
Dengan sorot mata yang tajam, Jingga tidak habis pikir dengan ratusan anggota klan Serigala pulau Intan yang tidak berupaya untuk mencegah ketuanya terbunuh dengan mudah.
"Manusia macam apa kalian semua? Kalian hanya diam saja ketika Ketua kalian tewas di tanganku" geram Jingga yang kedua bola matanya terus berputar melihat sekelompok manusia yang mengaku dirinya klan Serigala.
Tidak ada satu pun yang berani menimpali ucapannya, ia lalu menatap pria brewok yang sebelumnya begitu sombong.
"Paman Linggom, kemarilah!" Pinta Jingga melambaikan tangannya.
Pria brewok yang berdiri dengan beberapa pendekar klan lainnya diam saja di tempat, ia mengacuhkan Jingga dengan seringainya yang sinis.
Mendapatkan tatapan sinis pria brewok, Jingga menjadi heran, ia lalu menatap kembali orang-orang yang mematung di hadapannya. Sama seperti Linggom yang sinis menatapnya, hampir semua anggota klan tampak sedang menunggu kedatangan sesuatu.
Jingga penasaran dengan apa yang sedang ditunggu para pendekar klan Serigala.
Tap tap!
Tiba-tiba saja dari balik bukit berdatangan puluhan serigala besar seperti yang pernah dihadapinya. Hal itu membuat Jingga mengerti arti tatapan semua anggota klan padanya.
GROARR!
Anggota klan membuka jalan membiarkan puluhan serigala bermata kuning menghampiri seorang pemuda yang masih berdiri dengan tenang.
Jingga melirik pria brewok di dekatnya lalu menyunggingkan bibir mendapatkan sebuah ide.
Wuzz!
Jingga berkelebat menarik dua kaki Linggom lalu menjadikan tubuhnya sebagai penggebuk dan langsung membantingkannya ke arah kepala seekor serigala.
Aom! Krak!
Kepala Linggom digigit oleh serigala sampai terlepas dari lehernya.
"Wow!" Seru Jingga melihat kepala pria brewok yang remuk.
Ia langsung melemparkan bagian tubuh pria brewok yang tersisa kembali ke arah para pendekar.
Sekarang Jingga berada begitu dekat dengan kawanan serigala yang langsung berputar mengelilinginya.
"Ha ha ha" tawa Jingga begitu bersemangat.
"Langkah bayangan"
Wuzz!
"Hiaaat!"
GROAAR!
Bugh! Bak! Buk!
Jingga terus memukuli kawanan serigala dengan tangan kosong, satu persatu serigala mulai bertumbangan terkena pukulannya, bahkan sesekali Jingga melakukan tendangan berputar.
Beberapa serigala kembali bangkit dan secara bergantian menyerang Jingga dengan taringnya.
Jingga menyeringai sambil terus berkelebat menghantam tubuh serigala bertubuh besar dengan kepalan tangannya. Tidak semua pukulan yang dilayangkan oleh Jingga mengenai tubuh serigala.
Kecepatan dan presisi menyerang kawanan serigala yang begitu rapi dan terukur membuat Jingga sedikit kesulitan menghadapinya.
__ADS_1
Serigala adalah hewan yang memiliki naluri membunuh yang mematikan dalam sekali serangan, dengan rahang yang kuat, mereka bisa menghancurkan tulang dalam sekali gigitan, apalagi mereka terbiasa melakukannya secara berkelompok yang bisa meruntuhkan mental buruannya.
Sayangnya, lawan yang mereka hadapi adalah Jingga sang iblis. Walaupun energi iblisnya terkunci, namun tubuhnya tidaklah sama dengan bangsa manusia di alam fana.
Gigitan serigala tidak menjadi masalah untuk Jingga, ia lebih tertarik membaca pola serangan yang diperagakan oleh kawanan serigala dalam menyerang dan bertahan menghadapinya.
Pertarungan menjadi semakin sengit, Jingga yang terus mendominasi dari awal mulai mengendurkan serangannya. Ia memberikan waktu kawanan serigala untuk bisa melancarkan serangannya, akan tetapi, naluri serigala yang tajam membuat sekawanan serigala tidak langsung menyerangnya. Mereka kembali membentuk formasi berputar mencari kelemahan Jingga.
"Akan kubuat pertarungan selanjutnya semakin seru dan mendebarkan para penonton" gumam Jingga langsung mencabut satu belati yang terselip di pinggangnya.
Ia menyeringai dengan sorot mata licik.
Wuzz!
Jingga berkelebat ke arah penonton lalu melemparkan lima pria ke tengah arena pertarungan.
Gedebuk!
Suara jatuh dari kelima pria yang dilemparkan Jingga, ia lalu melirik ke arah penonton yang merinding ketakutan dan melangkah mundur menjauhinya.
Ditatapnya seorang wanita yang ia kenali, Jingga langsung berkelebat menghampirinya.
"Halo, Bibi. Ikut bermain ya" sapa Jingga lalu menarik tangan Duma memasuki kembali ke tengah arena.
"Jingga, tolong! Bibi masih ingin hidup" rajuk Duma memohon.
Jingga mengacuhkannya, ia melirik ke arah kelima pria yang menggigil ketakutan.
"Katanya klan Serigala, kenapa kalian ketakutan begitu? Aku hanya ingin bermain-main saja bersama kalian" celetuk Jingga dengan tatapan yang mengejek.
Tidak ada yang berani menjawabnya, kelima pria hanya tahu kematian akan menghampirinya.
"Siapa nama, Abang?" Tanya Jingga.
"A- aku John Tumpul" jawab pria berhidung besar dengan gugup.
"Nama yang keren" ucap Jingga menimpali.
Ia lalu merangkul pundak pria hidung besar itu dengan sok akrab.
"Bang, bantu aku melawan serigala, nanti Abang dan keempat kawan Abang akan kubiarkan hidup" imbuh Jingga menawarkannya.
Dilemalah pria berhidung besar itu mendengarnya, melawan tidak melawan, ia akan mati juga.
"Bagaimana mungkin aku sanggup melawannya, Bang? Tolonglah aku ini, Bang! Tak sanggup aku melawannya, Bang" balas John memelas.
"Payah kali, kau ini Bang John. Tapi baiklah, jawab satu pertanyaanku. Kenapa di pulau Emas ini kalian menamakan diri klan Serigala Pulau Intan?" Timpal Jingga menanyakan.
"Mudah saja, kami berasal dari pulau Intan di utara pulau Emas ini" jawab John merasa lega mendengar pertanyaan yang diajukan Jingga padanya.
Krak!
Jingga memelintir kepala John Tumpul hingga tewas, ia lalu menoleh keempat pria lainnya.
"Kau yang paling besar, kemarilah!" Panggil Jingga.
Seorang pria berbadan besar melangkah dengan pelan menghampiri Jingga, tampak dari celananya mulai basah karena mengompol.
__ADS_1
"Lah, badan kau saja yang besar. Nyalimu sangat kecil. Cepatlah!" Ledek Jingga.
"A- a, ampuni aku, Bang!" Rajuknya dengan bibir bergetar.
Belum sampai pria berbadan besar menghampirinya. Di belakang Jingga, seekor serigala menggaruk-garuk tanah bersiap untuk menyerang.
Wuzz!
Haooom!
Seekor serigala melompat tinggi menyerang Jingga dari belakang, Jingga yang menyadarinya langsung menundukkan badan.
"Aaah!" Pekik teriakan pria berbadan besar terkena terkaman serigala yang menggigiti lehernya.
Tampak darah menyembur dari leher yang terkoyak gigitan serigala, tak lama kemudian, pria berbadan besar meregang kesakitan dan pada akhirnya ia tewas bersimpuh darah dari luka yang menganga.
Jingga berkelebat menarik ekor serigala yang menerkam pria berbadan besar lalu melemparkannya ke atas langit.
Wuzz!
Serigala yang dilemparkannya semakin kecil terlihat, semua orang mendongakkan kepala memperhatikan serigala yang menghilang di balik awan.
Tak lama kemudian, tubuh serigala kembali terlihat melesat jatuh di udara.
Bugh!
Serigala jatuh menghantam keras tanah di depan Jingga, tubuhnya yang besar menciptakan sebuah lubang dan mementalkan tubuh tak bernyawa pria besar menghantam tiga pria yang terdorong jatuh menahannya.
"Cukup seru" ucap Jingga.
GROAAAR!
Kawanan serigala menjadi marah, Jingga tersenyum melihatnya. Hal kecil yang ia lakukan berhasil membuat kawanan serigala mau melanjutkan pertarungan.
Wuzz! Haoom!
Puluhan serigala kembali menyerangnya, Jingga menarik kedua belatinya lalu berkelebat menebas tubuh serigala satu persatu.
"Langkah bayangan"
Sret! Sret!
Tebasan demi tebasan dilayangkan Jingga yang dipenuhi kesenangan. Sembari menghindari serangan cepat serigala yang berusaha menerkamnya, Jingga terus menguliti setiap tubuh serigala dengan kedua belatinya.
Seiring berjalannya waktu, lebih dari tiga puluh serigala terlihat seperti kambing guling tanpa bulu. Tak ayal, mereka terus melolong dengan keras ke atas langit.
Lolongan keras serigala menggema di atas bukit Gemilang, rasa perih yang teramat menyiksa dirasakan oleh puluhan serigala yang hidup segan, mati tak mau.
Tidak ada lagi serangan yang coba dibangun oleh kawanan serigala yang tergeletak tak berdaya, itu karena Jingga telah merusak otot vital di tubuh serigala.
Ratusan anggota klan Serigala menelan saliva menyaksikan kebrutalan perlakuan Jingga yang menjatuhkan harga diri klan Serigala pulau Intan yang terkenal sangat kejam di wilayah pulau Emas hingga pergerakannya harus diamati diam-diam oleh para pendekar rahasia.
Melihat tidak ada lagi perlawanan, Jingga kembali menyelipkan belati ke tempatnya. Ia lalu menoleh ke arah para anggota klan Serigala yang terlihat sangat tegang.
"Apa ada lagi bantuan yang kalian tunggu?" Teriak Jingga menanyakannya.
Suaranya yang keras terdengar oleh semua orang, namun selangkah demi selangkah anggota klan Serigala mundur menjauhinya.
__ADS_1
"Satu langkah lagi kalian mundur, akan kubunuh!" Ancam Jingga yang menganggapnya sebagai pengecut.