" ucap Bai Niu baru menjawabnya.
Qianmei yang memiliki hati yang lembut tidak mengatakan apa pun lagi, ia memberanikan diri mencium lembut kedua pipi pemuda yang begitu dicintainya.
"Maaf, pertanyaanku membuat suasana menjadi begini" ucap Qianfan merasa bersalah kepada semuanya.
"Tidak masalah, aku lega sudah mengatakannya kepada kalian" balas Jingga yang merasa tenang setelahnya.
"Oh iya, aku ingin mendengar cerita tentang kekacauan di tiga kekaisaran. Tadi Naninu sedikit mengatakannya kepadaku, mungkin kau memiliki tambahan lainnya. Ceritakanlah!" Imbuh Jingga mengingat tujuannya menghampiri adiknya Qianfan.
__ADS_1