
Jingga terlihat begitu asyik menikmati arak yang disediakan oleh pamannya.
"Pamanku begitu pandai menyenangkanku, ha ha ha" kekehnya lalu tertidur dengan sendirinya.
Tok, tok, tok!
"Tuan muda!" Panggil seorang gadis di balik pintu kamarnya.
Jingga memaksakan diri membuka kedua matanya yang sepet lalu menghampirinya dan membukakan pintu.
"Tuan muda diminta Pangeran untuk menemuinya di aula makan keluarga istana untuk makan malam bersama" ujar pelayan istana memberitahunya.
"Ha ha ha, aku tidak membutuhkan makan malam kalian, yang aku makan hanyalah jiwa kultivator" sahutnya lalu menutup kembali pintu kamarnya.
Gadis pelayan mengerutkan keningnya tidak memahami maksud ucapan pemuda yang ditemuinya, ia kemudian berbalik untuk melaporkannya kepada Pangeran Xiao Mai.
Jingga yang belum sepenuhnya sadar kembali melanjutkan tidurnya, tak lama kemudian ia langsung bergegas kembali menyusul gadis pelayan.
"Nona, antarkan aku ke tempat yang kau sebut tadi" pinta Jingga yang mengagetkannya.
Sambil mengelus dada, gadis pelayan memaksakan senyum lalu mengantarnya.
Tampak terlihat olehnya banyak makanan yang tersaji di meja besar yang melingkar dan beberapa orang keluarga istana berjajar di kursi yang mengelilingi meja.
Jingga dipersilakan duduk oleh Pangeran Xiao Mai dengan gestur tangannya tepat di sampingnya.
Kaisar Xiao Junda mempersilakan semuanya untuk memulainya, Jingga hanya diam memperhatikan semua anggota keluarga istana menyantap hidangan.
Seorang wanita cantik yang berada tepat berhadapan dengan Jingga terus menatapnya dengan raut wajah tidak suka akan keberadaannya mengikuti acara makan keluarga istana.
Jingga tersenyum simpul menanggapinya, wanita cantik itu langsung membuang muka.
"Jingga, kenapa kau tidak makan?, Apakah makanan di sini tidak ada yang menarik hatimu?" Tanya Pangeran Xiao Mai memperhatikannya.
"Maaf Pangeran, aku masih kenyang karena banyak meminum arak yang disediakan oleh paman Lie Zhou, silakan Pangeran lanjutkan" jawab Jingga beralasan.
"Hei pemuda asing, kalau kau tidak mau makan, sebaiknya kau keluar saja, dirimu membuatku kehilangan selera makan" ketus seorang wanita yang dari tadi tidak menyukai keberadaannya.
"Diamlah! Dan lanjutkan makananmu Nyonya Yang" bentak Pangeran Xiao Mai tidak menyukai tamunya diusir oleh salah satu selir Kaisar Xiao Junda ayahnya.
"Kau berani membentakku!" Tunjuk selir Mei Yang tidak terima.
__ADS_1
Melihat keributan tidak penting dari selirnya membuat Kaisar Xiao Junda buru-buru mengambil minum.
"Cukup Mei Yang! Kembalilah ke kamarmu" pinta Kaisar dengan tegas.
Wanita cantik itu langsung membanting piring hingga pecah lalu berlari pergi.
Suasana makan keluarga istana langsung terhenti karena keributan kecil yang terjadi.
"Maafkan aku Kaisar dan semuanya, silakan kalian melanjutkannya, aku akan kembali ke kamarku" ucap Jingga berdiri lalu berbalik meninggalkan aula makan keluarga istana.
Pangeran Xiao Mai langsung menyusulnya dan meminta maaf kepada Jingga.
"Tidak apa-apa, Pangeran. Justru aku yang harus meminta maaf karena kehadiranku merusak suasana makan keluarga istana" balas Jingga lalu meninggalkan Pangeran Xiao Mai yang berdiri diam tidak enak hati akan keponakan Jenderalnya.
"Kenapa wanita itu tidak menyukai keberadaanku?, apakah karena diriku tidak tampan seperti MC lainnya di dunia kultivator?" Tanya pikirnya dalam pembaringannya sambil menatap langit-langit di kamarnya.
Esok harinya Jingga diajak oleh Pangeran Xiao Mai berjalan-jalan menelusuri kebun belakang istana. Keduanya kembali memperbincangkan mendiang Jenderal Zhang yang banyak berjasa untuk kekaisaran Xiao.
Seorang selir bersama tiga dayangnya berada tidak jauh dari tempat Pangeran Xiao Mai dan Jingga yang sedang berbincang santai di sebuah pondok di tengah perkebunan.
"Menyebalkan! Kenapa aku harus bertemu pemuda jelek itu lagi?" rutuk selir Mei Yang begitu kesal. Ia kemudian meminta ketiga dayang untuk menutupi pandangannya dari pemuda yang akan dilewatinya.
Merah padam wajah selir Mei Yang mendengarnya, ia langsung berbalik dengan niat menampar pemuda yang menggodanya.
Dengan kemarahannya ia langsung melayangkan tangannya yang dengan sigap ditangkap oleh Jingga.
"Apakah kau mau membelai wajahku, Nyonya?" Tanya Jingga langsung menarik telapak tangan selir Mei Yang menyentuh wajahnya.
Selir Mei Yang memanfaatkannya dengan mencengkram wajah Jingga dengan kukunya yang panjang.
Pletak!
"Aw" jeritnya melihat kelima kuku jarinya yang patah karena mencengkram wajah Jingga.
Sambil meringis kesakitan, selir Mei Yang langsung berlari pergi dengan memegangi sebelah tangannya. Ketiga dayang ikut berlari menyusulnya.
"Kenapa kau melakukan ini Jingga?" Tegur Pangeran Xiao Mai sedikit terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Jingga.
"Aku tidak menyukai segala bentuk rasisme dan perlakuan merendahkan dari selir Mei Yang pada pemuda kurang tampan sepertiku, jadi aku memberinya sedikit pelajaran" jawab Jingga memberikan alasan.
"Bukankah yang kau lakukan sama saja dengannya?" Sambung Pangeran menanggapi alasannya.
__ADS_1
"He he he" kekeh Jingga sambil menggaruk kepalanya yang berkutu.
Di dalam istana, selir Mei Yang melaporkan perlakuan Jingga kepada Kaisar Xiao Junda. Ia menunjukkan kuku jarinya yang patah, sambil sesegukkan dalam rengekkan manjanya, ia melebih-lebihkan cerita dari kejadian yang tidak begitu penting.
Kaisar Xiao Junda tidak terlalu menanggapinya karena ia tahu sifat manja selirnya itu.
"Kembalilah ke kamarmu dan tenangkanlah" ucap Kaisar memintanya.
selir Mei Yang cemberut mendengarnya lalu pergi dengan menggerutu kesal.
"Awas kau pemuda jelek, aku pasti akan membalas perbuatanmu suatu saat nanti, tunggu saja" gumam selir Mei Yang mengancam.
Enam bulan berlalu begitu saja, Jingga tidak lagi merasa kerasan tinggal di istana, Pamannya pergi ke perbatasan memantau pergerakan aliansi Bintang Selatan, sedangkan Pangeran Xiao Mai terus saja keluar istana dalam menjalankan aktivitasnya sebagai seorang putra mahkota.
Berita tentang gencarnya kasus penculikan anak dan gadis remaja menarik minatnya untuk mencari tahu pelakunya.
Jingga memutuskan untuk meninggalkan istana menuju lokasi terakhir penculikan yang ia dengar dari beberapa orang di istana kekaisaran Xiao.
Ia melangkah menuju gerbang luar istana dengan santai, setelah beberapa langkah kaki berjalan, Jingga mendengar seorang wanita berteriak minta tolong.
Tanpa berpikir panjang, Jingga langsung berkelebat ke sumber suara.
Terlihat olehnya selir Mei Yang sedang meringis kesakitan memegangi perutnya.
"Nyonya tunggulah sebentar, aku akan memanggil tabib untuk mengobatinya" ujar Jingga lalu berbalik ke arah pintu.
Selir Mei Yang langsung menahan tangan Jingga agar tidak pergi meninggalkannya.
"Jangan pergi, tolong ambilkan salep di kotak obat itu" pintanya sambil menunjuk sebuah kotak tidak jauh darinya.
Tanpa curiga, Jingga melangkah untuk mengambilnya lalu berbalik untuk menyerahkannya.
Kedua matanya terbelalak melihat selir Mei Yang sudah melepaskan gaunnya.
Dengan tatapan genit selir Mei Yang melambaikan tangan memintanya untuk mengolesi salep ke perutnya.
"Ha ha ha, aku tahu akal bulusmu itu Nyonya" gumam Jingga lalu tanpa diketahui oleh selir Mei Yang, ia memasang perisai iblis di dalam kamar.
"Kenapa Nyonya harus membuka gaun, bukankah Nyonya bisa mengolesinya sendiri?" tanya Jingga pura-pura tidak tahu.
"Dulu kau pernah mengatakan kepadaku, diriku sangat cantik seperti bulan di siang hari, aku terus mengingat kata-katamu itu, bukankah kau menyukaiku adik kecil?" Jawab selir Mei Yang menggodanya.
__ADS_1