Takdir Pedang Sang Iblis

Takdir Pedang Sang Iblis
Makanan Pertama


__ADS_3

Semua pengunjung berhamburan meninggalkan restoran, menjadikan suasana restoran penginapan yang tadinya ramai, sekarang menjadi hening.


Tak lama kemudian, seorang pria tua datang dengan terengah-engah memasuki pintu restoran, ia menghampiri Bai Niu yang masih berdiri mematung melihat tubuh pemuda dari klan Lin tergeletak tak bernyawa di dekatnya.


"Aku sudah memperingatimu untuk tidak membuat masalah dengan klan Lin, tapi apa yang terjadi sekarang?, Kau membuat seorang tuan mudanya mati di penginapanku. Pergilah, aku tidak membutuhkanmu lagi" tegur pria tua langsung mengusirnya.


"Tuan, aku mohon berikan aku kesempatan lagi, aku tidak bisa meninggalkan penginapan ini sampai kakakku datang menjemputku" ucap Bai Niu memohonnya sambil berlutut di depan pria tua yang tak lain adalah pemilik penginapan tempat Bai Niu bekerja selama ini.


Jingga yang melihatnya langsung berdiri menghampirinya.


"Naninu, sudahlah" ucap Jingga kemudian memintanya berdiri.


Bai Niu langsung berdiri lalu berbalik menatap Jingga dengan begitu lekat.


"Kak Jingga" teriaknya begitu senang, Bai Niu langsung memeluk Jingga dengan sangat erat.


Jingga membalas pelukannya dengan mengusap lembut punggung wanita yang telah lama menunggunya.


"Ayo kita pergi" ajak Jingga langsung melepaskan diri dari pelukannya.


Baru saja keduanya melangkahkan kaki keluar dari penginapan.


Dari arah lainnya, puluhan orang dengan membawa berbagai senjata berlari ke arah keduanya.


"Hei tunggu!" Teriak salah satu pria menghentikan langkah keduanya.


Jingga dan Bai Niu langsung berhenti lalu berbalik arah melihatnya.


Bai Niu lalu bersembunyi di belakang Jingga, ia begitu ketakutan melihat puluhan pria yang terus berlari mendekati keduanya.


"Katakan apa yang membuat kalian harus menghentikan kami?" Tanya Jingga begitu puluhan pria sudah dekat dengannya.


"Apa kau yang telah membunuh tuan muda kami?" Tanya pria paling depan balik bertanya.


"Tidak, aku hanya membelainya saja, wajah tuan muda kalian begitu lembut seperti tahu" jawab Jingga begitu tenang.


Para pria saling lirik mendengar jawaban pria kucel di depannya.


"Bunuh!" Teriak pria paling depan lalu menarik pedang dari sarungnya.

__ADS_1


Baru saja tangannya menyentuh gagang pedang, kepalanya sudah terputus bersama dengan kepala pria lainnya lalu jatuh menggelinding di tanah.


"Ayo kita jalan lagi" ajak Jingga berbalik ke arah sebelumnya.


"Kak, kita akan kemana?" Tanya Bai Niu ingin tahu.


"Kemana saja kaki kita melangkah" jawab Jingga lalu mendahuluinya.


"Kak Jingga, bagaimana kalau kita ke kota Yu Chen, sudah lama aku tidak pernah melihat kakak Dang Ding Dung" ajak Bai Niu mengingat kakaknya.


Jingga langsung menghentikan langkahnya melirik adiknya Bai Niu.


"Betul juga, aku masih penasaran dengan ucapan paman Du Ho, tapi sebelumnya kau harus merapikan diriku ini" ucap Jingga menunjuk janggutnya yang panjang.


"Pantas saja tadi aku tidak mengenali Kakak, kita ke alun-alun kota saja, aku akan mencari pisau dan gunting untuk memangkasnya" sahut Bai Niu menyarankannya.


Jingga mengangguk menyetujuinya, lalu keduanya pergi ke arah alun-alun kota yang pernah dijadikan turnamen beladiri kekaisaran Fei.


Sesampainya di pinggir arena, Jingga duduk menunggu Bai Niu yang pergi membeli gunting dan pisau untuk merapikan dirinya.


"Sepertinya aku tidak asing dengan klan Lin, bukankah anak buah mendiang kakekku bernama Lin juga?" pikirnya mengingat pemuda yang mati olehnya.


Tatapannya tertuju pada arena luas di depannya.


Bai Niu berjalan ke arahnya dengan begitu ceria membawakannya alat untuk memangkas rambut Kakaknya.


Ia seenaknya saja langsung duduk di atas paha Jingga secara berhadapan lalu memulai aktivitasnya.


Jingga merasa aneh dengan posisi wajahnya yang begitu dekat dengan sesuatu berharga milik Bai Niu, kemudian ia menutup kedua matanya.


"Kakak, aku tidak akan mencelakaimu, kenapa kakak menutup mata?" Tanya Bai Niu heran.


"Kau begitu besar sekarang, aku tidak mau melihatnya" jawab Jingga menyindir sesuatu milik Bai Niu yang sekarang sudah berusia dua puluh dua tahun.


Bai Niu hanya tersenyum menyadari sesuatu yang dimaksud Jingga, ia kembali melanjutkan aktivitasnya.


Setelah selesai membabat habis janggut dan kumis Jingga, ia kemudian melanjutkan memangkas pendek rambut Jingga yang sepanjang bahu, dengan iseng Bai Niu membuatkan poni yang menutupi keningnya Jingga.


"Sudah selesai Kak" ucapnya begitu puas melihat hasil kreatifitasnya.

__ADS_1


"Apakah aku menjadi tampan sekarang?" Tanya Jingga ingin tahu.


"Tidak, kakak tetap jelek, tapi setidaknya tidak akan menakuti anak kecil yang melihatnya" jawab Bai Niu begitu jujur.


Jingga hanya mendengus saja mendengarnya lalu meniupi rambut yang menutupi keningnya.


"Sekarang ceritakan kepadaku bagaimana kau bisa sampai menjadi pelayan di penginapan dan siapa yang memenangkan turnamen yang pernah aku ikuti dulu?" Tanya Jingga ingin mendengarnya.


Bai Niu langsung menceritakan kisahnya waktu mencari jingga bersama Du Dung hingga memutuskan untuk bekerja menjadi pelayan, selama lima tahun itu ia terus diganggu oleh pria hidung belang karena kecantikannya sampai akhirnya salah seorang tuan muda keluarga Lin ingin menjadikannya istri.


"Tahu tidak siapa yang memenangkan turnamen, dia adalah gadis yang kakak sukai, tapi usut punya usut dari seliweran pengunjung penginapan mengabarkan kemenangannya sudah diatur oleh klan Chun dengan menyuap sekte yang melaju ke final. Dari kejadian itu, sampai sekarang tidak ada yang mau mengikuti turnamen yang harusnya diadakan tiap tiga tahun sekali untuk mencari bakat muda di kekaisaran Fei" lanjutnya mengakhiri kisahnya.


Huzz!


Gelombang aura menerpa keduanya, Bai Niu langsung jatuh terduduk memuntahkan darah, Jingga tidak sempat melindunginya dengan perisai energi.


"Ha ha ha, ternyata hanya seorang muda-mudi yang sedang memadu kasih" ucap seorang pria paruh baya melayang turun menghampiri keduanya.


Jingga dengan kemampuannya sekarang bisa mengetahui tingkatan kultivasi seseorang.


"Ranah Master Perak" gumam Jingga pelan, lalu ia memangku tubuh Bai Niu dan membaringkannya di bangku.


Jingga berdiri menatap pria paruh baya yang bersiap meninju dengan kepalan tangannya yang teraliri energi spiritual berwarna merah memancarkan gelombang elektro.


Tanpa menunggu lama, pria paruh baya langsung menyerangnya dengan memukulkan tinjunya.


Jingga tidak menghindarinya, ia langsung menangkap tangannya lalu menghisap jiwa pria paruh baya dari ubun-ubun kepalanya.


"Ah! Mantap!" Ucap Jingga pertama kalinya ia memakan makanannya.


Pria paruh baya langsung mati seketika, tubuhnya berubah menjadi kering tanpa darah.


Jingga langsung melirik Bai Niu, ia menjentikkan jarinya memulihkan tubuh Bai Niu yang langsung terbangun menatap Jingga.


"Kak, tadi itu apa?" tanya Bai Niu tidak mengerti apa yang menimpanya.


"Hanya orang iseng saja" jawab Jingga sekenanya.


Bai Niu memperhatikan Jingga seperti telah memakan sesuatu.

__ADS_1


"kakak habis makan apa?, kenapa aku tidak dibagi?" lanjut Bai Niu menanyakannya.


Jingga hanya menunjuk tubuh kering tak bernyawa di dekatnya, Bai Niu yang melihatnya langsung merasakan mual. Ia masih tidak mempercayai ucapan kakaknya Jingga tapi melihat kondisi pria paruh baya membuatnya jijik.


__ADS_2