
Jingga menoleh ke belakang, melihat Qianfan terbang bersama Du Zhia saling berpegangan tangan.
"Jadi dia cemburu" gumamnya langsung menghampiri adiknya Bai Niu.
Sesampainya, Jingga langsung menggenggam jemari tangan Bai Niu, sekarang ada dua gadis yang ia pegangi di sebelah kiri dan kanannya.
"Jangan cemberut terus, kamu bukan anak kecil lagi, Naninu" ucap Jingga meliriknya.
Bai Niu tersenyum seketika. Ketiganya dengan cepat melanjutkan laju terbangnya, disusul Qianfan dan Du Zhia yang berada di belakangnya.
"Kak Fan'er, apakah Niu'er dan Mei'er kekasih Kak Jingga?" Tanya Du Zhia penasaran.
Qianfan tersenyum meliriknya,ia merasa Du Zhia menyukai Jingga.
"Bukan, tapi lebih dari sekedar kekasih" jawab Qianfan langsung menarik tangan Du Zhia melesat terbang menyusul ketiganya.
Du Zhia semakin bingung dengan jawaban Qianfan yang ambigu.
Tepat berada di area datar wilayah luar kekaisaran Xiao.
Jingga menghentikan laju terbangnya memperhatikan ribuan beast monster yang sedang beriringan menuju wilayah kekaisaran Xiao.
"Ada apa Kak Jingga?" Tanya Qianfan mendekatinya.
"Lihatlah ke bawah, sepertinya mereka akan menuju kekaisaran Xiao" jawab Jingga menunjuk arah bawahnya.
Qianfan dan ketiga gadis langsung melirik ke bawah, tatapan ketiganya begitu berbinar melihat para beast monster seperti melihat ribuan harta karun.
Hanya Du Zhia yang tidak senang karena dirinya tidak yakin bisa mengalahkan satu pun beast monster yang tingkatan terendah berada di ranah Warrior Perunggu.
"Ayo Kak, ini pasti akan menjadi pertarungan sengit yang menguras banyak energi, aku tidak sabar menghadapinya" timpal Qianfan ingin menguji batasan kemampuannya.
"Bukan waktunya buat kalian bertarung" balas Jingga melarangnya. Ia tidak ingin kemunculannya merusak rencana memasuki ketujuh kerajaan yang akan dihancurkannya dari dalam.
"Kakak jelek, bagaimana kalau para beast monster menyerang kekaisaran Xiao?, Apa Kakak ingin kekaisaran Xiao hancur diserang ribuan beast monster itu?" Potong Bai Niu begitu kesal dengan kakaknya Jingga yang melarang ketiganya untuk turun bertarung.
"Naninu, bisakah kau membuat badai petir?" Pinta Jingga mengabaikan pertanyaannya.
"Untuk apa Kak?" Tanya balik Bai Niu.
"Untuk mengacaukan para beast monster" jawab Jingga.
"Tapi Kak, bukankah itu akan membuat beast monster semakin cepat berlari?" Sambung tanya Bai Niu.
"Ya justru itu, kita harus tahu apakah beast monster akan panik dengan gemuruh petir?" Tanya Balik Jingga.
"Emang itu perlu ya Kak?" Balik tanya Bai Niu.
Jingga menarik napas panjang lalu menghembuskannya, ia berkali-kali mengulanginya.
__ADS_1
"Naninu, adikku sayang, kamu tinggal jawab saja, ya atau tidak" ucap Jingga begitu lembut.
"Kakak kenapa?" Tanya Bai Niu heran.
"Nih anak kenapa susah mengertinya sih?" Rutuk Jingga lalu melesat turun ke area para beast monster.
"Jirex" panggil Jingga yang melayang rendah di atas para beast.
Seperti sudah tahu apa yang harus dilakukannya, Jirex langsung melompat ke arah para beast monster dengan rahangnya yang lebar dan siap untuk menerkam para beast monster terdekatnya.
"Bersenang-senanglah kawan" ucap Jingga lalu terbang kembali ke atas awan.
Jirex berderam menjawabnya kemudian memulai aksinya dengan menerkam beast serigala hingga putus lehernya.
"Sekarang kalian bisa menikmati pertarungan seru di bawah" ucap Jingga begitu bersemangat.
Qianfan terlihat sedikit kecewa tidak bisa ikut bertarung melawan beast monster, namun ia penasaran dengan ucapan Jingga.
Di arena pertempuran, kehadiran Jirex membuat ratusan beast monster berhamburan menghindarinya. Namun Jirex tidak mengenal namanya kompromi.
Dengan semangatnya yang liar, Jirex terus saja menerkam ke sana kemari begitu buasnya tidak membiarkan mangsanya terlepas dari serangannya.
Pekikan gemuruh para beast monster terus terdengar seiring semakin banyaknya beast monster yang mati tanpa tubuh yang utuh.
"Naninu, ciptakan badai petir sekarang" pinta Jingga sekali lagi.
Jingga meliriknya, namun Bai Niu tidak ada di tempatnya.
"Jianhuimie Yuzhou"
Jingga memutar pedangnya lalu melesat turun menebas beast monster yang berlarian ke arah wilayah kekaisaran Xiao.
Dhuar!
Dhuar!
Ledakan keras terus bersahutan dari tubuh beast monster yang terkena tebasan Jianhuimie Yuzhou.
Jingga kembali melayang ke udara, sambil memantau para beast monster agar tidak ada yang berlari ke arah wilayah kekaisaran Xiao.
"Naninu, pakai pedangmu untuk menciptakan badai petir" pinta Jingga sekali lagi.
Bai Niu mengangguk baru memahaminya, ia lalu mengeluarkan pedangnya, mengarahkan ke langit dan mengalirkan energi petirnya.
Badai petir yang diharapkan Jingga pun terjadi, ribuan beast monster berpencar menjauhi area pertempuran Jirex.
"Naninu, kau perluas area badai petir, pastikan langit terus bergemuruh" pinta Jingga yang langsung dituruti oleh Bai Niu.
"Sekarang waktu yang tepat untuk bertarung, ayo!" imbuh Jingga memberikan lampu hijau kepada ketiganya untuk bertarung.
__ADS_1
Qianfan dan Qianmei langsung melesat turun, sedangkan Du Zhia masih bersama Bai Niu.
Jingga berada di area utara, ia memastikan tidak ada beast monster yang berlari ke arah wilayah kekaisaran Xiao.
Baru beberapa waktu kakak beradik bertarung, keduanya langsung berkelebat menghampiri Jingga.
"Kak, ada beast aneh yang begitu menyeramkan memangsa beast lainnya" ujar Qianfan yang tidak berani menghadapi Jirex.
"Ha ha ha, jauhi areanya, ia tidak akan menyerang kalian" jawab Jingga lalu berkelebat menebas tiga beast serigala yang berlari melewatinya.
Qianfan dan Qianmei langsung berpencar ke arah barat dan timur.
Qianfan bertarung dengan sangat baik menghadapi beast beruang hitam yang begitu ganas. Sedangkan Qianmei terlihat kesulitan menghadapi belasan beast beruang hitam yang mengepungnya, namun ia tidak terlihat ketakutan menghadapinya.
Jingga yang berada di area utara sesekali memperhatikan keduanya.
Qianfan yang begitu semangat mampu mendominasi pertarungannya dengan beberapa beast beruang hitam, ia memanfaatkan kecepatannya untuk terus menebasnya. walaupun mendominasi, ia tidak mampu melukai kulit tebal beast beruang hitam.
"Sialan! Aku tidak bisa terus begini" gumamnya membaca pertarungan yang tidak menguntungkannya. ia langsung berkelebat ke arah adiknya Qianmei.
"Mei'er, jangan gunakan pedangmu, beast beruang hitam tidak bisa ditebas oleh pedang biasa" ucapnya memberi tahu.
"Aku sudah tiga kali mengganti pedangku yang patah, awas Kak!" balas Qianmei langsung mendorong Kakaknya menghindari terkaman beast beruang hitam.
Jingga yang sudah agak santai di utara langsung berkelebat ke arah Qianfan dan Qianmei yang terus bermanuver menghindari terkaman beast beruang hitam.
"Kalian kembalilah ke atas awan, biar aku yang menghadapinya" pinta Jingga lalu melompat menghindari terkaman beast beruang hitam.
Qianfan dan Qianmei langsung melesat terbang ke atas awan.
"Kita belum bisa membantu Kak Jingga" keluh Qianfan terlihat begitu kecewa.
"Sepertinya kita harus sering menghadapi lawan di atas kita" balas Qianmei menanggapinya.
Jingga terus berkelebat menghancurkan setiap beast monster dengan Jianhuimie Yuzhou, sedangkan Jirex terus berputar di areanya membantai para beast monster.
"Tarian pedang Asura"
Jingga terlihat seperti angin tornado yang terus meledakkan setiap beast monster dari berbagai arah. Suara ledakan begitu menderu dengan keras dan bersahutan di antara tubuh-tubuh beast monster yang meledak.
Dari ribuan beast monster, sekarang tinggal beberapa ratus lagi yang berlarian kembali ke arah selatan, timur dan barat, Jingga hanya membiarkannya saja, ia hanya memastikan area utara terbebas dari pelarian beast monster.
"Sepertinya sudah tidak ada yang berlari ke wilayah kekaisaran Xiao" gumamnya memperhatikan area utara. Ia langsung berbalik melirik ribuan inti jiwa yang berhamburan.
Dengan satu lambaian tangan, Jingga menarik ribuan inti jiwa beast monster lalu memasukkannya ke dalam cincin spasialnya.
"Jirex" panggilnya meminta Jirex mengakhiri pertarungannya.
Jirex yang begitu puas langsung berlari memasuki alam jiwa.
__ADS_1