
"Pemuda yang kita temukan ini begitu aneh, pakaiannya hancur seperti tercabik cabik oleh hewan buas, namun tidak ada luka apa pun padanya, kesaktian apa yang dia miliki" ucap seorang nenek yang terus menggodok ramuan herbal.
"Biasalah, namanya juga kultivator, menurutku pemuda itu berada di ranah legenda perak, sedikit di atas kita, karena aku tidak bisa memindainya" sahut seorang kakek yang duduk santai di kursi kayu yang sudah reot.
"Coba kau perhatikan dengan teliti, ia bukanlah seorang kultivator, tidak ada energi apa pun di tubuhnya, bahkan aku tidak menemukan satu pun titik meridian di tubuhnya" kekeh si nenek pada pendiriannya.
"Apa mungkin dia sudah menembus ranah Warrior, yaitu ranah setengah dewa yang hanya bisa dicapai oleh kultivator yang tubuhnya bertransformasi dengan tubuh khusus seperti tubuh para beast monster atau mungkin saja dia seorang dewa" kilah si kakek memperkirakannya.
"Ya, bisa jadi seperti apa yang kau katakan, tapi manusia terakhir di alam fana ini yang berhasil menembus ranah Warrior hanya muncul di zaman nenek moyang kita, untuk pemuda ini aku meragukannya walau mungkin saja itu benar" timpal si nenek yang telah selesai menggodok ramuannya.
"Ya sudah kita tunggu saja sampai dia tersadar" imbuh si nenek langsung pergi meninggalkan keduanya.
Seminggu kemudian pada malam hari Jingga membuka kedua matanya, badannya terasa lengket dan bau tidak sedap dari bekas ramuan yang dibalurkan oleh si nenek.
"Dimana ini?, Sepertinya ada yang menyelamatkanku" tanya pikirnya sambil terus menatap langit langit rumah yang terlihat mengkhawatirkan.
Jingga memikirkan pertarungan terakhirnya yang dikalahkan oleh kawanan serigala hitam.
"Andai aku seorang kultivator, mungkin aku bisa dengan mudah membantai kawanan serigala itu, tapi aku jadi bisa kembali merasakan rasanya lelah dan sakit setelah lama tidak merasakannya" imbuhnya dalam pikirannya.
"Oh iya, berapa sekarang usiaku?, Kata si monster jelek mata satu, kekuatanku akan aktif ketika usiaku dua puluh tahun, aku jadi tidak sabar apakah itu benar" lanjutnya menambahkan dengan senyumnya menyeringai.
Lamunan di alam pikirannya membuat dirinya kembali tertidur.
Esok harinya Jingga terbangun, namun karena suasana di dalam rumah masih sepi, ia kembali menutup kedua matanya, walau pun ia tidak bisa melanjutkan tidurnya.
"Kapan anak ini bisa sadar?, sudah seminggu ia tidak sadarkan diri" ucap si kakek yang baru tiba.
"Apa! Seminggu?" Teriak Jingga yang membuat si kakek berlompatan karena terkejut.
"Dasar anak iblis! Mengagetkan saja" bentak si kakek yang terkejut.
"He he maaf pak tua" sahut Jingga terkekeh melihat si kakek terkejut karenanya.
Si nenek yang dari kejauhan mendengar keributan di dalam rumahnya langsung berkelebat masuk ke dalam rumah.
"Ada apa ini?, Kenapa kalian ribut?" tegurnya yang membuat kedua lelaki itu terdiam tidak ada yang mau menjawabnya.
Si nenek lalu memukul kedua lelaki dengan tongkatnya.
"Aduh nek, kenapa aku dipukul?" Protes Jingga sambil menutup kepalanya, sedangkan si kakek sudah menghilang entah kemana.
"Kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku?" Kembali si nenek menanyakan.
__ADS_1
"Aku tidak tahu harus jawab apa, makanya aku tidak menjawabnya" kilah Jingga membela diri.
Si nenek kembali memukulinya lalu mencak mencak tak karuan pergi meninggalkannya.
"Ada masalah apa dengan kedua orang tua peyot itu?, yang satu membentak, satunya lagi main pukul" gumam Jingga lalu geleng geleng kepala.
"Kau bilang apa hah?" Tegur si nenek yang mendengarnya berbalik arah dengan mengacungkan tongkat.
"Ampun nek" sahut Jingga yang langsung menutupi kepalanya.
Si nenek tidak jadi memukulinya, ia berbalik kembali ke arah dapur.
"Hei anak setan, kau sudah sehat kan?, Seminggu kau tidak makan, ayo sini, kau pasti lapar" ajak si nenek yang telah selesai memasak.
"Aku tidak makan nek, aku hanya minum arak atau kalau ada susu sapi juga boleh" sahut Jingga lalu bangun dari pembaringan.
"Waduh, kemana pakaianku?" Ucapnya terkejut ketika membuka kain yang menutupi tubuhnya yang selama seminggu ini tidak memakai apapun selain kain yang menutupinya.
"Pakaianmu sudah hancur, nenek sudah membuangnya" sahut si nenek dari dapur.
"Kemarilah, nenek sudah tua, sudah tidak tertarik dengan begituan, nanti nenek minta pria gila membelikan pakaian baru untukmu" imbuh si nenek.
"Tapi aku kan malu nek" timpal Jingga menolaknya.
Jingga lalu melilitkan kain menutupi tubuhnya dan bergegas ke arah dapur.
"Kenapa kau tidak mau makan?" Tanya si nenek penasaran.
Jingga lalu menceritakan kisahnya ketika jatuh ke dasar lautan dan hanyut terbawa ombak.
"Kau jangan membohongiku bocah setan, jujurlah padaku" potong si nenek yang tidak bisa dibohonginya.
"Apakah nenek tidak akan takut kalau aku jujur?" Tanya Jingga yang ragu mengungkapkannya.
"Ha ha ha, kami adalah pendekar gila yang sampai saat ini tidak ada yang mampu menandingi" jawab si nenek dengan angkuh.
Jingga hanya menggeleng gelengkan kepalanya mendengar jawaban nenek gila di depannya.
"ayo, ceritakan semuanya dengan jujur" pinta si nenek dengan wajah yang tidak enak dilihat.
Jingga ragu, tidak mungkin ia berani mengatakannya, tetapi nenek di depannya bukanlah orang yang bisa dibohongi.
"maaf nek, walau pun nenek membunuhku, aku tidak bisa mengatakannya" ucap Jingga yang siap menerima amukan si nenek.
__ADS_1
"seperti dugaanku, kau tidak mungkin berani mengatakannya, ya sudah, nenek tidak akan memaksamu" timpal si nenek lalu menceritakan kisahnya tanpa diminta oleh Jingga.
sambil menikmati arak, Jingga mendengarkannya dengan hanya menganggukkan kepalanya saja, hanya untuk dianggap menjadi pendengar yang baik.
bug
sebuah bungkusan berisi pakaian melayang mengenai wajah Jingga yang asyik mendengarkan cerita nenek gila.
"pakailah, kau tidak perlu membayarnya" ucap si kakek setelah melemparkannya.
Jingga langsung pergi ke kamar kecil membersihkan diri sekaligus memakai pakaian yang diberikan kedua orang tua gila itu.
"lama sekali kau pulang, kau habis menemui siapa hah?" tanya nenek menegur kakek gila.
"ha ha ha, ingatlah usiamu nenek gila" jawab si kakek yang merasa lucu.
"kau yang tidak pernah mengingat usiamu, selalu saja menggoda gadis gadis, dasar tua bangka mesum" potong si nenek tak mau kalah.
"bilang saja kalau kau cemburu hahaha" kekeh si kakek menggodanya.
"Dih!, najis, dasar tak tahu diri" timpal si nenek geram.
Jingga yang sudah selesai membersihkan diri hanya mengerutkan bibir melihat kelakuan kedua pasangan gila yang selalu ribut.
"apa kalian tidak malu dengan kulit keriput kalian itu?" potong Jingga.
"Diam anak setan!" bentak keduanya berbarengan.
"kemari kau anak setan" pinta si nenek melambaikan tangannya.
"apa nenek akan memukulku lagi?" tanya Jingga khawatir.
pletak
"aw" teriak Jingga yang tidak melihat kapan nenek gila itu memukulnya, ia hanya bisa mengusap kepalanya yang sakit karena pukulan si nenek menggunakan energi spiritual.
"aku belum tahu siapa namamu anak setan?" tanya si nenek ingin tahu.
"namaku Tang Xie Jingga, aku lahir di benua Majang dan besar di kampung Cerita Hati kekaisaran Xiao" jawab Jingga lancar.
"jauh sekali asalmu itu, lalu bagaimana kau bisa sampai ke benua matahari ini, ceritakanlah" tanya si nenek.
"sebelum aku menceritakannya, bolehkah aku tahu siapa nama kakek dan nenek" jawab Jingga menanyakannya.
__ADS_1
"hahaha, betul juga kami belum memberitahumu, aku Yan Wei dan pria gila itu Kun Tao, kami dikenal dengan sebutan pendekar gila gunung Lanhua" jawab nenek Yan Wei dengan bangga.