Takdir Pedang Sang Iblis

Takdir Pedang Sang Iblis
Pertarungan Versus Klan Pemburu 1


__ADS_3


Ketika kedua puluh pasukan iblis beserta penasihat iblis Chao Fu sudah berada di pihak Ratu Xin Li Wei membentuk satu barisan. Beberapa pejabat istana menuruni anak tangga menghampiri Jenderal Jieru dan membentuk barisannya sendiri.


Kini tinggal klan Linghun Lieshou yang berada di tengah Xingchang bersama dengan To Tao dan To Li. Mereka masih belum berani mengambil keputusan untuk menentukan pilihan. Perdebatan alot pun tak terelakkan di antara mereka.


Nuren yang sebagai seorang ibu langsung menjatuhkan pilihannya ke kubu Ratu Xin Li Wei mengikuti pilihan putrinya. Sedangkan 5 anggota klan lainnya masih berdebat alot akan pilihannya masing-masing.


"Cukup! Hentikan perdebatan kalian. Kita belum tahu apakah iblis Tongzhi itu layak kita ikuti? Kita harus mengujinya sebelum memutuskan ke mana pilihan kita berlabuh," ujar iblis tua bertanduk perak meredakan perdebatan.


"Baik, Patriark!" Sahut yang lainnya serentak.


Iblis tua itu langsung menoleh ke arah Nuren dan Feichang yang sudah menjatuhkan pilihannya. Sorot matanya begitu dingin penuh ancaman di dalamnya.


"Kalau sampai pemuda itu mati, kalian berdua akan aku musnahkan dari klan," ancamnya.


"Silakan saja, Kakek Bobeng. Kalau Kakek yang mati, ibuku yang akan menggantikan Kakek menjadi patriark klan." Balas Feichang mengintimidasi kakeknya.


"Tidak akan pernah!" sosor iblis paruh baya menolaknya.


"Ha-ha. Kalau begitu, Paman Bowen juga akan mati bersama Kakek,"


"Jangan kurang ajar, Chang'er!" Geram iblis muda yang sebaya dengan Feichang.


Feichang menyeringai sinis menatap sepupunya itu sambil berdecak pinggang.


"Cukup, Chang'er! Cheng'er!" Bentak iblis tua melerai keduanya.


Iblis tua yang menjadi patriarki klan Linghun Lishou menoleh ke arah keturunannya yang lain.


"Siapa di antara kalian yang ingin mengujinya?" tanya Iblis tua bernama Bobeng menawarkan.


"Aku, Kakek." Sahut Iblis muda bernama Bocheng mengajukan diri.


Seorang iblis wanita paruh baya meliriknya tajam.


"Jangan bodoh, Cheng'er!"


"Tenang saja, Ibu. Lihatlah, pemuda itu terlihat lemah. Aku yakin diriku bisa dengan mudah membunuhnya," balas Boceng mencibir.


"Kau terlalu meremehkannya, Cheng'er. Tingkat kultivasinya sudah mencapai ranah Supreme Emperor Platinum. Jauh di atas kultivasimu," sela iblis paruh baya mengingatkannya.


"Ayah jangan melupakan kemampuan bertarung klan kita. Tingkat kultivasi tidaklah begitu penting. Ha-ha-ha!"


Bocheng tetap yakin pada kemampuannya yang merupakan seorang iblis pemburu. Ia lalu melayang terbang ke udara.


"Iblis Tongzhi, aku menantangmu." Tantangnya dengan suara yang melenting di udara.


Jingga yang sedang berbincang dengan Ratu Xin Li Wei meliriknya dengan seringainya yang dingin.


"Iblis berkemampuan rendah selalu saja menyombongkan diri. Ha-ha-ha." Kelakarnya mencemooh.


Wuzz!


To Tao dan To Li menghampirinya dengan raut wajah yang memelas.


"Yang Mulia, izinkan aku yang membunuhnya." Pinta Toli.

__ADS_1


"Aku saja, Yang Mulia." Sambung To Tao.


Jingga tersenyum menanggapi pengajuan diri keduanya lalu menggeleng pelan menolaknya.


"Kalian harus belajar menghargai sesama iblis. Ha-ha-ha." Kekeh Jingga lalu melayang terbang menghampiri pemuda iblis yang menantangnya.


"Huh! Hah! ... Huh! Hah!" Yel yel para iblis menggema di area Xingchang.


Gemuruh suara terdengar nyaring dari pasukan iblis yang begitu gembira melihat kedua pemuda yang akan bertarung di udara. Mereka semua ingin tahu kemampuan pemuda yang telah membuat istana terbelah menjadi dua kubu. Jenderal Jieru dan para pejabat istana pun ingin mengetahui kemampuan Jingga. Mereka tampak begitu serius memperhatikan dua pemuda yang masih berdiam diri di udara.


"Kau terlalu muda untuk mati. Kembalilah kepada keluargamu dan bawalah mereka pulang," saran Jingga memberinya kesempatan.


"Ha-ha-ha. Sepertinya dirimu adalah iblis penjerat wanita. Kau hanya mampu membuat sang Ratu yang janda jatuh cinta kepadamu. Sebaiknya kau meminta maaf kepada kami semua dan hancurkanlah tubuhmu sendiri. Itu lebih baik untukmu," balas Bocheng balik menyarankannya.


Jingga tersenyum simpul menanggapinya, lalu berkata,


"Aku akan memberimu kesempatan untuk menyerangku. Keluarkan kemampuan terbaikmu, Kawan."


"Ha-ha-ha. Kau terlalu merendahkanku. Tapi baiklah, aku akan mempercepat kematianmu." Timpal Bocheng lalu mengeluarkan dua pedang panjang dari penyimpanannya.


Langit mulai bergemuruh ketika dua pedang tergenggam erat dan mengalirkan arus kilatan merah di bilah logamnya. Gelombang aura iblis mulai menekan di udara. Namun itu tidak cukup membuat Jingga merasa tertekan. Ia masih saja berdiri dengan tenang di tempatnya.


Wuzz!


Bocheng langsung melesak cepat menyerang Jingga. Ia mengayunkan kedua pedang dalam posisi bersilangan ke tubuh Jingga.


Sret!


Jingga menghilang dari posisinya lalu muncul di sisi kanan Bocheng dalam jarak sepuluh langkah.


"Lambat!" cibir Jingga lalu menyeringai.


Ia lalu kembali melesak dengan mengayunkan pedangnya ke arah Jingga.


Wuzz!


Lagi-lagi tebasannya hanya mengenai udara kosong. Jingga sudah menghilang dari tempatnya. Ia kini berdiri melayang di posisi berlawanan.


"Sialan! Apakah kau hanya bisa berkelit saja?" Kesal Bocheng merasa dipermainkan.


Jingga terkekeh mendengarnya, lalu memasang raut wajah yang memprovokasi.


"Baiklah, aku tidak akan menghindari tebasanmu. Silakan!" ucap Jingga.


"Ha-ha-ha. Dasar bodoh! Kau akan langsung hancur terkena tebasanku."


Bocheng mengalirkan energinya ke bilah pedang. Kali ini cahaya berwarna ungu memancar keluar dari kedua bilah pedang yang terlihat begitu menawan. Tanpa menunggu lama, ia langsung melesak ke arah Jingga.


Berbeda dari serangan sebelumnya, sekarang Bocheng menyerang Jingga dengan dua pedang yang di bagian tangan kanan menjulur ke depan, dan yang di tangan kiri dalam posisi horizontal. Ia menggunakan teknik pamungkasnya.


Wuzz!


Lesakan Bocheng sangatlah cepat, kecepatannya laksana sinar mentari menerangi alam di pagi hari. Namun kecepatan serangan Bocheng masih terlalu lambat untuk seorang Jingga yang memiliki kecepatan absolute.


Sret!


Hantaman keras dari dua pedang yang mengayun cepat dalam gerakan diagonal dan horizontal yang dilayangkan Bocheng terpiting oleh empat jari dari dua tangan Jingga.

__ADS_1


Krak!


Kedua pedang Bocheng langsung hancur seketika. Jingga memang tidak menghindari serangannya. Akan tetapi dua pitingan dari jarinya mampu menghancurkan pedang yang teraliri energi berwarna ungu tersebut.


Kedua mata Bocheng terbelalak tidak percaya pada hasil serangannya. Ia lalu malayangkan tendangan kaki kanan ke arah perut Jingga.


"Hiat!" Pekik Bocheng menendangnya.


Melihat hal itu, Jingga membiarkannya saja.


Dugh!


Telapak kaki kanan boceng mengenai perut Jingga. Namun si pemilik perut tidak terdampak olehnya, posisi tubuhnya masih kokoh tak bergerak.


Jingga lalu mencengkram betis Bocheng dan menghancurkannya.


Krak!


"Ah!" Raung Bocheng tidak tahan merasakan sakitnya.


Jingga melayang mundur menjauhinya. Ia lalu berbalik memunggungi Bocheng yang masih meringis kesakitan.


"Sial! Kenapa tidak bisa ditumbuhkan?" Keluh Bocheng yang berusaha menumbuhkan kembali sebelah kakinya.


Nahas baginya, semakin keras ia berusaha menumbuhkannya, semakin menyengat pula rasa sakit yang dirasakannya.


"Sebaiknya engkau hancurkan bagian tubuhmu yang lain. Matilah dengan mudah dengan caramu sendiri," celoteh Jingga memberinya saran.


"Huh! Aku tidak akan menyerah hanya karena kehilangan sebelah kaki," dengus Bocheng menimpalinya.


Di area bawah. Wanita iblis paruh baya tampak gusar melihat putranya yang meringis kesakitan di udara.


"Suamiku, bolehkah aku membantunya?" pinta si Wanita paruh baya.


"Tidak boleh, Bey'er! Kemampuan iblis Tongzhi itu masih belum bisa kita perkirakan. Dia bahkan belum melakukan serangan sekalipun. Lebih baik kita menerima kematian Cheng'er." Tolak iblis paruh baya melarang istrinya.


"Ayah!" Seru seorang gadis iblis begitu kesal pada ucapan ayahnya.


Tanpa meminta persetujuan dari orang tuanya, gadis iblis itu melesak ke udara untuk membantu pemuda iblis yang merupakan kakak kandungnya.


"Yaw'er!" Teriak sang Ibu memanggilnya.


-----Catatan-----


Enam anggota Klan Linghun Lieshou berdasarkan silsilah keluarga dari Feichang.


Nuren, ibunya,


Bowen, pamannya,


Bey, bibinya,


Bocheng, sepupunya,


Feiyaw, sepupunya,


Bobeng, kakeknya sekaligus patriark klan.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2